Home / Berita / Astronomi / Awal Ramadhan Bersamaan dengan Puncak Hujan Meteor Eta Aquarids

Awal Ramadhan Bersamaan dengan Puncak Hujan Meteor Eta Aquarids

Sembari melaksanakan ibadah sahur di awal Ramadhan 1440 Hijriah, masyarakat dapat menyaksikan keindahan langit malam. Hujan meteor Eta Aquarids akan mencapai puncaknya pada Senin-Selasa, 6-7 Mei 2019. Dalam kondisi langit benar-benar gelap, jumlah meteor yang bisa disaksikan setiap jamnya sekitar 50 meteor.

Sebutan Eta Aquarids atau terkadang disebut Eta Aquariid disematkan pada hujan meteor ini karena meteor-meteor seolah-olah terpancar dari arah rasi Aquarius, zodiak yang dilambangkan sebagai pria pembawa air. Sedangkan Eta Aquarii adalah salah satu bintang di rasi Aquarius.

EARTHSKY.ORG/COLIN LEGG–Hujan meteor Eta Aquarids tahun 2013 yang dipotret Colin Legg dari Gurun Pilbara, Australia. Citra itu disusun dari penggabungan sekitar 50 citra yang berisikan 26 meteor.

Hujan meteor ini bisa disaksikan semua penduduk Bumi, baik yang ada di belahan langit utara maupun langit selatan. Namun, mereka yang berada di sekitar khatulistiwa dan belahan Bumi selatan akan memiliki pemandangan yang terbaik.

“Mereka yang berada di belahan Bumi utara, harus mengarahkan pandangannya lebih ke arah ufuk. Jumlah meteor yang bisa mereka saksikan juga lebih sedikit, namun meteor akan terlihat seperti goresan-goresan cahaya panjang hingga lebih mengesankan,” tulis Joe Rao di space.com.

Saat terbit selepas tengah malam, rasi Aquarius akan berada di arah timur. Menjelang terbit fajar, Aquarius akan berada di arah timur-timur laut pada ketinggian lebih dari 50 derajat. Karena itu, untuk bisa menyaksikan hujan meteor ini cukup arahkan pandangan ke arah timur-timur laut.

STELLARIUM–Radian atau sumber arah pancaran meteor dalam hujan meteor Eta Aquarids (lingkaran kuning) dan rasi-rasi bintang yang ada di arah timur langit Jakarta, Senin (6/5/2019) sekitar pukul 03.00.

Selain itu, hujan meteor Eta Aquarids ini adalah momentum terbaik mengamati hujan meteor karena Bulan baru saja melewati konjungsi atau memulai fase Bulan baru. Kondisi itu membuat cahaya Bulan tidak akan mengganggu penampakan meteor sehingga kemungkinan terlihatnya meteor jauh lebih besar.

Meteor-meteor itu akan terlihat sebagai bola api yang bergerak cepat di langit. Sama seperti hujan meteor lain, waktu terbaik untuk mengamatinya adalah selepas tengah malam hingga menjelang fajar karena saat itulah bagian Bumi menghadap wilayah debu-debu bekas lintasan komet yang menjadi asal meteor.

“Di masing-masing zona waktu pengamat, waktu terbaik untuk mengamatinya adalah sekitar pukul 02.00-03.00,” seperti dikutip dari space.com, Sabtu (4/5/2019). Sebelum itu, posisi Aquarius masih terlalu rendah dan di atas rentang waktu itu, cahaya fajar akan mengganggu penampakan meteor.

Puncak hujan meteor Eta Aquarids ini terjadi bersamaan dengan masa umat Islam sedang melaksanakan sahur di awal Ramadhan 1440 Hijirah. Karena itu, sembari bersiap sahur, masyarakat bisa sekaligus menanti kehadiran hujan meteor Eta Aquarids.

Tidak dibutuhkan peralatan khusus untuk bisa mengamatinya. Cukup arahkan mata ke arah timur dan berharap dengan penuh kesabaran ada kilatan cahaya yang melintas.

Jumlah meteor yang bisa disaksikan kemungkinan besar akan lebih rendah dibanding prediksi. Karena jumlah 50 meteor per jam di puncak hujan meteor Eta Aquarids itu hanya bisa dinikmati saat kondisi langit dan lingkungan benar-benar ideal.

SKYANDTELESCOPE.COM–Radian atau sumber pancaran hujan meteor Eta Aquarids.

Untuk itu, agar bisa mengamati hujan meteor ini hanya dibutuhkan langit yang benar-benar gelap, bersih dan bebas dari polusi cahaya dan cahaya lampu. Tentu, mereka yang tinggal di perdesaan akan memiliki kesempatan melihat hujan meteor lebih besar dibandingkan mereka yang ada di perkotaan.

Pengamat hanya perlu berbekal baju hangat mengingat mereka akan berada di luar ruangan selama beberapa jam pada saat dini hari. Agar kepala tak pegal karena harus menatap ke atas untuk beberapa waktu yang lama, tempat sandaran atau berbaring juga diperlukan.

Selain itu, kesabaran menjadi kunci. Sembari menunggu munculnya sang meteor, masyarakat juga bisa menyaksikan keindahan planet Jupiter dan Saturnus yang akan berada di atas kepala. Selain itu, ada sejumlah bintang terang yang juga menarik diamati mulai dari Vega di rasa Lyra atau Antares di rasi Scorpius. Bintang tetangga terdekat Matahari, Alfa Centauri serta rasi Layang-layang di langit selatan juga bisa jadi pilihan.

Komet Halley
Meski puncak hujan meteor Eta Aquarids tahun ini terjadi pada 6-7 Mei 2019, namun setiap tahun hujan meteor Aquarids berlangsung antara 19 April hingga 28 Mei. “Tidak seperti hujan meteor pada umumnya, hujan meteor Eta Aquarids tidak memiliki waktu puncak yang tajam. Puncak hujan meteor Eta Aquarids berlangsung selama seminggu meski mencapai puncaknya pada 7 Mei,” sebut American Meteor Society.

NASA/ESA/MAX-PLANCK-INSTITUTE FOR SOLAR SYSTEM RESEARCH–Debu dari ekor komet Halley merupakan sumber meteoroid yang memicu hujan meteor Orionid dan Eta Aquariid.

Meteor-meteor dalam hujan meteor ini berasal dari debu-debu yang tertinggal dari lintasan komet 1P/Halley saat mendekati Matahari. Komet yang memiliki periode 76 tahun itu terakhir kali mendekati Matahari pada 1986 dan akan kembali menghampiri Matahari pada 2061.

Saat debu-debu itu bersentuhan dengan atmosfer Bumi, dia akan terbakar hingga menghasilkan kilatan cahaya beruntun di langit yang menawan. Masyarakat Indonesia lebih mengenal meteor sebagai bintang jatuh, sementara orang Jawa menyebutnya sebagai lintang alihan karena posisinya yang berpindah tempat.

Sejatinya, debu-debu di bekas lintasan komet Halley menimbulkan dua kali hujan meteor. Selain Eta Aquarids, ada juga hujan meteor Orionids yang berlangsung setiap tahun antara 2 Oktober hingga 7 November. Tahun ini, seperti dikutip dari timeanddate.com, hujan meteor Orionids mencapai puncaknya pada 21-22 Oktober 2019 dengan jumlah meteor di saat puncak itu mencapai 15 meteor per jam.

Karena itu, hujan meteor Eta Aquarids ini adalah salah satu hujan meteor terbaik untuk diamati tahun ini. Bukan hanya karena jumlah meteornya yang lebih banyak dan peluangnya lebih besar karena terjadi saat Bulan baru saja konjungsi, namun pada saat bersamaan sebagian besar penduduk Indonesia akan bangun pada dinihari tersebut untuk sahur sehingga ada banyak teman untuk bisa menikmatinya.

Jadi, selamat menikmati hujan meteor Eta Aquarids.

Oleh M ZAID WAHYUDI

Sumber: Kompas, 6 Mei 2019

Share
x

Check Also

Belajar dari Sejarah Indonesia

Pelajaran sejarah Indonesia memang sangat menentukan dalam proses pendidikan secara keseluruhan. Dari sejarah Indonesia, siswa ...

%d blogger menyukai ini: