Home / Berita / Beton Berongga dari Limbah Abu Batubara

Beton Berongga dari Limbah Abu Batubara

Peneliti LIPI mengolah abu dari hasil pembakaran batubara menjadi beton berongga untuk material konstruksi. Inovasi ini diharapkan bisa mengatasi timbunan limbah itu.

Limbah abu batubara yang tidak dikelola secara tepat dapat berdampak buruk pada lingkungan. Tim peneliti di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia pun berupaya mengembangkan berbagai inovasi dari limbah tersebut, salah satunya menjadi beton berongga.

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (Kementerian ESDM) jumlah produksi limbah abu batubara, baik abu terbang dan abu padat (fly ash dan bottom ash/FABA) yang diolah pada 2019 baru 9,7 juta ton. Itu hanya 10 persen dari total penggunaan batubara sebanyak 97 juta ton.

Upaya peningkatan pengelolaan FABA perlu menjadi perhatian pihak terkait. Pasalnya, limbah abu batubara yang tidak dikelola secara optimal menghasilkan timbunan yang semakin tinggi. Kondisi ini malah dapat mencemari lingkungan.

Jumlah produksi FABA di Indonesia diperkirakan akan terus meningkat seiring dengan bertambahnya kebutuhan batubara sebagai bahan bakar dari pembangkit listirik tenaga uap (PLTU). Diproyeksi, pada 2021 kebutuhan batubara sebesar 162 juta ton dengan prediksi potensi FABA yang dihasilkan mencapai 16,2 juta ton dengan asumsi 10 persen dari pemakaian batubara.

KOMPAS/CYPRIANUS ANTO SAPTOWALYONO—Tangkapan layar paparan Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ridwan Djamaluddin pada konferensi pers dalam jaringan terkait “Rantai Pasok Energi Primer Pembangkit Listrik”, Rabu (27/1/2021).

Karena itu, pengelolaan FABA harus semakin ditingkatkan. Pemerintah pun telah menghapus FABA dari kategori limbah bahan beracun dan berbahaya (B3) melalui Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, dengan kritik dari sejumlah pihak yang mengiringinya.

Pemerintah beralasan material FABA dari PLTU dihasilkan dari pembakaran batubara pada temperatur tinggi sehingga kandungan unburnt carbon di dalam FABA menjadi minimum dan lebih stabil saat disimpan. Di sisi lain, FABA dari industri yang menggunakan tungku industri atau stoker boiler tetap masuk kategori limbah B3. Kedua jenis limbah ini wajib dikelola dan memenuhi standar.

“Dengan dikeluarkannya FABA dari limbah B3 diharapkan izin dari pemanfaatan limbah itu pun menjadi lebih mudah. Karena memang sebenarnya kandungan yang ada di FABA masih di bawah ambang batas yang ditentukan sehingga aman untuk dimanfaatkan. Yang berbahaya justru jika tidak dimanfaatkan dan hanya menjadi timbunan,” ujar Kepala Pusat Penelitian Metalurgi dan Material Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Nurul Taufiqurochman di Jakarta, Sabtu (20/3/2021).

Ia mengatakan selama ini inovasi yang dihasilkan dari pengolahan FABA belum bisa diaplikasikan ke masyarakat karena masih masuk sebagai limbah B3. Hal itu menyebabkan pemanfaatannya menjadi amat minim.

Salah satu inovasi yang dihasilkan dari pemanfaatan FABA yaitu beton berongga dari LIPI. Inovasi yang mulai dikembangkan pada 2016 ini, memanfaatkan abu padat dengan sedikit abu terbang dari limbah abu batubara. Beton ini diklaim memiliki kekuatan yang sesuai standar serta lebih ramah lingkungan dibanding dengan beton konvensional.

LIPI—-Beton berongga dari limbah abu batubara

Nurul menuturkan, beton berongga diolah dari campuran abu padat, semen, air, zat aditif, dan sedikit abu terbang. Dari total keseluruhan campuran, sekitar 60-80 persen diantaranya merupakan abu padat.

Keunggulan
Beton yang diolah dari FABA ini juga memiliki berbagai keunggulan. Itu antara lain memiliki daya serap sampai 30 persen lebih tinggi daripada beton pada umumnya.

Dengan strukturnya yang berongga, beton ini mampu meneruskan limpasan air ke permukaan tanah. Ini sekaligus dapat mendukung penambahan cadangan air dalam tanah.

Beton ini pun cocok digunakan di daerah rawan banjir karena berdaya serap sekitar 1.000 milimeter per hari. Beton konvensional umumnya berdaya serap kurang dari 10 milimeter per hari.

“Beton berongga yang dikembangkan LIPI ini juga memiliki kekuatan 250-350 kilogram per sentimeter. Dengan kekuatan tersebut, beton ini dapat dipakai untuk jalan di perumahan, trotoar, ataupun tempat parkir,” ucap Nurul.

Ia menyampaikan, pemanfaatan limbah abu batubara sebagai bahan baku beton tidak memberikan dampak buruk bagi lingkungan dan masyarakat. Sejumlah kajian pun mendapatkan bahwa kandungan logam berat dari limbah abu batubara, seperti abu terbang dan abu padat masih di bawah ambang batas yang diizinkan.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pun menyatakan hasil kajian dan uji karakteristik oleh para ahli menunjukkan FABA dari PLTU masih di bawah baku mutu karakter berbahaya dan beracun.

Sudah dipatenkan
Pada awal pengembangan beton berongga, LIPI bekerja sama dengan Badan Kerjasama Internasional Jepang (JICA) dan Hakko Industry Co, Ltd. Dari kerjasama ini, sejumlah alat penekan untuk membentuk beton diterima LIPI. Alat ini sudah bisa direplikasi dan diproduksi di dalam negeri.

Dengan alat ini pula kekuatan beton yang diharapkan bisa dicapai. Selain itu, teknologi yang disematkan pada alat ini juga mampu menghasilkan beton yang dapat menyerap panas sehingga lebih nyaman bagi pejalan kaki. Beton yang dihasilkan LIPI telah mendapatkan paten pada 7 Agustus 2020.

Menurut Nurul, pemanfaatan FABA memiliki potensi besar di Indonesia. Sebagian besar tenaga listrik masih dihasilkan dari PLTU dengan bahan bakar batubara. Karena itu, berbagai intervensi dan dukungan perlu dilakukan agar bisa diolah secara optimal.

LIPI—-Pemanfaatan beton abu batubara

Dukungan itu terutama dibutuhkan dari pihak PLTU. Tempat pengolahan FABA sebaiknya dibangun di dekat industri tersebut agar pengangkutan limbah tidak terlalu jauh. Selain itu, pelatihan juga perlu diberikan kepada masyarakat sekitar agar bisa secara mandiri mengelola FABA sebagai produk yang lebih bermanfaat.

Pemerintah pun perlu membuat regulasi khusus untuk menstandardisasi produsen pengolah FABA. Limbah dari abu batubara ini tidak hanya bisa dimanfaatkan menjadi beton saja. LIPI saat ini juga tengah mengembangkan olahan FABA menjadi batu split.

“Ini memiliki prospektif karena bisa menggantikan batu split yang selama ini didapatkan dengan mengeruk material gunung,” kata Nurul.

Dirjen Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Rida Mulyana, dalam Kompas (16/3/2021) menyatakan, FABA yang dikelola dengan baik dapat memberikan keuntungan bagi negara, terutama dalam pembangunan infrastruktur. Kamar Dagang dan Industri Indonesia mencatat, pemanfaatan FABA sebagai campuran bahan baku beton berpotensi memberikan efisiensi anggaran pembangunan infrastruktur sebesar Rp 4,3 triliun sampai tahun 2028.

Oleh bDEONISIA ARLINTA

Editor: ICHWAN SUSANTO

Sumber: Kompas, 22 Maret 2021

Share
%d blogger menyukai ini: