Lapan Targetkan Observatorium Kupang Beroperasi Tahun 2019

- Editor

Rabu, 3 Juni 2015

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jika pendanaan lancar, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional menargetkan pembangunan observatorium nasional di Kupang, Nusa Tenggara Timur, rampung pada 2019. Observatorium tersebut akan memiliki fungsi prioritas untuk penelitian keantariksaan, termasuk mendorong pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di kawasan Indonesia timur.

“Pada 2016, kami fokus melakukan studi kelayakan lokasi. Setelah itu, pembangunan dimulai pada 2017,” kata Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Thomas Djamaluddin di Jakarta, Jumat (29/5). Ia menambahkan, Lapan mengusulkan penganggaran Rp 300 miliar hingga tahun 2019 untuk menyelesaikan pembangunan.

Seperti diberitakan, lokasi dengan rekomendasi terkuat untuk pembangunan observatorium berada di Gunung Timau, Desa Fatumonas, Amfoang Tengah, Kabupaten Kupang. Lokasi itu dinilai strategis karena kondisi cakrawala masih sangat cerah dan mudah memantau berbagai benda langit (Kompas, 29/5).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Thomas mengatakan, Lapan bertanggung jawab terhadap pengusulan dan pengelolaan anggaran pembangunan observatorium. Lembaga ini pun sudah memasukkan pembangunan observatorium nasional dalam Rencana Induk Penyelenggaraan Keantariksaan 2015-2039 dan sedang menunggu peraturan presiden yang mengesahkan rencana tersebut.

Untuk kegiatan studi kelayakan pada 2016, Lapan sudah mengajukan anggaran Rp 9 miliar. “Semoga seluruh pendanaan lancar sehingga observatorium benar-benar bisa terwujud pada tahun 2019,” ujar Thomas.

Sekretaris Utama Lapan Ignatius Loyola Arisdiyo menuturkan, tim survei yang terdiri dari Lapan, Institut Teknologi Bandung (ITB), dan Universitas Nusa Cendana (Undana) mengunjungi calon lokasi observatorium, Selasa (26/5). “Saya baru kali itu melihat galaksi kita seperti apa. Sangat indah. Dengan mata telanjang saja bisa terlihat, apalagi nanti jika sudah ada teleskop yang berdiameter 3,5 meter,” katanya.

Survei tersebut juga bertujuan mengumpulkan data kondisi lokasi sebagai bahan pembicaraan dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Hal ini lantaran Lapan akan menggunakan lahan hutan lindung seluas 30 hektar yang dihibahkan Pemerintah Kabupaten Kupang.

cd18b1b945a1445985082a59ad3bc8c7Arisdiyo mengatakan, hasil survei memastikan bahwa lahan yang akan ditempati merupakan lahan tanpa pohon walaupun berada di dalam kawasan hutan lindung. “Kami tidak akan menebang satu pohon pun. Bahkan, kami berkomitmen untuk menanam pohon di sejumlah area yang belum ada pohon,” ujarnya.

Bernilai strategis politis
Thomas menjelaskan, keberadaan observatorium di Kupang memiliki nilai strategis-politis, yaitu untuk mengangkat pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi di wilayah Indonesia timur. Salah satu caranya, memberi kesempatan kepada mahasiswa lokal, seperti dari Undana, untuk ikut memanfaatkan observatorium sebagai wahana penelitian.

Namun, Thomas mengingatkan, karena hanya berfungsi untuk penelitian, observatorium bukan untuk meningkatkan perekonomian daerah di Kupang ataupun NTT. Pendidikan dan potensi wisata keantariksaan memang akan dikembangkan di Kupang, tetapi di area terpisah dari observatorium.

Menurut rencana, Pemkab Kupang membangun pusat sains sebagai pusat pendidikan serta pengenalan ilmu pengetahuan dan teknologi, termasuk keantariksaan. Dengan demikian, masyarakat bisa mengakses pengetahuan keantariksaan di pusat sains sehingga menjamin observatorium jauh dari kegiatan masyarakat dan mempertahankan kualitas pengamatan, terutama menghindari polusi cahaya.–J Galuh Bimantara

Sumber: Kompas Siang | 29 Mei 2015

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Tak Wajib Publikasi di Jurnal Scopus, Berapa Jurnal Ilmiah yang Harus Dicapai Dosen untuk Angka Kredit?
Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia
Siap Diuji Coba, Begini Cara Kerja Internet Starlink di IKN
Riset Kulit Jeruk untuk Kanker & Tumor, Alumnus Sarjana Terapan Undip Dapat 3 Paten
Ramai soal Lulusan S2 Disebut Susah Dapat Kerja, Ini Kata Kemenaker
Lulus Predikat Cumlaude, Petrus Kasihiw Resmi Sandang Gelar Doktor Tercepat
Kemendikbudristek Kirim 17 Rektor PTN untuk Ikut Pelatihan di Korsel
Ini Beda Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Versi Jepang dan Cina
Berita ini 3 kali dibaca

Informasi terkait

Rabu, 24 April 2024 - 16:17 WIB

Tak Wajib Publikasi di Jurnal Scopus, Berapa Jurnal Ilmiah yang Harus Dicapai Dosen untuk Angka Kredit?

Rabu, 24 April 2024 - 16:13 WIB

Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia

Rabu, 24 April 2024 - 16:09 WIB

Siap Diuji Coba, Begini Cara Kerja Internet Starlink di IKN

Rabu, 24 April 2024 - 13:24 WIB

Riset Kulit Jeruk untuk Kanker & Tumor, Alumnus Sarjana Terapan Undip Dapat 3 Paten

Rabu, 24 April 2024 - 13:20 WIB

Ramai soal Lulusan S2 Disebut Susah Dapat Kerja, Ini Kata Kemenaker

Rabu, 24 April 2024 - 13:06 WIB

Kemendikbudristek Kirim 17 Rektor PTN untuk Ikut Pelatihan di Korsel

Rabu, 24 April 2024 - 13:01 WIB

Ini Beda Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Versi Jepang dan Cina

Rabu, 24 April 2024 - 12:57 WIB

Soal Polemik Publikasi Ilmiah, Kumba Digdowiseiso Minta Semua Pihak Objektif

Berita Terbaru

Tim Gamaforce Universitas Gadjah Mada menerbangkan karya mereka yang memenangi Kontes Robot Terbang Indonesia di Lapangan Pancasila UGM, Yogyakarta, Jumat (7/12/2018). Tim yang terdiri dari mahasiswa UGM dari berbagai jurusan itu dibentuk tahun 2013 dan menjadi wadah pengembangan kemampuan para anggotanya dalam pengembangan teknologi robot terbang.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO (DRA)
07-12-2018

Berita

Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia

Rabu, 24 Apr 2024 - 16:13 WIB