Home / Sosok / Alamanda Shantika, Mencetak Programmer Berkualitas

Alamanda Shantika, Mencetak Programmer Berkualitas

Agara pendidikan teknologi informasi juga dirasakan di daerah.

NIAT Mistrah belajar membuat program akhirnya terwujud. Sudah sebulan sarjana filsafat lulusan Sekolah Tinggi Filsafat Islam Sadra, Lebak Bulus, Jakarta, ini menekuni dasar-dasar komputer untuk membuat aplikasi. “Sebelumnya saya enggak tahu gimana caranya. Html juga baru tahu,” kata Mistrah kepada Tempo,
Jumat pekan lalu.

Mistrah ingin membuat aplikasi e-learning library, sistem pembelajaran berbasis teknologi dalam
waktu enam bulan. Rencananya, aplikasi itu bakal dikembangkan untuk sekolah-sekolah di kampungnya di Indramayu, Jawa Barat.

Adalah Alamanda Shantika, 29 tahun, yang mewujudkan mimpi Mistrah. Maret lalu, dia mendirikan Binar, sekolah programming, di Jalan Damai Nomor 89, Sariharjo, Ngaglik, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, yang menawarkan kursus gratis bagi yang berminat. “Tempat kursus yang lain berjuta-juta biayanya. Saya enggak sanggup,” kara Mistrah.

Ditemui Tempo pada Kamis pekan lalu, Alamanda (29 Tahun) mengatakan Binar bertujuan menetaskan programmer andal. Menurut dia, Indonesia saat ini kekurangan programmer. Alamanda mencontohkan, pada 2014, saat masih menjabat Vice President of Technology Product GoJek, dia kesulitan mencari programmer untuk iOS—sistem operasi Apple. “Waktu saya bangun GoJek, nyari iOS engineer langka banget. Sampai harus ajarin lagi selama dua bulan,” kata Ala— sapaan Alamanda.

Keluar dari Go-Jek, ia pun mendirikan Binar dengan biaya dari koceknya sendiri. “Aku punya mimpi
bangun sekolah dan jadi menteri pendidikan,” ujar Ala.

Kota Pelajar dipilih Ala agar pendidikan teknologi informasi dapat dirasakan di daerah. “Supaya enggak semua berpusat di Jakarta. Kami ingin gedein startup di kota lain, dan imbasnya ekonomi daerah meningkat,” ujarnya.

Angkatan pertama, dari 600 pelamar, sebanyak 60 orang lolos seleksi logika dan dapat beasiswa
untuk belajar cuma-cuma. Setelah lulus, headhunter yang dikelola lembaga itu akan mempertemukan mereka dengan startup yang sedang mencari programmer. “Di situ saya cari uang. Kami charge 20 persen dari gaji mereka ke startup. Kalau pendidikannya enggak,” kata Ala.

Murid Binar, Bernadetta Dyani Kusumadewi, 26 tahun, sudah bekerja di Oy! Indonesia—salah satu
partner Binar dalam headhunter dan pengembangan talenta pekerja. Dyani bekerja di sana sebagai quality
assurance sejak awal Juli lalu. “Setelah bekerja, saya masih bisa belajar di Binar,” ujar
Bernadetta.

Ala menargetkan, selama setahun ke depan, Binar mampu melatih setidaknya 2.000 calon programmer.Dia ingin Binar ada di seluruh wilayah Indonesia agar pendidikan teknologi dapat dirasakan semua orang. “Sekarang perkembangan sudah cepat. Kita sudah ketinggalan, apalagi menghadapi 2045. Jadi semua harus
dipersiapkan,” katanya.

Sumber: Koran Tempo, edisi khusus kemerdekaan, 16 Agustus 2017
————–
Mundur dari VP Go-Jek, Alamanda Shantika Santoso Pindah ke Mana?

Kabar mengejutkan dari salah satu startup lokal Go-Jek yang belum lama ini menyandang status unicorn–startup dengan valuasi di atas US$ 1 miliar (sekitar Rp 13 triliun). Startup yang dipimpin oleh Nadiem Makarim tersebut ditinggalkan oleh salah seorang vice president, Alamanda Shantika Santoso.

Posisi terakhir yang diemban Ala, sapaan akrabnya, adalah Vice President, People’s Journey-People and Culture. Posisi itu ia pegang selama empat bulan terhitung dari Mei 2016 hingga September 2016. Sebelumnya, Ala merupakan Vice President, Technology Product sejak Mei 2015 hingga Mei 2016.

Isu mengenai kepergian Ala sebetulnya sempat tercium sejak beberapa pekan lalu. Namun, baru di awal bulan Oktober ini ia mengonfirmasinya.

Tentu saja, keputusan Ala menyisakan sejumlah pertanyaan, antara lain mengapa ia memutuskan untuk mengundurkan diri dan ke mana ia akan berlabuh?

“Bisa dibilang, semua ini karena Go-Jek itu sendiri. Mimpi-mimpi yang telah berhasil saya wujudkan saat ini semuanya berkat Go-Jek,” ujar Ala, sebagaimana dikutip dari e27, Jumat (7/10/2016).

Diakui Ala, ketika ia mulai berkarya di Go-Jek, ia sama sekali tak punya mimpi sebesar saat ini. Namun sekarang ia melihat Go-Jek telah menjadi role model bagi startup Indonesia.

Kemudian, Ala melanjutkan, “Ibaratnya begini. Kalau bayi (startup, red.) saya sudah lahir dan mulai belajar berjalan, sekarang saatnya bagi saya untuk membesarkan bayi-bayi (startup, red.) baru–membantu bayi-bayi (startup, red.) yang dilahirkan melalui program 1000 Startup Digital.”

Di program tersebut Ala akan berbagi pengalaman dan pengetahuan dari sudut pandang seseorang yang pernah membangun startup. “Misalnya, saya akan berbagi bagaimana seseorang membangun sebuah tim engineer.”

Ala menilai, Indonesia saat ini sudah memiliki banyak anak muda berbakat yang siap membangun startup. Namun, menurut Ala, mereka masih membutuhkan bimbingan supaya bisa mengeksekusinya. “Di situlah peran saya,” ujar Ala. (Why/Isk)

Mochamad Wahyu Hidayat

Sumber: Liputan6, 07 Okt 2016
———–
Cerita Alamanda Dirayu Nadiem Bangun Gojek

Bisa dibilang wanita ini menarik perhatian lantaran dirinya berkontribusi di salah satu perusahaan teknologi Indonesia. Alamanda Shantika, berkisah bagaimana dirinya bisa berada di Gojek.

Lulusan Binus University ini bercerita sejak kecil sudah menyukai pelajaran matematika. Kemudian saat menginjak bangku kuliah, ia memilih jurusan TI dan Matematika di tahun 2005 silam.

Setelah lulus di tahun 2010 dengan gelar ganda (double degree), ia mencoba peruntungan di sejumlah perusahaan seperti e-commerce Berrybenka hingga Kartuku.

“Saya kenal Nadiem (Nadiem Makarim) sebelum dia bangun Gojek, Nadiem juga pernah kerja di Kartuku. Lalu dia membujuk saya supaya gabung ke Gojek,” kisahnya.

Ia bercerita, saat itu ia masih bekerja untuk Kartuku sehingga ia memutuskan bergabung ke Gojek pada Mei 2014 sebagai karyawan freelance sebagai konsultan.

Alamanda mengaku ia sudah mulai mengembangkan aplikasi Gojek bersama beberapa orang di dalam timnya.

“Saat itu Gojek belum jadi apa-apa. Saya dan beberapa teman coba rancang aplikasinya dulu, gimana caranya supaya enak dipakai,” katanya lagi.

Aplikasi Gojek sejak awal dirancang oleh Alamanda dan tim, mereka semua yang mendesain tampilan antarmuka (user interface/UI) hingga programming.

“Karena saya freelance, jadi lebih sering kerja untuk Gojeknya itu malam,” imbuh wanita usia 28 tahun ini.

Kemudian, setelah hampir satu tahun freelance, ia dirayu sang CEO Nadiem untuk jadi karyawan tetap Gojek. Ia mengaku sempat mengalami dilema.

“Ibu saya bilang, buat apa saya kerja di perusahaan tukang ojek, padahal di Kartuku sudah enak,” katanya.

Kala itu masih bulan Januari 2015, dia hampir menanggalkan posisinya di Gojek. Hingga Nadiem bersikeras untuk merayunya.

“Nadiem lalu bilang, bekerja di Gojek itu bukan untuk diri sendiri. Tapi bagaimana kita terus berinovasi dan memberi hidup bagi ratusan ribu mitra ojek di luar sana. Mereka bergantung pada perusahaan ini,” kisah Alamanda.

Dari situ akhirnya ia menguatkan keinginannya dan memutuskan untuk hengkang dari Kartuku. Pada Mei 2015 ia resmi menjadi Vice President of Product.

Lalu ia diminta untuk fokus pada divisi teknologi yang membuat jabatannya menjadi VP of Technology dengan tim terdiri dari 130 orang yang bekerja di Jakarta dan Yogyakarta.

Jadi “umi”, tidak minder di tengah kaum lelaki

Alamanda menarik perhatian lantaran dirinya bisa klop di dunia teknologi, bidang yang kerap identik kaum lelaki.

Ia kemudian mengerti tentang stigma bahwa industri teknologi dikuasai oleh para lelaki, sementara dirinya wanita yang sebetulnya sejak dini telah tertarik dengan hal yang berbau hi-tech.

“Sudah bisa coding sejak umur 14 tahun,” ucap Alamanda. “Tapi saya rasa semakin ke sini peran wanita dan lelaki sudah semestinya seimbang, tidak ada perbedaan.”
Alamanda Shantika. (CNN Indonesia/Hani Nur Fajrina)

Ia menambahkan, selama ini tidak pernah mendapat pengalaman di mana dirinya direndahkan atau diremehkan hanya karena dirinya ‘kecemplung’ di sektor teknologi.

“Selama ini baik-baik saja. Bahkan di Gojek saya dipanggil umi, karena saya wanita dan mayoritas di tim teknologi itu laki-laki,” tuturnya sembari tertawa.

Ia juga menambahkan, menjadi wanita di dunia teknologi khususnya berada di posisi kepemimpinan seperi dirinya, justru menjadi suatu kelebihan.

“Perempuan kan apa-apa pakai perasaan, jadi kita manfaatkan sense itu untuk membangun teamwork yang lebih kokoh,” katanya.

Pernah bikin startup sebelum lulus
Alamanda lulus dari Binus di tahun 2010, namun sebelum berjuang mengerjakan tugas akhir skripsi, ia sempat mendirikan startup bersama sejumlah temannya yang juga belum lulus kuliah.

Bernama Pentool Studio, startup-nya itu memberi layanan pembuatan situs web untuk para pelaku UKM yang kesulitan membuat situs sendiri. Startup ini berdiri pada akhir 2008 lalu.

“Dulu itu kendalanya mahal kan kalau mau bikin situs web sendiri. Jadi mumpung kami punya platformnya, jadi kami menyediakan jasa desain situs dengan harga lebih murah,” jelasnya.

Ia mengakui bahwa sejak dulu sudah peduli dengan perkembangan UKM yang ingin maju, khususnya memilih ranah digital untuk menjalankan bisnisnya.

“Waktu itu sempat ada yang mau beli startup kita cuma saya dan teman-teman sudah sibuk sama hal lain dan sudah tidak fokus. Jadi daripada tidak serius, kita akhirnya menyetop Pentool Studio di 2013,” kisahnya.

Mimpi terbesar jadi Menteri Pendidikan
Punya kemampuan programming hingga coding tidak membuat Alamanda terus berada di comfort zone-nya terus-menerus.

Ia bahkan per Mei 2016 ini sudah memegang peran baru menjadi VP of Happiness Delivery yang lebih menyebar nilai kultur kerja kepada para karyawan Gojek.

Di divisi barunya itu, ia memegang dua fokus yakni people’s acquisition (perekrutan karyawan) dan people’s experience (pengalaman kerja karyawan).

“Saya pindah dari desk teknologi bukan karena jenuh, tapi memang mau coba tantangan baru yang lebih dekat dengan manusia — dalam hal ini adalah para karyawan,” ucapnya.

Lalu ia berencana dalam waktu satu tahun ke depan untuk melanjutkan studi S2 ke Stanford University di California, AS.

“Habis belajar di negeri orang, saya balik ke Indonesia dan ingin jadi dosen. Sementara mimpi jangka panjang saya, ingin jadi Menteri Pendidikan,” tutur pengagum Steve Jobs ini dengan semangat.

Hani Nur Fajrina

Sumber: CNN Indonesia Sabtu, 11/06/2016

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: