Home » Tokoh

Rumah Nostalgia Sang Profesor

30 January 2011 1,437 views No Comment

Pagi hari menjadi saat menyenangkan bagi Prof Ir Eko Budihardjo, MSc (66), mantan Rektor Universitas Diponegoro, Semarang. Saat itulah biasanya burung-burung liar berkicau ramai saat singgah di halaman rumahnya yang jembar.

Eko Budihardjo sengaja membangun ”rumah dalam kebun” untuk kediamannya di Jalan Telaga Bodas Raya, Kota Semarang, Jawa Tengah. Terletak di kompleks perumahan dengan kavling yang rata-rata mencapai seribuan meter persegi, rumah Eko terlihat berbeda sejak bagian depan. Tanaman sawo tumbuh di sisi pintu gerbang, juga rambutan di sisi luar dinding pagar depan. Taman di bagian depan rumah pun terlihat teduh.

Di halaman belakang, ada pohon jambu air yang mulai berbuah. Juga pohon mangga dengan buah menjuntai setinggi dada orang dewasa. Sesekali terdengar kecipak ikan hias di kolam kecil di ujung taman. Di gazebo berbahan bambu, Eko biasa bersantai. ”Kalau di sini pagi-pagi, pas burung-burung berkicau, rasanya indah sekali,” kata Eko yang menjabat Rektor Undip 1998-2006 itu suatu pagi pekan lalu.

Eko seolah ingin mengembalikan kenangan kanak-kanaknya di Purwokerto. Ayahnya yang guru punya lahan lumayan luas yang ditanami, antara lain, jeruk dan cengkeh. Baru lima tahunan Eko dan istrinya, Ir Sudanti MS (59), mendiami rumah ketiganya ini. Rumah pertamanya yang dibeli tahun 1973 terletak di Jalan Airlangga, kawasan Pleburan, Kota Semarang, dan kini dijadikan kantor biro konsultan. Rumah kedua di daerah Bukit Sari, kawasan Gombel, dibeli tahun 1984 dan kini ditempati anak pertamanya. Selama 1998-2006, Eko menempati rumah dinas rektor Undip di Jalan Imam Bardjo, Pleburan.

Lahan rumahnya sekarang ini dibeli tahun 2004. Lokasinya dipilih tidak terlalu jauh dari kampus Undip di kawasan Pleburan di Semarang bawah maupun kampus baru di kawasan Tembalang, Semarang atas. Menurut Eko, ”Dapat (harga) murah, kebetulan yang jual lulusan Undip yang mau pindah ke Jakarta.” Butuh dua tahun membangun rumah, Eko boyongan pada tahun 2006.

Apa masih berencana pindah lagi? Eko tertawa, ”(Saya ingin) Menikmati pensiun di sini, sampai nanti dipanggil Tuhan.”

Menyenangkan istri

Sejalan dengan konsep rumah dalam kebun, hanya sekitar 40 persen lahan untuk bangunan. Dengan latar belakang arsitekturnya, Eko mendesain sendiri konsep-besar rumahnya. Sejawatnya, Toto Rusmanto, membantu desain detail, antara lain daun pintu dan tangga.

Eko berpegang pada nasihat mendiang YB Mangunwijaya, pastor yang juga arsitek. ”Nggawe omah, sing penting bojomu seneng. (Jika membangun rumah, yang penting istrimu senang). Padahal notabene Romo Mangun tidak punya istri,” kenang Eko sambil tergelak.

Kamar tidur utama, dua kamar tidur di masing-masing lantai, plus kamar kerja di lantai dua ditata sedemikian rupa sehingga pemandangan asri di luar rumah bisa dilihat dari jendela.

Bagi Eko, rumah tak boleh menjadi sekat pemisah antaranggota keluarga. Karenanya, lantai dua hanya separuh, bagian atas ruang keluarga dibiarkan lepas sampai ke atap rumah. Ruang keluarga yang besar itu ibarat payung di tengah lapangan, menaungi seluruh isi rumah. Ruang keluarga merupakan pusat kegiatan. Jika kebetulan anaknya, Holy Ametati dan Aretha Aprillia, datang bersama keluarga, mereka lebih suka berkumpul di ruang keluarga ini. Tiga pasang pintu kaca yang lebar membuat penghuni leluasa memandang ke halaman belakang. Ruang yang terbuka itu pun memudahkan Eko saat punya hajatan, cukup dipasang tenda di bagian depan atau di taman belakang jika dibutuhkan.

Di atas ruang keluarga, tergantung lampu besar berbahan tembaga yang dipesan dari perajin di Boyolali. Di sisi atas dinding ruang keluarga itu terpasang kaca patri besar bertema garis dan kotak. Jika malam tiba, cahaya lampu sanggup menerangi sampai halaman belakang.

Sejak awal, Eko yang kelahiran Purbalingga, 9 Juni 1944, memang menginginkan rumah asri berarsitektur tropis. Langit-langit yang tinggi di ruang tamu mengadopsi konsep rumah tradisional joglo. Jendela di ruang tamu selalu dibiarkan terbuka. Pendingin ruangan hanya sesekali dinyalakan. Bahkan, di kamar utama, Eko kerap tidur dengan membiarkan jendela terbuka. Untungnya, tak banyak nyamuk yang mengganggu.

Rumah Eko juga terlihat ramai dengan berbagai pernik-pernik. Kebanyakan pilihan sang istri, tapi Eko pun suka berbelanja beragam cendera mata dari berbagai daerah. Kenang-kenangan dari banyak kawan, semisal lukisan dan karikatur, terpasang dengan baik, termasuk lukisan wajah Eko bersama dua cucunya, Jasmine Alvita Firdaus (10) dan Akhtar Avatara (5). Tiga gambar karya Jasmine saat berusia 4-5 tahun dipasang di dinding sisi tangga menuju lantai dua.

Pasangan Eko-Sudanti bisa bekerja di mana saja. Jika sang istri lebih sering di meja kerja dekat ruang keluarga, Eko yang juga gemar menulis puisi lebih senang di kamar tidur atau perpustakaan yang ”ramai” di lantai dua.

Dengan rumah yang begitu asri, apa masih ada yang kurang? ”Saya pengin memelihara ayam jago. Tapi masih nunggu (persetujuan) istri,” kata Eko sambil tertawa.

Sidik Pramono

———————-

Penolak Bala Tak Sengaja

Pasangan Eko Budihardjo-Sudanti sejalan soal konsep rumah dalam kebun. Perbedaannya hanya sedikit. Seperti kebanyakan kaum perempuan, Sudanti lebih suka dengan tanaman bunga. Sementara Eko lebih memilih tanaman buah.

Di bagian depan rumah, ada tanaman sawo, rambutan, tanaman srikaya dengan buah ranum sekepalan tangan orang dewasa, juga ada tanaman kelengkeng yang masih kecil. ”Cendera mata saat Prof Sudharto (Rektor Undip sekarang, Sudharto P Hadi) menikahkan anaknya,” kata Eko.

Tahun ini, jambu air di halaman belakang berbuah untuk kedua kalinya. Saat pertama berbuah, untuk mengetahui perkembangannya, buah pertama itu bahkan sampai difoto-foto segala. Menjelang masa siap petik, Eko dan istri kebetulan keluar kota, pulang-pulang jambu pertama itu keburu dipetik orang. ”Padahal itu buah bersejarah,” kata Sudanti sambil tertawa.

Di sisi tembok sebelah kanan rumah, tanaman bambu kuning tumbuh rapi. Tanaman bambu hijau juga tertata di bagian belakang. Tanaman bambu dipilih setelah Eko membaca sebuah artikel yang menyatakan bahwa tanaman bambu bisa menghasilkan oksigen 40 persen lebih banyak ketimbang tanaman lainnya. ”Tahu-tahu dikasih tahu orang, katanya tanaman bambu dipercaya bisa menolak bala,” kata Eko.

Tidak beda halnya dengan buah maja yang ditanam di halaman belakang. Sudanti yang mantan Kepala Dinas Permukiman dan Tata Ruang Provinsi Jawa Tengah mendapatkan bibitnya ketika sedang bertugas ke Borobudur, Magelang. Sekalipun tidak bisa dimakan, Sudanti tertarik dengan bentuk buah maja yang bagus, bisa dijadikan ornamen penghias ruang.

Serupa dengan tanaman bambu, belakangan Sudanti diberi tahu bahwa tanaman buah maja dipercaya sebagai tanaman penolak bala. ”Padahal sama sekali tidak diniatkan untuk itu (menanam sebagai tolak bala),” kata Sudanti.

Jadi, sekali menanam, mendapat dua manfaat? (DIK)

Sumber: Kompas, 30 Januari 2011

Share

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.