Home / Berita / Astronomi / Perilaku Sperma di Luar Angkasa Diteliti

Perilaku Sperma di Luar Angkasa Diteliti

Untuk pertama kalinya, secara resmi, Badan Penerbangan dan Antariksa Nasional Amerika Serikat NASA mengirimkan sperma manusia dan banteng ke Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS). Riset yang masuk dalam misi Micro-11 itu bertujuan untuk melihat proses reproduksi, baik pada manusia maupun binatang, di lingkungan tanpa bobot.

Sperma manusia dan banteng itu dikirim dalam kondisi beku bersama muatan lainnya dengan berat total 2.650 kilogram menggunakan kapsul Dragon. Wahana kargo antariksa kapsul Dragon itu diluncurkan memakai roket Falcon 9 milik SpaceX. Seperti dikutip dari spacenews.com, roket itu diluncurkan dari Kompleks Peluncuran Antariksa 40 di Pangkalan Angkatan Udara AS Tanjung Canaveral, Florida AS pada Senin (2/4/2018) pukul 16.30 waktu setempat atau Rabu (3/4) pukul 3.30 waktu Jakarta.

THE UNIVERSITY OF KANSAS/JOSEPH TASH/NAS.GOV–Sperma sapi yang telah diwarnai dengan zat fluoresens dilihat di bawah mikroskop. Pewarnaan itu dilakukan agar peneliti bisa melihat reaksi pada akrosom (ujung kepala sel sperma) yang membantu menyiapkan sel sperma membuahi sel telur.

Sperma banteng dijadikan materi uji karena penampilan dan gerak selnya lebih konsisten dibanding sel manusia. Sebelumnya, sejumlah lembaga antariksa lain juga meneliti perilaku sperma beberapa binatang lain di ISS.

Saat sperma beku manusia dan banteng itu sampai di ISS pada dua hari kemudian, para antariksawan yang bertugas di sana akan mencairkan sperma tersebut. Selanjutnya, mereka akan meneliti bagaimana pengaruh lingkungan tanpa bobot terhadap kemampuan gerak sperma dan melihat peluang proses reproduksi manusia melalui bersatunya sel sperma dengan sel telur bisa terjadi.

Selain itu, misi juga ingin mempelajari perilaku sperma di lingkungan gravitasi mikro yang sulit diamati di Bumi.

“Uji sebelumnya di luar angkasa menggunakan sperma banteng dan landak laut (bulu babi) menunjukkan sperma bergerak lebih cepat, namun proses penyatuan dengan sel telur terjadi lebih lambat atau tidak terjadi sama sekali. Pelambatan atau tidak menyatunya sel sperma dengan sel telur itu membuat proses pembuahan tidak terjadi,” tulis pejabat NASA seperti dikutip livescience.com, Senin (9/4).

Hasil uji sebelumnya itu menunjukkan lingkungan gravitasi mikro telah mengubah perilaku sperma. Dalam kondisi normal di Bumi, proses reproduksi mamalia berlangsung melalui beberapa tahapan, mulai dari bertemunya sel sperma dengan sel telur, meleburnya kedua jenis sel tersebut, hingga proses reproduksi terjadi.

NASA–Roket peluncur dua tingkat Falcon 9 milik SpaceX meluncur dari Kompleks Peluncuran Antariksa 40 di Pangkalan Angkatan Udara AS Tanjung Canaveral, AS, pada Senin (2/4/10). Peluncuran itu untuk mengirimkan wahana kargo antariksa Dragon yang salah satu muatannya adalah sperma beku yang akan diteliti di luar angkasa.

Meski demikian, banyak hal terjadi diantara tahapan-tahapan tersebut. Saat sel sperma mulai aktif, maka ekor kecilnya mulai bergoyang-goyang. Berikutnya, sperma akan meningkatkan energinya dan bergerak lebih cepat. Sementara proses itu berlangsung, kepala sperma akan melunak untuk bersiap menyatu dengan sel telur. Namun, seperti dikutip dari smithsonianmag.com, Selasa (10/4/2018), tahapan itu tidak sepenuhnya terjadi dalam lingkungan gravitasi mikro.

Reproduksi di luar angkasa
Penelitian terhadap sperma beku itu akan dijalankan oleh antariksawan yang ada di ISS. Proses riset dimulai dengan mencairkan sperma beku dari 12 manusia dan enam banteng jantan yang dikirim melalui wahana kargo antariksa Dragon. Dengan bahan kimia tertentu, setengah sampel sperma akan diaktifkan.

NASA.GOV–Antariksawan Scott Tingle (kiri) dan Norishige Kanai menyaksikan datangnya kapsul kargo Dragon SpaceX melalui tujuh jendela di modul Cupola yang ada di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS), sesaat sebelum lengan robotik Canadarm2 menangkan kapsul tersebut pada Rabu (4/4/2018).

Selanjutnya, para antariksawan akan merekam pergerakan sperma menggunakan kamera mikroskopis. Kemudian, mereka akan mengawetkan sperma itu sebelum dikirim kembali ke Bumi. Penelitian lanjutan sperma itu akan dilakukan tim peneliti dari Universitas Kansas, AS. Salah satu tujuan penelitian lanjutan itu adalah untuk melihat bagaimana situasi di luar angkasa mengubah perilaku sperma.

Penelitian terkait proses reproduksi manusia di luar angkasa memang bukan sesuatu yang mendesak. Terlebih, setidaknya secara resmi, belum ada manusia yang melakukan hubungan seksual di luar angkasa. Namun di masa depan, saat manusia mulai lebih banyak menghabiskan waktunya di luar angkasa atau ketika perjalanan menuju dan kolonisasi Mars dimulai, maka persoalan seputar proses reproduksi manusia akan muncul.

“Salah satu kepentingan jangka panjang NASA melakukan riset ini adalah untuk melihat kelangsungan hidup antargenerasi, khususnya saat periode waktu misi (penjelajahan antariksa) makin lama dilakukan,” kata peneliti di Pusat Kedokteran Universitas Kansas, AS, Jospeh Tash.

Namun, pentingnya melihat proses reproduksi dalam perjalanan antariksa jangka panjang itu bukan hanya untuk manusia, tetapi juga binatang. Sejauh ini, perkembangbiakan hewan di luar angkasa belum memberikan hasil menggembirakan.

Pada 1979, Uni Soviet (kini Rusia) mencoba membiakkan tikus di luar angkasa. Ketika itu, dua tikus hamil, tetapi mengalami keguguran. Sementara itu, pengembangbiakan binatang non-mamalia memberikan hasil lebih baik.

“Ada sejumlah spesies yang sukses dikembangbiakkan di luar angkasa, termasuk katak, salamander (sejenis kadal), landak laut (bulu babi), ubur-ubur, siput, ikan medaka Oryzias latipes (dari Jepang, sering digunakan untuk penelitian), dan cacing gelang Caenorhabditis elegans, dan sejumlah binatang air tak bertulang belakang lainnya,” kata staf hubungan masyarakat Pusat Riset Ames NASA, Darryl Waller.

Sejumlah bintang air tak bertulang belakang, seperti dari ordo Amfipoda (kelompok binatang dengan bentuk kaki tak sama), Gastropoda (keong kolam), Ostrakoda (kelas yang beranggotakan zooplankton) dan Daphnia (genus plankton, kutu air) berhasil berkembang biak atau mampu mengulang siklus antargenerasinya. Penelitian perkembangbiakan binatang air itu dilakukan dalam lingkungan gravitasi mikro selama empat bulan.

Meski demikian, Tash mengklaim riset yang menggunakan sperma manusia dalam misi NASA kali ini lebih maju dibanding riset-riset sebelumnya.–M ZAID WAHYUDI

Sumber: Kompas, 12 April 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Aplikasi Kelas Digital Makin Interaktif

Layanan kelas digital kini ditopang dengan berbagai aplikasi pembelajaran daring. Aplikasi yang disediakan kian interaktif ...

%d blogger menyukai ini: