Bumi Datar dan Dunia Persilatan

- Editor

Senin, 26 Februari 2018

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Perbalahan yang sudah lama selesai dan tenggelam itu tempo hari bangkit lagi. Itulah perbantahan soal ”bumi datar” versus ”bumi bulat”. Bukannya mempersoalkan kembali pokok basi itu, saya tertarik pada sesuatu yang lebih menggelitik ini. Bila bumi dan dunia bersinonim, mengapa jarang sekali atau malah barangkali belum pernah kita temukan konstruksi ”dunia datar” atau ”dunia bulat”.

Sebaliknya, bentuk ”bumi ketiga” atau ”bumi persilatan” terasa membuat kuping kita sedikit gatal. Itu sangat boleh jadi karena kita terbiasa mendengar ”dunia ketiga” dan ”dunia persilatan”.

Sebenarnyalah, apalagi mengingat bumi dan dunia bersinonim, tidak ada alasan mengatakan bumi dan dunia di sana tidak bisa saling dipertukarkan. Jadi, bumi atau dunia yang benar untuk konstruksi-konstruksi itu tadi? Sampai di sini tampaknya mesti buru-buru saya menambahkan apa yang pernah saya utarakan di lain kesempatan, bahwa tidak semua perihal kebahasaan berpaut dengan soal benar salah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kata depan ditulis bersambung dengan, atau awalan dipisah dari, kata yang mengikutinya, jelas bisalah kita katakan salah. Contoh: dirumah mestinya di rumah; di makan mestinya dimakan. Tapi, menyebut ”dunia datar”, ”dunia bulat”, ”bumi ketiga”, atau ”bumi persilatan”, saya kira bukan keliru, melainkan tidak lazim. Bumi datar/bulat lebih jamak daripada dunia datar/bulat. Sebaliknya, ”dunia ketiga” dan ”dunia persilatan” lebih lazim daripada ”bumi ketiga” dan ”bumi persilatan”.

Sekalipun bumi dan dunia bersinonim, kata sifat ”datar” dan ”bulat” cenderung mendekat ke bumi, sedang kata benda ”ketiga” dan ”persilatan” lebih suka menempel pada dunia. Dan, inilah yang ingin saya katakan, kecenderungan seperti itu justru seperti hendak membantah, mengingkari, kesamaan arti bumi dan dunia.

Coba sandingkanlah frasa ”bumi ketiga” dan ”dunia ketiga”, misalnya. ”Bumi ketiga” menyiratkan pengertian bahwa bumi adalah benda, yang jumlahnya lebih dari satu. Bumi adalah sebuah planet berupa benda padat bulat, berlapis-lapis, dan permukaannya tidak rata. Kita mengatakan bumi berputar pada porosnya. Kita pun mengenal energi panas bumi. Pendeknya, bumi adalah satu wujud, entitas.

Sedangkan dunia pada ”dunia ketiga” bukan merujuk pada bendanya, melainkan pada sekumpulan negara (berkembang) atau sekelompok bangsa (nonblok) yang ada di permukaannya. Dunia juga punya arti lingkungan, semesta, alam—seperti kita temukan pada ”dunia hewan” (fauna), ”dunia tumbuhan” (flora), atau ”dunia persilatan”.

Yang menarik pada bahasa, kecenderungan dua kata yang saling mendekat tadi tidak menuruti satu aturan yang tetap, pasti, kaku. Seolah-olah hendak menegaskan bahwa tak ada yang tetap dalam bahasa. Kita ingat, selain konstruksi ”dunia hewan” dan ”dunia tumbuhan”, ada Bumi Manusia Pramoedya Ananta Toer.–EKO ENDARMOKO

Sumber: Kompas, 24 Februari 2018

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Biometrik dan AI, Tubuh dalam Cengkeraman Algoritma
Kincir Angin: Dari Ladang Belanda Hingga Pesisir Nusantara
Surat Panjang dari Pinggir Tata Surya
Ketika Matahari Menggertak Langit: Ledakan, Bintik, dan Gelombang yang Menggetarkan Bumi
Mengalirkan Terang dari Gunung: Kisah Turbin Air dan Mikrohidro yang Menyalakan Indonesia
Arsitektur yang Bertumbuh dari Tanah, Bukan dari Langit
Dusky: Senandung Ibu dari Sabana Papua
Dari Garis Hitam ke Masa Depan Digital: Kronik, Teknologi, dan Ragam Pemanfaatan Barcode hingga QRIS
Berita ini 19 kali dibaca

Informasi terkait

Rabu, 12 November 2025 - 20:57 WIB

Biometrik dan AI, Tubuh dalam Cengkeraman Algoritma

Minggu, 27 Juli 2025 - 21:58 WIB

Kincir Angin: Dari Ladang Belanda Hingga Pesisir Nusantara

Kamis, 17 Juli 2025 - 21:26 WIB

Surat Panjang dari Pinggir Tata Surya

Selasa, 15 Juli 2025 - 08:43 WIB

Ketika Matahari Menggertak Langit: Ledakan, Bintik, dan Gelombang yang Menggetarkan Bumi

Senin, 14 Juli 2025 - 16:21 WIB

Mengalirkan Terang dari Gunung: Kisah Turbin Air dan Mikrohidro yang Menyalakan Indonesia

Berita Terbaru

Berita

Bobibos: Api Kecil dari Sebuah Gudang Jerami

Rabu, 19 Nov 2025 - 16:44 WIB

Artikel

Biometrik dan AI, Tubuh dalam Cengkeraman Algoritma

Rabu, 12 Nov 2025 - 20:57 WIB

Fiksi Ilmiah

Cerpen: Tarian Terakhir Merpati Hutan

Sabtu, 18 Okt 2025 - 13:23 WIB

Fiksi Ilmiah

Cerpen: Hutan yang Menolak Mati

Sabtu, 18 Okt 2025 - 12:10 WIB