Home / Sosok / Annisa Hasanah, Kampanye Lingkungan Sambil Bermain Ecofunopoly

Annisa Hasanah, Kampanye Lingkungan Sambil Bermain Ecofunopoly

Sejak kecil, Annisa Hasanah (30) terbiasa bermain monopoli saat bersama keluarga. Setelah dewasa, ia terinspirasi permainan tersebut. Ia merancang permainan papan (boardgame) sendiri bernama ecofunopoly. Lewat permainan itu, dia mengajak banyak orang bermain sambil belajar menjaga kelestarian alam.

DEVI NOVI–Annisa Hasanah

Sejak kecil, Annisa Hasanah (30) terbiasa bermain monopoli saat bersama keluarga. Setelah dewasa, ia terinspirasi permainan tersebut. Ia merancang permainan papan (boardgame) sendiri bernama ecofunopoly. Lewat permainan itu, dia mengajak banyak orang bermain sambil belajar menjaga kelestarian alam.

Ketika kuliah di Jurusan Arsitektur Lanskap, Institut Pertanian Bogor, kegemaran Annisa bermain monopoli sempat terhenti. Apalagi, pada saat yang sama aneka permainan elektronik (gim) semakin banyak dan lebih menarik hingga permainan dalam jaringan pun bermunculan.

Saat memasuki semester 4, tahun 2009, Annisa tertarik pada isu-isu lingkungan dan perubahan iklim. ”Dari cerita para dosen soal fakta lingkungan dan kebiasaan orang Indonesia buang sampah sembarangan, saya dan teman-teman dapat pelajaran dan perspektif baru,” kata Annisa.

Tak lama kemudian, Annisa berpikir bagaimana caranya membuat kampanye pelestarian lingkungan lewat permainan. Dari situ, ia kembali teringat pada monopoli. Dia membuat permainan bertema lingkungan.

Dengan membawa permainan yang diciptakannya, dia mengikuti sejumlah kompetisi dengan menawarkan ide-ide kegiatan inovatif. Namun, tidak ada satu pun yang menang. Ia juga sempat membuat permainan digital seperti The Sims yang diberi konten isu-isu lingkungan hidup. Sayangnya, proyek itu tak berlanjut karena Annisa tidak memahami koding permainan digital.

Sampai kemudian Annisa menciptakan ecofunopoly yang merupakan permainan edukatif berbasis lingkungan. Pada 2009, ide ecofunopoly ini diikutsertakan dalam kompetisi yang diadakan Danamon. Saat itu, bentuk permainannya masih sederhana hasil cetakan sendiri dengan pion-pion yang diambilkan dari permainan monopoli. Permainan papan yang masih berbentuk prototipe itu pertama kali diperkenalkan kepada anak-anak sekolah dasar yang berada di dekat kampus IPB. Dari hasil kegiatan inisiasi kampanye itu terbentuklah Ecofun Community.

Menurut Annisa, ecofunopoly dianggap lebih cocok karena permainan seperti monopoli ini sudah menjadi ”permainan sejuta umat”. Monopoli mengajarkan pemain bisa mengatur manajemen keuangan pribadi. Lalu, kata Annisa, kenapa tidak membuat permainan yang mengangkat isu lingkungan dan bisa mengajak masyarakat menjadi ramah lingkungan.

Kini, ada tujuh seri permainan yang sudah dibuat Annisa bersama timnya. Namun, ada empat seri yang sudah dijual, yaitu seri emisi karbon, siaga banjir, mengelola sampah, dan seri kabut asap. Untuk ukuran papan permainan pun dibuat lebih bervariasi, dari mulai ukuran 32 x 32 sentimeter hingga ukuran 4×4 meter.

Ecofunopoly merupakan permainan edukasi lingkungan yang memberikan wawasan dan pengalaman kepada pemain tentang bagaimana menjaga lingkungan. Ada beberapa seri permainan seperti emisi karbon, siaga banjir dan kabut asap.

DEVI NOVI–Ecofunopoly merupakan permainan edukasi lingkungan yang memberikan wawasan dan pengalaman kepada pemain tentang bagaimana menjaga lingkungan. Ada beberapa seri permainan, seperti emisi karbon, siaga banjir, dan kabut asap.

Setiap seri permainan akan memberikan pelajaran yang berbeda. Misalnya, untuk permainan seri emisi karbon yang memberikan wawasan dan pengalaman kepada pemain tentang bagaimana mengetahui jejak karbon yang dihasilkan pemain sehari-hari.

Cara bermain, tiga sampai enam pemain memilih satu pion berbentuk daun untuk bidak. Mereka bermain di atas papan kartu perilaku yang menggambarkan kehidupan keseharian kita. Seperti dalam monopoli, setiap kotak ada pertanyaan yang harus dijawab, misalnya pemain jatuh di kotak sampah, lalu mendapat pertanyaan makan malam kemarin apakah kamu menyisakan makanan. Apabila menjawab iya, maka akan mendapat dua karbon. Apabila tidak, berkurang satu karbon.

Tahun 2011, Annisa membuat permainan ecofunopoly dengan papan permainan berukuran raksasa (4 x 4 meter). Papan raksasa itu berhasil menyihir banyak orang karena menarik. Seiring waktu, konten permainan lebih terkait dengan kehidupan sehari-hari dan lebih banyak berisi teori tentang keanekaragaman hayati.

”Seri ini laku karena terkait kehidupan sehari-hari, seperti kebiasaan buang sampah sembarangan. Kalau ada pemain yang begitu (melanggar) bisa diberi hukuman,” kata Annisa yang kini tengah belajar bidang desain permainan.

Harga permainan ini mulai dari Rp 159.000 hingga Rp 349.000. Perbedaannya hanya terletak pada kotak kemasan permainan, ada yang kotak bahan kardus coklat biasa dan ada yang kemasannya lebih berwarna. Adapun papan yang berukuran raksasa kisaran Rp 2 juta sampai Rp 3 juta. Ecofunopoly yang dikembangkan saat ini sudah berbeda dari bentuk, konten, dan aturan permainan monopoli yang asli. Konten selalu diperbarui karena terkait isu lingkungan yang kerap berubah atau masih menjadi perdebatan.

Annisa Hasanah, Pendiri Ecofun Indonesia–Devi Novi

DEVI NOVI–Annisa Hasanah

Melanglang ke mancanegara
Sejak tahun 2011, kampanye ecofunopoly semakin gencar dan permainan itu kian dikenal karena kerap mengikuti kompetisi dan mendapat sejumlah penghargaan, antara lain Ashoka Changemakerexchange Indonesia. Itu juga berkat dukungan dari IPB.

Dengan hadiah Rp 2,5 juta, Annisa mengembangkan ide ecofunopoly dan didorong untuk masuk ke sisi pengembangan bisnisnya melalui kewirausahaan sosial. Salah satunya dengan cara menggerakkan ibu-ibu rumah tangga di sekitar rumahnya untuk membuat pion dan dadu permainan, Annisa menggunakan bahan limbah kertas dan kayu.

”Tujuannya membuat dampak tetapi tetap bisa mendapatkan keuntungan agar program bisa berkelanjutan. Keuntungannya bisa dipakai untuk membantu orang lain,” kata Annisa.

Tak mau hanya berkampanye di dalam negeri, Annisa berkeliling ke beberapa negara membawa ecofunopoly. Setidaknya sudah 33 negara dikunjungi untuk mengikuti berbagai kegiatan yang terkait dengan permainan edukasi lingkungan tersebut.

Pertama kali Annisa membawa ecofunopoly ke luar negeri pada tahun 2010 setelah terpilih sebagai Bayer Young Environmental Envoy 2010. Seiring berjalannya waktu, setelah menyempurnakan permainan, Annisa semakin sering diundang ke luar negeri. Berbagai kegiatan yang diikuti, seperti seminar, presentasi karya ilmiah, program inkubasi wirausaha sosial, dan mendapat kesempatan magang di Amerika Serikat.

”Saat itu aku bisa menentukan apa yang ingin dipelajari. Aku memilih mempelajari marketing industry board game di sana,” katanya.
Pengalaman lainnya didapatkan dari Universitas Monash, Australia, yang mengajak kerja sama membuat permainan mengelola kota air. ”Tim mereka mengajak aku sebagai partner di luar akademik untuk mengembangkan permainan pengelolaan kota air,” kata Annisa.

Saat menghadiri sebuah kegiatan di Filipina, Annisa yang senang menjalin relasi bertemu dengan peserta dari Pakistan. Kesempatan berkolaborasi pun tak disia-siakan. Dari perkenalan itu, Annisa diajak berkunjung ke Pakistan untuk mengenalkan ecofunopoly kepada siswa-siswa SD.

”Ternyata di Lahore, Pakistan, masalahnya hampir sama dengan Jakarta, kota yang penuh polusi. Dari berbagai negara itu, saya belajar banyak hal. Hampir semua negara memiliki masalah di bidang lingkungan meski Jepang sekalipun. Tentu saja, masalahnya berbeda-beda,” ujar Annisa.

Ke depan, Annisa ingin lebih memperluas penggunaan permainan ini dengan produk berbahasa asing. Saat ini sudah ada yang berbahasa Inggris, Jerman, Myanmar, dan Filipina karena ada permintaan dari konsumen dan ada kepentingan untuk mengikuti kompetisi, tetapi belum diproduksi massal.

Annisa berharap, dengan cara bermain yang menyenangkan ini, masyarakat akan tergugah untuk mencintai, menjaga, dan melestarikan lingkungan hidup di sekitarnya. Untuk bisa mengubah kebiasaan buruk, seperti buang sampah sembarangan, harus dimulai dari diri sendiri dan harus konsisten. ”Langkah perbaikan bisa dimulai dari hal sepele, seperti bermain ecofunopoly ini,” ujarnya.

Annisa Hasanah

Lahir: Bogor, 23 Maret 1989

Pendidikan:
– SMP Negeri 2 Bogor (2001-2004)
– SMA Negeri 1 Bogor (2004-2007)
– S-1 Institut Pertanian Bogor (2007-2011)
– S-2 Institut Pertanian Bogor (2012-2014)
– Georg-August Universitaet Goettingen, Jerman (Program Pertukaran Master Bidang Ilmu Kehutanan dan Ekologi Hutan)

Kegiatan: Pendiri Ecofun Indonesia (2016-sekarang)

Penghargaan:
– Penerima Bantuan Robert Bosch Siftung untuk ”Environment Now”, proyek kolaborasi pendidikan lingkungan antara Indonesia dan Pakistan (Robert Bosch Stiftung dan ASHOKA Foundation) 2018
– Juara 1 Kompetisi Dampak Inovasi Anak Muda ASEAN (2017)
– Finalis regional PBB Young Champion of Earth
– Juara 1 ”Indonesia Sociopreneur Challenge 2016” kategori Kampanye Pendidikan

Oleh LUKI AULIA

Sumber: Kompas, 26 Juni 2019

Share
x

Check Also

Bambang Yuwono dan Hary Sudiyono Candra, Pembelajaran Digital untuk Siswa Sekolah

Bambang dan Hary, pendiri PesonaEdu, membuat buku digital interaktif untuk membantu siswa dan guru dalam ...

%d blogger menyukai ini: