Home / Berita / Berbehel Bukan untuk Ngetren

Berbehel Bukan untuk Ngetren

KEPOPULERAN kawat gigi bisa jadi karena jasa Tom Cruise. Pada tahun 2002, aktor Hollywood itu memamerkan gigi berbehelnya di muka publik. Ia memakai kawat gigi berbahan polimer bening untuk merapikan gigi kelincinya.
Dan benar, kesabaran Cruise me­ngawat giginya berbuah manis. Senyum pemain film ’’Rain Man’’ itu semakin menawan sejak melepas behel. Sejak itu, TV Guide melaporkan anak-anak Amerika tak takut dan malu lagi menggunakan kawat gigi.

Keberhasilan behel dalam merapikan gigi akhir-akhir ini juga dirasakan salah satu anggota Boyband One Direction, Niall Horan. Di awal kemunculannya, Niall adalah pemuda belasan tahun dengan gigi gingsul. Kini, gigi ginsul yang tidak rapi itu telah berubah menjadi deretan gigi yang rapi dan sempurna. Pemuda yang menggunakan behel pada 19 Desember 2011 itu bahkan sempat memajang senyum barunya lewat Twitter.

Tidak hanya di luar negeri, beberapa artis Indonesia pun tak mau kalah. Sebut saja artis Sophie Navita dan Ussy Sulistiawati. Keduanya mengaku mengawat giginya bukan karena untuk gaya-gayaan. Sophie mengaku membehel giginya pada saat orang-orang belum memasang behel. Itu dia lakukan karena rahangnya terlalu kecil untuk tempat tumbuh gigi-giginya.

’’Rahangku terlalu kecil untuk jumlah gigi yang tumbuh. Jadi, ya gigi tumpang tindih dan berebut gizi. Itu juga membuat seringnya kena radang gusi,’’ kata artis tomboi itu.

Ussy Sulistiawati pun merapikan giginya karena bermasalah dengan rahang. Pelantun tembang ’’Klik’’ itu merasa minder karena memiliki rahang bengkok. Sempat merasa terganggu karena behel membuatnya risih dan memengaruhi suaranya, kini kawat giginya itu telah berhasil mengubah penampilan Ussy menjadi lebih baik.

Selain mereka berdua, artis muda Alyssa Soebandono juga pernah mengenakan jenis perawatan gigi yang satu ini.

Meski secara sekilas gigi pemain sinetron ini sudah bagus dan rapi, tapi Alyssa mengaku tampilannya dengan behel karena anjuran dokter.

Alyssa yang membehel gigi atas dan bawahnya itu sempat mengaku merasa sakit karena giginya ditarik ke belakang. Beberapa kali behelnya juga terlepas dan makanan sering sekali tersangkut. Untungnya, perlahan-lahan, dara kelahiran 25 Desember 1991 itu berhasil melewati masa-masa ’’sulit’’ dengan behelnya.

Behel juga menarik perhatian artis Dhini Aminarti. Artis yang sering buka copot behel ini pernah mencoba memasang behel di bagian belakang gigi. Menurutnya, behel di belakang sama sakit dan repotnya dengan behel di depan gigi. Dhini mengatakan alasannya menggunakan behel karena dua gigi atasnya berukuran besar seperti gigi kelinci. (Siti Khatijah-11)
————
Jangan Pasang Sembarangan

MESKI terasa tidak nyaman dan merepotkan, behel sangat membantu Anda dalam merapikan gigi. Namun, tidak semua orang dapat percaya diri dengan kawat giginya. Nah, sudah siapkah untuk memasang kawat di gigi-gigi Anda? Berikut adalah tips yang perlu Anda perhatikan sebelum memutuskan membehel gigi.

Pertama, pakailah karena kebutuhan. Pastikan dahulu gigi Anda memang telah rusak, tidak rapi dan butuh penanganan. Orang yang boleh mengenakan behel adalah orang yang letak giginya tidak pada tempatnya, bertumpuk dan berjejal-jejal sehingga kekurangan tempat. Gigi yang tumbuh terlalu jarang sehingga ada celah di antaranya juga boleh dibehel. Posisi yang terlalu maju atau mundur pun sangat boleh dibehel. Pada dasarnya, kawat  berfungsi untuk merapikan gigi.

Kedua, gunakanlah jasa dokter khusus. Pemasangan behel tidak boleh dilakukan oleh tenaga nonmedis. Hanya dokter gigi tertentu yang bisa memasang behel yaitu dokter spesialis orthodonti. Jika Anda sembarangan pergi ke dokter gigi atau tempat lain, bisa-bisa berakibat fatal.

Beberapa dampat buruk jika Anda menyepelekan pemasangan behel adalah terjadinya radang gusi. Jika semakin parah, radang gusi akan membengkak.

Dampak lain adalah kelainan sendi yang bisa menyebabkan gigi goyah bahkan copot.

Ketiga, pilihlah jenis behel yang tepat. Ada berbagai jenis diantaranya behel yang terbuat dari metal dan clear/transparan. Bahan dasar transparan biasanya terbuat dari composite, porselin atau plastik. Ada juga behel dengan penahan karet/karet pengikat bracket (kotak yang ditempel di gigi). Behel jenis ini yang disukai anak muda karena bantalan karetnya berwarna-warni.

Keempat, ketahuilah tahapan pemakaian. Sebelum mengenakan behel, ada beberapa tahapan yang harus Anda lalui yaitu membuat cetakan model gigi, memotret gigi, merontgen gigi, kepala dan wajah secara keseluruhan.

Itu semua berguna agar perawatan benar-benar sempurna dan tidak asal-asalan. Biasanya, setelah memakai behel, wajah Anda akan berubah karena terkadang ada bebereapa gigi yang harus dicabut.

Kelima, ketahuilah efek memakai behel. Setidaknya ada beberapa efek yang timbul akibat behel. Efek tersebut misalnya rasa sakit ketika pertama kali menggunakan behel, risiko gigi berlubang dan karang gigi jika tidak menjaga kesehatan mulut, dan lain-lain.

Keenam, ketahuilah yang wajib dan dilarang untuk dilakukan. Ada beberapa hal yang wajib Anda lakukan jika berbehel, yaitu rajin menyikat gigi setelah makan dan selalu sediakan tusuk gigi, serta kontrol gigi sesuai jadwal.

Sedangkan hal yang tidak boleh Anda lakukan adalah mencoba melepas atau menyetel kawat gigi yang sudah dipasang dokter karena bisa mengubah susunan yang telah ditetapkan. Memakan permen karet, permen keras, daging yang liat, keripik, dan kerupuk yang keras juga tidak boleh. (Siti Khatijah-11)
————
Demi Senyum Memesona

Senyum  merekah dari bibir Betty Suarez. Ia senang ketika akhirnya melepas kawat giginya. Puas karena bisa memakan makanan apa saja tanpa takut tersangkut kawat giginya lagi, dan tentunya senang bisa memiliki senyuman sempurna, karena memiliki deretan gigi yang rapi.

Sebelumnya, Betty merasa tidak percaya diri dengan kawat giginya. Bahkan ia pernah diejek seorang anak kecil, ’’apakah kamu tidak terlalu tua untuk memakai kawat gigi?’’, yang membuat Betty membisu dan mengernyitkan dahi. Cerita tersebut merupakan bagian dalam serial “Ugly Betty”.

Kawat gigi memang mempunyai fungsi utama merapikan susunan gigi. Namun melihat fenomena orang-orang di Indonesia yang gemar memakai kawat gigi hanya karena fesyen/ supaya terlihat ’keren’, atau karena alasan lain yang tak ada hubungannya dengan estetika mulut, membuat fungsi behel bergeser menjadi ’hiasan’, bukannya ’alat’ untuk memperbaiki. Sebuah lelucon mengatakan, memakai kawat gigi di Indonesia itu gaul.

Fungsi kawat gigi adalah untuk membantu pengunyahan lebih mudah, karena kawat gigi merapatkan gigi yang renggang atau tidak rata. Karena kawat gigi membantu merapikan susunan gigi, otomatis, ketika gigi menjadi lebih rapi, membersihkan gigi jadi lebih mudah, permasalahan gusi berkurang,  rahang menjadi lebih bagus, dan secara estetika, daerah mulut menjadi sempurna.

Terutama pada anak-anak, kawat gigi dan alat ortodonsi lainnya, bisa membantu tumbuh kembang gigi, serta mengarahkan rahang agar berkembang secara normal. Untuk itu, orangtua perlu memperhatikan perkembangan anak mulai usia enam tahun. Jika rahang terlihat agak maju (rahang cakil), maka enam tahun adalah usia awal yang ideal untuk mulai memasangkan alat ortodonsi. Selain itu, fungsi kawat gigi yang belum banyak diketahui, adalah menarik gigi yang tumbuhnya pada mulut bagian dalam. Jadi, ada semacam rantai yang dikaitkan pada gigi yang akan ditarik, dengan kawat pada deretan gigi.

Usia Ideal
Melihat begitu beragamnya usia pemakai kawat gigi di Indonesia, sebenarnya, usia berapa yang paling ideal memakainya? Menurut drg. Erly Budianto, Sp. Ort, yang ideal adalah setelah semua gigi tetap tumbuh. Namun, pada usia berapapun, kawat gigi bisa berfungsi, bahkan pada usia 60an. “Tapi tentu saja perawatannya berbeda, lebih banyak dan waktu perawatannya lebih lama. Dan tidak semua orang yang lanjut usia permasalahan mulut dan giginya bisa ditangani,” jelas drg. Erly.

Lebih lanjut, dokter spesialis ortodonsi RS Tlogorejo, Hermina dan St. Elisabeth ini menjelaskan, salah satu hal yang paling membantu dari kawat gigi pada usia dewasa adalah, ketika akan memasang gigi palsu. Susunan gigi yang renggang, direkatkan dengan kawat gigi, sehingga bisa menyisakan ruang untuk gigi yang baru.

Kualitas dan tidak
Anda pasti pernah mendengar, atau menyaksikan secara langsung, penjualan kawat gigi secara online. Atau, banyaknya klinik gigi, khusus untuk pemasangan kawat gigi, yang tidak ditangani dokter gigi. Untuk kasus ’belanja’ kawat gigi secara online, drg. Erly sering bertemu pasien yang datang sudah membawa kawat gigi, dan memintanya untuk memasangkannya. “Memasang kawat gigi itu tidak semudah yang dibayangkan. Rumit, dan ada aturannya. Tidak sekadar beli, lalu pasang,” paparnya.

Kita tak pernah tahu seperti apa kualitas kawat gigi yang dijual bebas di internet. Orang-orang tergoda membelinya, karena harga yang jauh di bawah harga standar rumah sakit atau dokter gigi. Bahkan beberapa kawat gigi online ini, ada yang bekas. Kawat gigi yang tak berkualitas, tidak memiliki sudut-sudut yang akurat. Sedangkan kawat gigi yang berkualitas memiliki sudut-sudut bracket yang akurat untuk setiap gigi.

Lalu, bagaimana dengan mema­sang kawat gigi pada klinik yang tidak ditangani ahlinya? Memasangkan kawat bisa jadi tidak akurat. Akibatnya, susunan gigi yang harusnya menjadi lebih rapi, malah semakin berantakan, gigi tumbuh tidak rata. Gusi menjadi berdarah, karena pembersihan lem yang tak maksimal ketika memasang-kan karet. Lem menyumbat sela-sela gigi, sehingga mengakibatkan gusi berdarah. Pemasangan yang terlalu kuat, selain menimbulkan rasa sakit yang luar biasa, bisa membuat gigi mati.

Selain itu, klinik-klinik yang tidak ditangani ahlinya ini, tidak melakukan pengontrolan yang lengkap terhadap pasien-pasiennya. Perawatan rutin yang dilakukan, kadang hanya sebatas penggantian karet. Padahal, kontrol rutin yang harus dilakukan ke dokter gigi, tidak hanya sebatas penggantian karet. Tidak pernah melakukan kontrol rutin ke dokter gigi dalam kurun waktu yang lama, karena terlalu sibuk, malas, atau alasan klise, karena sedang bokek, membuat behel kehilangan fungsinya. Tak jarang, karena dalam kurun waktu tahunan tidak pernah memeriksakan behelnya, menyebabkan karet dan kawat gigi lepas sebagian. Jadi, jika waktu memakai behel yang ditentukan dokter ketika memasangnya adalah dua tahun, bisa menjadi enam tahun, karena tidak pernah melakukan kontrol.

Dan memakai kawat gigi hingga waktunya ’kadaluwarsa’ ini, tentu berefek buruk, karena kita seperti menyimpan barang kotor di dalam mulut. Efeknya adalah caries atau karang gigi, gusi berdarah, meradang, gigi berlubang, dan susunan gigi kembali berantakan. Ya, kawat gigi telah kehilangan fungsinya.

Memasang kawat gigi pada ahlinya (dokter gigi/ ahli ortodonsi), yang membuatnya mahal bukan dari harga kawat gigi, tapi keahlian dokter yang melakukan pemasangan. Drg. Erly mengatakan, jika hendak memasang kawat gigi, butuh sebuah konsistensi dan kedisiplinan. Karena Anda tak hanya sekadar memasang benda sebagai simbol fesyen atau ’gaul’ pada gigi, tapi komitmen untuk membuat deretan gigi lebih bagus, sehat dan ’pergeseran’ yang maksimal; mengikuti semua prosedur dokter, dan rajin melakukan kontrol. Karena memiliki senyum sempurna dan kondisi mulut yang sehat adalah investasi seumur hidup.(11)–Irma Mutiara Manggia

Sumber:Suara Merdeka, 16 Juni 2013

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Peran dan Kontribusi Akademisi Lokal Perlu Ditingkatkan

Hasil riset akademisi memerlukan dukungan akses pasar. Kolaborasi perguruan tinggi dan industri perlu dibangun sedini ...

%d blogger menyukai ini: