Home / Artikel / Alumni Undana Memaknai 50 Tahun Undana

Alumni Undana Memaknai 50 Tahun Undana

Media ini telah menurunkan berita utama (headline news) untuk mengenang Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang di HUT Emas dalam dua terbitan berturut-turut (Timor Express, Senin – Selasa, 30 – 31 Juli 2012) dan khususnya di terbitan terakhir menurunkan pemikiran kritis dari salah seorang alumni Undana, Herman Tiluata.

Beliau memilih untuk menjadi dosen Undana ketika tamat dari Undana dan kini sudah purnabakti dan telah memasuki usia 78 tahun tahun ini. Pemikiran kritisnya tertuju pada visi Undana yang berwawasan global (global-oritented university).

Menurutnya, perguruan tinggi yang berwawasan global harus memiliki kerjasama dengan luar negeri seperti pertukaran dosen, mahasiswa dan penelitian dengan universitas-universitas luar negeri. Kalau tidak melakukan ini semua, maka jangan berteriak internasional.

Harus ada pertukaran dengan luar negeri baru kita bilang ada universitas global. Namun, dari tahun ke tahun tetap sama, maka mau bilang global bagaimana? Harus ada bukti global,” tandas Tiluata (Timor Express, Selasa, 31 Juli 2012: 7).

Penulis yang dilahirkan bertepatan dengan Undana di tahun 1962 juga merupakan alumni Fapet Undana (1980 – 1984) dan telah mengabdi juga di Undana sejak menamatkan studi sarjananya dan telah diangkat sebagai dosen Undana sejak Januari 1986 sangat sepakat dengan pemikiran kritis dari seniornya yang mengkritisi Pasal 2 Statuta Undana yang tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI Nomor 2 Tahun 2009 tanggal 15 Januari 2009: “Visi Undana “perguruan tinggi berwawasan global”.

Kritik dari alumni senior Undana ini sebenarnya tertuju pada Misi Undana dalam Pasal 3 Statuta Undana: (b) mewujudkan budaya penelitian yang berwawasan global dan berkontribusi pada proses peningkatan pembelajaran, pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau seni serta memiliki nilai aplikasi dalam pembangunan; dan (e) “membina dan meningkatkan kerja sama dengan lembaga lain, baik nasional maupun internasional”.

Sudah tidak dibantah bahwa selama memasuki usia 50 tahun pada tanggal 1 September 2012 nanti, sudah banyak kerja sama yang dilakukan oleh Undana dengan lembaga lain baik pada tingkat nasional maupun internasional.

Bukti kerja sama yang dilakukan oleh Undana dengan lembaga perguruan tinggi dalam negeri maupun luar negeri tidak hanya dilakukan oleh Undana sebagai lembaga resmi, tetapi telah dilakukan oleh hampir ratusan doktor (112 doktor) dan puluhan guru besar/GB (29 profesor) yang merupakan alumni dari perguruan tinggi negerti/swasta dalam negeri maupun luar negeri.

Kesemua alumni doktor/profesor di Undana sebenarnya merupakan andalan Undana, karena mereka diharapkan bisa berkompetisi untuk mewujudkan budaya penelitian berwawasan global maupun berupaya mendapatkan beasiswa yang setiap tahun telah dialokasikan oleh Ditjen DIKTI, Depdikbud (www.dikti.or.id) guna mereka bisa “go global” tanpa harus membebani Undana sebagai penyedia dana. Dalam roadmap pengembangan Undana tahun 2010 – 2025, Undana minimal memiliki 75 persen dosen Undana adalah doktor dan 20 persen bergelar profesor (Warta Undana, No. 146/Januari 2011: 12).

Dalam TA 2010, misalnya, Dikti, Kemdikbud, cq. Direktorat Ketenagaan (ditnaga: www.ditnaga.or.id) telah memberikan beasiswa untuk melaksanakan “Program Academic Recharging” (PAR) bagi dosen yang telah berpendidikan S3 dan GB.

Pemberian beasiswa ini didasari pemikiran bahwa para doktor dan GB yang sudah lama melakukan tugas-tugas rutin di perguruan tinggi masing-masing, sehingga mereka perlu diberikan kesempatan untuk menggairahkan kembali (recharging) keterampilan akademik dan motivasinya melalui pengiriman singkat ke berbagai perguruan tinggi maju di luar negeri.

Penulis telah memanfaatkan kesempatan emas ini untuk memanfaatkan beasiswa yang tersedia gratis dan berkunjung ke Texas A&M University (TAMU) di Amerika Serikat, bersama dua rekan dari FKIP Undana: Dr. Clemens Kolo (University of Leeds – Inggris) dan Prof. Feliks Tans (University of Sydney – Australia (Yusuf L. Henuk: “Program Academic Recharging Bagi dosen”, Warta Undana, No. 147/Februari 2011: 4 & 9).

Penulis pun kini telah mengantongi “Letter of Reference” dari Prof. Chris A. Bailey untuk kembali ke TAMU selama 4 – 6 bulan yang akan dibiayai oleh Fulbright-DIKTI, sehingga dokumennya telah diusulkan dari Undana ke DIKTI lewat surat dari Rektor Undana Nomor: 3608/H15/PP/2012 tanggal 02 Juli 2012, Hal: Pengiriman Calon Peserta Beasiswa Fulbright-DIKTI.

Keikutsertaan penulis sebagai “visiting profesor” di TAMU (USA: September – Desember 2010) selain sebagai alumni S2 dari University of New England (Australia: 1991 – 1995) dan alumni S3 dari University of Queensland (Australia: 1998 – 2001) serta peserta pelatihan “Poultry Production and Health” di Egyptian International Center for Agricultural (EICA: 15 Januari – 31 Maret 2008) di Kairo – Mesir, merupakan “bukti kecil” yang telah ditunjukkan oleh penulis sebagai alumni Undana yang telah juga dikukuhkan sebagai Guru Besar ke-20 di Undana pada tanggal 16 April 2011 untuk menanggapi kritik dari seniornya, Herman Tiluata yang menghendaki pihak Undana harus berbuat banyak untuk memenuhi visi Undana sebagai universitas berwawasan global (global-oritented university) sekaligus memaknai Undana yang memasuki usia ke-50 pada 1 September 2012.

Pasal 5 ayat 2 Statuta Undana dengan jelas menyatakan bahwa: “Undana didirikan pada tanggal 1 September 1962 berdasarkan Keputusan Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan (PTIP) Nomor 111 Tahun 1962 tanggal 1 September 1962 juncto Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 67 Tahun 1963 tanggal 23 April 1963”. Happy Golden Anniversary of My Undana on 1st September 2012!

Oleh: Yusuf Leonard Henuk, Guru Besar Fapet Undana

Sumber: timor Express, Rabu, 01 Aug 2012

Rabu, 01 Aug 2012, | 91
Alumni Undana Memaknai 50 Tahun Undana
Oleh: Yusuf Leonard Henuk

Guru Besar Fapet Undana.

EDIA ini telah menurunkan berita utama (headline news) untuk mengenang Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang di HUT Emas dalam dua terbitan berturut-turut (Timor Express, Senin – Selasa, 30 – 31 Juli 2012) dan khususnya di terbitan terakhir menurunkan pemikiran kritis dari salah seorang alumni Undana, Herman Tiluata.

Beliau memilih untuk menjadi dosen Undana ketika tamat dari Undana dan kini sudah purnabakti dan telah memasuki usia 78 tahun tahun ini. Pemikiran kritisnya tertuju pada visi Undana yang berwawasan global (global-oritented university).

Menurutnya, perguruan tinggi yang berwawasan global harus memiliki kerjasama dengan luar negeri seperti pertukaran dosen, mahasiswa dan penelitian dengan universitas-universitas luar negeri. Kalau tidak melakukan ini semua, maka jangan berteriak internasional.

Harus ada pertukaran dengan luar negeri baru kita bilang ada universitas global. Namun, dari tahun ke tahun tetap sama, maka mau bilang global bagaimana? Harus ada bukti global,” tandas Tiluata (Timor Express, Selasa, 31 Juli 2012: 7).

Penulis yang dilahirkan bertepatan dengan Undana di tahun 1962 juga merupakan alumni Fapet Undana (1980 – 1984) dan telah mengabdi juga di Undana sejak menamatkan studi sarjananya dan telah diangkat sebagai dosen Undana sejak Januari 1986 sangat sepakat dengan pemikiran kritis dari seniornya yang mengkritisi Pasal 2 Statuta Undana yang tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI Nomor 2 Tahun 2009 tanggal 15 Januari 2009: “Visi Undana “perguruan tinggi berwawasan global”.

Kritik dari alumni senior Undana ini sebenarnya tertuju pada Misi Undana dalam Pasal 3 Statuta Undana: (b) mewujudkan budaya penelitian yang berwawasan global dan berkontribusi pada proses peningkatan pembelajaran, pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau seni serta memiliki nilai aplikasi dalam pembangunan; dan (e) “membina dan meningkatkan kerja sama dengan lembaga lain, baik nasional maupun internasional”.

Sudah tidak dibantah bahwa selama memasuki usia 50 tahun pada tanggal 1 September 2012 nanti, sudah banyak kerja sama yang dilakukan oleh Undana dengan lembaga lain baik pada tingkat nasional maupun internasional.

Bukti kerja sama yang dilakukan oleh Undana dengan lembaga perguruan tinggi dalam negeri maupun luar negeri tidak hanya dilakukan oleh Undana sebagai lembaga resmi, tetapi telah dilakukan oleh hampir ratusan doktor (112 doktor) dan puluhan guru besar/GB (29 profesor) yang merupakan alumni dari perguruan tinggi negerti/swasta dalam negeri maupun luar negeri.

Kesemua alumni doktor/profesor di Undana sebenarnya merupakan andalan Undana, karena mereka diharapkan bisa berkompetisi untuk mewujudkan budaya penelitian berwawasan global maupun berupaya mendapatkan beasiswa yang setiap tahun telah dialokasikan oleh Ditjen DIKTI, Depdikbud (www.dikti.or.id) guna mereka bisa “go global” tanpa harus membebani Undana sebagai penyedia dana. Dalam roadmap pengembangan Undana tahun 2010 – 2025, Undana minimal memiliki 75 persen dosen Undana adalah doktor dan 20 persen bergelar profesor (Warta Undana, No. 146/Januari 2011: 12).

Dalam TA 2010, misalnya, Dikti, Kemdikbud, cq. Direktorat Ketenagaan (ditnaga: www.ditnaga.or.id) telah memberikan beasiswa untuk melaksanakan “Program Academic Recharging” (PAR) bagi dosen yang telah berpendidikan S3 dan GB.

Pemberian beasiswa ini didasari pemikiran bahwa para doktor dan GB yang sudah lama melakukan tugas-tugas rutin di perguruan tinggi masing-masing, sehingga mereka perlu diberikan kesempatan untuk menggairahkan kembali (recharging) keterampilan akademik dan motivasinya melalui pengiriman singkat ke berbagai perguruan tinggi maju di luar negeri.

Penulis telah memanfaatkan kesempatan emas ini untuk memanfaatkan beasiswa yang tersedia gratis dan berkunjung ke Texas A&M University (TAMU) di Amerika Serikat, bersama dua rekan dari FKIP Undana: Dr. Clemens Kolo (University of Leeds – Inggris) dan Prof. Feliks Tans (University of Sydney – Australia (Yusuf L. Henuk: “Program Academic Recharging Bagi dosen”, Warta Undana, No. 147/Februari 2011: 4 & 9).

Penulis pun kini telah mengantongi “Letter of Reference” dari Prof. Chris A. Bailey untuk kembali ke TAMU selama 4 – 6 bulan yang akan dibiayai oleh Fulbright-DIKTI, sehingga dokumennya telah diusulkan dari Undana ke DIKTI lewat surat dari Rektor Undana Nomor: 3608/H15/PP/2012 tanggal 02 Juli 2012, Hal: Pengiriman Calon Peserta Beasiswa Fulbright-DIKTI.

Keikutsertaan penulis sebagai “visiting profesor” di TAMU (USA: September – Desember 2010) selain sebagai alumni S2 dari University of New England (Australia: 1991 – 1995) dan alumni S3 dari University of Queensland (Australia: 1998 – 2001) serta peserta pelatihan “Poultry Production and Health” di Egyptian International Center for Agricultural (EICA: 15 Januari – 31 Maret 2008) di Kairo – Mesir, merupakan “bukti kecil” yang telah ditunjukkan oleh penulis sebagai alumni Undana yang telah juga dikukuhkan sebagai Guru Besar ke-20 di Undana pada tanggal 16 April 2011 untuk menanggapi kritik dari seniornya, Herman Tiluata yang menghendaki pihak Undana harus berbuat banyak untuk memenuhi visi Undana sebagai universitas berwawasan global (global-oritented university) sekaligus memaknai Undana yang memasuki usia ke-50 pada 1 September 2012.

Pasal 5 ayat 2 Statuta Undana dengan jelas menyatakan bahwa: “Undana didirikan pada tanggal 1 September 1962 berdasarkan Keputusan Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan (PTIP) Nomor 111 Tahun 1962 tanggal 1 September 1962 juncto Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 67 Tahun 1963 tanggal 23 April 1963”. Happy Golden Anniversary of My Undana on 1st September 2012!

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Pendidikan Tinggi Indonesia dalam Masa Pancaroba

Dalam keadaan kini, saat kita semua merasa tertekan oleh pembatasan yang dikenakan karena Covid-19, dunia ...

%d blogger menyukai ini: