Perubahan Iklim Mengancam Perikanan Laut

- Editor

Kamis, 21 Februari 2019

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Perubahan iklim telah menjadi ancaman nyata bagi sektor perikanan dan kelautan. Selain pemutihan karang, perubahan iklim juga mendorong migrasi ikan laut dalam ke wilayah subtropis. Fenomena ini menuntut adaptasi segera guna mengurangi dampaknya secara sosial.

“Dampak perubahan iklim semakin terasa di berbagai sektor kehidupan kita, salah satunya di sektor perikanan yang menjadi penopang hidup jutaan nelayan kita. Padahal pada saat yang sama, jumlah penduduk terus bertambah sehingga meningkatkan permintaan dan mendorong terjadinya penangkapan ikan berlebih,” kata Kepala Laboratorium Data Laut, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan Perikanan (BRSDMKP) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Widodo S Pranowo, di Jakarta, Selasa (19/2).

KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA–Aktivitas jual beli di Pasar Ikan Pabean, Surabaya, Selasa(8/1/2018). Sebagian besar ikan yang dijual merupakan hasil perikanan dari daerah sekitar seperti Sidoarjo, Probolinggo, dan Tuban.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurut Widodo, perubahan iklim telah menyebabkan penurunan kualitas habitat ikan, baik di perairan dangkal maupun di laut dalam. Meningkatnya suhu permukaan laut dangkal menyebabkan rusak atau matinya terumbu karang sebagai area asuhan ikan. Selain itu, pembukaan lahan gambut yang tidak terkendali telah menyebabkan lepasnya karbon dioksida hingga terlarut ke laut dangkal dan turut mematikan terumbu karang.

Kajian yang dipublikasikan Widodo dan Andreas Hutahaean dari Kementerian Koordinator Maritim bersama peneliti dari Leibniz Center for Tropical Marine Research Jerman di jurnal internasional Nature edisi November 2018 menyebutkan, emisi yang lepas dari degradasi lahan gambut di pantai timur Pulau Sumatera mencapai 183 ton karbon per meter persegi per tahun. Selain dari pelepasan saat pembukaan hutan, karbon dari lahan gambut yang terdegradasi terbawa ke sungai dan kemudian ke laut dengan volume total 21-25 juta metrik ton per tahun.

Konsentrasi karbon yang meningkat di perairan membuat perairan kian asam. ”Lautan yang semakin asam membawa dua dampak besar, yakni kandungan oksigen terlarut berkurang dan hilang. Dampak berikutnya, pertumbuhan cangkang kerang dan kerangka terumbu karang dari kalsium karbonat terhambat atau bahkan terhenti,” katanya.

Migrasi ikan
Adapun tekanan terhadap perikanan pelagis besar seperti tuna berupa terjadinya migrasi dari perairan tropis ke perairan yang lebih dingin. Penelitian yang dilakukan Widodo bersama Fathur Rochman dan Irwan Jatmiko dari Loka Penelitian Perikanan Tuna-KKP (2016) menemukan adanya kecenderungan penangkapan ikan tuna albacore di Samudera Hindia yang semakin menjauh dari Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE).

Laporan Lembaga Pangan dan Pertanian Dunia (Food and Agriculture Organization/FAO) tahun 2018 juga menyebutkan, jika upaya untuk mengurangi laju pemanasan iklim berhasil dilakukan, produksi perikanan laut di ZEE akan turun antara 2,8 hingga 5,3 persen pada tahun 2050. Namun, jika upaya yang dilakukan gagal dan laju pemanasan meningkat seperti sekarang, penurunan produksi ikan di zona ZEE bisa berkisar dari 7 persen menjadi 12,1 persen pada tahun 2050.

Penurunan terbesar diperkirakan terjadi di ZEE negara-negara di daerah tropis, terutama di Pasifik bagian selatan. Sedangkan di daerah lintang yang lebih tinggi, potensinya justru akan meningkat. Perubahan tingkat tangkapan terjadi terutama disebabkan karena sebagian spesies ikan melakukan migrasi sebagai respon terhadap perubahan iklim. Migrasi ini telah didokumentasikan terjadi pada ikan tuna di Atlantik Timur Laut dan Barat Laut.

Tuntutan adaptasi
Peneliti perubahan iklim dari BRSDMKP-KKP Novi Susetyo Hadi mengatakan, dampak segera dari perubahan iklim bukan pada kenaikan muka air laut, tetapi terjadi pada meningkatnya frekuensi pemutihan karang.

“Pemutihan karang yang bisa menyebabkan kematian terumbu sebenarnya merupakan siklus yang biasa sejak tahun 1980-an. Namun, sejak tahun 2000-an semakin sering terjadi, seperti terjadi pada 2016 di banyak perairan kita dengan skala yang membesar sehingga banyak studi mengaitkannya dengan perubahan iklim,” kata dia.

Novi mengatakan, pemutihan karang memukul perikanan nelayan kecil yang tergantung pada tangkapan ikan karang. Selain itu, hal ini juga akan memukul sektor wisata yang belakangan menjadi salah satu andalan nasional.

Ahli kelautan Institut Pertanian Bogor yang juga Ketua Akademisi Ilmuwan Muda Indonesia (ALMI) Alan Koropitan mengatakan, berbagai kajian telah menunjukkan, sektor perikanan dan kelautan Indonesia sangat rentan terdampak perubahan iklim. “Bahkan, ada kajian di jurnal internasional bahwa hasil tangkapan ikan di Indonesia bisa menurun sampai 40 persen,” kata dia.

Melihat kondisi ini, menurut Alan, pemerintah Indonesia harus lebih fokus pada adaptasi, selain juga mencegah perusakan dan pencemaran ekosistem pesisir dan laut. “Perusakan ekosistem laut akan memperparah dampak perubahan iklim,” kata dia.

“Upaya mitigasi butuh kerjasama global dan sampai saat ini ketidakjelasannya masih tinggi. Indonesia harus lebih fokus untuk meningkatkan kapasitas adaptasi,” kata dia.

Untuk sektor perikanan dan masyarakat pesisir, adaptasi yang dibutuhkan di antaranya adalah peningkatan kapasitas dalam prediksi cuaca dan akurasi informasi untuk penangkapan ikan. Berikutnya, menurut Alan, Indonesia sudah harus memperkuat budidaya perikanan.

“Kita sudah harus mulai mempersiapkan untuk tidak lagi tergantung pada ikan tangkap, tetapi harus sudah optimalkan pada budidaya,” kata dia.

Oleh AHMAD ARIF

Sumber: Kompas, 20 Februari 2019

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Tak Wajib Publikasi di Jurnal Scopus, Berapa Jurnal Ilmiah yang Harus Dicapai Dosen untuk Angka Kredit?
Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia
Siap Diuji Coba, Begini Cara Kerja Internet Starlink di IKN
Riset Kulit Jeruk untuk Kanker & Tumor, Alumnus Sarjana Terapan Undip Dapat 3 Paten
Ramai soal Lulusan S2 Disebut Susah Dapat Kerja, Ini Kata Kemenaker
Lulus Predikat Cumlaude, Petrus Kasihiw Resmi Sandang Gelar Doktor Tercepat
Kemendikbudristek Kirim 17 Rektor PTN untuk Ikut Pelatihan di Korsel
Ini Beda Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Versi Jepang dan Cina
Berita ini 1 kali dibaca

Informasi terkait

Rabu, 24 April 2024 - 16:17 WIB

Tak Wajib Publikasi di Jurnal Scopus, Berapa Jurnal Ilmiah yang Harus Dicapai Dosen untuk Angka Kredit?

Rabu, 24 April 2024 - 16:13 WIB

Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia

Rabu, 24 April 2024 - 16:09 WIB

Siap Diuji Coba, Begini Cara Kerja Internet Starlink di IKN

Rabu, 24 April 2024 - 13:24 WIB

Riset Kulit Jeruk untuk Kanker & Tumor, Alumnus Sarjana Terapan Undip Dapat 3 Paten

Rabu, 24 April 2024 - 13:20 WIB

Ramai soal Lulusan S2 Disebut Susah Dapat Kerja, Ini Kata Kemenaker

Rabu, 24 April 2024 - 13:06 WIB

Kemendikbudristek Kirim 17 Rektor PTN untuk Ikut Pelatihan di Korsel

Rabu, 24 April 2024 - 13:01 WIB

Ini Beda Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Versi Jepang dan Cina

Rabu, 24 April 2024 - 12:57 WIB

Soal Polemik Publikasi Ilmiah, Kumba Digdowiseiso Minta Semua Pihak Objektif

Berita Terbaru

Tim Gamaforce Universitas Gadjah Mada menerbangkan karya mereka yang memenangi Kontes Robot Terbang Indonesia di Lapangan Pancasila UGM, Yogyakarta, Jumat (7/12/2018). Tim yang terdiri dari mahasiswa UGM dari berbagai jurusan itu dibentuk tahun 2013 dan menjadi wadah pengembangan kemampuan para anggotanya dalam pengembangan teknologi robot terbang.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO (DRA)
07-12-2018

Berita

Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia

Rabu, 24 Apr 2024 - 16:13 WIB