Home / Berita / Anjing Berpotensi Menjadi Inang Influenza Manusia

Anjing Berpotensi Menjadi Inang Influenza Manusia

Sebuah penelitian terbaru menunjukkan, anjing dapat menjadi reservoir atau inang potensial untuk pandemi influenza pada masa depan. Studi menunjukkan, virus influenza dapat melompat dari babi ke anjing dan virus influenza menjadi semakin beragam dalam tubuh anjing.

Penelitian oleh Pusat Penelitian Influenza Pathogenesis Influenza (CRIP) Fakultas Kedokteran Icahn di Mount Sinai, New York City, Amerika Serikat, yang diterbitkan dalam jurnal mBio itu disiarkan situs Masyarakat Mikrobiologi Amerika dan sciencedaily.com edisi 5 Juni 2018.

”Mayoritas pandemi dikaitkan dengan babi sebagai inang perantara antara virus unggas dan manusia. Dalam studi ini, kami mengidentifikasi virus influenza yang melompat dari babi ke anjing,” kata Adolfo García-Sastre, Direktur Global Health and Emerging Pathogens Institute CRIP.

KOMPAS/INGKI RINALDI–Sejumlah petugas dan pemilik peternakan, Februari 2017, memusnahkan ratusan itik di Korong Kampung Lintang, Nagari Sunur, Kecamatan Nan Sabaris, Kabupaten Padangpariaman, Sumatera Barat. Ratusan itik itu positif terinfeksi virus subtipe H5N1 pencetus flu burung (Avian Influenza/AI) dengan clade baru tipe 2.3.2 yang juga menyebabkan kematian itik lain di kawasan tersebut sejak Jumat lalu.

Influenza dapat melompat di antara inang hewan di mana banyak galur virus berbeda berada. Inang berfungsi sebagai mangkuk pencampuran untuk keragaman genetik galur influenza. Pandemi influenza terjadi ketika virus melompat dari inang hewan ke manusia. Tanpa terpapar virus sebelumnya, kebanyakan orang tidak memiliki kekebalan terhadap virus ini.

Hewan utama yang menjadi inang untuk influenza adalah burung liar, ayam, dan unggas domestik lainnya, babi, dan kuda. Beberapa gen virus dari virus H1N1 dalam pandemi 2009 berasal dari burung, dari virus unggas yang melompat ke babi, kemudian melompat dari babi ke manusia. Burung dan babi adalah sumber utama keragaman genetik virus, sedangkan kuda dan anjing secara historis dibatasi pada satu atau dua keturunan virus influenza A yang stabil dengan transmisi yang tidak ada atau sangat terbatas pada manusia.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO–Salah satu burung puyuh mati karena virus flu burung di Dusun Sedan, Desa Sidorejo, Lendah, Kulon Progo, DI Yogyakarta, Januari 2017. Sebanyak 3.900 burung puyuh di kandang tersebut mati akibat virus flu burung dalam kurun tiga hari.

Lima belas tahun lalu, para peneliti mendokumentasikan sebuah virus influenza dalam seekor kuda yang melompat ke dalam seekor anjing, dan ini menciptakan virus influenza anjing pertama yang beredar. Lima tahun lalu, para peneliti mengidentifikasi virus flu burung H3N2 asal unggas yang beredar di peternakan anjing di Guangdong, China.

Tiga tahun sebelumnya, dalam Journal of General Virology tahun 2015, sejumlah peneliti Korea Selatan memublikasikan hasil penelitian mereka berjudul ”Kerentanan Anjing terhadap Virus Influenza Manusia”. Penelitian itu dilakukan Song Daesub, peneliti Pusat Penelitian Penyakit Menular Virus Pusat Penelitian Biosains dan Bioteknologi Daejeon, Korsel, dan peneliti lainnya.

Hasilnya menunjukkan bahwa anjing dapat menjadi inang virus influenza manusia—H1N1 dan H3N2 manusia—dan mungkin terinfeksi bersama virus H3N2 anjing. ”Jelas bahwa interaksi antara anjing dan pemiliknya bisa menjadi pertemuan penting untuk rekombinasi dan transmisi zoonosis virus influenza A. Premis ini didukung laporan anjing peliharaan berusia 13 tahun dari New York yang menjadi sakit setelah pemiliknya didiagnosis dengan H1N1 selama pandemi H1N1 tahun 2009,” kata Song Daesub dalam publikasinya.

KOMPAS/SRI REJEKI–Pasien S (72) asal Kecamatan Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo, terbaring di ruang isolasi di Rumah Sakit Umum Daerah Dr Moewardi, Solo, Jawa Tengah, tahun 2013.

”Dalam penelitian kami, apa yang kami temukan adalah kumpulan virus lain yang berasal dari babi yang awalnya berasal dari unggas, dan sekarang mereka melompat ke dalam anjing. Kami sekarang memiliki H1N1, H3N2, dan H3N8 pada anjing. Mereka mulai berinteraksi satu sama lain. Ini sangat mengingatkan pada apa yang terjadi pada babi sepuluh tahun sebelum pandemi H1N1,” kata García-Sastre.

Secara khusus, dalam studi baru, para peneliti mengurutkan genom lengkap dari 16 virus influenza yang diperoleh dari anjing di Guanxi, China Selatan, selama 2013-2015. Peneliti utama lainnya, termasuk Martha Nelson, spesialis dalam analisis filogenetik dan rekonstruksi transmisi di CRIP, dan Ying Chen, spesialis pengawasan influenza yang membawa sampel dari China.

Virus dalam penelitian ini dikumpulkan, terutama dari anjing peliharaan yang mengalami gejala pernapasan di klinik hewan. Anjing di daerah-daerah tertentu di China, termasuk Guangxi, juga dibesarkan untuk daging dan anjing jalanan bebas berkeliaran, menciptakan ekosistem yang lebih kompleks untuk transmisi virus influenza anjing.

KOMPAS/INGKI RINALDI–Aktivitas di salah satu titik penjualan hewan peliharaan anjing dan kucing di Jalan Latuharhary, Jakarta Pusat, September 2017.

Para peneliti mengatakan sudah waktunya memikirkan cara-cara untuk membatasi sirkulasi virus influenza pada anjing. Amerika Serikat bebas dari flu burung karena setiap kali flu burung telah dideteksi pada unggas di negara ini, ayam atau kalkun dimusnahkan dan dihilangkan dari sirkulasi.

”Ada upaya membatasi virus influenza pada babi melalui vaksinasi dan seseorang dapat mempertimbangkan vaksinasi untuk anjing,” kata García-Sastre.–SUBUR TJAHJONO

Sumber: Kompas, 6 Juni 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

%d blogger menyukai ini: