Home » Sosok

Teddy Kristiadi; Mengelola Sampah dengan Larva Lalat

11 November 2015 2,247 views 4 Comments

Dalam kondisi pekerjaan yang sudah mapan dengan penghasilan relatif besar di bidang pelayaran, Teddy Kristiadi (50) pada 2012 memutuskan keluar dari pekerjaannya. Lantas, ia menggeluti larva lalat untuk mengelola sampah organik di wilayah Kota Bandung, Jawa Barat. Suatu bidang garapan yang tak banyak dilirik dan disukai orang.

Selain penuh tantangan, dari pihak keluarga, terutama anak-anak dan istrinya, yang kurang setuju atas keputusan yang diambilnya, dia juga harus merintis kegiatan ini dari nol. Namun, tantangan tersebut tak menciutkan tekad Teddy untuk bergelut dengan sampah.

Teddy yakin, melalui teknologi biokonversi, yakni mengonversi sampah organik menjadi pupuk cair dan padat dengan menggunakan larva lalat, dapat menyelesaikan dengan mudah dan cepat problematika sampah, khususnya sampah organik di Kota Bandung. Sampah di Kota Bandung mencapai 400-600 ton per hari.

“Metode ini, dapat mengurangi bau sampah karena larva lalat cepat mengurai sampah organik sehingga tak perlu menunggu sampah sampai membusuk dengan bau menyengat,” kata Teddy yang langsung keluar dari tempatnya bekerja, sebuah perusahaan Singapura yang bergerak di bidang jasa pelayanan di lingkungan pengeboran minyak lepas pantai, tiga tahun lalu.

Ketika mulai merintis, ia membuat tempat pemrosesan sederhana beratap terpal di Kompleks Antabaru II, Kelurahan Cisaranten Kulon, Kecamatan Arcamanik, Kota Bandung.

Dengan pengetahuan dari internet, laki-laki alumnus Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran, Jakarta, 1987, itu menggunakan larva lalat tentara hitam (Hermenia illucens), yang sudah dikenal di dunia sangat efektif sebagai makhluk pengurai sampah organik dan kotoran ternak.

Dipilihnya lalat jenis ini karena dapat mengurai sampah organik basah dalam waktu satu hingga tiga hari. Pengelolaan sampah menjadi sederhana dan mudah karena residunya menjadi bakal pupuk padat dan pupuk cair serta larva dewasa atau maggot dapat terpisah dengan sendirinya.

Larva ini dapat pula mengurai sampah tanpa henti sampai tahap metamorfosis berikutnya, juga akan mendominasi dan menurunkan perkembangan larva dan lalat lain, seperti lalat hijau. Pasalnya, cairan lalat ini tidak disukai oleh serangga yang lain. Lalat tentara hitam ini juga dapat mengurangi perkembangan lalat pembawa penyakit.

Perkembangan lalat ini pun tergolong cepat. Yang betina dapat bertelur 500-900 butir dan uniknya lalat ini bertelur pada bagian atas atau samping areal sampah organik sehingga mudah untuk dipindah. Telur akan menetas setelah empat hari dan larva dalam usia tujuh hari sudah sangat rakus melahap sampah organik.

Lalat ini mempunyai pula peningkatan kemampuan reproduksi hingga ratusan kali lipat dalam 50 hari hingga mampu melebihi jumlah produksi sampah organik. “Oleh karena itu, perlu disiapkan bak-bak penampung sampah yang lebih banyak karena dalam waktu 50 hari dibutuhkan 20 sampai 100 kali lipat bak penampung,” ujarnya.

Teddy telah memproyeksikan dari cairan larva dapat dihasilkan pupuk cair seharga Rp 3.000 per liter dan larva dewasa untuk pakan ternak Rp 5.000 per kilogram. Harga ini jauh di bawah harga pasar, seperti harga pelet, pakan ikan, Rp 10.000 per kg. Dengan harga yang jauh lebih murah daripada harga pasar diharapkan dapat membantu petani untuk mendapatkan pupuk dan pakan ternak berkualitas.

Di luar negeri, teknologi biokonversi sudah banyak diterapkan dengan menempatkan sampah organik dalam bak penampung yang sudah mengandung larva lalat ini. Bak itu terbuat dari bahan fiber, ember, semen, atau drum.

Teddy berinovasi dengan membuat bak berbentuk persegi panjang dari bahan tripleks atau kayu. Dia lalu bernegosiasi dengan Perusahaan Daerah Kebersihan Kota Bandung supaya dapat dipasok sampah.

Usaha Teddy tidak berjalan mulus. Pasokan sampah dari PD Kebersihan tidak lancar. Teddy pun harus mencari sampah ke tetangga, rumah makan atau restoran, pasar, dan mal. Dia mengumpulkan sampah dapur, sisa makanan, kulit buah, sayur busuk, juga daging sisa.

Teddy juga dilarang mendirikan tempat pengolahan sampah di kawasan tersebut karena lokasinya berada di lahan milik Perum Perhutani. Naasnya, belum genap setahun, tempat pengolahan sampah organik itu pun roboh diterpa angin kencang.

Teddy sempat goyah. Dia sempat beberapa waktu bekerja lagi di bidang pelayaran. Rumah pun sempat dijual karena tabungannya habis terkuras.

Bangkit
Dia kembali bekerja sama dengan PD Kebersihan Kota Bandung mulai Januari 2015. Teddy mendapat dukungan investor asal Korea yang menjanjikan modal Rp 2,6 miliar. Tahap pertama telah dikucurkan sekitar Rp 150 juta.

Pihak PD Kebersihan menyediakan bangunan berukuran 8 meter x 12 meter di atas lahan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jelengkong seluas 9 hektar di Desa Warga Mekar, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung. Letak TPA itu sekitar 20 kilometer dari Kota Bandung, ibu kota Provinsi Jawa Barat.

Teddy membangun empat bak penampungan sampah berbentuk persegi panjang yang masing-masing berukuran panjang 12 meter dan lebar 50 sentimeter (cm) dengan kapasitas total sekitar 400 kilogram. Larva lalat ini memiliki kecepatan biokonversi atau mengurai sampah sekitar 15 kg per meter persegi per hari.

Laki-laki jangkung ini juga telah melakukan uji coba dari larva dan pupuk yang telah dihasilkan. Salah satunya di kawasan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat, pada tanaman brokoli dan kacang kapri serta di Lembang untuk tanaman cabai dan kacang panjang.

Teddy bermimpi mengelola sampah dalam skala besar. Pupuknya dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan produktivitas pertanian, khususnya warga di sekitar TPA. Sayangnya, harapan Teddy itu belum kesampaian. Pada Mei 2015, pasokan sampah dari PD Kebersihan mandek yang menyebabkan ribuan larva mati karena tak memperoleh makanan.

“Hal ini membuat investor hengkang dan kembali ke Korea. Namun, mereka memberi tahu, inovasi yang saya kembangkan ini akan mereka terapkan di sana. Mereka melihat ini dapat menjadi bisnis raksasa,” kata Teddy.

Teddy sampai saat ini tetap gigih mengolah sampah organik di TPA Jelengkong meski dia juga menyayangkan mengapa PD Kebersihan begitu sulit memasok sampah.

“Saya sangat yakin, jika pengelolaan sampah organik ini dilakukan dengan betul, dalam waktu 1 tahun 6 bulan, persoalan sampah di Kota Bandung akan tuntas,” ujarnya.

e956caa033da451ebd4b61d16c548ee6KOMPAS/SAMUEL OKTORA

Teddy Kristiadiu Lahir: Cimahi, 28 Desember 1964u Pendidikan: Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran, Jakarta, tamat 1987 u Istri: Yati Hayati (42)u Anak: – Widhia Ning Utami (22)- Aditya Pratiwi (19) – Arief Rahman (9) – Siti Muthia (6)

SAMUEL OKTORA
———————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 11 November 2015, di halaman 16 dengan judul “Mengelola Sampah dengan Larva Lalat”.

Share

4 Comments »

  • Rachmat said:

    Bagaimana saya bisa berhubungan dgn anda? Sy tertarik utk mengerjakan blacksoldiersfly ini juga….

  • Eko said:

    Saya tertarik ingin belajar tentang BSF, dan mau berkunjung ke Bandung, bisa minta no telp nya

  • syahrizal said:

    Sy tertarik dengan blacksoldiersfly bisa minta no telpnya ?

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.