Home / Sosok / Agung Kayon, Berkreasi Memanen Radiasi Matahari

Agung Kayon, Berkreasi Memanen Radiasi Matahari

Sedari kecil, I Gusti Ngurah Agung Putradhyana atauAgung Kayon senang melihat pamannya, I Gusti Made Sana mengutak-atik peralatan elektronik, misalnya radio atau televisi. Ketika masih siswa sekolah dasar, Agung Kayon kerap bermain ke sekolah menengah pertama untuk mengintip kegiatan pratikum elektronika. “Itu kesenangan di masa kecil saja,” kata Agung Kayon. Kini dia terus berkreasi membuat berbagai peralatan bertenaga matahari.

Sembari kuliah di teknik arsitektur Universitas Udayana, Denpasar, Agung Kayon tertarik mengutak-atik peralatan elektronik agar dapat digerakkan atau dihidupkan dengan listrik yang bersumber dari radiasi matahari. Mulai sekitar 1995, Agung Kayon memasang panel solar pada atap rumah keluarganya di Desa Geluntung, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan. Listrik yang dihasilkan dari seperangkat pembangkit listrik tenaga surya itu cukup untuk menghidupkan lampu-lampu yang terpasang di rumah keluarganya itu. Apalagi perangkat pembangkit listrik tenaga surya, terutama panel surya, masih terbilang mahal ketika itu. “Saya masih berlangganan PLN di rumah. Listrik dari panel surya itu hanya untuk eksperimen,” ujarnya ketika ditemui di Desa Geluntung, Tabanan.

Kini dia terus berkreasi dengan membuat berbagai peralatan bertenaga listrik dari panas matahari. Dia misalnya membuat topi dengan panel surya yang menghasilkan daya listrik untuk mengisi ulang baterai telepon seluler , tas charger, pemotong rumput hingga alat bajak bertenaga listrik. Agung Kayon masih membeli bahan-bahannya, terutama panel surya dan baterai yang kini sudah banyak produknya dan semakin terjangkau harganya. Dia pun semakin banyak memasang panel surya di tempat-tempat lain, tidak hanya di rumah. Milsanya, memasang panel surya di merajan, pura keluarganya atau di kantor desa, balai banjar, dan pura.

KOMPAS/COKORDA YUDISTIRA–Agung Kayon memanen radiasi matahari dengan panel surya.

Di Desa Geluntung, Agung Kayon membangun Yayasan Kayon, yakni komunitas anak muda yang peduli lingkungan dan teknologi dengan sumber energi baru dan terbarukan. Dia mengaplikasikan penggunaan listrik tenaga surya pada bangunan yang dikerjakannya, misalnya, gedung tiga lantai di Jalan Noja, Denpasar, yang menjadi Kantor Koperasi Amogasiddhi. Sebanyak 81 panel surya fotovoltaik, yakni 72 panel surya di area puncak gedung (rooftop) dan sembilan panel surya dipsangnya pada tiang di sudut halaman depan kantor koperasi itu.

Energi yang dikumpulkan dari radiasi matahari disimpan pada puluhan baterai yang diletakkan di sudut ruangan di lantai dua. Sumber listrik untuk keperluan gedung koperasi itu praktis semuanya menggunakan tenaga matahari, tanpa menggunakan listrik dari PLN. Listrik dari PLN digunakan untuk menghidupkan lampu dan komputer di ruang pelayanan Kantor Koperasi Amogasidhhi di lantai satu serta perangkat server milik koperasi.

“Ini sangat membantu operasional koperasi,” kata Ida Ayu Alit Maharani, Manajer Koperasi Amogasiddhi di Denpasar. Maharani membandingkan, koperasi mengeluarkan biaya untuk listrik hingga Rp 5 juta per bulan. Setelah mengaplikasikan pembangkit listrik tenaga surya, kantor itu hanya mengeluarkan biaya pemakaian listrik PLN setengahnya.

Dengan kreativitas Agung Kayon, Koperasi Amogasidhhi memeroleh sertifikat dan piala Penghargaan Energi untuk kategori prakarsa kelompok masyarakat pada 2016 dari Pelaksana tugas Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Luhut Binsar Pandjaitan.

Kebutuhan masa depan
Agung Kayon mengatakan, energi menjadi kebutuhan dan sekaligus persoalan dalam kehidupan manusia. Jauh sebelum listrik dikenal, orang menggunakan energi panas dari api atau energi kinetik dari angin sebagai sumber tenaga penggerak.

Teknologi tenaga surya ini paling sederhana. Mau listrik, tinggal menjemur alat

“Saya berkreasi memanfaatkan energi dari radiasi cahaya matahari untuk menghasilkan listrik karena teknologi tenaga surya ini paling sederhana. Mau listrik, tinggal menjemur alat,” kata Agung Kayon yang pernah mengikuti kursus ekologi selama dua bulan di Universitas Utrecht, Belanda, 2007.

Agung Kayon mengakui teknologi pembangkit listrik tenaga surya skala rumah tangga masih belum banyak diterapkan di masyarakat. Pembangkit listrik tenaga surya masih dinilai sebagai teknologi mahal dan mewah. Pemasangannya pun dianggap rumit dan daya listrik yang dihasilkan masih kecil. Alhasil, cara paling mudah mendapatkan listrik adalah dengan menjadi pelanggan PLN.

Dengan memasang dua panel surya mini di topi, Agung Kayon dapat mengisi ulang baterai telepon nya di mana saja dan kapan saja. Topi dengan panel surya yang dibuat Agung Kayon masih sebatas eksperimen yang digunakannya pribadi. “Topi charger ini untuk memancing ide pembicaraan dan diskusi,” katanya.

Agung Kayon juga membuat alat pemotong rumput bertenaga listrik yang dinamainya “RuLi”, alat bajak dengan motor listrik yang disebutnya sebagai “BaLi” dan kendaraan pengangkut sampah (cikar) yang dinamainya, “KarYa”.

Dia mengharapkan, munculnya berbagai kegiatan usaha kreatif di masyarakat perdesaan yang membuat peralatan bertenaga listrik dengan memanfaatkan pembangkit listrik tenaga surya. “Dengan demikian, usaha kreatif pembangkitan listrik dengan energi terbarukan skala industri rumah itu dapat membuka lapangan kerja baru,” ujarnya.

KOMPAS/COKORDA YUDISTIRA–Agung Kayon memangkas rumput, Selasa (20/2). Alat pemotong rumput itu sumber listriknya dari energi surya.

Dalam diskusi bertemakan “Masa Depan Energi Terbarukan di Bali” di Denpasar pertengahan Februari 2018, Agung Kayon mengungkapkan, Bali merupakan pulau tropis dengan cahaya matahari berlimpah. Kondisi itu mendukung Bali untuk menghasilkan listrik dari pembangkit tenaga listrik tenaga surya yang dapat dipasang di rumah penduduk, gedung pemerintah, atau di hotel.

Di sisi lain, kebutuhan listrik di Bali terus bertambah. Pembangunan pembangkit listrik konvensional, bertenaga gas atau batu bara memerlukan biaya yang sangat besar sehingga membutuhkan penanam modal. “Bali sebagai pulau kecil juga memiliki keterbatasan lahan yang dapat digunakan sebagai lokasi pembangkit listrik berskala besar,” ujarnya.

Agung Kayon menyatakan, PLN tetap penting dan diperlukan sebagai pemasok listrik. Sebaliknya, PLN juga dapat menerima listrik yang dihasilkan pembangkit-pembangkit listrik tenaga surya berskala rumah tangga itu. Bali mendapatkan keuntungan karena pembangkitan listrik dengan memanfaatkan radiasi matahari itu tidak menghasilkan polusi. “Kita perlu bersama-sama berpikir dan bergerak untuk harmoni dengan lingkungan,” ujar Agung Kayon.
—————-
I Gusti Ngurah Agung Putradhyana

Lahir: Denpasar, 29 Oktober 1968

Orangtua: I Gusti Made Budiana (alm) dan I Gusti Ayu Made Sulandri

Pendidikan: S1 (Arsitek) Fakultas Teknik, Jurusan Arsitektur, Universitas Udayana, lulus 1998
Pekerjaan: Arsitek

COKORDA YUDISTIRA M PUTRA

Sumber: Kompas, 15 Maret 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

%d blogger menyukai ini: