Akademisi-Aktivis Budidaya Perairan Tutup Usia

- Editor

Sabtu, 27 April 2019

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bidang akuakultur atau budidaya perairan kehilangan salah satu akademisi sekaligus aktivis yang kerap mendorong penerapan teknologi hingga ke masyarakat. Sekretaris Jenderal Masyarakat Akuakultur Indonesia yang juga dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro, Agung Sudaryono (55), meninggal pada Kamis (25/4/2019).

Rifkita Arianawan (26), putra almarhum, mengatakan, ayahnya berangkat dari Kota Semarang menuju Yogyakarta pada Rabu (24/4), mengendarai mobil, untuk menemui sang istri yang tengah dinas. Namun, setelah itu tak ada kabar. Keluarga pun terus mencari, termasuk melalui jejaring sosial Facebook.

Keluarga baru mendapat kabar dari warga pada Kamis pukul 23.45, bahwa mobil yang dicari ada di sisi jalan setelah Pintu Keluar Colomadu, Kabupaten Karanganyar. “Saya lalu mengontak polisi untuk mengecek. Saat ditemukan, papah sudah meninggal. Mobil, termasuk lampu dan AC, masih menyala,” kata Rifkita.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Rifkita menambahkan, kakaknya yang berprofesi sebagai dokter langsung memeriksa, dan diduga penyakit jantung. Apabila melihat gejala dan tanda-tanda yang ada, diperkirakan telah meninggal 8-12 jam sebelum ditemukan. Selama ini, Agung hanya sesekali mengeluhkan sakit di dada.

ARSIP PRIBADI–Sekretaris Jenderal Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) dan dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro, Agung Sudaryono.

Jenazah Agung dikebumikan di Pemakaman Keluarga Besar Undip, Tembalang, Semarang, Jumat, siang. Agung, lahir di Semarang, 14 April 1964, meninggalkan satu istri (istri pertama sudah meninggal) dan lima anak. Agung ialah lulusan Perikanan Institut Pertanian Bogor (S1) dan Akuakultur pada Universitas Curtin, Australia (S2 dan S3).

Menurut Rifkita, ayahnya merupakan sosok yang mendidik putra-putrinya untuk menomorsatukan agama. “Selain itu, dalam pekerjaan atau bidang yang ditekuninya, papah pasti selalu total. Meski demikian, di tengah kesibukan, selalu tetap menyediakan waktu untuk keluarga,” katanya.

Untuk masyarakat
Wakil Sekjen MAI, Musalimun, menuturkan, selama ini yang kerap menjadi isu nasional ialah terkait tengan tekonologi budidaya. Meski saat ini banyak teknologi sudah diterapkan di level industri, Agung memperjuangkannya untuk level masyarakat. Ia pun kerap menggelar lokakarya di berbagai daerah.

Ia menambahkan, Agung ingin teknologi budidaya bisa dinikmati oleh semua level, termasuk petambak kecil. “Selain itu, almarhum vokal pada isu-isu impor udang yang dinilai bisa merugikan masyarakat atau petambak. Yang dikedepankan agar bagaimana bisa akuakultur ini berkelanjutan,” kata Musalimun.

Manajer Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Akuakultur, Sonni Kurniawan, menuturkan, Agung sosok yang mampu menggandeng para pemangku kepentingan duduk satu meja membicarakan pengembangan akuakultur. Peningkatan produksi nasional akuakultur dengan berkelanjutan menjadi cita-citanya.

Selain itu, almarhum vokal pada isu-isu impor udang yang dinilai bisa merugikan masyarakat atau petambak. Yang dikedepankan agar bagaimana bisa akuakultur ini berkelanjutan

Selain itu, Agung juga salah satu inisiator berdirinya LSP Akuakultur yang secara kelembagaan berada di bawah MAI. “Beliau berharap pelaku usaha tambak di Indonesia tersertifikasi, sehingga mampu bersaing secara internasional. Berdiri sejak 2016, hingga kini sudah ada lebih dari 800 peserta program sertifikasi,” kata Sonni.

Di harian Kompas, Agung menjadi narasumber pemberitaan terkait budidaya udang. Menurutnya, dibutuhkan regulasi yang kondusif dan pro usaha akuakultur untuk mendorong investasi budidaya udang. Ia juga menolak impor udang oleh pemerintah, yang diyakini akan merugikan petambak.–ADITYA PUTRA PERDANA

Editor AGNES PANDIA

Sumber: Kompas, 26 April 2019

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi
Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?
Bilangan Imajiner, “Angka Khayalan” yang Menggerakkan Dunia Modern
Sains atau Siasat: Menakar Marwah Jajak Pendapat di Indonesia
Harta Karun Tersembunyi di Balik Hangatnya Perairan Tawar Nusantara
Menjadi Ilmuwan Politik di Era Digital. Lebih dari Sekadar Hafalan Tata Negara
Saksi Bisu di Balik Lensa. Otopsi Bioteknologi Purba dalam Perburuan Minyak Bumi
Drama Jutaan Tahun di Balik Tangki BBM Anda: Saat Lempeng Bumi Menulis Peta Kekayaan Indonesia
Berita ini 42 kali dibaca

Informasi terkait

Senin, 20 April 2026 - 07:37 WIB

Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi

Minggu, 19 April 2026 - 08:06 WIB

Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?

Sabtu, 18 April 2026 - 20:45 WIB

Bilangan Imajiner, “Angka Khayalan” yang Menggerakkan Dunia Modern

Sabtu, 11 April 2026 - 18:47 WIB

Sains atau Siasat: Menakar Marwah Jajak Pendapat di Indonesia

Sabtu, 11 April 2026 - 17:49 WIB

Harta Karun Tersembunyi di Balik Hangatnya Perairan Tawar Nusantara

Berita Terbaru