Home / Berita / Bau Urin, Kunci Perkembangbiakan Tikus

Bau Urin, Kunci Perkembangbiakan Tikus

MAKHLUK di bumi ini yang berkembang biak sangat cepat tetapi sekaligus dibenci manusia adalah tikus. Bagaimana tidak. Kalau sudah kelaparan, tikus-tikus yang ada di perumahan tidak hanya menggasak makanan yang ada di rumah, tetapi juga sepatu, tas, dan juga pakaian. Sedang di ladang-ladang penduduk, ia menjadi hama yang menghabiskan tanaman yang sudah susah payah ditanam.

Binatang pengerat ini, memang dikaruniai Sang Pencipta alat reproduksi yang hebat, sehingga hampir setiap saat ia melahirkan. Akibatnya, sejak zaman purbakala ia selalu menjadi saingan manusia dalam menghabiskan cadangan makanan yang ada di muka bumi.

Rahasia perkembangbiakan tikus yang sanggt cepat, terjadi karena siklus, masa suburnya sangat cepat, masa bunting yang singkat, dan musim kawin yang sangat panjang, hampir sepanjang tahun. Jumlah anak-anak tikus ini, jauh lebih besar dari binatang mamalia apapun.

Tikus betina rata-rata beranak 3-4 ekor (biasanya paling sedikit 2 ekor dan tidak jarang yang sekali melahirkan 20 ekor) setelah masa kebuntingan yang hanya berlangsung 3 minggu. Setelah 3 minggu anak-anak tikus ini siap disapih, dan tentu saja si induk sudah siap bunting lagi. Kalau dirata-ratakan tiap dua bulan sekali seekor tikus beranak 3 ekor saja, maka dalam setahun ia sudah menghasilkan 18 ekor tikus baru.

Belum lagi tikus-tikus baru yang mencapai kematangan seksualnya pada usia 35 bulan. Dan majalah Discover terbaru yang mengulas pola kawin tikus ini menulis lebih dari 90 persen dari pasangan tikus dewasa ini mampu menghasilkan telur yang sudah dibuahi. Jadi maklum saja kalau jumlah tikus-tikus terus menerus berlipat ganda.

Asal-usul
Tikus, sebenamya telah dikenal manusia sejak zaman purba. Diperkirakan tikus mulai ada pada zaman Oligocene, sekitar 38 juta tahun lalu. Namun fosil tikus tertua yang pernah ditemukan di Spanyol, berasal dari zaman Miocene, lebih kurang 8-6 juta tahun lalu.

Asal-usul tikus sendiri masih diperdebatkan. Sebagian ahli mengatakan tikus berasal dari kawasan Asia Tenggara, sebagian lagi menyebutkan dari Amerika Utara. Namun anehnya, tikus rumah (Rattus norvegicus) yang paling dimusuhi manusia dikatakan berasal dari Norwegia. Meskipun demikian, memang tidak semua tikus merugikan. Tikus putih yang banyak digunakan sebagai binatang percobaan di laboratorium misalnya, telah banyak membantu manusia mengembangkan ilmu kesehatan. Kalau dihitung-hitung, total jenis tikus yang ada di dunia adalah 366 spesies yang semuanya tercakup dalam Farmili Muridae.

Tikus yang jago berenang, menyelam, dan juga pintar memanjat maupun melompat ini memang merupakan hama nomor satu bagi manusia. Di Amerika saja, tikus-tikus ini sudah menyikat cadangan makanan antara 500 juta-3 milyar dollar (sekitar Rp 950 milyar Rp 5,7 trilyun) setiap tahunnya. Di Indonesia pun keluhan tentang tikus tidak pernah surut, meskipun berbagai upaya pemberantasan telah dilakukan.

Itu pula sebabnya, mengapa tidak henti-hentinya manusia terus meneliti tikus untuk bisa mengatasinya. Hasil penelitian terbaru menunjukkan, perkembangbiakan tikus tidaklah semudah yang dibayangkan. Untuk membuat di tikus betina hamil, tidak hanya dibutuhkan sperma tikus jantan saja, tetapi juga bau yang tepat.

Seekor tikus betina yang sudah buntingpun bila terlalu banyak membaui urine tikus jantan yang bukan pasangannya, akan mengalami keguguran. Soalnya, bau asing ini langsung mengacaukan kerja hormon yang berfungsi menjaga janin agar tetap melekat di rahim.

Para biologpun kemudian menduga-duga, mengapa bau ini bisa mempengaruhi pegangan janin pada rahim. Pada mulanya mereka berspekulasi kunci jawabannya ada di korteks, bagian dari otak yang berfungsi menjaga ketenangan serta mengenali dan membedakan beragam bau yang muncul.

Kemudian para ahli dari Universitas Cambridge membuat kesimpulan baru tentang hubungan hidung dan otak ini. Menurut mereka, daya penciuman inilah yang biasa digunakan tikus betina untuk menemukan pasangannya di tengah kerumunan tikus lainnya. Tikus betina ternyata juga hanya menyimpan satu memori bau di otaknya, yaitu bau ayahnya. Namun memori ini hanya disimpan sementara di bagian otak yang paling primitif, yang kemudian akan digantikan oleh bau pasangannya.

Hasil penelitian juga menunjukkan, memori tikus yang paling penting terletak di sistem vomeronasal, suatu jaringa syaraf yang bertugas mengirimkan hormon dari bagian otak kanan ke hidung. Pada mulanya orang menduga, hormon ini hanya untuk membantu si tikus betina mengenali bau pasangannya. Namun kemudian diketahui hormon ini mengatur berbagai respons fisik tikus. Dan pada tikus betina, hormon ini jug membantu si tikus mememorikan bau pasangannya.

Terjadi saat kawin
Hormon yang dibutuhkan, biasanya muncul saat tikus bierkopulasi(kawin). ignal dari saraf di vagina meminta sel otak untuk memerintahkan sistem vomeronasal agar melepaskan hormon norepinephrine, hormon pengenal bau ini.

Dua tipe sel vomeronasal kemudian menerima perintah ini. Salah satu tipe akan mulai bekerja sehingga si tikus betina terangsang dan mulai bertingkah laku liar. Dengan segera memori si betina mencatat bau khas yang dikeluarkan tikus jantan pasangannya. Namun tipe satunya yang bekerja mengimbangi membuat betina yang sedang terangsang ini tetap tenang.. Setelah beberapa jam kerja hormon pengimbang ini tidak lagi mampu menahan, sehingga bau makin kuat dan si tikus betina pun mulai mencari pasangannya. Kemudian berlangsunglah kopulasi.

Mengandalkan penciuman—untuk mempunyai anak, tikus betina tidak hanya membutuhkan sperma tikus jantan, tapi pengenalan bau tikus jantan pasangannya mempakan faktor yang amat menentukan. Karena amat mengandalkan indera penciuman, tikus betina amat sensitif ternadap bau-bau tikus jantan yang bukan pasangannya.

Namun, bau tikus jantan lainnya yang sangat keras bisa saja tertangkap reseptor di hidung tikus betina, yang akan menghidupkan sel-sel lain yang berkaitan dengan penghalang, sehingga ada signal yang terkirim menuju otak. Impuls saraf yang tidak tersensor ini berjalan menuju hipotalamus, pusat kontrol untuk sel reproduksi.

Kehamilan pun gagal bila hipotalamus memerintahkan kelenjar di bawah otak untuk menghentikan kehadiran hormon prolaktin. Padahal, prolaktinlah yang tugasnya menjaga agar embrio tetap di dalam uterus.

Masa rawan lainnya adalah setelah kopulasi, di mana dibutuhkan waktu sekitar 4 hari sampai akhirnya embrio tertanam di uterus. Bau-bauan dari tikus jantan asaing, juga bisa menggagalkan embrio masuk uterus sehingga terjadi keguguran.

Pengenalan bau ini juga diperlukan induk tikus untuk menjaga anak-anaknya. Soalnya begitu si ayah tidak ada di sekitar keluarganya, tikus jantan lainnya akan datang menyantap anak-anak. Kemampuan mengenali bau asing ini membantu tikus betina melindungi anak-anaknya.

Bagi peneliti di Universitas Cambridge, Eric Keverne, halangan kehamilan ini adalah cantoh yang terbaik tentang proses evolusi konservatif. Bila si betina ini terpisah lama dengan jantannya, ternyata memori bau ini pun segera hilang. Ketika bau si pasangan tadi dicobakan lagi, si betina bereaksi bahwa bau itu adalah bau asing.

Bila Anda bertanya mengapa tikus diteliti sedemikian rupa, hal ini lebih karena tikus merupakan musuh nomor satu manusia (nes)

Sumber: Kompas, 21 November 1991

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: