Asal Kucing Hutan Madagaskar Terungkap Setelah 30 Tahun Diteliti

- Editor

Rabu, 18 Maret 2020

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kucing hutan Madagaskar ini adalah ”Felis catus”. Mereka keturunan kucing yang berimigrasi dengan kapal dagang, terutama di sepanjang rute perdagangan awal Arab.

Selama 30 tahun peneliti penasaran dengan asal muasal kucing hutan di Madagaskar yang penampilannya mirip kucing kampung. Teka-teki itu terungkap melalui penelitian genetika kucing hutan tersebut. Kucing hutan Madagaskar tersebut diduga berasal dari Timur Tengah yang dibawa pedagang ke Madagaskar 1.000 tahun lalu.

Penelitian itu berjudul ”Identifikasi Taksonomi Kucing Hutan Madagaskar”. Laporan penelitian dimuat dalam jurnal Conservation Genetics yang juga dipublikasikan Science Daily pada 16 Maret 2020. Penelitian dilakukan tim ilmuwan Amerika Serikat (AS) dan Madagaskar, di antaranya IA Youssouf Jacky dari Universitas Toliara, Madagaskar; dan ML Sauther dari Universitas Colorado, AS.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam jurnal tersebut disebutkan, penduduk lokal Madagaskar sebetulnya sudah membedakan nama untuk kucing kampung dan kucing hutan Madagaskar. Kucing kampung di sana disebut sebagai ”piso”, sedangkan kucing hutan disebut sebagai ”ampaha” atau ”piso an’ala”. Kucing kampung tidak pernah disebut sebagai ”ampaha” atau ”piso an’ala”.

Penampilan fisik kucing hutan tersebut mirip dengan kucing kampung, yaitu belang-belang abu-abu. ”Ketika saya pertama kali mulai bekerja di Madagaskar 30 tahun lalu, saya perhatikan bahwa semua kucing ini tampaknya terlihat sama. ”Mereka besar dan warnanya selalu sama,” kata ML Sauther, seperti dikutip Science Daily.

Untuk memastikan taksonomi kucing hutan tersebut, tim ilmuwan mengambil sampel darah kucing untuk hutan agar diteliti genetikanya. Kucing hutan tersebut ditangkap di Cagar Alam Bezà Mahafaly dan Taman Nasional Ankarafantsika.

–Kucing hutan hasil sitaan Direktorat Tindak Pidana Tertentu Bareskrim Polri dari pedagang satwa di Muntilan, Jawa Tengah, menjalani perawatan di Wildlife Rescue Centre, Desa Sendangsari, Pengasih, Kulon Progo, DI Yogyakarta, Kamis (19/9/2013). Penampilan kucing hutan Madagaskar lebih mirip kucing kampung.

Dikombinasikan dengan informasi budaya dan sejarah, data genetik menunjukkan bahwa populasi kucing hutan Madagaskar ini adalah Felis catus. Mereka keturunan kucing yang berimigrasi ke pulau itu dengan kapal dagang, terutama di sepanjang rute perdagangan awal Arab. Pengaruh genetik tambahan mungkin berasal dari India dan Pakistan.

Sauther mengatakan, kucing-kucing itu mungkin telah meninggalkan kapal dagang mengikuti rute perdagangan yang telah ada selama lebih dari 1.000 tahun. ”Mereka akan turun di sepanjang Pantai Timur Afrika. Mereka akan berhenti di pulau-pulau Lamu dan Pate, dan kemudian hanya melompat ke Madagaskar,” kata Sauther.

Kucing hutan ini menjadi perhatian peneliti karena menjadi predator invasif lemur, satwa liar endemik Madagaskar. Selain dimangsa kucing liar, populasi lemur juga terancam perburuan liar. Padahal, lemur sangat penting untuk ekosistem hutan Madagaskar.

Pada tahun 2016, peneliti di Universitas Rice, AS, Anecia Gentles dan rekan-rekannya, menghabiskan satu tahun memeriksa karakteristik pohon hutan hujan dan membuat model model komputasi untuk memperkirakan bagaimana hutan akan berubah jika lemur menghilang.

Hasil penelitian tim menunjukkan bahwa lemur tidak hanya penting sebagai tukang kebun hutan, tetapi juga mungkin memainkan peran penting dalam penyerapan karbon hutan.

”Kami menemukan bahwa lemur adalah penyebar benih utama dari pohon kanopi terbesar. Hilangnya lemur dapat meningkatkan jumlah spesies pohon kecil yang tumbuh cepat dengan kayu yang lebih ringan,” kata Gentles.

Oleh SUBUR TJAHJONO

Sumber: Kompas, 18 Maret 2020

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Galodo dan Ingatan Air
Ketika Kereta Menghasilkan Listriknya Sendiri
Siapa yang Berhak Menyebut Ilmu?
Ketika Forensik Digital Bertemu Kekuasaan
Gen, Data, dan Wahyu
Bobibos: Api Kecil dari Sebuah Gudang Jerami
Biometrik dan AI, Tubuh dalam Cengkeraman Algoritma
Habibie Award: Api Intelektual yang Menyala di Tengah Bangsa
Berita ini 26 kali dibaca

Informasi terkait

Senin, 29 Desember 2025 - 19:32 WIB

Galodo dan Ingatan Air

Senin, 29 Desember 2025 - 19:06 WIB

Ketika Kereta Menghasilkan Listriknya Sendiri

Jumat, 26 Desember 2025 - 11:41 WIB

Siapa yang Berhak Menyebut Ilmu?

Jumat, 26 Desember 2025 - 11:38 WIB

Ketika Forensik Digital Bertemu Kekuasaan

Jumat, 26 Desember 2025 - 11:02 WIB

Gen, Data, dan Wahyu

Berita Terbaru

Berita

Galodo dan Ingatan Air

Senin, 29 Des 2025 - 19:32 WIB

Artikel

Ketika Kereta Menghasilkan Listriknya Sendiri

Senin, 29 Des 2025 - 19:06 WIB

Artikel

Siapa yang Berhak Menyebut Ilmu?

Jumat, 26 Des 2025 - 11:41 WIB

Artikel

Ketika Forensik Digital Bertemu Kekuasaan

Jumat, 26 Des 2025 - 11:38 WIB

Artikel

Gen, Data, dan Wahyu

Jumat, 26 Des 2025 - 11:02 WIB