Home / Berita / Bahaya Mengintip dari Plastik Kemasan

Bahaya Mengintip dari Plastik Kemasan

Meski praktis, ringan, dan tahan lama, ada bahaya tersembunyi dari plastik, terutama terkait kemasan makanan. Disarankan untuk mencermati bahan pembuat plastik serta tak menggunakan untuk makanan panas dan lemak.

Saat ini, kehidupan manusia tak terlepas dari plastik, mulai dari material pembangunan rumah, vinil pelapis lantai, furnitur, peralatan medis, mainan, hingga peralatan makan serta kemasan makanan. Meski praktis, ringan, dan tahan lama, ada bahaya tersembunyi dari plastik, terutama terkait kemasan makanan.

Ada berbagai jenis plastik yang digunakan sebagai kemasan makanan dan minuman, mulai dari botol, gelas, kotak bekal, kotak kemasan makanan, kantong plastik, hingga tas keresek.

Menurut Russ Hauser, Kepala Departemen Kesehatan Lingkungan Universitas Harvard, Amerika Serikat (AS), di laman kesehatan universitas tersebut, Desember 2019, plastik tidak hanya satu jenis. ”Ada banyak jenis plastik,” katanya. Jenis plastik yang berbeda memiliki nama berbeda berdasarkan komposisinya, seperti polipropilen, polietilen, polietilen tereftalat, dan polikarbonat. Juga mengandung berbagai bahan kimia dengan sifat berbeda, seperti zat yang membuat fleksibel, antioksidan, dan pewarna.

”Kita berbicara tentang paparan bahan kimia dosis sangat rendah,” ujar Hauser. ”Meskipun paparan tunggal terhadap bahan kimia tertentu kecil, jika terjadi berulang kali dalam jangka waktu lama, efeknya menumpuk dan bisa menimbulkan gangguan kesehatan yang merugikan. Selain itu, kita terpapar banyak bahan kimia secara bersamaan yang mungkin memiliki efek merugikan.”

Penelitian tahun 2011 yang diterbitkan dalam Environmental Health Perspectives melaporkan, pengujian produk plastik yang tersedia secara komersial berlabel bebas BPA mendapatkan hampir semua menguraikan zat kimia yang diketahui memiliki aktivitas estrogenik, yakni memengaruhi konsentrasi hormon estrogen dalam darah. Hal ini berisiko mengganggu kesuburan.

Sementara itu, Lisa Zimmermann dan kolega dari Jerman dan Norwegia meneliti produk plastik untuk konsumen, mencakup delapan jenis polimer utama. Penelitian yang dipublikasi di Environmental Science & Technology, 5 Agustus 2019, melaporkan, sebagian besar (74 persen) dari 34 ekstrak plastik mengandung bahan kimia yang memicu setidaknya satu hal, termasuk toksisitas dasar (62 persen), stres oksidatif (41 persen), sitotoksisitas (32 persen), estrogenisitas (12 persen), dan antiandrogenisitas (27 persen).

Ekstrak polivinil klorida (PVC) dan poliuretan (PUR) menyebabkan toksisitas tertinggi. Sementara polietilen tereftalat (PET) dan polietilen densitas tinggi (HDPE) menunjukkan toksisitas rendah atau tidak menyebabkan toksisitas. Toksisitas dasar tinggi terdeteksi di semua ”bioplastik” yang terbuat dari asam polilaktik (PLA). Sementara toksisitas polietilen densitas rendah (LDPE), polistiren (PS), dan polipropilen (PP) bervariasi.

KOMPAS/ADI SUCIPTO KISSWARA—Sejumlah minuman degan dalam kemasan botol plastik dan botol kaca kreasi siswa MAN Lamongan.

Penelitian menunjukkan, plastik konsumen mengandung senyawa beracun dalam penelitian di laboratorium, tetapi sebagian besar tidak teridentifikasi. Karena risiko senyawa yang tidak diketahui tidak dapat diperkirakan, menurut peneliti, hal itu menjadi tantangan bagi produsen, otoritas kesehatan masyarakat, dan peneliti untuk memastikan lebih lanjut.

Risiko bagi anak
Bahaya plastik juga dikemukakan Leonardo Trasande, Direktur Pusat Investigasi Bahaya Lingkungan di Fakultas Kedokteran Grossman, Universitas New York, AS. Ia mengacu pada bahan tambahan pembuatan plastik seperti bisfenol A (BPA) dan ftalat.

Trasande bersama Rachel M Shaffer dan Sheela Sathyanarayana menulis pernyataan kebijakan dari Perhimpunan Dokter Anak Amerika (American Academy of Pediatrics/AAP) pada 2018 tentang risiko bahan tambahan makanan dan bahan kimia kontak terhadap bayi dan anak.

Menurut AAP, pemanfaatan bahan kimia berbahaya makin memprihatinkan. Antara lain, BPA yang digunakan untuk melapisi wadah logam untuk mencegah korosi, ftalat yang sering digunakan dalam bahan perekat, pelumas, membuat plastik kemasan lebih fleksibel dan tahan lama, serta sejumlah bahan kimia lain.

Hasil penelitian menunjukkan, BPA dalam konsentrasi rendah yang ditemui orang dalam kehidupan sehari-hari bisa memicu konversi sel menjadi adiposit (liposit dan sel lemak yang menyusun jaringan adiposa, tempat energi disimpan dalam bentuk lemak), mengganggu fungsi sel beta pankreas, dan memengaruhi transportasi glukosa dalam adiposit.

Adapun ftalat dimetabolisme menjadi zat-zat kimia yang memengaruhi ekspresi pengatur utama metabolisme lipid dan karbohidrat, serta menimbulkan resistensi insulin (bagian dari sistem endokrin) pada penelitian di laboratorium.

”Sejumlah penelitian menunjukkan efek metabolik serupa pada manusia. Beberapa ftalat terkenal menghambat androgen (hormon laki-laki dalam tubuh) dan dapat memengaruhi perkembangan reproduksi janin,” demikian pernyataan AAP.

Mengingat sistem metabolisme dan kemampuan detoksifikasi anak masih berkembang, sistem organ utama sedang mengalami perubahan substansial dan perkembangan yang rentan terhadap gangguan, maka potensi gangguan sistem endokrin menjadi keprihatinan. Dikhawatirkan paparan zat-zat kimia itu bisa memicu diabetes dan obesitas pada anak.

Laman Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (CDC) AS, 5 April 2021, menyebut, peneliti lembaga itu mengukur 13 metabolit ftalat dalam urine dari 2.636 orang berusia 6 tahun ke atas yang mengambil bagian dalam Survei Pemeriksaan Kesehatan dan Gizi Nasional (NHANES) selama 2003-2004.

Hasilnya menunjukkan, paparan ftalat tersebar luas di masyarakat AS. Perempuan dewasa memiliki tingkat metabolit ftalat lebih tinggi dalam urine dibandingkan pria. Hal itu mengingat ftalat digunakan dalam sabun mandi, sampo, dan kosmetik.

Dinyatakan pula, beberapa jenis ftalat terbukti memengaruhi sistem reproduksi pada hewan. Efek kesehatan manusia dari paparan ftalat tingkat rendah belum begitu jelas. Karena itu, diperlukan lebih banyak penelitian untuk menilai efek pada kesehatan manusia terkait paparan ftalat.

Pengganti BPA yang digunakan dalam produk yang dipasarkan sebagai ”bebas BPA”, yakni BPS (bisfenol S) dan BPF (bisfenol F), diperkirakan memiliki efek serupa dengan BPA. Hasil penelitian Universitas Texas dan Washington State University mendapatkan, dengan dosis satu bagian per triliun, BPS dapat mengganggu fungsi sel. Sebuah penelitian tahun 2019 dari Universitas New York mengaitkan obesitas pada anak-anak dengan BPS dan BPF.

Tahun 1988, industri plastik menghasilkan kode identifikasi standar untuk tujuh jenis resin plastik yang paling umum beredar. Angka-angka kecil yang ditemukan di bagian bawah botol soda dan wadah yogurt memberi petunjuk tentang jenis plastik wadah makanan atau minuman yang digunakan. Sebagian besar wadah makanan itu terbuat dari polietilen densitas rendah atau polipropilen.

Para peneliti tidak yakin seberapa banyak paparan bahan kimia dari kemasan makanan dan wadah penyimpanan, yang pasti plastik bukan bahan yang stabil. Menurut Trasande, saat terkena panas, misalnya di microwave, polietilen dan polipropilen dapat terurai, melepaskan bahan kimia yang tidak diketahui ke makanan dan minuman. Tanpa panas pun, makanan berminyak mampu menguraikan sejumlah bahan kimia plastik.

Masalahnya, peraturan Badan Pengawas Makanan dan Obat (FDA) AS menyatakan, produsen plastik bebas menentukan label produknya. Apakah ”aman untuk microwave” atau ”aman untuk mesin cuci piring”, atau bahkan ”dapat digunakan kembali” tanpa dievaluasi.

Karena itu, AAP mengingatkan, meski berlabel ”aman untuk microwave dan mesin pencuci piring”, panas tidak aman untuk plastik. Suhu tinggi bisa memutus ikatan kimia dalam plastik dan meningkatkan perpindahan zat kimia dari wadah plastik ke makanan. Organisasi itu menyatakan, perlu dilakukan lebih banyak penelitian dengan memanfaatkan keahlian dan evaluasi teknis dari lembaga lain serta pembenahan aturan FDA.

Demi keamanan anak-anak, AAP menyarankan orangtua menghindari penggunaan plastik di microwave dan mencuci dengan mesin pencuci piring. Gunakan wadah kaca atau keramik. Selain itu, biasakan mengecek kode daur ulang di bagian bawah produk untuk mengetahui jenis plastik. Hindari plastik dengan kode daur ulang 3 (ftalat), 6 (stirena), dan 7 (bisfenol) kecuali jika plastik diberi label ”biobased” atau ”greenware” yang menunjukkan produk terbuat dari jagung dan tidak mengandung bisfenol.

Saran lain, jangan menyimpan makanan berlemak atau berminyak dalam wadah plastik, banyak bahan kimia dalam plastik dapat larut dalam lemak. Kurangi juga botol air plastik yang berkontribusi pada penyebaran mikroplastik di alam.

Oleh ATIKA WALUJANI MOEDJIONO

Editor: ICHWAN SUSANTO

Sumber: Kompas, 30 Juni 2021

Share
%d blogger menyukai ini: