Anomali Bibit Badai di Utara dan Selatan

- Editor

Jumat, 17 Januari 2014

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dinamika Cuaca Dipengaruhi Perubahan Atmosfer

Saat ini berlangsung bibit badai tropis kembar di utara dan selatan ekuator yang mengapit wilayah Indonesia. Keduanya ada di perairan timur Filipina dan di sebelah utara Darwin, Australia, dengan tekanan hampir seimbang antara 1.005 milibar dan 995 milibar. Hal ini bisa memperpendek musim hujan.

”Posisi matahari masih ada di selatan ekuator. Hal ini membuat Australia memasuki musim panas. Namun, di utara ekuator, meski musim dingin, terdapat kondisi tekanan rendah akibat temperatur tinggi di sebelah timur Filipina,” kata Kepala Pusat Informasi Meteorologi Publik pada Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Mulyono R Prabowo, Kamis (16/1), di Jakarta.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam keadaan normal atau rata-rata setiap tahun, kondisi tekanan rendah yang menimbulkan bibit badai tropis di sebelah timur Filipina terjadi antara April hingga November. Saat ini BMKG terus memantau perkembangan tekanan rendah di utara Sulawesi tersebut.

”Jika tekanan rendah di utara ekuator terus berkembang, akan mengurangi aliran angin dari Asia (utara) melintasi Indonesia menuju Australia (selatan),” kata Mulyono.

Tekanan rendah di utara dan selatan jika seimbang akan memperpendek musim hujan tahun ini. Saat ini aliran angin masih didominasi yang menuju Australia karena tekanan rendah di wilayah itu jauh lebih besar.

Kepala Pusat Perubahan Iklim dan Kualitas Udara BMKG Edvin Aldrian mengkhawatirkan anomali tekanan rendah di utara ekuator itu menimbulkan fenomena El Nino pada musim kemarau 2014. El Nino menyebabkan musim kemarau berkepanjangan, berdampak pada banyaknya kebakaran lahan, hutan, dan rawa gambut yang mengering.

Perubahan atmosfer
Kepala Program Operasional Oseanoklimat dan Tsunami Buoy pada Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Wahyu Widodo Pandoe mengatakan, dinamika cuaca saat ini didominasi oleh perubahan kondisi atmosfer. Fenomena kelautan yang perlu diwaspadai adalah pasang laut maksimum pada bulan mati (bukan purnama) seperti saat ini, yakni selama 12-17 Januari 2014. ”Efek bulan mati jauh lebih kuat dibandingkan bulan purnama,” kata Wahyu.

Ketinggian pasang air laut sesuai pola mencapai 0,6 meter hingga 1,2 meter. Bencana yang terjadi pada saat pasang laut maksimum selalu beriring dengan angin kencang menuju pantai dan hujan lebat di daratan.

”Angin kencang yang menimbulkan gelombang tinggi akan menimbulkan rob, yakni genangan dari laut. Angin kencang dapat dipicu bibit badai,” kata Wahyu.

BMKG saat ini mengeluarkan peringatan dini adanya angin kencang dari kondisi tekanan rendah di Samudra Hindia utara Darwin yang menyebabkan gelombang laut tinggi. Gelombang laut tinggi berkisar 4-6 meter diperkirakan terjadi di selatan Bali hingga Nusa Tenggara Timur dan Laut Arafura bagian barat.

Tekanan rendah di timur Filipina menimbulkan gelombang tinggi antara lain di Laut China Selatan, perairan Kepulauan Natuna dan Kepulauan Anambas, Selat Karimata bagian utara, Selat Makassar bagian selatan, Laut Sumbawa, dan Laut Flores. (NAW)

Sumber: Kompas, 17 Januari 2014

Informasi terkait

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon
Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam
Alga Kecil, Terobosan Besar: Rahasia Chlamydomonas di Balik Nobel Kedokteran 2026
Misteri Molekul Kiri dan Kanan Antar Dua Ilmuwan ke Nobel Kimia 2026
Francis Halzen, Pemburu Partikel Hantu dari Kutub Selatan, Raih Nobel Fisika 2026
Nobel Kedokteran 2026: Tiga Ilmuwan Menemukan Cara Mengendalikan Sel Saraf dengan Cahaya
Gunung yang Belum Selesai Dilahirkan
Tiga Huruf di Belakang Nama yang Bisa Membuka Dunia
Berita ini 27 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 14:15 WIB

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon

Kamis, 15 Oktober 2026 - 16:26 WIB

Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam

Selasa, 13 Oktober 2026 - 11:43 WIB

Alga Kecil, Terobosan Besar: Rahasia Chlamydomonas di Balik Nobel Kedokteran 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 18:42 WIB

Misteri Molekul Kiri dan Kanan Antar Dua Ilmuwan ke Nobel Kimia 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 17:56 WIB

Francis Halzen, Pemburu Partikel Hantu dari Kutub Selatan, Raih Nobel Fisika 2026

Berita Terbaru

Artikel

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon

Sabtu, 17 Okt 2026 - 14:15 WIB

Berita

Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam

Kamis, 15 Okt 2026 - 16:26 WIB