Home / Berita / Bauhaus, Menyatukan Arsitek, Pelukis, dan Pemahat

Bauhaus, Menyatukan Arsitek, Pelukis, dan Pemahat

Arsitektur “bergaya Bauhaus”. Mungkin Anda pernah dengar itu. Bahakan mungkin pula Anda pernah dengar selintas nama arsitek kondang seperti Walter Gropius dan Ludwig Mies van der Rohe. Lantas ketika Anda ke Eropa, Anda melihat gedung modern dan perumahan berbentuk kotak yang seolah tanpa jiwa bila dibandingkan dengan rumah bergaya klasik abad ke-19.

ADA ”benang merah” yang bisa ditarik dari berbagai fakta itu. Itulah arsitektur modern yang menandai pergantian abad. Yang bermula dari penggabungan dua buah sekolah seni di Jerman, tetapi dalam perjalanannya kemudian tumbuh menjadi sekolah yang bertujuan akhir ”bangunan” (bauen). Yang memadukan antara seni dan kerajinan. Yang tumbuh bukannya tanpa tentangan. Yang dalam perjalanannya pun penuh dengan konflik di dalam. Tetapi Bauhaus bisa menjadi semacam ”aliran” dalam arsitektur.

Bahkan sebagai sebuah lembaga pendidikan, Bauhaus kemudian mencapai puncak namanya justru ketika secara resmi ditutup penguasa tahun 1933. Tetapi gagasan modernisasi kehidupan radikal tidak berhenti dengan ditutupnya Bauhaus. Yang terjadi gagasan itu masih menyebar ke tingkat internasional. Amerika merupakan salah satu kawasan yang dipengaruhinya.

Walter Grapius dan Marcel Breuer pindah ke Harvard University, Ludwig Mies van der Rohe pindah ke Chicago. Sementara anggota Bauhaus yang lain menyebar di Eropa, Uni Soviet, dan Timur Tengah. Dan sisanya diam-diam saja di Jerman saat Nazi berkuasa.

Sebagai kesatuan
Tidak seperti sekolaah seni dan arsitektur yang umumnya dipenuhi dengan mahasiswa dan professor, Bauhaus menggunakan cara yang lain. Pengajar disebut sebagai ”guru ahli” (master).
Sedangkan yang diajar merangkak dari magang, lantas menjadi magang madya dan pada akhirnya ”guru muda”. Seluruh urusan Bauhaus diputuskan oleh Dewan Guru Ahli, yang punya hak untuk memutuskan siapa saja yang dianggap pantas menjadi ”guru ahli”.

Falsafah utama Bauhaus adalah ”semua saling bekerja sama untuk tujuan akhir: menciptakan bangunan”. Artinya tidak ada posisi yang satu lebih tinggi dari yang lain, seperti seniman di atas tukang. Semuanya sejajar Karena itu murid pun tidak sekadar diajar teori, tetapi juga praktek.

Begitu kuatnya kesatuan yang tercipta dalam Bauhaus sampai-sampai sekolah ini seperti memiliki semangat komunitas yang tinggi dan menonjol. Semua merasa dirinya seniman, tetapi bukan seniman yang hanya menunggu ilham dan tidak menggunakan tangannya untuk bekerja. Mereka bukan seniman yang hanya memproduksi sesuatu sesekali dalam setahun.

Mereka adalah seniman pekerja yang mencipta langsung seperti layaknya tukang; memproduksi perabotan, karpet, ataupun dekorasi interior. Dan dari situlah mereka mendapatkan upah.

Baca manifesto Bauhaus berikut ini, seperti dikutip William JR Curtis dalam Modern Architecture: since 1900 ”Bangunan yang utuh adalah tujuan akhir dari seni visual… Arsitek, pelukis, dan pematung sekali lagi harus menyadari sifat bangunan sebagai kesatuan komposit (terdiri dari berbagai hal berbeda-Red)… Marilah kita membentuk gilda baru pengrajin, tanpa kesombongan kelas yang mencoba menegakkan batas antara seniman dan pengrajin. Marilah kita pikirkan, pertimbangkan, dan ciptakan bersama bangunan baru masa depan yang akan membawa semuanya menuju sebuah kreasi terpadu: arsitektur, lukisan dan patung bergerak bersama mengangkat jutaan tangan pengrajin, simbol dari keyakinan masa depan”.

Konflik antarguru
Tetapi perjalanan Bauhaus sepertinya tidak lekang dari konflik. Ketika kebanyakan murid Bauhaus tidak bisa menjual karyanya karena resesi yang melanda dunia (termasuk Jerman kala itu), sebuah proyek besar pun diperoleh tahun 1920. Pemilik proyek adalah seorang pedagang kayu kenamaan, Adolf Sommerfeld.

Yang membuat desain adalah Walter Gropius. Sedangkan yang membuat ornamen ruang dalam serta desain benda-benda pelengkapnya adalah murid-murid Bauhaus.

Tetapi, kendati Rumah Sommerfeld itu merupakan proyek yang sukses, ternyata ia sekaligus menimbulkan konflik antara Walter Gropius dan ”guru ahli” lainnya, yaitu Johannes Itten. Bagi Itten, seperti ditulis Magdalena Droste, dalam buku Bauhaus, seseorang harus memutuskan apakah ia akan memproduksi karya individual, karya pribadi yang sama sekali berbeda dari dunia luar yang komersial, atau ia akan membiarkan dirinya berkompromi dengan industry

Gaya Itten yang tidak mudah berkompromi ini memang berbeda dengan Gropius. Bagi Gropius, jatuh bangunnya Bauhaus ditentukan oleh mau tidaknya orang-orang Bauhaus untuk menerima atau sebaliknya menolak komisi. Karena Walter Gropius mencanangkan tekad bahwa Bauhaus harus bisa menghidupi dirinya sendiri, maka ia pun rela mencari proyek. Ia sering menemui pelanggan potensial dan para industrialis. Bahkan, kebanyakan proyek yang digarap Bauhaus sebenarnya datang dari praktek pribadi Gropius.

Konflik Gropius-Itten memuncak saat Gropius memberikan proyek kepada bengkel kerja Bauhaus untuk menggarap tempat duduk Jena Theatre, gedung yang baru direnovasinya bersama Adolf Meyer. Gara-gara hal itu, Itten menarik diri dari kewajibannya mengurus bengkel kerja Bauhaus. Dan hanya satu semester kemudian ia sama sekali keluar dari Bauhaus.

Gaya Itten memang tidak cocok dengan cara Gropius. Itten yang lebih kontemplatif adalah ciri seniman yang menolak komisi. Bagi Itten seharusnya pendidikan di Bauhaus menciptakan manusia kreatif yang bisa menyatukan antara dirinya dan dunia. Ini bisa diperoleh dengan cara meditasi dan melakukan ritual. Kedua hal ini di mata Itten lebih panting daripada bekerja. Karena itu, biasanya sebelum memulai pelajara, Johannes Itten mengajak murid-muridnya untuk menarik nafas dalam-dalam dan melakukan meditasi.

Keluarnya Itten dari lingkaran Bauhaus agak mengubah pendidikan di bengkel kerja sekolah itu. Pengajaran tidak lagi menekankan pada kepribadian individual, melainkan pada penciptaa produk baru yang sesuai dengan persyaratan industri. Ini sangat disayangkan, karena kemudian pengrajin tangan dan produknya menjadi kurang artinya.

Konflik guru-murid
Konflik yang timbul di Bauhaus ternyata tidak cuma melanda guru-guru ahli alias master, melainkan juga antara murid dan guru. Tiga tahun menjelang ditutupnya Bauhaus tahun 1933, ”keributan” pun timbul pada saat kepemimpinan Bauhaus beralih dari tangan Hannes Meyer ke Ludwig Mies van der Rohe. Murid sempat mogok belajar karena menilai ada yang tak bares dalam peralihan itu. Apalagi murid merasa tidak diajak berembuk.

Tetapi dalam konflik yang satu ini, ternyata gambaran demokrasi yang pada awalnya menonjol di Bauhaus jadi hilang. Gaya kepemimpinan Mies van der Rohe adalah ”tangan besi”. Di belakangnya berperan juga Dewan Guru Ahli yang meminta muridnya melaporkan siapa-siapa (termasuk guru) yang menantang peralihan direktur Bauhaus tersebut.

Karena para murid Bauhaus menolak, maka Bauhaus ditutup sementara. Status Bauhaus yang sebelumnya diubah digantikan dengan status baru. Masing-masing murid (dari 170 murid yang ada) diharuskan mendaftar kembali. Penghuni 26 asrama mahasiswa harus keluar. Dan akhirnya, lima mahasiswa yang dekat dengan Hannes Meyer pun dipecat.

Kalau Bauhaus di bawah Gropius dan Meyer mempunyai kerangka sosial yang luas, tidak demikian halnya saat Ludwig Mies van der Rohe memimpin. Bauhaus dipersempit menjadi lembaga pelatihan kerajinan tangan, teknik dan artistik. Tidak lebih dari itu.

Kalau sebelumnya segala hal diputuskan bersama, di mana murid punya hak bicara maka pada saat Mies van der Robe menjadi direktur, dialah satu-satunya yang berhak memutuskan apapun juga. Murid tidak lagi mempunyai perwakilan di dalam Dewan Guru Ahli. Kegiatan politik di sekolah dilarang sama sekali. Bahkan yang lebih parah, merokok tidak lagi diperkenankan.

Arsitek dipentingkan
Di bawah ”tangan besi” Mies van der Rohe inilah kurikulum Bauhaus diubah, menjadi hanya enam semester. Di dalamnya, arsitektur menjadi lebih penting dibandingkan masa-masa sebelumnya, yang menganut azas kesejajaran.

Murid-muridnya Sejak saat itu bisa mangambil kelas tentang teknik bangunan sejak tingkat dua tanpa harus berurusan dengan bengkel kerja kerajinan. Jadi mereka bisa belajar soal arsitektur tanpa harus mempelajari misalnya cara membuat pot, lampu meja kursi, karpet dan lain-lain.

Salah satu dasar penting dari keutuhan Bauhaus telah dihilangkan. Arah Bauhaus berubah. Ia nyaris semata-mata menjadi sekolah arsitektur, yang memiliki sejumlah kecil bengkel kerja.

Beberapa bengkel kerja yang masih dipertahankan antara lain adalah desain interior (ausbau). Di sinilah murid bisa menimba ilmu seperti bagaimana membuat lukisan dinding dan bagaimana memperlakukan logam. Demikian juga dengan bengkel kerja tenun (weberei) dan periklanan (reklame) tetap dibiarkan berjalan.

Tetapi fotografi yang di zaman Meyer merupakan bagian dari departemen periklanan sejak saat itu dipisahkan sama sekali. Selain itu dibuat juga departemen baru yaitu ”seni bebas”. Pelajaran dasar (Vorkurs) yang dulunya wajib diambil pada Bauhaus lama tidak lagi menjadi keharusan bagi semua murid. Mereka yang merasa sudah cukup dengan Vorkurs ini, boleh memutuskan untuk tidak melanjutkannya lagi dengan menyelesaikan studinya, khususnya di arsitektur.

Pada akhir semester, ditetapken apakah murid yang bersangkutan boleh meneruskan atau tidak pendidikannya di Bauhaus. Sebagai kriterianya adalah pekerjaan akhir yang dipamerkan pada akhir semester.

Perubahan Bauhaus memang cukup drastis. Konsep belajar-mengajar yang berdasarkan prinsip magang tidak dikenal lagi. Bauhaus menjadi lembaga pendidikan yang tak ubahnya seperti sekolah biasa. Ada rutinitas harian yang harus dilakukan baik murid maupun guru. Pada hari libur murid mendapat tugas praktek.

Bengkel kerja pun diubah secara mendasar. Mereka hanya memproduksi barang dengan model sesuai yang diinginkan industri. Bauhaus tidak lagi menjadi pencipta, produsen, maupun kontraktor seperti di masa Walter Gropius.

Meski Bauhaus di masa Ludwig Mies van de Rohe menggembirakan para pengrajin setempat –yang selama itu melihat Bauhaus sebagai saingan kuat– murid-muridnya tidak lagi mendapat uang, setelah itu tidak. Mereka Cuma belajar, belajar dan belajar.

Arsitektur di Bauhaus pun tidak lagi dilihat sebagai kesatuan dengan unsure-unsur bangunan yang lain. Dia menjadi menyendiri dan tak sejajar lagi. (fit)

Sumber: Kompas, Jum’at, 12 Januari 1996

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Balas Budi Penerima Beasiswa

Sejumlah anak muda bergerak untuk kemajuan pendidikan negeri ini. Apa saja yang mereka lakukan? tulisan ...

%d blogger menyukai ini: