Home / Sosok / Achmad Zaky; Juragan E-Dagang Menatap Tiongkok

Achmad Zaky; Juragan E-Dagang Menatap Tiongkok

Laki-laki ini bukan sekadar paham konsep “dunia datar” tempat setiap orang memiliki kesempatan sama di internet, sebagaimana didengungkan Thomas L Friedman. Lebih dari itu, ia mampu meloloskan diri dari statistika umum dengan menjadi “the outliers”, seperti ditengarai Malcolm Gladwell tentang orang-orang sukses di dunia bisnis. Dia adalah Achmad Zaky dengan Bukalapak yang diciptakannya.

Sekarang Bukalapak boleh dibilang merupakan situs jual-beli online paling populer di Indonesia. Peringkatnya di Alexa bertengger di urutan ke-9, satu peringkat di bawah Kaskus, situs berbagi sebagai benchmark untuk Forum Jual-Beli yang mengawali keriuhan situs e-dagang di Tanah Air.

Penampilannya santai untuk ukuran CEO perusahaan online yang baru saja mendapat gelontoran modal ratusan miliar rupiah dari Emtek Group. “Berapa jumlah persisnya tidak bisa saya sebutkan, itu investor confidential,” kata Zaky mengawali bincang-bincang di kantor Bukalapak di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, beberapa pekan lalu.

Zaky adalah lulusan Teknik Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) tahun 2009 yang melawan paradigma orangtua umumnya mengenai ukuran sukses anak. Orangtua Zaky, pasangan Rusdi dan Royhattul Djannah, keduanya guru, memintanya bekerja kantoran agar mendapat gaji tetap. Tetapi, Zaky dan umumnya mahasiswa ITB, seperti diakuinya, menganggap gaji bukan segalanya. “Kami lebih mengutamakan noble atau grand, mulia dan agung begitulah, yakni bagaimana bisa berguna untuk orang banyak,” katanya.

Perlawanan terhadap paradigma orangtua ia manifestasikan dengan ngoprek teknologi informasi sejak masuk ITB pada 2004. Zaky banyak mengikuti lomba membuat aplikasi internet. Debut bisnis pertamanya saat diminta membuat software hitung cepat Pilkada DKI Jakarta 2007.

Mulanya Zaky tidak yakin bisa memenuhi tenggat yang ditentukan, yaitu dua minggu. Namun, karena sebagaimana diakuinya memiliki “Mental ITB”, ia malah bisa menyelesaikan software dalam seminggu. “Itulah kerja komersial pertama saya dengan nilai 1,5 juta rupiah, waktu itu sudah dipakai saja senangnya minta ampun,” katanya.

Kesadaran bahwa teknologi bisa memberikan nilai tambah setidak-tidaknya memberikan pencerahan, dimulai sejak membuat aplikasi hitung cepat dengan “hanya” mengolah SMS yang masuk ke stasiun televisi beberapa saat setelah Pilkada DKI dimulai. Zaky memproses dari server untuk menentukan siapa paling unggul. “Tidak semata-mata nilai uang, tetapi proses mengubah paradigma bahwa persoalan rumit yang bersifat prediktif bisa diselesaikan dengan tek-nologi,” katanya.

Banyak ditolak
Bukalapak sebagai sebuah nomenklatur lahir di akhir perkuliahan tahun 2009 dengan mengintip ramainya forum jual-beli di Kaskus. Zaky mengakui, mulanya sulit meyakinkan pelaku usaha kecil menengah (UKM) mengenai aplikasi e-dagang yang diciptakannya. Sebagian besar menolak karena inginnya langsung berjualan di kios, bukan lapak-lapak virtual di internet. Zaky meyakinkan pengelola UKM bahwa internet adalah peluang bisnis masa depan.

Bersama rekannya, Nugroho Herucahyono yang sekarang didapuk menjadi CTO Bukalapak, Zaky lebih memilih kelayapan ke ITC Mangga Dua dan Tanah Abang untuk menemui pelaku UKM, menawarkan situsnya dengan modal awal sekadar membeli domain Rp 100.000 dan hosting ratusan ribu rupiah sebulan.

Untuk mencari pelaku UKM yang mau membuka lapaknya, Zaky berpromosi “door to door”, ke toko-toko di ITC, memperkenalkan diri, berteman di Facebook, kemudian mengirimkan pesan. “Sehari saya bisa menawarkan Bukalapak ke 100 sampai 200 orang, tetapi 95 persen menolak,” kenangnya.

Mengapa sasarannya UKM? Zaky beranjak dari data pemerintah bahwa jumlah UKM mencapai 50 juta. Angka ini sama dengan 90 persen pekerja, sementara 60 persen produk domestik bruto (PDB) disumbang UKM. “Saya melihat potensi UKM besar sekali dan saya punya cita-cita in the long term golongan UKM ini harus naik kelas, paling tidak menjadi dua atau tiga kali lipat,” urai Zaky.

Sebagai anak daerah yang lahir di Sragen, Jawa Tengah, pilihannya hanya dua, menjadi PNS atau merantau ke Jakarta. Ia memilih merantau. Zaky bertanya, apakah pengusaha harus lahir di kota-kota besar? Mengapa tidak lahir pengusaha-pengusaha yang berusaha di kampungnya sendiri? Dari pertanyaan itulah Bukalapak membuka peluang usaha dengan menjadikan seseorang sebagai pengusaha, tidak peduli ia tinggal di kampung atau di kota.

Misi Bukalapak, kata Zaky, selain menaikkan UKM, adalah memberikan nilai semangat berusaha, kreatif, inovatif, dan berpikir panjang.

Tentang bisnis e-dagangnya, Zaky mengaku melakukan benchmarking ke Alibaba di Tiongkok, perusahaan jual-beli online terjaya sejagat milik Jack Ma. Indonesia, kata Zaky, kelas UKM-nya lebih kecil ketimbang Tiongkok yang kesempatannya sudah given, yaitu pasar yang sangat besar. Zaky secara sadar menggarap komunitas, mengikuti kebiasaan mereka kumpul dan berkerumun. Zaky menilai, sebagai platform bisnis virtual, Bukalapak lebih manusiawi karena sering kumpul-kumpul itu.

Saat ini sudah tercatat lebih dari setengah juta UKM yang membuka lapaknya dengan 5.000 pelapak baru setiap hari. Secara demografis, 70 persen pelakunya adalah laki-laki dan 30 persen perempuan. Produk populer yang dominan adalah busana, makanan, gawai (gadget), aksesori, dan batu akik dengan nilai transaksi Rp 15 miliar hingga Rp 20 miliar sehari. Saat Hari Belanja Online, beberapa pekan lalu, transaksi mencapai Rp 100 miliar. Dari setiap transaksi, Bukalapak mendapat fee 0,5 persen.

Zaky mengaku jumlah ini “kecil”. Namun, ia mengandalkan fitur premium berbayar. Jika lapaknya ingin terus eksis dan dagangannya laku, ia harus menjadi lapak profesional. “Tetapi, itu pilihan. Sekarang ada 50.000 pelapak profesional yang menggunakan fitur premium,” katanya.

Incar Tiongkok
Tentang investor, Zaky mengaku tidak pernah menawarkannya kepada siapa pun. Mereka datang sendiri untuk bisnis yang mulanya sekadar bootstrap alias modal dengkul atau modal seadanya. Bukalapak akhirnya dilirik investor Jepang saat pekerjanya masih dua. Mereka melihat peluang karena di Jepang saat itu ada Rakuten dan di Tiongkok ada Alibaba.

Pada 2013, Zaky mendapat dana lagi dari Jepang, yakni dari Gree Venture yang menanamkan uangnya Rp 25 miliar sebelum kemudian datang Emtek dengan menyuntikkan dana ratusan miliar rupiah. Dengan pengguna internet mencapai 70 juta di Indonesia dan 5 juta sampai 10 juta di antaranya pelaku e-dagang, Zaky melihat jumlahnya masih terlalu kecil, bahkan ketika harus dinaikkan menjadi 30 juta pelaku e-dagang, sebagaimana harapannya. Maka, pasar Tiongkok adalah peluang baru yang akan dijajakinya. “Saya harus belajar bahasa Mandarin,” katanya.

Pesaing Bukalapak bukan direct competitor seperti Tokopedia atau Lazada, melainkan dari pengguna media sosial, khususnya Facebook dan Instagram, juga layanan pesan seperti WhatsApp dan BBM. Di Indonesia, orang mengenal media sosial lebih dulu, baru situs e-dagang. Kondisi sebaliknya terjadi di Tiongkok.

“Saya ingin pengunjung Bukalapak minimal sama dengan pengunjung Facebook yang mencapai 50 juta pengunjung per hari dengan pertumbuhan anggota enam kali lipat dari sekarang atau sekitar tiga juta lapak,” Zaky menutup percakapan dengan sebuah harapan.
df35c50bef194a8abfe3e85692437288KOMPAS/LUCKY PRANSISKA

ACHMAD ZAKY

JABATAN:Pendiri dan CEO Bukalapak

LAHIR:Sragen, 24 Agustus 1986

ISTRI:Diajeng Lestari

ANAK:Audi dan Laiqa Anzani

PENDIDIKAN:
SD di Sragen, SMP-SMA di Solo, S-1 Teknik Informatika ITB

HOBI:
Futsal dan membaca buku nonfiksi, khususnya bisnis

TOKOH YANG DIKAGUMI:Steve Jobs

CITA-CITA:
Ingin menjadikan Indonesia sebagai ”Silicon Valley”

PEPIH NUGRAHA
————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 6 Januari 2016, di halaman 16 dengan judul “Juragan E-Dagang Menatap Tiongkok”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Prof Soemantri, Ahli Darah Penjunjung Nilai Kemanusiaan Itu, Berpulang

Salah satu inisiasi Soemantri adalah memberi pelayanan transfusi darah bagi anak penderita talasemia dan hemofilia ...

%d blogger menyukai ini: