Home / Berita / Pandemi sebagai Momentum Perubahan

Pandemi sebagai Momentum Perubahan

Pandemi Covid-19 membuka berbagai persoalan dan kelemahan kita, sebagai individu maupun sebagai bangsa. Karena itu, ini saatnya kita terbuka dan mau berubah sertai berinovasi demi kemajuan bangsa.

Pandemi Covid-19 membuka berbagai persoalan dan kelemahan kita, sebagai individu maupun sebagai bangsa. Inilah momentum untuk jujur mengakui masalah itu, lalu berinvoasi dan berkolaborasi mencari jalan keluar untuk meminimalkan dampaknya demi kehidupan yang lebih baik.

Persoalan sosial, ekonomi dan sains dari pandemi Covid-19 atau penyakit yang disebabkan virus korona jenis baru, termasuk tuntutan perubahan, itu disampaikan para cendekiawan dalam diskusi daring “Forum Kolaborasi Kompas”, di Jakarta, Senin (29/6/2020). Kegiatan ini bagian dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun Ke-55 Kompas.

Sejarawan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Asvi Warman Adam, yang terpilih menjadi Cendekiawan Berdedikasi Kompas 2020 optimistis, badai pandemi ini pasti berlalu. Namun, seberapa besar dampak dan korbannya, tergantung upaya kita saat ini.

“Dari aspek sejarah, Covid-19 ini juga menunjukkan, bahwa ketidaktahuan dan ketidaksiapan menghadapi wabah ini terus berulang,” ujarnya. Oleh karena itu, memori kolektif harus dibangun.

Sejarah harus ditulis dan alat pengingatnya juga dibuat, misalnya dalam bentuk monumen. Dia mencontohkan, wabah pes atau bubonic plague yang melanda Malang dan kemudian seluruh wilayah Pulau Jawa pada tahun 1910, serta pandemi flu spanyol pada 1918 yang menewaskan jutaan orang di Nusantara dan sangat minim ditulis.

Padahal, catatan Colin Brown dalam buku The Influenza Pandemic of 1918 in Indonesia (1987) menyebutkan, 1,5 juta orang di Hindia Belanda meninggal akibat pandemi ini. Sementara itu, Siddharth Chandra di jurnal Population Studies (2013) menulis, korban jiwa di Pulau Jawa dan Madura saja mencapai 4,3 juta orang.

Alam dan lingkungan
Cedekiawan Berdedikasi Kompas tahun 2020 lainnya, yang juga Ketua II Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia, Satya Putri Naipospos mengingatkan, pandemi ini terjadi karena kesalahan kita sendiri dalam mengelola alam dan lingkungan. Wabah juga akan terus mengancam di masa depan, terutama dengan ekstraksi alam yang masif, meningkatnya kontak manusia dengan satwa liar, hingga laju urbanisasi.

Sekitar 60 persen penyakit menular bersifat zoonosis, artinya melompat dari inang hewan ke manusia. “Sekitar 75 persen penyait zoonosis ini adalah emerging virus,” ujarnya.

Untuk virus SARS-CoV-2 yang memicu Covid-19, menurut Tri Satya, kemungkinan besar inang awalnya juga kelelawar, sekalipun hewan perantaranya sebelum ke manusia masih diperdebatkan.

Seperti diketahui, virus korona penyebab sindrom pernapasan akut parah atau SARS awalnya berinang di kelelawar dengan perantara musang sebelum ke manusia, sedangkan sindrom pernapasan Timur Tengah atau MERS dari kelelawar ke onta sebelum ke manusia.

“Dengan 173 spesies kelelawar ada di Indonesia dan hampir sepertiganya ada di Sulawesi, kita juga punya potensi wabah di kemudian hari, namun kita hanya memiliki pengetahuan terbatas,” katanya.

Oleh karena itu, Tri Satya mengatakan, perlu studi ekstensif untuk memperbaiki pemahaman relasi kita dengan kelelawar dan satwa lainnya. “Kalau mau kurangi risiko berikutnya dari pandemi zoonosis kita harus melihat relasi yang lebih sehat antara manusia dan hewan,” ucapnya.

Jujur Mengoreksi
Yudi Latif, Cendekiwaan Berdedikasi Kompas tahun 2015 mengatakan, pandemi Covid-19 telah mendekonstruksi kelaziman normalitas keliru, yang menyebabkan kita kalah dalam krisis ini. Beberapa praktik keliru, namun seolah menjadi normal di masa lalu, di antaranya layanan publik yang buruk, ketergantungan pada impor termasuk bahan pangan, hingga mengedepankan kepentingan diri dengan merusak tatanan kebersamaan.

“Kalau wabah berlangsung hingga enam bulan lagi, kita mungkin menghadapi krisis pangan luar biasa. Kok bisa? Indonesia, kaya bahan-bahan pangan, ada umbi, sukun, dan beragam lain, seharusnya tidak mengalami krisis pangan,” ujarnya.

Katastropi ini berwajah ganda. Dia menjadi titik pemisah antara masa lalu yang kalah dan masa depan yang harus dimenangkan. Untuk memperbaikinya, secara jujur kita harus mengakui kekeliruan perilaku kita sebagai individu maupun bangsa. “Harus jujur, tidak boleh ditutupi. Badai berlalu, tetapi dampak dan korbannya tergantung kita,” kata Yudi.

Dengan kesadaran baru yang tumbuh bersama wabah, lanjut Yudi, impian normal baru harus dipahami bukan hanya menemukan rutinitas baru, melainkan normalitas baru yang benar. “Dalam kehidupan publik-kenegaraan, keteraturan yang benar itu harus didasarkan pada norma yang benar,” tuturnya.

Dalam kaitan itu, Pancasila yang merupakan norma dasar harus kembali dijadikan sumber dari segala sumber hukum negara. “Kelemahan kita selama ini, Pancasila itu hanya surplus di ucapan, tetapi minim tindakan. Memasuki normalitas baru yang benar menghendaki pelaziman nilai-nilai normatif Pancasila sebagai penuntun kehidupan berbangsa dan bernegara,” ungkapnya.

Agar norma baru yang benar ini efektif dalam kehidupan, dia harus dioperasionalkan dalam peradaban. Pertama, harus memperbaiki tata nilai, mental, spiritual, dan karakter. “Negara yang identitas nasionalnya bermasalah, dia tidak punya daya tahan yang kokoh. Ini terjadi di Amerika dan Indonesia dihadapkan pada masalah seperti itu juga,” kata Yudi.

Berikutnya, perlu tata kelola yang benar. Sebagai contoh, persatuan nasional harus diperjuangkan dengan menghadirkan negara yang melindungi segenap bangsa Indonesia. Demi persatuan nasional itu, negara hendak mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.”Dalam rangka mewujudkan kemaslahatan-kebahagiaan hidup bersama, aktualisasi kelima sila Pancasila itu harus dilandasi semangat cinta kasih,” katanya.

Kolaborasi dan inovasi
Sementara itu, Herawati Supolo Sudoyo, Cendekiawan Berdedikasi Kompas 2019 mengatakan, pandemi ini juga menjadi momentum bagi ilmu pengetahuan untuk memberikan panduan dan juga solusi. Salah satu harapan itu adalah upaya menemukan vaksin sendiri.

“Sekalipun kita terlambat memulainya, baru sekitar April karena di bulan Maret masih fokus membantu pemeriksaan spesimen, namun saat ini sudah ada kemajuan dan optimis bisa memenuhi target pembuata vaksin dalam satu tahun,” kata Herawati, yang juga Wakil Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Kementerian Riset dan Teknologi.

Lembaga Eijkman baru dilibatkan pemeriksaan spesimen Covid-19 pada pertengahan Maret 2020, karena sebelumnya seluruh pemeriksaan dilakukan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Kesehatan RI.

Namun, menurut Herawati, Eijkman telah sukses mengurutkan total genom dari 10 spesimen virus SARS-CoV-2 yang ada di Indonesia dan mendaftarkannya ke Global Initiative on Sharing ALL Influenza Data (GISAID). Sebanyak lima urutan total genom SARS-CoV-2 didaftarkan Universitas Airlangga.

—-Ahli genetika manusia di Lembaga Biologi Molekuler Eijkman dan Ketua Komisi Ilmu Kedokteran Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia, Prof dr Herawati Supolo Sudoyo, PhD (kanan) menerima penghargaan Cendekiawan Berdedikasi Kompas di Jakarta, Jumat (28/6/2019). Penghargaan yang menjadi tradisi yang diinisiasi Pemimpin Umum Kompas Jakob Oetama pada 2008 itu merupakan bagian dari hari ulang tahun Harian Kompas ke-54.

Urutan total genom ini menjadi bekal penting memahami karakter virus yang menyebar di Indonesia, termasuk mutasinya, dalam rangka membangun vaksin yang sesuai. Umumnya untuk membuat vaksin dibuuhkan waktu 5-10 tahun, misalnya vaksin ebola. Bahkan, untuk vaksin demam berdarah dengue butuh riset hingga 30 tahun. Namun pandemi ini memicu perubahan di dunia ilmu pengetahuan di berbagai negara, juga di Indonesia.

“Jadi kita dituntut menggunakan paradigma baru. Inovasi dan kolaborasi menjadi penting. Kegiatan yang dulu harus bertahap, sekarang harus simultan, karena kita dituntut menghasilkan produk yang ditunggu masyarakat dengan durasi pendek,” ujarnya.

Peraih anugerah Cendekiawan Berdedikasi Kompas 2015, A Prasetyantoko, yang juga ekonom dan Rektor Unika Atma Jaya Jakarta, mengatakan, pemerintah harus memetakan sektor-sektor yang bisa dikembangkan di masa normal baru. Menurut dia, pandemi Covid-19 menciptakan ketidakseimbangan dalam ekonomi sehingga sektor yang dibidik pun harus relevan dengan kondisi terkini agar pertumbuhan bisa didorong lebih tinggi.

Di sisi lain, dunia usaha harus bersiap mengubah proses bisnis dan model bisnis. Kebiasaan baru akan diterapkan permanen, seperti bekerja dari rumah, mematuhi protokol kesehatan, dan memperhatikan aspek lingkungan. Cara kerja baru itu membutuhkan investasi besar.

”Kondisi dunia kini ibarat komputer yang di-install ulang. Negara maju dan berkembang sama-sama memulai ekonomi dari awal. Indonesia berkesempatan menangkap momentum itu,” tutur Prasetyantoko.

Salah satu peserta diskusi, Kepala Ekonom UOB Indonesia Enrico Tanuwidjaja, berpendapat, ada dua sektor strategis di Indonesia yang berpotensi dikembangkan pascapandemi, yaitu farmasi dan makanan. Keduanya memiliki potensi perdagangan yang besar, tetapi belum tergarap optimal.

Peserta diskusi, Presiden Direktur PT Bank OCBC NISP Tbk Parwati Surjaudaja, berpendapat, pandemi memaksa perubahan berjalan cepat. Situasi pascapandemi diharapkan dapat meningkatkan inklusivitas ekonomi, menumbuhkan potensi sektor baru, dan mendorong efisiensi birokrasi sehingga perekonomian RI bisa tumbuh lebih tinggi.

”Pertumbuhan ekonomi nasional berdampak pada pertumbuhan internal perusahaan. Selain mengubah bisnis dan proses bisnis, kami akan mulai mengubah bisnis dan proses organisasi,” ucapnya.

Oleh AHMAD ARIF/KARINA ISNA IRAWAN

Editor EVY RACHMAWATI

Sumber: Kompas, 30 Juni 2020

Share
x

Check Also

Diduga Kuat Covid-19 Bisa Menular Melalui Udara

WHO sedang mengkaji masukan sejumlah peneliti yang menyebutkan virus SARs-CoV-2, penyebab pandemi Covid-19, bisa menular ...

%d blogger menyukai ini: