Bostwana, Kampung Halaman Umat Manusia

- Editor

Rabu, 30 Oktober 2019

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Riset genetika terbaru membuktikan, nenek moyang manusia pertama dari jalur ibu tinggal di sekitar Botswana, Afrika, 200.000 tahun lalu

Dengan menganalisis DNA mtKondria, diketahui bahwa setiap orang yang hidup hari ini adalah keturunan wanita “L0” yang hidup di Botswana modern sekitar 200.000 tahun lalu. Daerah asal leluhur ini, yang disebut lahan basah-paleo Makgadikgadi-Okavango, berada di dekat Delta Okavango modern. Sumber: Eva K. F. Chan, Vanessa M . Hayes dkk dalam Nature, 2019

“Anda berasal dari leluhur perempuan yang dapat ditelusuri kampung halamannya di Afrika bagian timur dan hidup antara 150.000 tahun yang lalu,” demikian surat elektronik, yang dikirim laboratorium genetika di Amerika Serikat, sebulan setelah Kompas mengirim sampel saliva.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Rute perjalanan leluhur dari jalur perempuan dan persinggahannya hingga tiba di Indonesia itu digambarkan dalam grafis rinci. Setelah hidup di Afrika, keturunan perempuan pertama atau sebut saja “L” menyeberangi Laut Merah sekitar 70.000 tahun lalu. Sekitar 65.000 tahun lalu, lingkungan baru memicu mutasi genetik dan sejak itu motif genetiknya menjadi “L3”.

Perjalanan dilanjutkan generasi berikutnya Semenanjung Arab sekitar 57.000 tahun lalu, tiba di daratan Asia Tenggara sekitar 43.000 tahun lalu dan bermutasi menjadi haplogrup “F”, dan kemudian menjadi haplogrup “F1a1a1” dan tiba di Indonesia sekitar 5.500 tahun lalu atau sekitar 220 generasi.

Ahli genetika dari Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Herawati Supolo Sudoyo mengatakan, jika setiap orang yang hidup hari ini memeriksakan sampel asam deoksiribonukleat (DNA) mitokondria, niscaya akan bertemu dengan perempuan yang tinggal di Afrika antara 150.000 dan 200.000 tahun yang lalu.

Sekalipun secara antropologi dan genetik disepakati bahwa seluruh Homo sapiens memiliki moyang yang sama dari Afrika, teorinya dikenal sebagai Out of Africa, namun di mana persisnya leluhur awal tinggal, menjadi perdebatan. Hingga riset terbaru di jurnal Nature pada Senin (28/10/2019) menjawabnya.

Dengan menganalisis DNA mitokondria 1.200 orang di Afrika dan membandingkanya dengan bank gen manusia di dunia, tim peneliti menemukan kampung halaman manusia pertama. Antropolog Vanessa Hayes dari Garvan Institute of Medical Research dan University of Sydney, yang memimpin studi menyebutkan, “Setiap orang yang hidup saat ini dapat dilacak DNA mitokondria-nya pada manusia di kampung pertama ini.”

Hayes mengatakan, DNA mitokondria (mtDNA), yaitu materi genetik yang ada di tiap organisme, bertindak seperti kapsul waktu yang menyimpan informasi nenek moyang perempuan kita. Berbeda dengan sistem genetik DNA inti yang mengikuti hukum Mendel, mtDNA diwariskan secara maternal (garis ibu). Seorang ibu akan mewariskan mtDNA­nya kepada seluruh keturunannya dan selanjutnya anak perempuannya meneruskan ke generasi berikut.

Semua manusia modern mewarisi gen mtDNA dari grup besar “L”. Cabang “L” ini dibagi menjadi dua subkelompok, yaitu “L1” hingga “L6” dan “L0”. Dengan membandingkan cabang-cabang L itu, bisa diketahui bahwa setiap orang yang hidup hari ini adalah keturunan wanita “L0” yang hidup di Botswana modern sekitar 200.000 tahun lalu. Daerah asal leluhur ini, yang disebut lahan basah-paleo Makgadikgadi-Okavango, berada di dekat Delta Okavango modern.

“Temuan kami memperbaiki pohon evolusi manusia paling awal,” kata Eva Chan dari Garvan Institute of Medical Research, yang memimpin analisis filogenetik.

Perubahan lingkungan
Ahli geologi dari Universitas Rhodes, Andy Moore yang menyelidiki bentang alam purba mengemukakan, wilayah Makgadikgadi sebelumnya merupakan sistem danau terbesar di Afrika. “Sebelum kemunculan manusia modern, danau itu mengering karena terjadinya pergeseran lempeng. Peristiwa itu menciptakan lahan basah yang luas sehingga menjadi ekosistem paling produktif untuk menopang kehidupan,” kata Moore.

Ekosistem lahan basah kuno menyediakan lingkungan ekologis yang stabil bagi nenek moyang pertama manusia modern untuk berkembang selama 70.000 tahun. Kemudian, ketika iklim berubah, nenek moyang kita menyebar dalam dua gelombang: satu kelompok menyebar ke timur laut 130.000 tahun yang lalu, lalu yang lain pergi dalam migrasi kedua ke barat daya 110.000 tahun yang lalu.

Populasi ketiga tetap di kampung awal di sekitar Botswana itu sampai hari ini, yang mtDNA-nya ditemukan Hayes dan tim dan dikelompokkan sebagai “L0” itu. Menurut Hayes, kelompok migrasi ini kemungkinan mengikuti kawanan hewan keluar dari wilayah tersebut, seiring perubahan lingkungan.

“Berbeda dengan migran timur laut, penjelajah yang ke barat daya lebih berkembang dan populasinya tumbuh pesat,” kata Hayes. Kelompok yang berjalan ke arah barat inilah yang kemungkinan menjelajah ke berbagai penjuru dunia, termasuk ke Indonesia.

Apakah benar Botswana adalah tempat lahir bagi manusia pertama yang melahirkan semua orang yang hidup hari ini, berbagai penelitian menunjukkan bahwa Afrika pernah menjadi oase bagi nenek moyang kita. Seberapa pun perbedaan ciri fisik dan perilaku manusia di muka Bumi, memiliki akar sama.

Oleh AHMAD ARIF

Editor EVY RACHMAWATI

Sumber: Kompas, 30 Oktober 2019

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern
Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan
Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026
Mengapa Desain Jembatan Mahasiswa ITB Ini Dianggap Unggul di Kompetisi Internasional?
Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM
Langkah Strategis BYD dan Visi Haryadi Kaimuddin untuk Menuju Kemandirian Energi Indonesia
Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi
Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?
Berita ini 16 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 2 Mei 2026 - 07:11 WIB

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern

Jumat, 1 Mei 2026 - 08:15 WIB

Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:40 WIB

Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:29 WIB

Mengapa Desain Jembatan Mahasiswa ITB Ini Dianggap Unggul di Kompetisi Internasional?

Kamis, 30 April 2026 - 08:24 WIB

Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM

Berita Terbaru