Home / Berita / Catatan dari Kontes Robot Indonesia Regional Sumatera 2018

Catatan dari Kontes Robot Indonesia Regional Sumatera 2018

Pertama kali melihat ajang Kontes Robot Indonesia Regional I Sumatera di Pekanbaru, Sabtu (28/4/2018), berbagai perasaan langsung muncul. Ada sedikit rasa takjub, ternyata mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Pulau Sumatera mampu merakit atau membuat robot pintar.

Robot-robot itu dapat bermain sepakbola, memadamkan api, menari, dan dapat memindahkan bola bertangkai secara akurat melewati gawang berbentuk lingkaran kecil di ketinggian.

KOMPAS/SYAHNAN RANGKUTI–Dua robot bertanding sepak bola pada ajang Kontes Robot Indonesia Wilayah Regional Sumatera di Pekanbaru, Sabtu (28/4/2018).

Sedikit rasa takjub itu sudah cukup lumayan. Maklum dari 52 robot dari tim yang berlaga di empat kategori perlombaan, masih banyak yang belum layak disebut pintar.

Jangankan pada babak penyisihan, kelemahan robot masih ditemukan pada babak semifinal dan final yang semestinya sudah semakin terseleksi.

Sebut saja sebagai contoh pertandingan robot sepak bola beroda di babak semifinal keduaan atau ketigaan (satu robot penjaga gawang dan satu atau dua robot penyerang) antara tim Politeknik Bengkalis dan Universitas Sumatera Utara. Robot penjaga gawang Polb3nk, sebutan klub Politeknik Bengkalis, sama sekali tidak dapat bergerak menghadang bola serangan robot lawannya, Si Hatop dari USU.

Penjaga gawang Polb3nk, lebih tepat disebut patung robot yang hanya mampu berdiri diam di tempatnya. Robot penjaga itu hanya bekerja untung-untungan untuk menghadang bola yang secara tidak sengaja membentur tubuh mematungnya.

KOMPAS/SYAHNAN RANGKUTI–Sebelum robot sepak bola bertanding, para perakit sibuk menyetel ulang kemampuan robotnya agar tampil maksimal. Namun, selama pertandingan, masih lebih banyak robot yang tampil kurang meyakinkan.

Sensor robot penyerangan Polb3nk juga masih belum canggih. Robot bahkan sempat membuat gol ke gawang sendiri sehingga tercipta gol bunuh diri. Meski demikian, penyerang Polb3nk sesekali mampu menyerang dengan baik. Namun, serangan bola itu dapat dibuang robot kiper Si Hatop.

Kemampuan penjaga gawang Si Hatop memang memiliki daya sensor cukup baik untuk menghadang bola serangan lawan. Sedikitnya tiga kali, robot berbentuk kubus meruncing di bagian atas, dengan alat seperti sekop di bagian depannya itu mampu melumpuhkan serangan Polb3nk.

Kemampuan robot penyerang Si Hatop juga hilang-hilang timbul. Pada saat pemanasan, penyerang Si Hatop mampu memegang, menggiring, dan menendang bola dengan cukup baik. Namun, pada saat pertandingan, kemampuan memegang dan menggiring bola itu lebih banyak kehilangan kendali.

Meski demikian, setelah berlaga dua babak selama masing-masing 15 menit, Si Hatop unggul 3-1 atas Polb3nk. Si Hatop berhak mendapat gelar juara ketiga.

Di pertandingan final, juara tahun 2017, Sipak G2 dari Politeknik Manufaktur Negeri Bangka Belitung kembali menjadi juara setelah menang atas Datuak Midun dari Politeknik Negeri Padang dengan skor 2-1.

KOMPAS/SYAHNAN RANGKUTI–Sama seperti pertandingan sepak bola sungguhan, anggota tim yang kalah akan tertunduk sementara yang menang akan bersorak.

Kemenangan Sipak G2, menurut kapten tim Agustus, adalah buah dari kerja keras. Seluruh anggota tim dibantu dosen pembimbing mempersiapkan robot selama 6 bulan.

Agustus mengatakan, timnya merombak total robot dari awal setelah ajang lomba tahun 2017. Mereka merakit ulang seluruh komponen untuk menambah kemampuan Sipak G2. Hasilnya ternyata lebih baik sehingga mampu mempertahankan juara di tingkat Sumatera. Namun, di tingkat nasional, kemampuan Sipak G2 masih belum terlalu menggembirakan.

Pertandingan sepak bola robot di Kontes Robot Indonesia (KRI) Regional Sumatera 2018 yang diselenggarakan Universitas Riau, hanya mempertandingkan kelompok robot beroda. Tidak ada pertandingan robot humanoid yang berbentuk manusia.

Robot sepak bola pada KRI Regional Sumatera 2018 umumnya berbentuk seperti piramida atau kubus meruncing di bagian atas dengan berat maksimal 40 kilogram. Di bagian depan piramida atau kubus terdapat sebuah ruang dengan tangan beroda untuk menangkap dan menggiring bola. Di bagian belakang terdapat sebuah tuas yang digunakan untuk memukul bola ke gawang lawan. Kendali dilakukan sebuah laptop yang mampu menguraikan rumus-rumus dan algoritma untuk disalurkan kepada robot.

KOMPAS/SYAHNAN RANGKUTI–Selama pertandingan, para perakit akan bergegas masuk ke lapangan untuk menyetel ulang robot sebelum diterjunkan kembali untuk bertanding.

Peraturan pertandingan robot sepak bola tentu berbeda dengan olahraga aslinya. Ukuran lapangan hanya 9 meter x 6 meter. Robot harus memiliki kendali atas geraknya di batas garis lapangan dan tidak boleh menabrak lawannya. Apabila menabrak pelan, dianggap pelanggaran dan diberikan hadiah tendangan bebas kepada lawan. Apabila menabrak keras, wasit akan memberi kartu kuning hingga kartu merah, bergantung pada tingkat kekerasannya.

Dalam pertandingan kemarin, banyak sekali pelanggaran yang terjadi. Namun, wasit tidak banyak memberi hukuman karena kemampuan robot masih banyak yang lemah.

Yang unik justru aktivitas para perakit yang berada di pinggir lapangan. Apabila wasit menyemprit, semisal menyatakan bola keluar lapangan atau ada stagnasi robot, seperti orang kebingungan di tengah lapangan, anggota tim segera berlari masuk lapangan dan mengangkat robotnya ke pinggir untuk disetel kilat sebelum diterjunkan lagi.

Lomba lari para perakit masuk dan keluar lapangan menjadi pemandangan khas selama pertandingan sepak bola robot. Para perakit mesti memiliki tingkat kebugaran tinggi karena harus melakukan aktivitas fisik memanggul robot yang cukup berat secara berulang-ulang.

Di luar negeri, terutama Eropa, kontes sepak bola robot sudah sangat maju. Liga Robocop MSL yang banyak dipakai sebagai acuan sudah menampilkan empat robot dalam satu tim yang bertanding. Kerja sama robot bahkan sudah mampu mengoper bola untuk mengecoh lawan. Tendangan robot juga sudah lebih bervariasi dari bentuk tendangan mendatar sampai tendangan melengkung dari jarak jauh.

KOMPAS/SYAHNAN RANGKUTI–Robot pemadam api yang sedang bergerak mencari sumber api (lilin) untuk dipadamkan dalam sebuah kotak seperti labirin.

Di kelompok pertandingan robot pemadam api, tim Al Ankabut V2.0 dari Universitas Negeri Padang menjadi juara pertama mengalahkan tim Saburai Zamzam dari Universitas Bengkulu yang harus puas menempati posisi kedua. Adapun Tim Si Afzam dari Universitas Sumatera Utara menjadi juara ketiga.

Kontes robot pemadam api pada dasarnya merupakan aktivitas robot berkaki (atau beroda) yang memiliki sensor api. Sensor itu berfungsi untuk mencari lokasi api (lilin) dan kemudian memadamkannya. Lilin ditempatkan secara tersembunyi dalam sebuah kotak berbentuk persegi. Kotak itu memiliki labirin berupa sekat-sekat, seperti kamar-kamar di dalam rumah, dan benda lain sebagai rintangan yang menghalangi robot berjalan.

Robot harus menjelajah dari satu ruangan ke ruangan lainnya, atau berjalan cepat di koridor, untuk mencari jalan terbaik menuju lokasi lilin untuk dipadamkan. Kontes robot pemadam api mengikuti aturan dan prosedur Trinity College International Robot Contest (TCIRC).

Mahasiswa Indonesia memiliki prestasi cukup membanggakan pada even TCIRC 2017 yang dilaksanakan di Hartford, Connecticut, Amerika Serikat. Pada April 2017, robot pemadam api Indonesia yang diwakili Politeknik Elektronika Negeri Surabaya dan Universitas Muhammadiyah Malang berhasil meraih 2 emas, 2 perak, 2 perunggu serta beberapa penghargaan lainnya pada divisi Senior Beroda dan Senior Berkaki.

KOMPAS/SYAHNAN RANGKUTI–Robot pemadam api yang siap bertanding diletakkan pada sebuah meja

Kontes robot yang lainnya adalah konteks robot ABU (Asian Broadcasting Union). Ini adalah pertandingan melempar bola yang terkait tali ke dalam cincin gawang yang terletak di sebuah tiang. Cincin itu diletakkan di dua tiang yang memiliki perbedaan ketinggian.

Setiap tim harus menyiapkan dua robot, satu robot otomatis dan satu robot manual. Tim juga boleh mempersiapkan dua robot otomatis. Dua robot tim harus bekerja sama selama 3 menit. Yang paling cepat menyelesaikan pekerjaan memasukkan bola ke cincin gawang di atas tiang dinyatakan sebagai pemenang.

Pada awalnya, seorang peserta membawa robot manual yang dioperasikan dengan pengontrol jarak jauh untuk mengambil bola yang disebut ” bola berkah” di rak yang ditempatkan di satu sudut. Bola itu kemudian diberikan atau dikaitkan ke lengan robot kedua yang sudah berada di jalur tiang cincin gawang.

Robot kedua secara otomatis akan membawa bola melewati alur garis di lantai yang sudah disediakan panitia. Setelah berada pada posisi berhadapan atau dengan sudut 180 derajat dengan tiang, robot akan melempar bola ke dalam cincin gawang. Apabila bola masuk, tim akan mendapat nilai.

KOMPAS/SYAHNAN RANGKUTI–Seorang peserta dari Tim Barelang 5.8 melihat proses perpindahan bola dari robot manual ke robot otomatis sebelum melesakkan bola ke dalam cincin gawang di ketinggian. Tim Barelang dari Politeknik Negeri Batam menjadi juara pertama dalam kontes Robot ABU.

Robot kembali mengulang aktivitas sama untuk bola kedua dengan sasaran sama. Setelah itu robot akan berpindah menuju tiang selanjutnya yang lebih tinggi untuk menyarangkan bola yang lain. Robot yang paling cepat menyarangkan bola ke dalam ring itu dinyatakan sebagai pemenang.

Untuk kontes robot ABU, tim Barelang 5.8 dari Politeknik Negeri Batam menjadi juara pertama setelah menyelesaikan lemparan bola berkah dalam waktu 1 menit dan 11 detik. Tim Abenk-Tech dari Politeknik Bengkalis, Riau, berhak menjadi juara kedua. Adapun juara ketiga diraih tim Pli Deng 3 dari Politeknik Manufaktur Negeri Bangka Belitung.

Tim robot ABU pemenang KRI Regional Sumatera akan diikutkan lagi dalam final Kontes Robot Indonesia di Institut Teknologi Sepuluh November akhir Juni 2018. Pemenang kontes nasional dapat mewakili Indonesia pada ajang Kontes Robot Internasional Asia Pasifik 2018 di Vietnam pada bulan Agustus.

Yang menggembirakan, pada penyelenggaraan Kontes Robot Regional Sumatera 2018 ini terdapat wajah-wajah baru yang menjadi juara. Beberapa perguruan tinggi yang tidak mendapat medali pada ajang 2017 di Palembang sudah mampu bersaing dan menjadi juara.

Tanpa harus menjadi ahli robot, pengunjung bisa melihat ajang kontes robot Sumatera masih memerlukan kerja sangat keras dari mahasiswa dan dosen pembimbingnya untuk meningkatkan kemampuan robotik robot-robot yang mereka rakit. Namun, tidak perlu cemas karena dasarnya sudah terbentuk dan tinggal mengatasi ketertinggalan. Masih banyak waktu untuk mewujudkannya.–SYAHNAN RANGKUTI

Sumber: Kompas, 30 April 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Penggunaan Aplikasi Permudah Monitoring Mangrove

LIPI menggunakan penginderaan jauh dan teknologi untuk menghasilkan buku panduan monitoring, spreadsheet template, dan aplikasi ...

%d blogger menyukai ini: