Home / Artikel / Bangkit dari Covid-19, Menjadi Lebih Ramah Lingkungan

Bangkit dari Covid-19, Menjadi Lebih Ramah Lingkungan

Bumi kita saat ini sedang berada pada titik balik. Keputusan yang kita buat saat ini akan menentukan apakah bumi ini dapat bangkit kembali menjadi lebih ramah lingkungan dan lebih tangguh untuk generasi mendatang.

Bumi kita saat ini sedang berada pada titik balik. Sebagai bagian proses pemulihan dari Covid-19, pemerintah di seluruh dunia sedang mempersiapkan berbagai kebijakan untuk menghidupkan kembali perekonomiannya. Keputusan yang kita buat saat ini akan menentukan apakah bumi ini dapat bangkit kembali menjadi lebih ramah lingkungan dan lebih tangguh untuk generasi mendatang.

Sebagai tuan rumah Konferensi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa atau Conference of the Parties (COP) ke-26 bersama Italia yang akan berlangsung November 2021, PBB telah meminta Inggris memimpin upaya global mendukung pemulihan ekonomi yang berkelanjutan dari Covid-19.

Kami ingin meningkatkan komitmen untuk mengurangi emisi karbon dan mendorong semua negara meningkatkan komitmen. Itu bisa dipenuhi dengan berinvestasi dalam pemulihan ekonomi ramah lingkungan yang bisa mengatasi berbagai tantangan, mulai dari perubahan iklim, keanekaragaman hayati, kesehatan masyarakat, sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi.

Pemulihan ekonomi ramah lingkungan adalah pilihan paling masuk akal. Inisiatif Pembangunan Rendah Karbon sendiri menunjukkan, jalur pembangunan rendah karbon akan menghasilkan pertumbuhan ekonomi tertinggi dan paling inklusif bagi Indonesia.

Pemerintah Inggris terus mengambil tindakan untuk membangun masa depan yang berkelanjutan. Bulan ini kami menyiapkan dana Rp 54 triliun untuk membuat rumah dan bangunan umum jadi lebih hemat energi, menciptakan 140.000 lapangan kerja dan mengurangi permintaan energi tahun-tahun mendatang. Melalui tindakan ini kita bisa mengambil langkah-langkah untuk melindungi kesehatan masyarakat dan bumi dalam jangka panjang, sekaligus mendorong pemulihan ekonomi lebih cepat dan lebih tangguh dalam jangka pendek.

Melalui kepemimpinan kami di COP 26, selain tugas memajukan negosiasi multilateral, kami fokus ambil tindakan di lima bidang utama: energi, transportasi, lingkungan, ketahanan lingkungan, dan keuangan. Kami berharap dapat melakukan perjalanan ini bersama Indonesia. Sebagai negara terpadat keempat dan penghasil gas rumah kaca terbesar kelima, Indonesia penting bagi upaya mengatasi perubahan iklim.

Mempercepat transisi
Kita perlu mempercepat transisi menuju energi bersih. Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan investasi 1 triliun dollar AS di sumber energi terbarukan tiga tahun ke depan dapat menciptakan 9 juta lapangan pekerjaan ramah lingkungan. Penelitian menunjukkan, investasi di infrastruktur energi terbarukan atau efisiensi energi dapat menciptakan dua kali lebih banyak lapangan pekerjaan dibandingkan di energi tak terbarukan seperti batubara.

Kita tahu, angin dan matahari kini sumber pembangkit listrik baru termurah untuk lebih dari dua pertiga populasi dunia. Presiden Jokowi mendukung ini dalam peresmian pembangkit listrik tenaga angin Indonesia pertama—terbesar di Asia Tenggara—di Sulawesi dua tahun lalu. Dengan biaya penggunaan energi terbarukan yang terus menurun cepat, pada 2030 biaya energi terbarukan akan lebih murah dari produksi tenaga batubara dan gas di seluruh dunia.

Investasi di energi terbarukan terus meningkat secara global. Indonesia bisa menarik investasi dari sektor swasta dan membuka lapangan kerja berkualitas tinggi lewat tindakan berani seperti reformasi subsidi bahan bakar fosil dan merevisi persyaratan kandungan domestik teknologi tenaga surya. Diversifikasi dan divestasi perusahaan yang bergantung bahan bakar fosil bisa menjadi bagian dari solusi.

Indonesia memiliki SDA melimpah. Tak hanya berpeluang jadi bagian dari peralihan ke energi terbarukan, Indonesia juga bisa jadi pemimpin dunia di sektor energi terbarukan. Program Mentari (Kemitraan energi rendah karbon Inggris-Indonesia) yang diluncurkan Juli lalu bertujuan membantu Indonesia mencapai ambisi energi terbarukan. Kita harus meningkatkan kualitas udara dan mengurangi emisi karbon melalui transportasi lebih bersih.

Kendaraan tanpa emisi saat ini telah jadi kenyataan dan beberapa perusahaan sudah memulainya: Bluebird, Gojek, dan Grab sudah berinvestasi pada kendaraan listrik, dan perusahaan Indonesia seperti Viar, Selis, dan Gesits sudah memproduksi kendaraan tanpa emisi, yang akan membantu menurunkan harga pasar.

Memberi insentif di bidang yang memiliki penyerapan lebih cepat akan membantu Indonesia dalam memanfaatkan sektor yang sedang tumbuh ini, mendukung perekonomian dan memungkinkan ekspor untuk memenuhi permintaan internasional yang terus meningkat.

Pemerintah Inggris menghabiskan 2 miliar poundsterling untuk mendukung fasilitas bersepeda dan berjalan kaki, memesan lebih dari 4.000 unit bus tanpa emisi baru, menginvestasikan 500 juta poundsterling untuk membangun infrastruktur baru bagi kendaraan listrik.

Lingkungan alam kita harus dipulihkan dan dilindungi. Di Inggris, kami menyiapkan dana 650 juta poundsterling untuk melindungi habitat alami melalui proyek seperti penanaman pohon dan pembersihan sungai, menciptakan ruang hijau baru untuk manusia dan satwa liar.

Kami akan melanjutkan kemitraan jangka panjang dengan Indonesia untuk melindungi lingkungan alam, dan mata pencarian yang bergantung pada alam, dari kebakaran hutan, penebangan liar, plastik laut, dan banyak aspek lagi.

Dunia perlu menjadi lebih tahan terhadap dampak cuaca ekstrem. Inggris mengalokasikan lebih dari 5 miliar poundsterling untuk meningkatkan pertahanan banjir dan pesisir di Inggris. Di Indonesia, kami telah mendanai para peneliti Indonesia dan Inggris yang bekerja bersama melalui Newton Fund untuk meningkatkan kemampuan prediksi dan meningkatkan ketahanan terhadap cuaca ekstrem.

Melalui PBB, kami memimpin koalisi internasional untuk mengambil tindakan dan menampilkan contoh-contoh terbaik adaptasi dan ketahanan terhadap perubahan iklim, terutama untuk melindungi kelompok-kelompok paling rentan.

Kita harus memanfaatkan kekuatan sistem keuangan kita untuk membuka pertumbuhan, menciptakan lapangan kerja ramah lingkungan, dan mendanai proyek-proyek relevan. Tahun lalu Inggris melipatgandakan komitmen pendanaan untuk perubahan iklim global menjadi 11,6 miliar poundsterling hingga 2025, dan kami pun mendorong mitra pembangunan internasional kami ikut meningkatkan dukungan ke negara-negara berkembang. Kita tak punya banyak waktu untuk disia-siakan.

Alok Sharma, Secretary of State for Business, Energy and Industrial Strategy, Inggris.

Sumber: Kompas, 24 Agustus 2020

Share
x

Check Also

Pendidikan Tinggi Indonesia dalam Masa Pancaroba

Dalam keadaan kini, saat kita semua merasa tertekan oleh pembatasan yang dikenakan karena Covid-19, dunia ...

%d blogger menyukai ini: