Home / Berita / Badai Musim Dingin; Juno, Dahsyat dan Mematikan

Badai Musim Dingin; Juno, Dahsyat dan Mematikan

Badai musim dingin di timur laut Amerika Serikat membuat pemerintah sejumlah negara bagian memberlakukan keadaan darurat. Aktivitas bisnis dan transportasi pun terpaksa dihentikan untuk mencegah dampak lebih buruk yang bisa terjadi. Ternyata, salju turun ada yang tak sebesar perkiraan.


Badai musim dingin yang diikuti salju dahsyat yang dinamai Juno itu diperkirakan terjadi Selasa (27/1) antara pukul 01.00 dan 05.00 waktu setempat atau Selasa siang hingga petang waktu Jakarta. Kedatangan badai akan dimulai dengan tiupan angin kencang berkecepatan hingga 96-113 kilometer per jam, sejak Senin malam.

Timbunan salju yang terjadi di sejumlah daerah diperkirakan 30-90 sentimeter (cm). Jarak pandang diperkirakan hanya 400 meter. Badai juga bisa memicu banjir di sepanjang pantai serta pemadaman listrik. ”Badai bisa lebih buruk daripada perkiraan,” kata Glenn Field dari Badan Cuaca Nasional (NWS) di Taunton, Massachusetts, AS, seperti dikutip BBC, Senin (26/1).

Salju yang turun akan berdampak pada 60 juta penduduk di timur laut AS. Karena itu, pemerintah negara bagian New York, New Jersey, Connecticut, Rhode Island, Massachusetts, dan New Hampshire berlakukan keadaan darurat.

831b4d467aeb417d9f5579eb24197732Kantor dan sekolah ditutup, operasional kereta bawah tanah dihentikan, serta berkendara di jalan raya dilarang. Selain itu, sekitar 6.500 penerbangan di timur laut AS pun dibatalkan.

Faktor penyebab
Citra satelit GOES-East milik Badan Atmosfer dan Kelautan Nasional AS (NOAA) menunjukkan adanya pertumbuhan dan pergerakan badai musim dingin raksasa di timur laut AS, antara Sabtu (24/1) dan Senin (26/1). Ahli meteorologi pada Pusat Prediksi Cuaca NWS, Patrick Burke, kepada Livescience, mengatakan, badai terjadi karena pertemuan udara dingin yang bertiup di seluruh dataran Amerika dengan angin yang lebih hangat dari bagian utara Samudra Atlantik dan sekitar Teluk Meksiko.

Udara dingin bertekanan itu, menurut ahli meteorologi Institut Teknologi Bandung (ITB), Zadrach Ledoufij Dupe, berasal dari Kutub Utara dan bergerak ke tenggara menuju timur laut AS. Udara hangat lembab, kaya uap air, dan bertekanan rendah bergerak dari selatan ke utara menyusuri pantai timur AS.

Pada saat kedua udara berbeda karakter itu bertemu, udara panas akan terdorong ke udara dingin hingga memunculkan pusat tekanan rendah, sebuah daerah bertekanan rendah di atmosfer yang dikelilingi daerah bertekanan tinggi. ”Tekanan rendah itu menarik udara tekanan tinggi di sekitarnya sehingga terjadi badai,” katanya.

Burke menambahkan, tekanan udara pada pusat tekanan rendah bisa turun lebih dari 24 milibar dalam waktu kurang dari 24 jam. ”Penurunan tekanan udara yang sangat cepat itu menghasilkan badai berintensitas tinggi, mirip ’bom’,” katanya. Karena itu, penurunan tekanan udara drastis itu disebut bombogenesis.

Selanjutnya, udara bertekanan rendah kaya uap air itu akan naik. Pada ketinggian tertentu, udara naik itu akan mendingin sehingga uap air yang terbawa akan mengembun dan menghasilkan hujan badai.

”Jika udara di daerah di bawah pusat tekanan rendah sudah berada di bawah titik beku, hujan badai yang jatuh akan berubah menjadi badai salju,” kata Kevin Trenberth, peneliti pada Pusat Penelitian Atmosfer, Boulder, Colorado, AS, kepada Climate Central.

Temperatur di timur laut AS sejak akhir pekan lalu sudah berada di bawah nol derajat, antara minus 12 dan 0 derajat celsius. Saat ini adalah puncak musim dingin di Bumi Utara.

Bergerak ke timur
Nyatanya, badai salju yang terjadi di timur laut AS tak sedahsyat perkiraan. Ketinggian timbunan salju di Connecticut dan Massachusetts memang mencapai 52 cm dan 67 cm, tetapi di New York mayoritas belasan sentimeter.

NWS mengakui kedahsyatan Juno tidak seperti perkiraan, khususnya untuk bagian barat wilayah timur laut AS. Saat ini pun, badai sudah bergerak makin ke timur, lebih cepat daripada perkiraan sebelumnya.

Dupe mengatakan, prediksi cuaca dibuat berdasarkan observasi, citra satelit, citra radar, dan pemodelan numerik. Dari berbagai data itu, seorang ahli meteorologi melakukan interpretasi hingga ada prakiraan cuaca.

”Wajar jika terjadi kesalahan, karena alam tidak sesederhana pemodelan atau perkiraan yang dipikirkan ahli meteorologi,” katanya. Peralatan canggih manusia belum mampu menaklukkan dahsyatnya alam.

Kehati-hatian
Sejumlah warga New York memprotes ketidakakuratan prakiraan itu. Namun, Gubernur New York Andrew Cuomo menilai berbagai langkah yang diambil menyikapi keadaan darurat itu diperlukan untuk melindungi masyarakat. ”Kehati-hatian diperlukan karena menyangkut persoalan hidup dan mati,” ujarnya.

Kewaspadaan itu jadi penting mengingat setiap musim dingin ada 100 orang tewas di AS. Sebagian besar akibat serangan jantung saat menyekop salju.

Ahli jantung di Rumah Sakit William Beaumont, Michigan, AS, Barry Franklin, mengatakan, saat menyekop salju, denyut jantung dan tekanan darah seseorang meningkat lebih cepat dibanding saat berolahraga di atas treadmill. Pada saat bersamaan, udara dingin akan membuat pembuluh darah mengerut sehingga suplai darah ke seluruh tubuh berkurang.

”Kondisi itu perpaduan sempurna untuk menimbulkan serangan jantung,” katanya. Selain itu, menyekop salju umumnya dilakukan pada pagi hari antara pukul 06.00 dan 10.00. Itulah waktu rentan serangan jantung.

Karena itu, mereka yang berumur di atas 55 tahun dan memiliki risiko penyakit jantung disarankan tidak menyekop salju. ”Mereka yang merokok dan kelebihan berat badan memiliki risiko lebih besar lagi,” tambahnya.

Oleh: M Zaid Wahyudi

Sumber: Kompas, 29 Januari 2015

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Ekuinoks September Tiba, Hari Tanpa Bayangan Kembali Terjadi

Matahari kembali tepat berada di atas garis khatulistiwa pada tanggal 21-24 September. Saat ini, semua ...

%d blogger menyukai ini: