Home / Sosok / A Prasetyantoko, Krisis yang Menjadi Keseharian

A Prasetyantoko, Krisis yang Menjadi Keseharian

Semula, proposal disertasinya untuk menyelesaikan pendidikan doktoral di Perancis pada 2008 tentang tata kelola kelembagaan. Namun, pembimbingnya yang sangat ahli mengenai krisis justru menyarankan agar Prasetyantoko mendalami krisis ekonomi. Maka, haluan Prasetyantoko pun berubah, mengupas krisis untuk disertasinya.
Dari situ, saya melihat korelasinya. Persoalan tata kelola lembaga ada kaitannya dengan krisis. Kalau mau dirumuskan, semakin jelek tata kelola kelembagaannya, kemungkinan krisisnya juga semakin tinggi,” tutur Prasetyantoko dalam perbincangan dengan Kompas di kantornya, beberapa hari lalu.

Sehari-hari, Pras-demikian ia biasa disapa-berkantor di ruang kerjanya sebagai Dekan Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Katolik Atma Jaya, Jakarta. Ada banyak buku di ruang kerjanya di lantai 1 Gedung C Program Studi Komunikasi itu.

Ilmu mengenai krisis ekonomi yang sangat dinamis, karena satu krisis berbeda dengan krisis lain, semakin menarik Pras. “Bisa saja, kalau krisis terjadi lagi nanti, akan berbeda lagi. Sebab, sektor keuangan berkembang sangat dinamis,” katanya.

Krisis semakin pendek siklusnya, semakin intensif, dan semakin kuat. Dengan kata lain, krisis ekonomi terjadi semakin cepat, semakin parah, dan semakin sering. “Bisa dikatakan, krisis menjadi sesuatu yang dihadapi sehari-hari. Kalau dulu ekonomi stabil, kadang-kadang terjadi krisis. Sekarang sebaliknya, ekonomi itu krisis, kadang-kadang stabil,” papar Pras.

Salah satu hal yang membuat krisis semakin sering adalah inovasi di sektor keuangan. Semakin inovatif, perekonomian semakin sulit diprediksi. Di Indonesia, sektor keuangan masih sederhana. Perbankan Indonesia masih sangat konvensional dan berbasis konsumen.

Menurut Pras, krisis adalah dinamika ekonomi atau siklus ekonomi di luar kewajaran. Namun, tidak semua dinamika ekonomi di luar kewajaran bisa disebut krisis. Ada indikator lain, misalnya, apakah siklus di luar kewajaran itu membuat kondisi perekonomian jatuh lebih cepat dan lebih dalam. “Dengan asumsi bahwa krisis semakin menjadi keseharian, harus ada usaha melihat lebih jauh dampaknya bagi masyarakat,” ujar Pras.

c4e59e522ee144ba8af1d2bab17813f4Kompas/Hendra A Setyawan

Ketertarikan terhadap lika-liku krisis itu sudah dituangkan Pras dalam buku-bukunya, antara lain Bencana Finansial: Stabilitas sebagai Barang Publik dan Ponzi Ekonomi: Prospek Indonesia di Tengah Instabilitas Global.

Krisis tidak hanya membuat perekonomian memburuk. Akan tetapi, negara dan sistem keuangan di dalamnya bisa belajar dan mendapat “manfaat” dari krisis. Sistem perbankan yang kuat di Indonesia saat ini, misalnya, merupakan buah dari krisis pada 1997/1998.

Menurut Pras, semestinya sebuah negara tak perlu lebih dulu dihancurkan oleh krisis untuk memetik buahnya. Justru, krisis harus diantisipasi agar tidak berdampak besar. Bagaimana cara mengantisipasi krisis?

Dalam 10-20 tahun terakhir, pola krisis sudah terlihat sehingga bisa dimitigasi dan diantisipasi penyebab krisisnya. Dengan demikian, saat krisis benar-benar terjadi, hanya merupakan siklus biasa yang tidak sampai meruntuhkan tatanan yang ada.

Mengelola
Saat ini, masalah utama yang dihadapi Indonesia adalah dinamika nilai tukar yang sangat memengaruhi perekonomian, baik dari sisi korporasi maupun riil. Sayangnya, kata Pras, Indonesia belum belajar mengelola likuiditas. Padahal, nilai tukar berhubungan dengan likuiditas.

Mengelola likuiditas adalah mengundang likuiditas saat kita butuh. Sebaliknya, saat likuiditas pergi tidak mengguncang perekonomian dan berdampak pada merosotnya nilai tukar rupiah.

Mengapa kita harus belajar memitigasi dampak nilai tukar? Pras menjelaskan, jika dilihat dalam perspektif luas, Indonesia terlalu bergantung pada modal asing. Di sisi lain, modal domestik belum terakomodasi. “Oleh karena itu, pekerjaan rumah jangka panjang adalah mengapitalisasi modal domestik. Dengan pasar keuangan yang signifikan, kita tidak akan tergantung modal asing,” ujarnya.

Proses belajar dan membuat tatanan yang memitigasi persoalan likuiditas ini tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat. Untuk memperdalam sektor keuangan domestik, misalnya, perlu waktu cukup lama. Namun, langkah itu harus dilakukan sehingga Indonesia selalu siap berhadapan dengan kondisi apa pun.

Berbicara tentang krisis seolah-olah berbicara tentang kondisi yang tak kasatmata tetapi dampaknya terasa. Masyarakat punya cara sendiri untuk menghadapi berbagai persoalan. Apalagi, saat ini seluruh aspek masyarakat sudah memiliki dimensi internasional, misalnya penjual tempe yang secara riil berhadapan dengan persoalan globalisasi karena kedelai diimpor. Masyarakatlah yang secara riil mengalami dampak globalisasi.

Kondisi ini rentan karena gejolak di eksternal bisa berdampak bagi masyarakat. Oleh karena itu, pemerintah harus menjaga agar dampak langsungnya termitigasi. “Masyarakat diekspos sedemikan langsung pada dinamika global, yang seharusnya tidak boleh terjadi. Mitigasi harus dilakukan pada kelembagaan di pemerintah,” ujar Pras.

Lebih lentur
Bersekolah di Perancis memberi pandangan baru bagi Pras. Di sana, ia diajarkan untuk selalu mengelaborasi satu hal dari berbagai perspektif. Pandangan harus lebih lentur. Untuk melihat masalah ekonomi, misalnya, harus dilihat juga faktor politik, kelembagaan, dan berbagai faktor lain. “Ini warna penting dari hasil saya selama lima tahun, dari master sampai doktor, di Perancis. Saya ada dalam lingkungan yang secara sederhana mengajarkan agar heterodoks, tidak ortodoks,” tutur Pras.

Dengan pemahaman itu, Pras tahu pasti bahwa pembuat kebijakan di Indonesia tidak menerapkan konsep heterodoks atau melihat satu isu dari berbagai sisi, terutama melihat persoalan ekonomi. Padahal, dengan konsep heterodoks, satu persoalan di bidang ekonomi akan bisa dilihat secara lebih luas.

Di Indonesia, persoalan dilihat sepotong-sepotong. Akibatnya, pembuat keputusan dan pengambil kebijakan cenderung mengambil kebijakan yang parsial.

Contoh yang paling kelihatan adalah saat menghadapi banjir likuiditas beberapa waktu lalu. Tak ada langkah yang dilakukan karena menganggap itu sebagai berkah. Padahal, seharusnya, saat itu likuiditas bisa dimanfaatkan dengan baik, bahkan bisa dialirkan ke sektor riil, infrastruktur, dan logistik.

Bagi Pras, kemampuan menangani hal semacam ini dan memprediksi kondisi ekonomi sangat ditentukan oleh faktor-faktor non-ekonomi. Rumusan yang sederhana, tetapi implikasinya luar biasa.–Dewi Indriastuti
—–
Menjaga Keseimbangan

A Prasetyantoko menganut prinsip keseimbangan dalam hidupnya. Ia mempelajari hal yang sangat maju dan kontemporer, tetapi jiwanya sangat konvensional, agraris, dan tradisional. Ia bersedia mengemban jabatan struktural sebagai Dekan Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Jakarta, tetapi tetap memenuhi hasratnya sebagai pengajar.

Sehari-hari, ayah satu anak ini berkantor di kampus Atma Jaya di kawasan Semanggi, Jakarta. Pras-demikian ia biasa dipanggil-mengakui, ada banyak orang yang bertanya, mengapa ia bersedia menduduki jabatan struktural di kampusnya.

“Dulu saya memilih universitas, bukan bank atau yang lain, karena saya ingin jadi akademisi. Akademisi ini profesi yang selamanya, sampai mati,” tutur Pras di ruang kerjanya yang sederhana, yang diisi meja besar untuk menerima tamu, meja kerja, dan lemari kaca yang berisi banyak buku.

Meski demikian, tambah Pras, di sela-sela waktu menjalani profesi sebagai akademisi, ada komitmen yang harus dijunjung tinggi. “Organisasi membutuhkan saya untuk menduduki jabatan struktural. Saya lakukan, seperti menjadi dekan selama empat tahun. Maka, selama empat tahun ini saya berkontribusi. Setelah itu, saya berharap suatu saat akan punya lebih banyak waktu di bidang akademis,” papar Pras.

Sebagai akademisi, Pras bergelut dengan teori krisis dan gejolak ekonomi, topik disertasinya dalam program doktoral Perancis. Namun, Pras yang lahir di Srumbung, sebuah desa di kaki Gunung Merapi, Jawa Tengah, sangat dipengaruhi lingkungannya yang agraris. Orangtuanya yang petani menularkan rasa ketertarikan terhadap tanaman. Hingga kini, Pras asyik menjalani hobi berkebun di sela-sela kesibukannya.

“Saya memang besar dalam lingkungan agraris sehingga ketertarikan terhadap agraris tinggi. Di rumah saya ada banyak tanaman. Saya bahkan punya kolam ikan,” kata Pras.

Bagi Pras, petani menunjukkan kehidupan yang statis. Setelah menanam, petani hanya menunggu hingga panen. Kehidupan seperti itu membentuk kepribadian Pras menjadi cenderung konvensional untuk hal-hal yang prinsip. Namun, untuk hal-hal yang konseptual dan berkaitan dengan pengetahuan, Pras berupaya mengikuti dinamikanya.

“Dua hal ini adalah dimensi yang berbeda. Namun, ini yang saya sebut dengan keseimbangan,” tegasnya. (IDR)
——————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 25 Juni 2015, di halaman 36 dengan judul “Krisis yang Menjadi Keseharian”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Prof Soemantri, Ahli Darah Penjunjung Nilai Kemanusiaan Itu, Berpulang

Salah satu inisiasi Soemantri adalah memberi pelayanan transfusi darah bagi anak penderita talasemia dan hemofilia ...

%d blogger menyukai ini: