Home / Berita / 87.000 Kilometer Persegi Kriosfer di Bumi Menyusut Setiap Tahun

87.000 Kilometer Persegi Kriosfer di Bumi Menyusut Setiap Tahun

Kriosfer Bumi menyusut secara keseluruhan sejak 1979 karena peningkatan suhu udara. Area penyusutan terluas terjadi di belahan bumi utara, yaitu sekitar setengah ukuran Kansas setiap tahun.

Hasil studi terbaru menunjukkan kriosfer atau area dengan air beku di Bumi menyusut sekitar 87.000 kilometer persegi setiap tahun antara 1979 hingga 2016 akibat perubahan iklim. Ini merupakan hasil studi pertama yang menganalisis dan mengukur perkiraan luas permukaan bumi yang tertutup es laut, lapisan salju, dan tanah beku.

Hasil laporan studi ini tentang pengukuran kriosfer global 1979-2016 ini terbit di jurnal Earth’s Future, Mei 2021. Jurnal tersebut dikelola oleh American Geophysical Union (AGU) yang fokus menerbitkan penelitian interdisipliner tentang Bumi dan penghuninya pada masa lalu, saat ini, maupun masa depan.

“Kriosfer merupakan salah satu indikator iklim paling sensitif. Kriosfer juga dapat menjadi salah satu parameter utama yang menunjukkan perubahan iklim dan mewakili kondisi global secara keseluruhan,” ujar ahli geografi fisik di Lanzhou University, China, sekaligus penulis pertama laporan tersebut, Xiaoqing Peng, dikutip dari laman resmi AGU, Selasa (6/7/2021).

Peng dan rekan penulisnya dari Universitas Lanzhou menghitung tingkat pertumbuhan dan penyusutan harian kriosfer serta rata-rata nilainya untuk menghasilkan perkiraan tahunan. Dalam penghitungan tersebut, mereka menemukan bahwa rata-rata area yang dicakup oleh kriosfer Bumi telah menyusut secara keseluruhan sejak 1979 karena adanya peningkatan suhu udara.

Area penyusutan terluas terjadi di belahan bumi utara dengan kehilangan sekitar 102.000 kilometer persegi atau sekitar setengah ukuran Kansas, setiap tahun. Namun, dampak buruk akibat penyusutan tersebut sedikit diimbangi oleh pertumbuhan di belahan bumi selatan, di mana kriosfer berkembang sekitar 14.000 kilometer persegi setiap tahun.

Lokasi pertumbuhan krosfer di Bumi selatan mayoritas terjadi di es laut Laut Ross di sekitar Antartika. Peneliti memperkirakan pertumbuhan ini kemungkinan terjadi karena pola angin dan arus laut serta penambahan air lelehan dingin dari lapisan es Antartika.

Perkiraan menunjukkan bahwa tidak hanya kriosfer global yang menyusut tetapi banyak daerah tetap beku untuk waktu yang lebih singkat. Rata-rata hari pertama pembekuan sekarang terjadi sekitar 3 hingga 6 hari lebih lambat dari tahun 1979 dan es mencair sekitar 5 hingga 7 hari sebelumnya.

Untuk menyusun perkiraan luasan kriosfer global, peneliti membagi permukaan planet menjadi sistem grid. Mereka menggunakan kumpulan data luas es laut global, tutupan salju, dan tanah beku yang ada untuk mengklasifikasikan setiap sel dalam kisi sebagai bagian dari kriosfer. Kemudian mereka memperkirakan luas kriosfer setiap hari, bulanan, dan tahunan serta memeriksa bagaimana perubahannya selama 37 tahun.

Para penulis menyebut, kumpulan data global dari hasil penelitian ini dapat digunakan untuk menganalisis lebih lanjut dampak perubahan iklim pada kriosfer. Pada akhirnya, dapat diketahui bagaimana perubahan ini berdampak bagi ekosistem, pertukaran karbon, dan waktu siklus hidup tumbuhan maupun hewan.

—-Tali yang melintang menunjukkan batas lingkar kutub. Di sebelah kiri adalah bagian utara yang masuk dalam wilayah Kutub Utara, dan di sebelah kanan adalah sebelah selatan lingkar kutub utara.

Hasil studi ini sangat penting karena belum ada penelitian yang mempertimbangkan seluruh luas kriosfer di atas permukaan Bumi dan responsnya terhadap suhu yang memanas. Beberapa penelitian lain baru mendokumentasikan menyusutnya lapisan es, berkurangnya lapisan salju, dan hilangnya es laut Arktik secara individual karena perubahan iklim.

Kriosfer dapat menampung hampir tiga perempat air tawar yang ada di Bumi dan di beberapa daerah pegunungan. Kriosfer juga dapat memantulkan sinar matahari dengan efektif agar suhu dingin Bumi tetap terjaga. Perubahan ukuran atau lokasi es dan salju tidak hanya dapat mengubah suhu udara, tetapi juga permukaan laut dan bahkan mempengaruhi arus laut di seluruh dunia.

Ahli glasiologi di University of Calgary, Kanada, Shawn Marshall menyatakan, analisis dalam penelitian ini merupakan pemikiran bagus untuk mengetahui indeks kriosfer global atau indikator perubahan iklim. Data hasil penelitian ini juga dapat digunakan untuk memeriksa kapan lapisan es dan salju memberikan kecerahan puncak di Bumi sehingga perubahan albedo (reflektifitas permukaan) pada iklim secara musiman atau bulanan bisa diketahui.

Oleh PRADIPTA PANDU

Sumber: Kompas, 6 Juli 2021

Share
%d blogger menyukai ini: