Home / Berita / Advan G2 Menantang Pasar Swafoto

Advan G2 Menantang Pasar Swafoto

Advan memperkenalkan seri G2 tanpa sungkan. Diperkenalkan sebagai ponsel untuk penggunaan swafoto dengan harga Rp 2,5 juta, bagian muka dari ponsel ini dengan segera mengingatkan kepada ponsel pintar buatan Apple yakni iPhone 6 Plus karena keberadaan tombol fisik berbentuk lingkaran di bagian bawah.

“Kami ingin menghadirkan ponsel yang dibutuhkan konsumen sekaligus memiliki desain yang mereka inginkan. Memang mirip dengan iPhone 6 Plus,” ujar Tjandra Lianto, Direktur Pemasaran Advan di tengah sesi media, Kamis (15/2).

Keberadaan tombol lingkaran itu adalah untuk kembali ke layar utama sekaligus rumah untuk sensor sidik jari agar pengguna bisa membuka pengunci ponsel. Namun berbeda dengan sistem operasi iOS di ponsel iPhone yang mengandalkan satu tombol di muka untuk navigasi, G2 yang memakai Android tetap memiliki dua tombol tambahan navigasi di sisi kanan dan kiri.

KOMPAS/DIDIT PUTRA ERLANGGA RAHARDJO–Advan memperkenalkan G2, ponsel swafoto yang mereka luncurkan dengan harga Rp 2,5 juta dengan harapan bisa bersaing dengan penguasa pasar seperti Oppo, Sabtu (17/2). Salah satu keputusan yang cukup berani adalah menggunakan desain yang menyerupai ponsel iPhone 6 Plus dari Apple sebagai nilai tambahnya.

Tombol tersebut tidak hanya dipakai untuk kembali ke layar utama tapi juga menjadi tempat pengguna memindai sidik jarinya agar bisa membuka pengunci ponsel. Bila seri ponsel iPhone dengan sistem operasi iOS menggunakan satu tombol fisik di layar, G2 tetap menghadirkan dua tombol pendamping untuk navigasi dalam sistem operasi Android.

Pendekatan yang diambil Advan memang cukuk vulgar, terlebih mereka juga optimistis bahwa desain ini tidak akan mendatangkan masalah seperti tudingan penjiplakan. Namun desain mereka tidak sepenuhnya berbicara mengenai kemiripan dengan iPhone semata, tapi juga ponsel pintar yang tipis dan nyaman untuk digenggam, terlebih dengan bobot 150 gram.

KOMPAS/DIDIT PUTRA ERLANGGA RAHARDJO–Advan G2 dilengkapi sepasang kamera dengan resolusi 13 megapiksel di belakang dan 16 megapiksel di depan, Sabtu (17/2). Mengambil fokus sebagai ponsel swafoto, G2 menjual hasil akhir foto yang kaya detail sebagai hal yang membuatnya berbeda dari ponsel lainnya.

Ketebalannya tidak serta merta diikuti dengan daya tahan baterai yang lemah karena G2 memiliki baterai dengan spesifikasi 3.500 mAh. Angka tersebut dengan penggunaan sewajarnya bisa membuat ponsel dioperasikan 8-10 jam, cukup untuk aktivitas satu hari hingga diisi kembali dengan colokan micro USB.

Mengambil arah yang berbeda dengan seri sebelumnya yakni G1, ponsel dengan bentang layar 5,5 inchi ini punya visi yang jelas yakni ponsel swafoto dengan pemilihan kamera resolusi 16 megapiksel di depan, melampaui kamera 13 megapiksel di bagian belakang.

Dengan harga jualnya, Advan berharap untuk bisa bersaing dengan para jawara di pasar ini seperti Oppo, Vivo, atau Huawei. Memilih kamera yang memiliki diafragma f/2.0, swafoto penuh detail menjadi andalannya sehingga bisa dinikmati baik objek maupun latar belakangnya.

Melalui varian Android yang dikembangkan sendiri yakni IDOS, Advan memperkenalkan fitur pengamanan untuk memberikan lapis pertahanan data kepada para penggunanya di samping fitur yang disediakan oleh Android seperti sidik jari maupun pengenalan wajah.

Salah satu opsi dari fitur anti pencurian yang ditawarkan ponsel ini adalah rekaman gambar dari muka pelaku atau siapa pun yang gagal membuka kunci ponsel. Sayangnya ponsel harus tersambung ke internet agar bisa mengirim gambarnya ke alamat surel yang sebelumnya sudah didaftarkan.

Melampaui
Dari pengalaman Harian Kompas saat menggunakan ponsel ini beberapa hari, G2 menunjukkan bahwa ponsel ini seharusnya bisa melampaui dari hanya sekadar jiplakan iPhone 6 Plus semata. Ada beberapa hal yang patut membuatnya diapresiasi.

Dari badannya yang ramping, G2 sangat ringan untuk disimpan dan digenggam. Hadir dalam dua varian warna yakni emas dan hitam, keistimewaan yang ada terletak pada permukaan badan ponsel yang cukup kesat bagi jari tangan. Lapisan yang dipilih Advan juga membuat sidik jari tidak mudah tertinggal di ponsel meski permukaan tangan tidak sepenuhnya kering.

Tombol utama berbentuk lingkaran dengan mudah dipergunakan secara natural layaknya tombol fisik di ponsel Android kebanyakan. Bila ingin memunculkan kesan bahwa ponsel yang digunakan adalah iPhone, G2 cukup sukses asalkan pengguna bisa memastikan logo Advan di punggung bisa tertutup.

Layar dengan resolusi 1920×1080 (full high definition) membuat ponsel ini nyaman dipakai untuk menjalankan konten multimedia. Latensi saat mengetik juga tidak terlalu mengganggu sehingga dipakai untuk bercakap di layanan perpesanan (messaging) sudah tidak jadi kendala.

KOMPAS/DIDIT PUTRA ERLANGGA RAHARDJO–Contoh gambar yang diambil menggunakan kamera belakang dari Advan G2, Sabtu (17/2). G2 memiliki kamera belakang dengan resolusi 13 megapiksel di samping kamera depan 16 megapiksel dan dijual dengan harga Rp 2,5 juta agar bisa bersaing dengan ponsel lain di pasar.

Pengalaman menggunakan kamera depan ponsel ini relatif positif. “Detail” yang dimaksud oleh kampanye Advan adalah noise atau bintik-bintik yang dipertahankan pada hasil akhirnya. Pada kamera lain, bintik-bintik tersebut diperhalus sehingga terlihat seperti sapuan kuas. Terhadap hasil ini, hasilnya mungkin akan subyektif mengingat ada yang memilih untuk bertahan dengan noise tapi ada yang lebih suka penghalusan.

Catatan yang cukup penting justru terjadi pada kamera belakang. Secara relatif tidak ada fitur atau moda khusus yang ditanam, tapi pengguna akan mendapatkan gangguan yang cukup berarti sewaktu mengambil foto berjenis High Dynamic Range (HDR).

Foto HDR diambil dengan menggabungkan serangkaian foto yang diambil secara beruntun dengan pengaturan pencahayaan yang berbeda lantas digabungkan. Hasilnya adalah foto yang memiliki aspek pencahayaan terbaik baik di wilayah yang gelap maupun terang.

Di sinilah masalah muncul karena pengambilan rangkaian gambar di kamera belakang G2 tidak berlangsung gegas. Artinya bila pengguna mengambil gambar dengan objek yang bergerak walau pelan, bisa dipastikan hasilnya bakal berbayang. Meski demikian, hasil akhirnya memang cukup diterima asalkan kondisi tersebut bisa diatasi.

Fitur pengamanan yang dimiliki G2 sebetulnya sudah diperkenalkan sejak seri sebelumnya seperti A8. Saat diluncurkan pada awal Oktober 2017, Advan yang menjual A8 untuk pengguna yang mencari ponsel berlensa kamera ganda juga memperkenalkan serangkaian perlindungan data pengguna. Beberapa fitur memang menawarkan perlindungan tambahan asal pengguna mau bersusah payah mengutak atik pengaturannya.

Salah satunya sistem privasi yang bisa dipanggil dengan menelepon enam digit angka di layar telepon. Sehingga orang lain tidak akan sadar ada brankas digital yang tersimpan di dalam ponsel karena tidak ada ikon aplikasi khusus, kecuali dia tahu kodenya.

Yang tersisa dari ponsel ini adalah perang di jaringan ritel. Advan menghadapi Oppo yang sudah mendominasi toko ponsel dengan warna hijau mereka, atau Vivo dengan warna biru. Tjandra sendiri mengaku optimistis bahwa mereka bisa menguasai pasar secara jitu.

“Advan adalah pemain lokal, harusnya kami yang lebih tahu apa yang dicari masyarakat, apa kebutuhan mereka. Pengalaman pengguna dari membeli hingga layanan purnajual adalah andalan kami,” katanya.–DIDIT PUTRA ERLANGGA RAHARDJO

Sumber: Kompas, 20 Februari 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: