Bensin dari Sampah Plastik

- Editor

Senin, 30 Mei 2011

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SAMPAH plastik saat ini telah menjadi momok sangat menakutkan bagi masyarakat umumnya dan pencinta lingkungan khususnya. Plastik tidak dapat terurai dalam tanah. Itu berbeda dari sampah organik seperti sisa makanan yang sangat mudah terurai. Karena itu, dikhawatirkan sampah plastik akan menyebabkan degradasi fungsi tanah.

Sampai saat ini, plastik memang masih sulit tergantikan untuk berbagai kebutuhan sehari-hari seperti kemasan makanan, tas, produk elektronik, automotif, mainan. Penggunaan plastik akan terus meningkat karena kelebihannya, antara lain ringan dan kuat, tahan terhadap korosi, transparan dan mudah diwarnai, dan sifat insulasinya cukup baik. Otomatis produksi sampah plastik terus meningkat dari tahun ke tahun.

Kita masih beruntung ada para pemulung yang sedikit mengurangi timbunan sampah, untuk selanjutnya didaur ulang. Namun masih banyak sekali sampah plastik yang terbuang dan belum terselesaikan hingga saat ini. Jadi perlu solusi jangka panjang untuk mengurangi sampah plastik sekaligus dapat menghasilkan produk lain yang bermanfaat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Daur Ulang

Proses daur ulang menjadi sangat populer saat ini. Namun hanya daur ulang tertentu yang selama ini dijalankan. Padahal ada banyak alternatif proses daur ulang yang lebih menjanjikan dan berprospek ke depan. Salah satunya mengonversi sampah plastik menjadi bensin. Itu bisa dilakukan karena pada dasarnya plastik berasal dari minyak bumi, sehingga tinggal dikembalikan ke bentuk semula.

Keuntungan sampah plastik adalah tidak menyerap air, sehingga kadar air sangat rendah dibandingkan sampah kertas, sisa makanan, dan biomassa. Plastik juga mempunyai nilai kalor cukup tinggi, setara dengan bahan bakar fosil seperti bensin dan solar.

Mekanisme proses intu menggunakan pirolisis, yaitu memanaskan plastik pada suhu di atas 400 derajat Celcius tanpa oksigen. Pada suhu itu, plastik akan meleleh dan berubah menjadi gas. Pada saat proses tersebut, rantai panjang hidrokarbon akan terpotong menjadi rantai pendek. Selanjutnya proses pendinginan dilakukan pada gas tersebut sehingga mengalami kondensasi dan membentuk cairan.

Cairan itulah yang kelak menjadi bahan bakar, baik berupa bensin maupun bahan bakar diesel. Untuk mendapatkan hasil dan performa lebih baik, ditambahkanlah katalis. Beberapa parameter sangat berpengaruh terhadap produk yang dihasilkan, antara lain suhu, waktu, dan jenis katalis. Katalis dari jenis zeolit dan silica-alumina banyak digunakan dalam proses itu.

Sangat Krusial

Satu kilogram plastik bisa menghasilkan sekitar 1 liter minyak, sehingga bisa diperkirakan berapa minyak dihasilkan dari proses itu. Konversi plastik itu menjadi sangat krusial ketika makin minim tempat pembuangan sampah dan harga minyak dunia terus meningkat.

Beberapa negara telah banyak mengembangkan teknologi itu, seperti Jepang, Jerman, AS, dan India. Pabrik skala komersial pun sudah diujicobakan untuk mendapatkan performa terbaik. Sayang hingga saat ini Indonesia belum banyak mengembangkan teknologi itu sampai pada skala komersial. Padahal, bila dikembangkan, satu persoalan mengenai sampah telah terselesaikan dan ada keuntungan lain dari produksi bahan bakar yang mempunyai nilai jual.

Dari sinilah perlu kebijakan pemerintah tentang pengelolaan dan pengolahan sampah plastik, sehingga bisa mendorong industri pengolahan sampah plastik mencapai skala keekonomian. Tentu itu semua perlu didukung seluruh lapisan masyarakat, khususnya dalam hal pemilahan sampah. Perlu edukasi pada masyarakat mengenai hal itu. Peran perguruan tinggi tentu sangat penting dalam mengedukasi masyarakat dan pengembangan teknologi pengolahannya. Akhirnya, sinergi semua pemangku kepentingan yang dimotori pemerintah sangat perlu demi keterwujudan lingkungan yang terjaga dan mengurangi ketergantungan pada beberapa sumber energi primer. (51)

M Syamsiro ST MT, pengajar Jurusan Teknik Mesin Universitas Janabadra Yogyakarta

Sumber: Suara Merdeka, 30 Mei 2011

Informasi terkait

Batas yang Menentukan Nasib Bintang
Padamnya Lentera Malam
Titik Temu di Ujung Semesta
Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains
Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern
Iman dan Sains, Dua Sayap Kebangkitan Peradaban Islam
Menyusuri Jejak Awal Semesta
Memahami Manusia dari Dua Jalan
Berita ini 28 kali dibaca

Informasi terkait

Kamis, 25 Juni 2026 - 20:11 WIB

Batas yang Menentukan Nasib Bintang

Kamis, 25 Juni 2026 - 14:21 WIB

Padamnya Lentera Malam

Senin, 22 Juni 2026 - 15:10 WIB

Titik Temu di Ujung Semesta

Minggu, 21 Juni 2026 - 09:56 WIB

Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains

Sabtu, 20 Juni 2026 - 20:51 WIB

Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern

Berita Terbaru

Artikel

Batas yang Menentukan Nasib Bintang

Kamis, 25 Jun 2026 - 20:11 WIB

Artikel

Padamnya Lentera Malam

Kamis, 25 Jun 2026 - 14:21 WIB

Artikel

Titik Temu di Ujung Semesta

Senin, 22 Jun 2026 - 15:10 WIB

Artikel

Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains

Minggu, 21 Jun 2026 - 09:56 WIB

Artikel

Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern

Sabtu, 20 Jun 2026 - 20:51 WIB