Home / Berita / Bertemu Jurrasic di Sumatera

Bertemu Jurrasic di Sumatera

Bagai mosaik. Pecahan hamparan pantai Cathaysian dan Gondwana berupa lempeng-lempeng kecil itu terlepas. Saling terpisah. Lalu, mereka kembali bersama dalam perjalanannya ratusan juta tahun lalu. Bertemu untuk menjadi daratan baru. Salah satunya, jadilah Pulau Sumatera di 290 juta tahun lalu. Maka, kita bakal bertemu Jurrasic di atas tanah Sumatera ini.

Ya, Sumatera. Pulau ini unik dalam sejarah pembentukannya. Jauh sebelum pulau Indonesia lainnya seperti Sulawesi, Jawa, atau Bali, Pulau Sumatera terbentuk lebih dulu.

KOMPAS/AYU SULISTYOWATI–Batuan Jura di salah satu tebing di Kabupaten Merangin,Jambi.

Bukti-bukti serakan fosil kayu dan fauna sebagai penanda tahun pembentukannya pun dapat dilihat kasat mata di sekitar Kawasan Sungai Merangin, Kabupaten Merangin, Provinsi Jambi, Indonesia. Bagaikan laboratorium alam yang berharga. Datang dan berkeliling, fosil itu adalah ilmu.

KOMPAS/AYU SULISTYOWATI–Fosil Daun Paku di Merangin, Jambi.

Berawal dari penemuan geologis, Tobler asal Swiss di tahun 1917 dan 1924, ia menamai sebaran fosil itu sebagai Jambi Flora. Salah satunya, fosil Araucarioxylon, pohon yang tumbuh di zaman Jura, 290 juta tahun lalu (baca : kompas.id berjudul Cenderamata 290 Juta Tahun Lalu), pohon serta daun paku-pakuan di Sungai Merangin.

Bagi masyarakat setempat, hal itu dapat menjadi potensi wisata geologi dunia. Apalagi, sungai tersebut memiliki arus yang cukup deras jika musim hujan tiba. Mari bermain arung jeram dan sambil mendapat ilmu dari cerita sejarah terbentuknya Pulau Sumatera! Yeaaa…

Sejumlah pemuda lokal di Desa Air Batu berhasil mengawinkan legenda lokal dengan pengetahuan geologi ini untuk menarik perhatian para wisatawan. Paket wisata arung jeram yang mereka tawarkan membawa para wisatawan ke berbagai lokasi fosil Jambi Flora di sepanjang Sungai Merangin.

Selain mendapatkan penjelasan ilmiah tentang fosil-fosil tersebut, para wisatawan juga diperkenalkan dengan cerita rakyat tentang Batu Tuo, sebutan warga lokal untuk fosil-fosil era Perem hingga Jura.

“Warga di sini percaya jika memeluk batu itu, maka panjang umur, dan banyak wisatawan kemudian ikut memeluk fosil tersebut,” kata Samsul Huda, sambil tertawa.

KOMPAS/AYU SULISTYOWATI–Sungai Merangin, Jambi, yang dapat dipakai arung jeram sekalian wisata fosil. Foto bulan April 2018 lalu.

Samsul Huda, warga lokal yang memunculkan ide wisata arung jeram itu. Ia pernah menjadi pemandu ahli geologi Indonesia saat mereka meneliti fosil-fosil di sepanjang Batang Merangin dan Batang Mengkarang. Pengetahuan yang diperolehnya dari para ahli tersebut kini ditularkannya kepada para pemuda lokal. Selain itu, ia juga menginspirasi para pemuda setempat untuk aktif melindungi fosil-fosil tersebut.

Legenda tampaknya memang menjadi salah satu media untuk memahami alam pikir dan kebudayaan masa lampau manusia Jambi. Apalagi, masih minimnya penelitian-penelitian geologi, sejarah dan arkeologi tentang Jambi.

Singkat cerita geologi
Apa yang ditawarkan Samsul Huda kepada wisatawan arung jeram melihat penemuan fosil fauna merupakan bagian dari rangkaian geologi yang menarik. Kerang-kerang yang mengeras di atas batu-batuan membuktikan daratan Pulau Sumatera itu dahulu merupakan laut dangkal.

Mengapa? Kerang menunjukkan fauna yang bisa dipastikan hidup di lautan dangkal. Banyak fosil kerang ini ditemukan bertebaran di sekitar Sungai Merangin. Hal ini menguatkan Pulau Sumatera memang terbentuk dari gerakan laut dangkal.

Lalu di bagian mana bertemunya dengan Jurrasic?
Membaca atau mendengar kata Jurrasic, apa yang terbayang? Dinosaurus! Ya, tak salah memang. Hanya saja ada suatu masa yang bernama Jurrasic atau Jura. Masa sekitar 200 juta tahun lalu dalam lini masa geologi. Tapi, Tim Kaldera Nusantara Seri Masurai benar-benar bertemu Jurrasic di Sumatera.

DOKUMEN BADAN GEOLOGI–Fosil Kerang di Merangin.

Mereka bertemu batu-batuan yang berwarna kecoklatan-coklat muda-cream seperti kopi susu hingga ada yang kemerahan. Batuan warna itu dapat mudah ditemui kasat mata hampir di sepanjang perjalanan Sumatra jika ada tebing-tebing batu tinggi di pinggir jalan raya. Atau jika sudah menjadi daratan, batuan warna itu didapati berserakan di tanah.

Lagi-lagi, lalu dimana dinosaurusnya? Ya, dinosaurusnya bisa jadi di daratan jaman Jurrasic. Karena, era Jurrasic atau Jura tidak hanya berupa fosil dinosaurus di daratannya. Melainkan, lautnya, bahkan laut dangkalnya ditemukan fosil-fosil kerang dan daun-daun paku-pakuan.

Metcalfe (1988, 1996, 2011), dalam sejumlah penelitian di jurnal ilmiahnya, menjelaskan secara lebih lanjut proses pelepasan lempeng-lempeng mikro ini dan penggabungannya untuk kemudian membentuk Pulau Sumatra seperti sekarang ini. Hutchinson (2014) dan Hall et al (2014, 2017) juga merujuk pada model yang dikeluarkan oleh Metcalfe ini. Batuan dasar Sumatera yang berumur Perem hingga Jurrasic.

KOMPAS/AYU SULISTYOWATI–Dua orang peneliti Badan Geologi Kementerian ESDM tengah mengambil sample batuan Jura di Kabupaten Merangin, Jambi, pertengahan April 2018 lalu.

Sinopsis singkat sejarah geologinya, Koordinator Tim Kaldera Nusantara Gunung Masurai Dipowiguno, di Bandung, Jawa Barat, Jumat (31/8/2018), menjelaskan batuan tertua di Merangin adalah Formasi Mengkarang dan Formasi Palepat berumur Perem. Pada Perem Awal serpih hitam, sedimen klastik, dan terumbu secara setempat diendapkan di lingkungan tepi benua sampai lingkungan laut.

“Batuan ini ditindih oleh batuan gunungapi bersusunan andesit sampai basal, yang berselang-seling dengan serpih dan batugamping, diikuti oleh batuan gunungapi dasit. Urut-urutan ini ditafsirkan sebagai bagian dari kumpulan busur kepulauan gunungapi dan rangkaian terumbu yang berkaitan dengan lajur penunjaman dari jaman ke jaman,” kata Dipo.

Selanjutnya adalah penerobosan pluton granitoid terhadap batuan Perem pada Jura Awal, yaitu Granitoid Tantan. Penunjaman yang berulang pada Jura Akhir, lanjut Dipo, mengakibatkan terjadinya peristiwa pluton yang lebih lanjut di bagian barat blok “West” Sumatra. West Sumatera ini bukan Sumatera Barat. West ini merupakan nama masa pergerakan tanah yang menjadi cikal bakal Pulau Sumatera.

Dipastikan bahwa peristiwa perubahan bentuk setempat dan pemalihan berderajat rendah yang berkaitan dengan siklus magma granitik (147 sampai 138 juta tahun yang lalu), mengakibatkan peristiwa pemalihan terhadap batuan Formasi Asai.

“Hanya saja, apakah batuan Perem juga termalihkan pada peristiwa Jura ini atau lebih dini, belum terjawab pasti, dan hal ini dimungkinkan oleh kekurangan data petrografi dan data lapangan yang rinci,” lanjut Dipo.

Siklus Jura Akhir sampai Kapur Awal pluton ini berkaitan dengan penunjaman kerak Samudra Woyla di luar Sumatra. Pada waktu yang bersamaan sedimen daratan muka diendapkan di sepanjang tepian benua kearah timur dari lajur penunjaman dan sebagian diwakili oleh Formasi Peneta dan Formasi Rawas yang mempunyai lingkungan pengendapan air yang lebih dalam.

KOMPAS/AYU SULISTYOWATI–Lapisan Batuan Jura di Sumatera.

Pada akhir Kapur Awal penunjaman terhenti dan batuan Samudra Woyla terakresi ke pinggiran daratan blok West Sumatra. Selama akresi ini batuan gunungapi busur Woyla dan batuan ofiolit tercenangga, terbentang sejajar dengan tepian benua. Kemungkinan yang terjadi adalah sedimen Jura Akhir dan Kapur Awal Formasi Rawas dan Formasi Peneta pada waktu itu mengalami peristiwa malihan dinamik setempat.

Bersamaan dengan peristiwa akresi Kapur Tengah tersebut, busur pluton akhir orogenetic yang berkaitan dengan penunjaman dan berumur Kapur Akhir, berkembang di seluruh bagian tengah dan barat Sumatera. Magma granitoid teralih-tempat ke bongkah benua, termasuk Terrane Woyla yang terkratonkan, melalui sesar-sesar yang dalam, sejajar dengan tepian benua.

Pengangkatan dan pencenanggaan yang terjadi setelah siklus plutonik ini berakhir pada Kapur Akhir sampai Paleosen Awal, dan sesar naik serta sesar gesr setempat-setempat terekam pada daerah penelitian. Paleogen Awal merupakan waktu yang sepi, hampir tidak ada rekaman adanya sedimentasi di seluruh daratan Sumatra dan hanya kegiatan magma yang sangat sedikit yang terjadi sekali-sekali sepanjang Busur Barisan yang sedang muncul.

Penunjaman terjadi lagi pada Eosen Tengah dan cekungan-cekungan Sumatra terbuka akibat perluasan busur belakang. Pensesaran membongkah memotong sesar-sesar baratlaut-tenggara dan timurlaut-baratdaya sebagai akibat adanya pemampatan utara-selatan. Hal ini menghasilkan serangkaian cekungan sedimen yang memanjang yang dipisahkan oleh tinggian batuan dasar yang dibatasi oleh sesar.

KOMPAS/AYU SULISTYOWATI–Fosil Daun Paku di Merangin.

Dengan demikian terbentuklah Cekungan Sumatra Tengah dan Cekungan Sumatra Selatan. Proses pendalaman yang cepat cekungan-cekungan ini terjadi kira-kira sejak Oligosen Akhir dan menghasilkan genanglaut yang mencapai puncaknya sekitar Miosen Tengah dengan diendapkannya Formasi GUmai. Formasi Hulusimpang, yang merupakan bagian dari Lajur Barisan, diendapkan pada Oligosen AKhir dalam lingkungan laut dangkal dan daratan.

Hal ini menandai fase utama pertama kegiatan gunungapi regional Busur
Dari berbagai referensi, jelas Dipo, barisan dan dikorelasikan dengan Formasi Andesit Tua yang sebelum ini ditafsirkan berumur Miosen Awal. Formasi Papanbeupang yang sama umurnya diendapkan secara setempat pada cekungan yang dibatasi oleh sesar dalam lingkungan air tawar. Formasi Seblat mencerminkan sedimentasi laut di Cekungan Bengkulu pada waktu yang sama dan menerus sampai Miosen Awal.

Pada Miosen Tengah, Pegunungan Barisan terangkat dan seluruh geantiklin merupakan abtuan gunungapi. Kegiatan awalnya adalah andesitan tetapi kemudian terjadi letusan-letusan tuf asam, lava, dan klastika gunungapi. Tektonik lokal yang berkaitan mengubah bentuk batuan gunungapi Formasi Hulusimpang dan Batuan Mesozoik yang lebih tua.

Proses sedimentasi dalam keadaan susut laut pada Miosen Tengah hingga Miosen Akhir terjadi di Cekungan Sumatra Selatan. Untuk kemudian menerus hingga menghasilkan lingkungan daratan di bagian paling atas Formasi Muaraenim pada Pliosen awal.

Pengangkatan selama Pliosen Tengah hinga Akhir mengakibatkan ketidakselarasan setempat dan Formasi Kasai yang merupakan endapan daratan menindih tidak selaras satuan-satuan yang lebih tua. Perlipatan pada umumnya jelas dan disertai oleh pensesaran geser mendatar menganan, dan pensesaran berbalik secara setempat sepanjang Sistem Sesar Sumatra di Pegunungan Barisan. Kegiatan gunungapi yang luas disertai pengangkatan terjadi lagi di Busur Barisan sehubungan dengan penunjaman kembali sepanjang sistem busur-palung Sumatra.

Jadi… sepanjang berjalan-jalan di Pulau Sumatera, kita akan bertemu jaman Jurrasic melalui batu-batuan kecoklatan itu. Mungkin bisa membuktikan, Jurrasic itu masa yang tak semua identik dengan dinosaurus. Sumatera pun meninggalkan jejak fosil masa Jura yang juga Jurrasic ini. Ketika berasal dari lautan dangkal, Jurrasic dapat diwakili oleh fosil pakuan dan kerang-kerangan. Penasaran? Berpetualanglah di Merangin, Jambi, sambil wisata arung jeram di sugainya. Nikmati…–AYU SULISTYOWATI

Sumber: Kompas, 27 September 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

%d blogger menyukai ini: