Home / Berita / Huawei Terjun ke Perang Ponsel Swafoto

Huawei Terjun ke Perang Ponsel Swafoto

Nova 2i adalah isyarat dari Huawei bahwa mereka serius menggarap pasar ponsel kelas menengah di Indonesia yang tengah gandrung dengan genre swafoto meski saat ini masih dikuasai Oppo. Mengandalkan fitur empat lensa kamera, Nova 2i tidak sekadar mengincar penggemar swafoto, tapi juga lebih banyak jenis penggemar fotografi dengan ponsel.

Ponsel lensa ganda yang beredar di Indonesia umumnya terletak di salah satu sisi. Sebut saja G6 dari LG yang memiliki lensa ganda di belakang karena fokus membuat foto yang artistik. Sementara ada F3 dari Oppo yang memiliki sepasang lensa ganda di bagian muka untuk mengambil swafoto dengan sudut gambar normal dan lebar.

KOMPAS/DIDIT PUTRA ERLANGGA RAHARDJO–Nova 2i merupakan ponsel kelas menengah dari Huawei yang mengincar konsumen penggemar swafoto yang saat ini dikuasai oleh Oppo, Sabtu (11/11). Datang dengan empat lensa, dua di depan dan dua di belakang, Huawei optimistis bisa merebut hati calon pembeli.

Huawei memilih untuk membuat sensasi dengan menghadirkan lensa ganda pada kedua sisi ponsel. Dengan demikian, pengguna bisa memutuskan cara pemakaian yang sesuai dengan gaya penggunaan mereka. Dengan harga Rp 4 juta, ceruk pasar itu cukup efektif dalam memikat banyak konsumen yang masih bingung untuk memilih ponsel dengan lensa ganda di depan atau belakang.

Dan, bukan empat lensa saja yang menjadi jualan utama dari Nova 2i. Ponsel ini memiliki rasio layar 18:9 yang hampir tanpa pinggiran kiri dan kanan. Pemilihan rasio layar ini selain mengingatkan pengguna pada ponsel premium seperti Galaxy S8 dari Samsung, juga menguntungkan karena layar 5,9 inci bisa diwujudkan tanpa mengorbankan ergonomi agar ponsel nyaman digenggam. Tentu saja pilihan tersebut bukan terlepas dari catatan, teknologi lensa ganda yang dipergunakan Nova 2i adalah kehadiran lensa sekunder dengan tujuan untuk menghasilkan efek bokeh atau latar belakang yang kabur karena ruang tajam (depth of field). Di depan, sepasang lensa dengan resolusi 13 megapiksel dan 2 megapiksel, sementara di belakang ada lensa 16 megapiksel dan didampingi lensa 2 megapiksel.

Perlu diingat bahwa membandingkan lensa ganda pada Nova 2i dengan seri premium Huawei seperti P9 jelas sebuah kesalahan. Teknologi yang digunakan berbeda, seperti P9 yang memakai sensor monokrom di lensa sekunder untuk menangkap detail gambar.

Pemanfaatan lensa sekunder untuk efek bokeh ditemui di ponsel lokal seperti Genpro X ataupun Advan A8 meski eksekusinya akan berbeda. Namun, kehadiran sepasang lensa di kedua sisi tentu menjadi kabar baik bagi penggunanya untuk mengeksplor keunggulan ponsel ini.

Secukupnya
Harian Kompas berkesempatan menjajal Nova 2i beberapa hari untuk berbagi kelebihan dan kekurangannya. Dengan harga Rp 4 juta, ponsel ini memiliki spesifikasi yang cukup menarik. Selain layar dan empat kamera, Nova 2i memiliki prosesor buatan sendiri, yakni Kirin 659 yang biasa dipasang di ponsel kelas menengah, begitu pula RAM 4 gigabita dan penyimpanan internal 64 gigabita.

Pengalaman menggunakan Nova 2i dari sisi layar sampai saat ini masih menyisakan kesan yang positif. Layar berukuran 5,9 inci yang tetap bisa dipasang di perangkat yang tetap ramping. Resolusi 2160 x 1080 piksel membuat konten yang ditampilkan nyaman dan terjaga detailnya.

Sama seperti ponsel dengan rasio layar 18:9 lainnya, dukungan aplikasi untuk bisa ditampilkan secara penuh masih terbatas. Saat ini aplikasi yang dikembangkan untuk Android masih mengandalkan rasio layar 16:9 agar optimal.

Dari sisi badan ponsel, Nova 2i masih memakai lubang USB micro, bukan USB Type-C, dan sebuah sensor sidik jari di bawah lensa kamera utama di punggung. Bentuk produk dan permukaan belakang saat diraba terasa cukup premium untuk ukuran ponsel seharga Rp 4 juta.

Pengalaman menggunakan empat kamera yang dimiliki Nova 2i sedikit rumit. Keberadaan dua pasang kamera di depan dan belakang memang membantu pengguna untuk membuat foto layaknya diambil kamera digital dengan ruang tajam sebagai foto atau swafoto.

KOMPAS/DIDIT PUTRA ERLANGGA RAHARDJO–Nova 2i merupakan ponsel pintar dari Huawei yang memiliki empat lensa kamera, yakni sepasang lensa utama di belakang dan depan serta sepasang lensa pendamping untuk membantu menghasilkan gambar yang memiliki ruang tajam, Kamis (8/11). Sepasang lensa sekunder terdiri atas lensa dengan resolusi 2 megapiksel untuk membantu memisahkan obyek dengan latar belakang di foto.

Namun, hasilnya hanya bagus sebatas untuk kebutuhan swafoto yang biasanya berakhir di linimasa media sosial. Mengambil gambar dengan detail tinggi atau kualitas yang khusus seperti seri P tidak akan ditemui di sini.

Pengguna bisa memilih moda pengambilan gambar seperti yang ditemui pada kamera seri P seperti light trail, night shot, hingga slo-mo. Termasuk efek bukaan lebar untuk mengatur fokus setelah gambar diambil ataupun potret untuk mengambil gambar wajah orang.

Untuk kamera depan, dukungan fitur yang memanjakan penggemar swafoto disiapkan seperti moda perfect selfie yang mengunci pengaturan dalam penyuntingan wajah setelah gambar diambil. Huawei memberikan fitur untuk memasang riasan secara virtual.

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10154988289076016&id=644081015

Hanya saja, dalam beberapa pengambilan gambar, algoritma yang dimiliki aplikasi kamera beberapa kali gagal memisahkan obyek dengan latar belakang sehingga hasilnya masih terasa kurang wajar.

Pengguna yang berharap memakai ponsel ini untuk proyek realitas virtual (VR) harus kecewa karena Nova 2i tidak bisa mengoperasikan perangkat seperti Google Cardboard.

Selebihnya, Nova 2i adalah ponsel yang layak dipertimbangkan bagi mereka yang ingin membuat foto dengan efek kabur. Sebagai alternatif baru atas ponsel-ponsel swafoto yang selama ini dirajai Oppo atau Vivo, Nova 2i menyasar pasar mereka dengan sangat cermat.

Apabila eksekusinya dilakukan dengan tepat, seri ini bisa mendongkrak Huawei ke pemain utama pasar ponsel Indonesia.–DIDIT PUTRA ERLANGGA RAHARDJO

Sumber: Kompas, 11 November 2017

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: