Suhu Bumi Masih Jadi Pertarungan Politik

- Editor

Senin, 10 November 2014

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dunia seperti kepingan puzzle ketika membahas penyebab dan dampak perubahan iklim. Namun, sebagai satuan utuh, dunia bersama merasakan dampak keanehan iklim dan berbagai bencana terkait iklim. Di tengah itu semua, Minggu (2/11), terbit laporan Panel Antarpemerintah untuk Perubahan Iklim oleh lebih dari 50 penulis peneliti.

Ada beberapa poin penting pada laporan ”Climate Change 2014 Synthesis Report” dari Panel Antarpemerintah untuk Perubahan Iklim (IPCC). Kini, tingkat kepastian perubahan iklim disebabkan aktivitas manusia (antropogenik) menjadi 95 persen. Itulah poin penting yang digarisbawahi agar diperhatikan para pembuat keputusan politik di seluruh dunia.

Laporan juga menegaskan temuan beberapa tahun terakhir. Batas konsentrasi gas rumah kaca—yang didominasi gas CO2 (karbon dioksida)—yang melampaui 400 parts per million (ppm), serta keniscayaan bahwa kenaikan suhu rata-rata atmosfer bumi akan melampaui 2 derajat celsius pada akhir abad ini (tahun 2100). Jika batas itu terjadi, sistem iklim bumi tidak akan pulih seperti sebelumnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kunci dari gangguan elemen-elemen dalam sistem iklim adalah bersifat ”umpan balik positif”. Satu unsur terganggu, itu memperkuat gangguan awal. Kuantitas atau kualitas atau keduanya (kuantitas dan kualitas) gangguan berpotensi meningkat secara eksponensial.

Pada laporan itu, IPCC mendasarkan pada riset dengan empat pemodelan iklim yang disetarakan dengan konsentrasi gas karbon, yaitu proyeksi iklim baru representative concentration pathways (RCP) mulai dari RCP2.6, RCP4.5, RCP6, RCP8.5 yang menggambarkan tingkat akumulasi emisi gas karbon dari terendah hingga tertinggi. RCP8.5 adalah yang terburuk— pertumbuhan populasi dan emisi terus, tetapi minim aksi menekan laju penumpukan gas GRK di atmosfer.

Laporan juga menyebut, perubahan suhu permukaan bumi global akhir abad (2081-2100) bakal melampaui 1,5 derajat celsius untuk RCP 4.5 dan RCP 6. Sementara itu, suhu rata-rata bisa meningkat melampaui 2 derajat celsius jika kondisi sesuai RCP6.0 dan RC8.5.

Keputusan politik
16356916hLaporan IPCC bukanlah vonis akhir perjalanan manusia atau ramalan pasti akan masa depan manusia. Keputusan politik para pemimpin negara di dunia memegang kunci kendaraan: ke mana manusia dengan kapal bernama bumi menuju. Berlabuh pada kesejahteraan atau kehancuran.

Para ilmuwan hanya bisa menunjukkan fakta dan kemungkinannya dengan berbagai pilihan yang bisa dijadikan fondasi keputusan politik. Persoalannya, ”kaki” sejumlah negara telah terikat pada berbagai kepentingan. Kepentingan negara, kelompok (negara maju, negara berkembang, negara tertinggal, dan sebagainya sesuai ”urusan globalisasi”), atau bahkan terikat oleh ”kegaduhan politik” dalam negeri, seperti Amerika Serikat yang tak kunjung bisa berkomitmen pada Kerangka Kerja Konvensi PBB untuk Perubahan Iklim (UNFCCC). Pada
saat kongres tak setuju, Presiden Barack Obama tak bisa berbeda.

IPCC merekomendasikan dunia meninggalkan batubara sebagai sumber energi pada tahun 2100. Sebaliknya, meningkatkan penggunaan sumber energi terbarukan hingga 80 persen bauran dari 30 persen bauran kini.

Ironisnya, dua hari seusai peluncuran laporan IPCC itu, Perdana Menteri Australia Tony Abott menegaskan akan tetap menggunakan batubara. ”Bayangan masa depan yang tampak sekarang, batubara adalah landasan kemakmuran kami,” katanya. Batubara merupakan ekspor utama Australia.

IPCC menuliskan, emisi gas rumah kaca penyebab kenaikan suhu bumi adalah yang tertinggi selama 800.000 tahun ini. Dengan emisi sebesar ini, dunia sedang menuju kenaikan sedikitnya 4 derajat celsius pada tahun 2100 dibanding era pra-industri, sebelum 1850.

Akhir Oktober 2014, Uni Eropa menyatakan akan mengurangi emisinya hingga 40 persen dari emisi 1990 pada tahun 2030. Komitmen para pihak pada UNFCCC ditunggu pada pertemuan di Lima, Peru, 2014. Kesepakatan dijadwalkan ditandatangani tahun 2016 di Paris.

Menurut Michael Oppenheimer, Guru Besar Kebumian Universitas Princeton, AS, salah satu penulis laporan IPCC, dunia tak bisa lagi menunggu. ”Harus beraksi cepat menghindari lewatnya batas 2 derajat celsius. Dengan pertaruhan bumi kita, kita tak bisa bertumpu pada keberuntungan,” ujarnya.

Nasib bumi dan seluruh isinya ada di tangan sekitar 190 kepala negara: bagian dari puzzle-puzzle kepentingan. (Brigitta Isworo Laksmi)

Sumber: Kompas, 10 November 2014

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Galodo dan Ingatan Air
Ketika Kereta Menghasilkan Listriknya Sendiri
Siapa yang Berhak Menyebut Ilmu?
Ketika Forensik Digital Bertemu Kekuasaan
Gen, Data, dan Wahyu
Bobibos: Api Kecil dari Sebuah Gudang Jerami
Biometrik dan AI, Tubuh dalam Cengkeraman Algoritma
Habibie Award: Api Intelektual yang Menyala di Tengah Bangsa
Berita ini 7 kali dibaca

Informasi terkait

Senin, 29 Desember 2025 - 19:32 WIB

Galodo dan Ingatan Air

Senin, 29 Desember 2025 - 19:06 WIB

Ketika Kereta Menghasilkan Listriknya Sendiri

Jumat, 26 Desember 2025 - 11:41 WIB

Siapa yang Berhak Menyebut Ilmu?

Jumat, 26 Desember 2025 - 11:38 WIB

Ketika Forensik Digital Bertemu Kekuasaan

Jumat, 26 Desember 2025 - 11:02 WIB

Gen, Data, dan Wahyu

Berita Terbaru

Berita

Galodo dan Ingatan Air

Senin, 29 Des 2025 - 19:32 WIB

Artikel

Ketika Kereta Menghasilkan Listriknya Sendiri

Senin, 29 Des 2025 - 19:06 WIB

Artikel

Siapa yang Berhak Menyebut Ilmu?

Jumat, 26 Des 2025 - 11:41 WIB

Artikel

Ketika Forensik Digital Bertemu Kekuasaan

Jumat, 26 Des 2025 - 11:38 WIB

Artikel

Gen, Data, dan Wahyu

Jumat, 26 Des 2025 - 11:02 WIB