Home / Artikel / Bumi tanpa Musim

Bumi tanpa Musim

CATATAN IPTEK
“Only two things are infinite, the universe and human stupidity,….”. Hanya ada dua hal yang tak terbatas, alam semesta dan kebodohan… Sebuah penggalan dari pernyataan Albert Einstein.

Pekan lalu, Incheon, Korea Selatan menjadi saksi sebuah upaya kemanusiaan terakbar yang pernah dilakukan manusia modern. Upaya kali ini tak lagi berupa aliansi, deklarasi, konvensi, atau pun kesepakatan (agreement), melainkan upaya “penyadaran” akan masa depan Bumi dari kacamata ilmu pengetahuan. Kacamata yang hingga sekarang diyakini sebagai kacamata yang mampu meneropong dengan jernih. Bersih dari intervensi kepentingan.

Pada Desember 2015, Panel Ahli Perubahan Iklim (IPCC) diminta menyusun laporan mengenai pemanasan bumi 1,5º Celsius di atas era pra-industri. Perjanjian Paris (Paris Agreement) antara lain bertujuan memperkuat langkah global menghadapi ancaman perubahan iklim. Di sana termuat pernyataan: “menahan kenaikan suhu rata-rata global di bawah 2º Celsius dan mengupayakan batas kenaikan hingga 1,5º Celsius di atas era pra-industri”.

Sebanyak 91 penulis ilmiah dari 44 kewarganegaraan, 14 koordinator penulis, 60 penulis utama, dan 17 orang pengkaji dari beragam latar belakang keilmuan secara bersama-sama berupaya menyajikan potret masa depan Bumi kepada para pengambil kebijakan. Lahirlah laporan bertajuk (versi singkat) The Special report on Global Warming of 1,5º C pada Sabtu (6/10/2018).

Disebutkan pula ancaman yang bakal dihadapi Bumi: 70 juta hingga 80 juta orang akan kehilangan tempat tinggal jika suhu naik 1,5º C atau 2º C; kelangkaan air dihadapi 350 juta-411 juta orang, dan kepunahan mengancam semua mahluk hidup. Kerugian utama adalah: kita tidak mengetahui telah kehilangan apa saja karena belum semua kehati kita pahami manfaatnya bagi ekosistem. Yang pasti, bencana iklim telah meningkat skala intensitas dan periodenya. Periode El Nino yang semula sekitar 5-7 tahun telah menciut menjadi 2-3 tahun. Sementara badai pun semakin sering terjadi. Perubahan pola iklim telah mengacaukan musim yang menyulitkan petani yang berakibat pada terancamnya ketahanan pangan.

Alih-alih memahami secara ilmiah, sejumlah fakta mengenai perubahan iklim justru (berpotensil) menyebabkan lahirnya penyangkalan (denial). Perubahan iklim yang skala spasial dan temporalnya demikian tinggi, meliputi area luas tak berbatas dan dalam jangka panjang, berpotensi dibaca secara bias. Aksi yang dibutuhkan bersifat lokal, namun dampaknya bersifat global- yang pasti tak mudah untuk menemukan relasi kausalitasnya.Di sisi lain, peran kualitas kondisi lingkungan pada sebuah kejadian bencana hidrometeorologi justru dinafikan.

Saat berbicara bencana hidrometeorologi seperti longsor, banjir, dan kekeringan, perubahan iklim diposisikan sebagai penyebab. Sebaliknya, ketika diminta mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) dan mengubah perilaku membangun dan keseharian, perubahan iklim menjadi fenomena yang tak nyata.

Sifat “umpan balik positif” dari proses-proses dalam perubahan iklim merupakan siklus yang mengerikan. Umpan balik positif menyebabkan suatu dampak perubahan iklim bertambah secara non-linier jika belum bisa disebut secara eksponensial. Es yang meleleh di kutub telah mengurangi pemantulan panas ke atmosfer sehingga penyerapan panas oleh laut meningkat. Akibatnya, terjadi percepatan proses pencairan es di kutub.

Selain alasan-alasan di atas, sifat pragmatisme kekuasaan politik menjadi pendorong kuat yang melahirkan pilihan posisi yang bertolak belakang dengan tujuan pembuatan laporan khusus IPCC. Contoh terdekat adalah sikap Presiden Brasil Michel Temer yang memilih untuk membuka kawasan konservasi di Amazon yang menjadi rumah bagi kehati yang amat tinggi dan rumah bagi masyarakat asli. Beruntung tekanan publik berhasil membatalkan niatan tersebut. Persoalannya apakah pembatalan ini bersifat langgeng?

Jangan lupa pula terhadap catatan panjang sejarah pemerintah Amerika Serikat. Sejak Protokol Kyoto lahir 1992 yang mewajibkan negara-negara maju membayar utang sejarah Era Industri dengan menurunkan emisi karbon rata-rata lima persen, AS adalah negara maju yang bergeming. Posisi AS hingga kini adalah sebagai pelepas gas rumah kaca (GRK) utama. The Guardian menyebut penyangkalan Presiden AS Donald Trump telah mencapai tahap kelima. Mulai dari menyangkal adanya perubahan iklim, bahwa manusia lah penyebabnya, bahwa itu merupakan masalah, bahwa kita dapat menemukan solusi, dan bahwa kita ‘sudah amat terlambat’.

Apabila para penyangkal mendapatkan dukungan dan pengikut, maka kita hanya bisa menantikan dengan harap-harap cemas hadirnya sebuah Bumi yang tak kita kenal, sebuah Bumi tanpa musim…..–BRIGITTA ISWORO LAKSMI

Sumber: Kompas, 17 Oktober 2018

 

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Pendidikan Tinggi Indonesia dalam Masa Pancaroba

Dalam keadaan kini, saat kita semua merasa tertekan oleh pembatasan yang dikenakan karena Covid-19, dunia ...

%d blogger menyukai ini: