Home / Berita / OPPO F3 PLUS; Ponsel Swafoto Lagi, Kenapa Tidak?

OPPO F3 PLUS; Ponsel Swafoto Lagi, Kenapa Tidak?

Gambar yang berpendar dari layar raksasa di belakang Brand Manager Oppo Indonesia Alina Wen seolah membayar kerja keras mereka dalam setahun terakhir. Grafik berdasarkan hasil riset Growth for Knowledge atau GfK yang ditampilkan di layar raksasa menunjukkan persepsi konsumen Indonesia terhadap beberapa kategori dari sebuah ponsel pintar.

Grafik itu menempatkan merek ponsel terhadap persepsi sebuah hal. Semakin banyak dipersepsikan terhadap sesuatu, lokasinya makin ke kanan. Oppo tidak lagi sungkan memajang nama kompetitornya dalam grafik itu, seperti Asus, Huawei, Lenovo, Apple, Vivo, dan Samsung.

Dari sejumlah pertimbangan, seperti teknologi yang dipakai, kelancaran sistem operasi, hingga keamanan data, merek Oppo menempel ketat Samsung sebagai merek dengan asosiasi terbaik untuk beberapa hal. Namun, begitu berbicara hal, seperti kualitas kamera untuk mengambil swafoto, Oppo berhasil melampaui merek dari Korea Selatan itu.

Tampaknya itu sudah cukup bagi Oppo. Artinya, segala investasi untuk membangun citra sebagai ponsel pintar dengan kamera swafoto yang baik sudah sukses dibuktikan. Semua tidak lepas dengan strategi yang agresif untuk melibatkan duta produk, seperti Reza Rahadian, Chelsea Islan, Isyana Sarasvati, dan paling baru Raisa Andriana.

Belum lagi strategi untuk “menghijaukan” rantai penjualan ponsel di kota besar hingga kota kecil. Tidaklah sulit menemukan papan iklan Oppo yang didominasi warna hijau, lengkap dengan raut muka penyanyi cantik Raisa tengah memegang ponsel.

Inilah momentum yang diharapkan Oppo sejak memperkenalkan seri ponsel swafoto pertama, yakni F1, pada Februari 2016. Ponsel ini mengincar konsumen yang membutuhkan ponsel seharga di bawah Rp 4 juta.

Itu merupakan titik awal perubahan identitas Oppo yang mengemas mereknya sebagai ponsel kamera (camera phone) ketimbang ponsel pintar. Dengan menyasar segmen kebanyakan, Oppo mewariskan teknologi yang digunakan ponsel kelas atas hingga premium, seperti PureImage yang memungkinkan pengguna mengakses beberapa moda pengambilan gambar.

Sejak F1 diperkenalkan pada Februari, mereka kembali menghadirkan F1 Plus pada April, yang memiliki spesifikasi lebih mumpuni, termasuk teknologi pengisian daya yang dikembangkan sendiri, yakni VOOC, meski harganya bisa mencapai Rp 5,5 juta.

KOMPAS/DIDIT PUTRA ERLANGGA RAHARDJO–Oppo memperkenalkan varian terbaru ponsel pintar yang memiliki spesialisasi swafoto atau selfie, yakni F3 Plus, pada Kamis (23/3) lalu.

Kerja sama sponsor dengan tim sepak bola Barcelona FC juga memunculkan varian F1 Plus edisi khusus yang dijual Juli seharga Rp 6,5 juta. Sesudahnya harganya berfluktuasi karena hanya 10 unit saja yang dijual di Indonesia dari 1.000 unit yang dipasarkan di dunia.

Seri F1 disempurnakan dengan peluncuran F1S pada Agustus, dengan harga jual Rp 3,8 juta.

Pada akhir 2016, Oppo kembali mengemas F1S edisi terbatas dengan balutan warna hitam. Kali ini, mereka menggandeng Raisa sebagai duta produk dengan membubuhkan tanda tangannya di punggung ponsel. Dijual dengan harga Rp 3,5 juta, sebanyak 6.000 unit yang ditawarkan dengan mudah terjual habis.

Alasan Oppo menggarap segmen ponsel swafoto bisa dimaklumi mengingat pasar ini di Indonesia ataupun negara lain di Asia Tenggara terbuka lebar.

Dan yang lantas diingat publik soal Oppo dari peluncuran produk mereka selama 2016 adalah ponsel dengan fitur swafoto. Ditambah dengan kesuksesan F1S, seri ini berhasil menjadi pijakan yang berharga bagi Oppo untuk meletakkan citra sebagai ponsel swafoto ke benak konsumen Indonesia.

Pertanyaan yang muncul, apa rencana Oppo kemudian?

Kembali ke grafik yang disebut pada awal tulisan, itulah pemaparan yang dilakukan Alina untuk memperkenalkan Oppo F3 Plus pada akhir Maret lalu. Ini adalah seri penerus F1 yang diperkenalkan Oppo pada tahun 2017 dan mereka sudah siap dengan varian lain, seperti F3. Dari spesifikasi yang disodorkan ponsel ini, Oppo berupaya menyempurnakan produk ponsel swafoto mereka agar bisa diterima pasar.

Tentunya, perhatian lagi-lagi diberikan di sektor kamera. Mulai dari sensor kamera milik Sony, Oppo bekerja sama dengan merek asal Jepang itu untuk mengembangkan sensor IMX398 yang dipasang untuk kamera belakang. Teknologi autofocus phase detection yang dimiliki sensor ini membuat pencarian fokus bisa dilakukan lebih cepat.

Oppo kali ini memutuskan memasang dua sensor kamera untuk bagian depan, yang dipakai mengambil swafoto. Tren dua lensa kamera ini mulai marak dipakai sejak tahun 2016, seperti Huawei P9, LG G5, dan iPhone 7 Plus, meski itu untuk kamera belakang. F3 Plus pun bukan yang pertama karena ada V5 Plus dari Vivo yang memperkenalkan teknologi kamera ganda di depan pada Februari 2017.

Suwanto, Public Communication Oppo Indonesia, menyebut F3 Plus menggunakan enam lapis lensa untuk mengurangi distorsi lensa lebar. Salah satu konsekuensi penggunaan lensa lebar adalah distorsi atau obyek yang seharusnya lurus menjadi cembung karena efek lensa.

Yang berbeda, kali ini Oppo mencoba menyentuh pasar yang berbeda dibandingkan seri pendahulu, yakni F1S. F3 Plus dilepas dengan harga Rp 6,5 juta, nominal yang cukup riskan karena bersinggungan dengan ponsel andalan kompetitor, seperti P9 dari Huawei, atau Galaxy A7 (2017) dari Samsung.

Pengalaman Kompas mengoperasikan F3 Plus dalam beberapa hari menghasilkan kesimpulan yang cukup positif. Spesifikasi yang dimiliki terasa diulik dengan baik untuk berjalan mulus di varian Android yang dikembangkan Oppo secara khusus, yakni Color OS. Varian itu baru setara dengan sistem operasi Android 6 atau Marshmello, sementara ponsel lain sudah menganut versi 7 atau Nougat.

Oppo F3 Plus pun bisa menjadi perangkat yang bisa diandalkan untuk membuat swafoto atau mengambil video serius. Itulah mengapa Oppo bisa menjawab apabila ada yang berkomentar soal konsistensi mereka meluncurkan ponsel swafoto. Kenapa tidak? (DIDIT PUTRA ERLANGGA RAHARDJO)
————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 26 April 2017, di halaman 25 dengan judul “Ponsel Swafoto Lagi, Kenapa Tidak?”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

”Big Data” untuk Mitigasi Pandemi di Masa Depan

Kebijakan kesehatan berbasis “big data” menjadi masa depan pencegahan pandemi berikutnya. Melalui ”big data” juga, ...

%d blogger menyukai ini: