Home / Berita / Le Corbusier, Karyanya Diilhami Masjid dan Hubungan Manusia

Le Corbusier, Karyanya Diilhami Masjid dan Hubungan Manusia

ARSITEK atau mahasiswa jurusan arsitektur sedunia pasti mengenal nama Le Corbusier sebagai salah satu arsitek besar dunia sejajar dengan Gaudi, Frank Lloyd Wright, Otto Wagner, Frei jOtto, atau juga Kenzo Tange. Nama Le Corbusier identik dengan bangunan modern dengan bentuk sederhana, namun berestetika tinggi dan mempunyai penataan fungsi sangat efisien.

SELAIN itu, Le Corbusier juga identik dengan kota Paris yang merupakan tempatnya berpraktek dalam soal tata kota. Paris juga menjadi sumber ilhamnya tentang kensep hunian manusia. Walau ia berasal dari Swiss, di ibu kota Perancis inilah ia melewatkan sebagian besar waktu hidupnya, dan akhirnya Museum Le Corbusier juga didirikan di kota ini. Kalau kota Barcelona identik dengan nama Gaudi, kota Paris identik dengan nama Le Corbusier.

Membicarakan arsitek terkenal ini kita seperti membicarakan sebuah pemikiran panjang ke depan tentang konsep tata kota dan tata hunian yang nyaman dan menyenangkan bagi manusia. Popularitas Le Corbusier tetap bertahan sampai kini, bahkan cenderung bertambah, karena rancangan perkotaan yang dibuatnya pada awal abad ini, ternyata masih sangat relevan untuk diterapkan sekarang. Bahkan konsep hemat energi yang kini giat dicanangkan orang telah diperkenalkan Le Corbusier sejak dulu dengan konsep jendela-jendela panjangnya.

Mungkin kita heran bagaimana kota Paris yang mengesankan kota abad lalu ini bisa mengilhami Le Corbusier dalam menghasilkan rancangan-rancangan klasik yang tidak mudah “basi”. Sebenarnya, ide kota Paris bagi Le Corbusier lebih kepada konsep hunian manusia secara umum dengan memberi porsi kepada rasa seni penghuninya, bukan melulu pada bentuk.

Hal itu wajar karena selain sebagai arsitek Le Corbusier terkenal pula sebagai seniman lukis. Karya-karyanya dimiliki banyak kolektor, dan sebagian kecil karyanya kini terpampang di Foundation Le Corbusier yang terletak di 8 Square du Docteur Blanche, Paris.

Lukisan karyanya bukan sekadar sebagai hobi atau selingan di waktu senggang. Ada keterkaitan antara
bangunan karyanya dengan sebuah lukisan yang dibuatnya pada saat yang sama. Bahkan Le Corbusier
mengalami ”revolusi” dalam gaya melukis setelah ia menikah dengan seorang gadis Perancis.

DILAHIRKAN sebagai Charles Edouard Jeanneret-Gris di La Chaux de-Fonds, Swiss, pada tanggal 6 Oktober 1887, Le Corbusier sebenarnya jauh dari akar arsitektur atau seni rupa. Karena keluarganya lebih mempunyai minat dalam musik, bakat seni dan arsitektur dalam dirinya murni karunia alam.

Pada usia 13 tahun, Le Corbusier masuk Ecole d’Art (sekolah seni) di kota kelahirannya atas keinginannya sendiri. Baru dua tahun ia studi di sana, ia telah meraih penghargaan Medaille a l’Exposition des Arts Decoratifs di Turin, Italia.

Pada tahun 1905 atau pada usianya yang ke-18, Le Corbusier telah mengerjakan karyanya yang pertama di kota kelahirannya yaitu bangunan yang bernama Maison Fallet.

Menyadari bahwa ia bagai katak dalam tempurung, Le Corbusier lalu merencanakan perjalanan panjangnya menjelajahi berbagai penjuru dunia untuk “mencari gantungan” bagi berbagai ide yang ada di benaknya pada tahun 1907. Perjalanan pertamanya ke daratan Eropa ini mempertemukannya dengan arsitek-arsitek Auguste Perret, Tony Garnier, dan Peter Behrens yang menjadi dasar bagi pemikiran arsitekturnya mendatang.

Namun perjalanan awal yang paling membentuk dirinya adalah perjalanan yang dinamakannya ”Perjalanan ke Timur” (Voyage d’Orient) ke negara-negara mediterania. Beberapa konsep arsitektur timur ini lalu menjadi ciri bagi rancangan-rancangan Le Corbusier, walau tidak kentara.

Perjalannya ke Paris yang pertama kali pada tahun 1917 mempertemukannya dengan arsitek Amedee Ozenfant yang lalu membuatnya memproklamirkan aliran seni rupa le purisme yang menjawab tantangan aliran kubisme dari Picasso dkk.

ALIRAN arsitektur yang dikembangkan Le Corbusier dikenal dengan l’Espritw Nouveau atau aliran ”semangat baru” sejak tahun 1920-an, diawali dengan karya-karya yang umumnya berupa rumah tinggal di Vaucresson, Paris, Boulogne, Garches, dan Poissy.

Sampai era ini, selain karya-karya bangunan untuk manusia yang dibuatnya, lukisan-lukisan karya Le Corbusier juga terus mengalir dengan ciri sekilas mirip kubisme, walau disebut sendiri oleh pembuatnya
sebagai purisme. Ciri menonjol dalam purisme ala Le Corbusier ini adalah sama sekali tidak menampilkan manusia di dalamnya. Sampai era ini, kita melihat sebuah benang merah yang sama antara lukisan karyanya dengan bangunan yang dirancangnya. Sebuah titik awal bagi rancangan Le Corbusier selanjutnya terjadi setelah ia menikah dengan Yvonne Gallis pada tahun 1935 (pada tahun yang sama Le Corbusier menjadi warga negara Perancis). Sejak menikah, Le Corbusier seperti disadarkan pada esensi hubungan antar-manusia. Le Corbusier sadar betapa selama ini ia seakan ”berbicara pada dirinya sendiri” saja pada rancangan-rancangannya.

Sejak menikah, Iukisan purisme karya Le Corbusier mulai memasukkan gambar manusia di dalamnya, dan sejak saat itu ia mulai memikirkan konsep bangunan yang punya ”hubungan” dengan alam sekitarnya. Secara umum Le Corbusier sudah memikirkan dasar-dasar tata kota secara mikro.

Perkawinan pula yang memacunya makin kreatif. Perjalanan ke timurnya lalu membuahkan konsep-konsep yang mendasari aliran Corbusier, atau bahkan aliran arsitektur modern secara umum. Dialah pencetus kongres arsitek modern (Congres Internationaux d’ Architecture Moderne) yang aktif pada kurun 1928-1956.

BAGAIMANA ciri khas rancangan Le Corbusier?

Pada prinsipnya, rancangan bangunan Le Corbusier mempunyai lima ciri utama yang dinamakannya cinq points atau lima poin. Kelima titik utama ini adalah, tiang, taman di dalam bangunan, rancangan serba terbuka, jendela panjang, dan tampak depan.

Hampir pada semua rancangan Le Corbusier kita melihat tiang-tiang pada tampak depannya. Tiang ini menjadikan sebuah bangunan mempunyai ”nafas” di bagian bawah namun manyanggga fungsi ruang di atasnya. Konsep rancangan kota bagi daerah berpenduduk padat yang dipikirkan Le Corbusier akhirnya membawanya pada desain bangunan-bangunan bertingkat sebagai efisiensi pemakaian lahan yang paling sesuai.

Sedangkan taman di dalam bangunan (toit-jardin) tidaklah secara harfiah berupa taman dengan banyak tanaman. Taman di sini adalah hubungan harmonis antara penghuni dengan alam, walau memang selalu diwujudkan Le Corbusier dengan kehadiran flora dalam sebuah sudut. Pada karyanya Maisons La Roche yang menjadi Museum Le Corbusier, toit-jardin ini berupa taman yang terletak di teras paling atas, lantai keempat.

Rancangan serba terbuka menjadi pemikiran Le Corbusier dengan pemikiran bahwa kehidupan di luar rumah makin lama makin padat. Saat manusia masuk ke dalam rumahnya, ia harus mendapat ”kembalian” bahwa sang manusia tidak melulu dikungkung tembok. Rancangan serba terbuka pada Maison La Roche dijabarkan dengan banyaknya tembok terbuka, serta banyaknya mezzanine, yang membuat sebuah atap sering dipakai oleh beberapa lantai. Selain itu jendela-jendela kaca dalam ukuran besar membantu rancangan serba terbuka ini.

Jendela-jendela panjang yang menjadi prinsip keempat, didapat Le Corbusier dari mesjid-mesjid yang dilihatnya di Alhambra dan Istanbul. Berbagai ”bukaan” di mesjid-mesjid itu di mata Le Corbusier menyatukan manusia di dalam sebuah bangunan dengan lingkungannya, juga memberi cahaya dan sirkulasi udara yang nyaman. Konsep jendela panjang Le Corbusier menjawab tantangan hemat energi yang menjadi serius akhir-akhir ini.

Prinsip terakhir dari bangunan Le Corbusier adalah tampak depan. Bagi arsitek ini, ciri sebuah bangunan memang sebagian besar bertumpu pada tampak depannya. Dengan alasan ini pula Le Corbusier sangat memperhatikan arah dan lingkungan sebuah calon bangunan sebelum mulai membuat rancangannya. Bisa dikatakan bahwa dengan cuma menyaksikan tampak depannya, kita telah mengapresiasi lebih dari 50 persen karya Le Corbusier.

Selain sebagai perancang, Le Corbusier juga tidak pelit dalam menularkan ilmunya kepada dunia. Berbagai buku arsitektur telah diterbitkan, antara lain Vers Une Architecture(1923), Urbanisme (1925), Une Maison un Palais (1928), Le Ville Radieuse(1935), Quand lestathedrales etaient blanches (1937), La Carte d’Athenes(1943), Les Trois Etablissements Humains (1945) serta L’Atelier de la Recherche Patiente (1960).

Sayang, konsep ruang terbuka Le Corbusier yang begitu terkenal justru tidak dinikmatinya pada akhir hayatnya. Pada 27 Agustus 1965, Le Corbusier meninggal dunia, di sebuah kamar mandi yang sempit di Cap Martin.(arb)

Sumber: Kompas, Jum’at, 7 Juli 1995

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Mahasiswa Universitas Brawijaya ”Sulap” Batok Kelapa Jadi Pestisida

Mahasiswa Universitas Brawijaya Malang membantu masyarakat desa mengubah batok kelapa menjadi pestisida. Inovasi itu mengubah ...

%d blogger menyukai ini: