Home » Profil Ilmuwan, Sosok

Dialetika Benih Prof Dr Ir Sjamsoe’oed Sadjad

25 June 2009 57 views No Comment

Bukankah benih itu suatu awal untuk memandang dan melaju ke depan? Segenggam benih memang sedunia harapan.

Itulah sekelumit kalimat yang dikutip dari tulisan Prof Dr Ir Sjamsoe ’oed Sadjad dari tulisannya di harian ini awal tahun 1996. Buat pria kelahiran 24 Juni 1931 (Madiun, Jawa Timur) benih selalu memberikan tantangan baru yang menggairahkan. Sadjad merasa benih banyak memberi pelajaran tentang segala hal, termasuk kehidupan kepadanya. Pengalamannya itu dituliskannya dalam buku From Seeds To The Seed (Dari Benih Kepada Benih). ”Benih yang belakangan itu adalah saya,” kata Sadjad. Tulisan yang diberikannya kepada almamaternya tempat ia belajar ilmu teknologi benih, Mississippi State University, itu mendapatkan penghargaan khusus.

Sadjad menamatkan S-1 tahun 1957 dari Fakultas Pertanian Jurusan Sosial Ekonomi Institut Pertanian Bogor (IPB) yang saat itu masih merupakan bagian dari Universitas Indonesia dengan skripsi situasi perbenihan nasional dikaitkan dengan kebijaksanaan pemerintah. Jenjang S-2-nya ditamatkan di Mississippi State University (1963) dengan pendalaman ilmu teknologi benih. Jenjang pendidikan S-3-nya diselesaikannya di IPB (1972) yang juga merupakan tempatnya mengabdikan ilmu yang diperolehnya.

Sadjad yang pernah menjabat Dekan Fakultas Pertanian IPB dan Ketua Jurusan Budidaya Pertanian, merintis program studi benih di IPB sekaligus menjadi kepala Laboratorium Ilmu dan Teknologi Benih di sana. Selama karirnya yang 40 tahun dalam ilmu dan teknologi benih Sadjad telah menciptakan lima tipe alat simulasi perkecambahan benih, dua tipe untuk daya simpan, dan dua model untuk konservasi benih. Berdasarkan model fisik alat simulasi ini Sadjad juga melahirkan matematika benih.

Karena latar belakang pendidikannya yang juga mempelajari sosial-ekonomi, maka Sadjad pun tertarik pada masalah sosial-ekonomi, pembangunan pertanian modern di Indonesia dan juga industri benih.

Setelah pensiun sebagai pengajar sejak 1 Juli lalu, Sadjad masih membimbing tujuh mahasiswa S-3 dan ingin terus menulis. Total 10 buku telah ditulisnya, termasuk yang tidak dicetak dan menjadi editor, dan total publikasi ilmiahnya berjumlah ratusan.

Dari pernikahannya dengan Retno Winarni, adik kelasnya di SMA di Madiun tetapi justru dikirimi surat ungkapan hati justru setelah Sadjad kuliah di Bogor, pasangan ini mendapat empat anak yang semua sudah menikah: Rhiza S Sadjad, doktor lulusan Universitas Wisconsin, AS, mengajar di Universitas Hasanuddin; Mirza S Sadjad bekerja di Inhutani I di Bogor setelah menyelesaikan S-1 di Fakultas Kehutanan IPB; Elza S Sadjad memilih menjadi ibu rumah tangga setelah menyelesaikan S-1 biologi dari ITB Bandung, sedangkan si bungsu Roza S Sadjad menjadi dosen di Banda Aceh setelah menyelesaikan S-3-nya dari Oregon Sate University. Keempatnya memberi delapan cucu untuk pasangan Sadjad.

Berikut petikan wawancara dengan Sjamsoe’oed Sadjad yang memiljh pensiun daripada memperpanjang masa kerjanya karena ingin punya kebebasan mengungkapkan pikirannya, di rumahnya yang asri di kompleks perumahan dosen IPB di kampus Darmaga, Bogor, awal pekan lalu. ”Rumah ini punya sejarah khusus, desainnya dibuat Bung Karno,” kata Sadjad.

Apa kegiatan Anda setelah pensiun?

Saya sementara ini tidak bisa lepas dari mengajar atau paling tidak memonitor perbenihan di Indonesia. Saya juga memonitor masalah sosial ekonomi Indonesia, sebab saya juga tertarik masalah ini.

Masalah pangan. Menurut saya ini bukan Cuma masalah Indonesia tetapi universal, sebab yang kekurangan pangan jumlahnya masih ratusan juta orang dan akan terus naik.

Bila kita terus saja menggantungkan diri pada beras, serealia, berat juga. Alternatif lain Beras adalah gandum, tetapi ini harus ditanam di daerah tinggi dan kemungkinannya sedikit sekali. Kalaupun bisa, kalah dari impor. Umbi-umbian hanya kentang yang prospektif secara sosial-ekonomi, tetapi juga perlu dataran tinggi dan competitve advantage-nya kalah dari pariwisata dalam hal lahan.

Arah apa yang Anda lihat untuk mengatasi masalah ini?

Saya melihat dua pola pertama, yaitu pertanian yang konvensional dan pertanian dengan bioteknologi. Pertanian yang konvensional tetap harus dipertahankan karena menurut saya sifatnya biokonservatif –berhubungan dengan keseimbangan lingkungan. Sawah, rotasi, tumpang sari, pertanian darat di lahan pekarangan, biokonservatif. Kita harus mengonservasi pertanian konvensional ini, walaupun ada kalanya kita tidak bisa mengejar kebutuhan pangan penduduk yang tumbuh begini cepat.

Bioteknologi memakai rekayasa genetika, menghasilkan varietas tanaman baru dengan lebih cepat. Kedua pola pertanian itu harus berjalan simultan, bersama-sama. Dan yang penting, keduanya harus berorientasi pada pertanian komersial. Saya rasa tepat menteri pertanian sekarang mengarahkan pertanian moderen yang pendekatannya agribisnis.

Di mana letaknya benih dalam tataran ini?

Bila kebijaksanaannya pendekatan agribisnis, sebagai orang benih saya sejak dulu berpikiran benih tidak bisa benih asalan yang petani bisa memproduksi sendiri, tanpa mengetahui mutu benih, asal ditanam tumbuh.

Benih adalah produk teknologi, pengembangannya harus sejalan dengan pengembangan teknologi. Bila pertanian menghendaki hal begitu canggih, orang benih juga harus melayani kecanggihan itu, tidak bisa melayani benih yang bukan produk teknologi.

Apa artinya itu?

Menjadikan benih komersial harus bertolak dari dua hal: teknologi pemuliaan dan teknologi benih yang keduanya seimbang.

Untuk mendapatkan hasil (performance) genetik yang baik benih harus melalui pemuliaan (breeding), baik melalui cara konvensional atau bioteknologi. Benih dari pemulia harus nyata berbeda dari benih
yang sudah dihasilkan terdahulu, seragam bila ditanam karena ini penting dari segi efisiensi, lalu stabil dalam arti hasilnya sama bila ditanam di daerah dengan karakteristik sama. Hutan tanaman industri misalnya yang berorientasi komersial, bila kita menanam memakai benih sembarangan, setelah menunggu 5-10 tahun ternyata tanaman yang tumbuh tidak homogen. Ini mengurangi efisiensi kerja, kapasitas pabrik, efisiensi transportasi. Jadi benih harus komersial.

Bagaimana mewujudkannya?

Ada dua program yang harus ditempuh: program sertifikasi benih dan program benih dasar (PBD). Pada PBD harus ada hubungan kelembagaan, suatu struktur, antara orang teknologi benih dengan para pemulia tanaman. Pemulia tanaman bukanlah orang yang berorientasi komersial, dia tidak ikut-ikutan memasarkan benihnya. Bila dia ikut-ikutan memasarkan benih, menurut saya dia pemulia yang gagal. Bila dia bekerja benar, mana punya waktu memasarkan benih?

Yang memperkenalkan benih varietas baru kepada petani adalah program benih dasar, mengurus hak patennya. PBD sebaliknya juga memberikan masukan kepada pemulia jenis-jenis varietas yang dikehendaki petani. Program ini belum ada di Indonesia, jadi ini masih suatu perjuangan buat saya.

APA pengaruh ada tidaknya program benih dasar?

Dalam hal padi (sawah) misalnya pemulia kita adalah orang pemerintah. Orientasinya tentu bukan apakah varietas yang dihasilkannya bisa dijual atau tidak.

Meningkat pada padi gogo atau palawija seperti kedele dan jagung, jelas harus ada program benih dasar. Pemulia harus terus-menerus menghasilkan varietas baru dan yang mengurus komersialisasi varietas baru yang di hasilkan adalah program benih dasar .

Bila saya boleh mengritik mengapa program kedele pemerintah tidak berhasil dengan alasan tidak tersedia cukup benih, ini karena tidak ada lembaga program benih dasar. Semua acak-acakan. Jadi harusnya menghasilkan benih bagus, tetapi tidak melalui prosedur program benih dasar. Akibatnya petani tidak puas, pemerintahnya juga tidak puas karena areal pertanaman tidak bertambah, pemulia juga tidak puas karena tidak adanya keterikatan . Yang sudah jalan program serftifikasi. Program ini komersialisasi benih. Tetapi percuma bicara komersialisasi bila benihnya tidak komersial.

Selama dua dekade sampai 1995 produksi padi naik, demikian juga penyebaran benih. Tetapi bila kita lihat penyebaran benih varietas unggul berproduksi tinggi, terjadi levelling off (kenaikannya menurun) selama dua tahun terakhir. Ini berarti penyebaran varietas unggul tidak seperti yang kita harapkan. Naiknya produksi atau penyebaran benih tidak disebabkan benih unggul berproduksi tinggi. Bila penyebaran (benih ungul berproduksi tinggi) tidak menurun kenaikannya, produksi padi bisa lebih tinggi lagi.

Jadi mungkin saja mengapa produksi pangan nasional mengalami levelling off, di samping kekeringan,penyusutan lahan produktif, bisa jadi juga karena mutu benihnya menurun. Penyebaran benih bukan berasal dari sumber benih yang benar. Ini yang menyebabkan saya ingih memperbaiki pemikiran yang prinsipil, yaitu benih harus berasal dari sumber yang benar.

Tetapi perhatian pemerintah luar biasa terhadap padi, mengapa ini terjadi?

Kenaikan produksi mungkin karena ekstensifikasi, peran padi gogo dsb. Tetapi yang jadi perhatian saya mengapa varietas padi unggul berproduksi tinggi levelling off? Mungkin kegiatan atau biaya pemuliaan atau perhatian kita pada padi levelling off, terdesak oleh hortikultura barangkali. Jadi menurut saya, pemuliaan dan teknologi benih harus berjalan bersama dua-duanya.

Sedikit banyak di akhir masa dinas saya, saya kecewa. Sekitar dua tahun lalu Depdikbud menghapus program studi benih. Saya terpukul.

Apa alasan penghapusan itu?

Menurut saya, tanpa bertanya kepada saya yang lebih 30 tahun menggeluti benih, konsorsium pendidikan (yang memberi masukan kepada Mendikbud) menganggap bidang pemuliaan dan teknologi benih dua hal yang bisa digabungkan jadi satu yaitu Program studi pemuliaan. Alasannya perampingan, efisiensi. Tetapi program studi sebenarnya bukan merupakan struktur, bukan seperti jurusan atau fakultas. Program studi adalah ramuan kurikulum dan dosennya bisa berasal dari mana-mana.

Dengan hilangnya program studi benih, kita kehilangan mahasiswa. Selama ini kita(IPB), setiap tahun rata-rata mendapatkan 40-an orang mahasiswa, ini benih kaderisasi.

Penghapusan program studi ini menunjukkan kesadaran penanganan benih yang baik penting untuk mendapatkan tanaman yang baik tidak tumbuh pada banyak orang, mengapa?

Masyarakat umumnya sudah bicara bahwa benih penting. Presiden pun secara tersirat mengatakan hal itu ketika meresmikan kampus baru IPB di Darmaga ini.

Sebelum program Bimas beras, petani memupuk saja tidak mau. Namun ketika melihat dengan memupuk hasil padinya lebih baik, mereka memupuk, sampai sekarang tidak mau lepas. Bila intensifikasi sudah sedemikian hebat lalu tidak diimbangi dengan kehadiran varietas baru berproduksi tinggi, akhirnya dengan sendirinya (produksi beras) levelling off. Jadi menurut saya harus ada yang menangani pemuliaan dan teknologi benih. Kedua bidang ini berbeda dan tidak bisa hanya salah satu ada. Benih sebagai produk teknologi memang harus berasal dari pemulia, tetapi pemulia bukan orang komersial yang memasarkan sendiri benih yang dihasilkannya.

Dengan menjadikan benih sebagai produk teknologi dan bernilai komersial, harganya relatif akan mahal Bagaimana?

Petani sebenarnya tidak takut harga mahal asal disodorkan kenyataan dengan benih lebih mahal dia akan mendapat hasil lebih baik. Petani bukan orang yang tidak rasional. Jadi jangan petani disuluh menghasilkan benih sendiri, itu kurang bijaksana bila yang dituju agribisnis modern. Misalnya kita mau memproduksi pakan ternak yang baik,diperlukan jagung dan kedele berkadar protein tertentu. Petaninya harus mencari benih yang memiliki karakteristik sesuai kebutuhan itu. Jadi bila bicara agribisnis, jangan dalam hal benih dibalik: benih boleh sembarangan asalnya.

MENGAPA dulu Anda memilih ilmu benih yang kurang gemerlap dibanding bidang lain?

Dulu ketika saya bersekolah di jurusan sosial-ekonomi di UI diberi dua mata ajaran mayor politik pertanian yang mempelajari segala sesuatu yang berkaitan dengan kebijakan pemerintah dan yang berhubungan dengan budidaya pertanian. Lalu minor saya usaha tani dan peternakan.

Saya sudah menjadi asisten dosen saat itu antara lain pada Prof Dr Gunawan Satari. Beliau yang mendorong saya mendalami benih, dan ketika itu ada kesempatan menjadi dosen mengganti dosen-dosen orang Amerika dan ada program afiliasi belajar di luar negeri. Jadi saya sekarang seperti terbelah dua: di benih saya tertarik di sosial-ekonomi juga tertarik. Saya juga mengajar di program Magister Manajemen Agribisnis IPB.

Apa daya tarik benih?

Dari benih saya bisa menganalisis perkembangan pertanian mikro dan makro, karena semua berawal dari benih. Semua bisa ditarik ke belakang, ke benih.

Lalu bila Anda katakan benih itu kecil dan kelihatan mati, sebenarnya ada kehidupan di dalamnya. Maka saya menekuni daya hidup (viabilitas)-nya. Saya berorientasi seperti dokter manusia yang mendiagnosis pasien), menganalisis lebih lanjut Iewat urin, darah, dsb. Peralatan kedokteran juga berkembang terus.

Benih juga begitu. Pekerjaan analisis benih adalah pekerjaan simulasi, mensimulasi bagaimana viabilitasnya: apa bisa disimpan, apa masih bisa hidup setelah mengaiami kekeringan. Sangat menarik, karena bisa saya wujudkan menjadi suatu keilmuan yang bersifat analitis simulatif. Dengan demikian untuk model secara fisik saya harus menciptakan alat yang bisa mensimulasi benih. Semuanya saya beri nama IPB, dan ini merupakan suatu kebanggaan buat saya.

Bagaimana dengan matematika benih yang Anda ciptakan?

Dengan pengalaman itu, ilmu benih berkembang sehingga menjadi dialektik dalam pikiran saya. Ilmuwan gembira sekali bila menciptakan sesuatu yang dialektik, bila ada problem, dipecahkan, timbul problem baru lagi. Benih terasa sekali sebagai sebuah diaIektika buat saya, mulai dari definisinya sendiri, strukturnya, mempelajari viabilitasnya,sampai-sampai saya berpikir bagaimana bila benih dikembahkan di angkasa luar, barangkali energi yang dibutuhkan lebih sedikit dibandingkan di Bumi.

Alat pengecambah benih rancangan saya sudah disetujui NASA (badan antariksa AS) untuk dibawa dengan pesawat ulangalik.Tetapi program astronot kita dibatalkan karena biayanya terlalu mahal untuk kita. Mengenai matematika benih. Viabilitas benih bukan diukur pada suatu titik tetapi periode. (Jika digambarkan menjadi) garis, bukan titik. Karena berpikiran begitu, setelah menciptakan model fisiknya, saya berusaha menciptakan model matematikanya, karena garis adalah model matematik. Ilmunya saya namakan ilmu kuantifikasi metabolisme benih. Kuantifikasi merupakan penalaran bersifat simulatif, jadi metabolisme benih bagaimana bisa disimulasi. Saya ciptakan model simulasinya, lalu model matematiknya. Dan saya mendapat ejekan, tapi saya tek peduli-lah.

Siapa yang mengejek? .

He he… tak perlu saya katakan. Mungkin dikatakan karena saya bukan orang matematika, kok berani-beraninya menciptakan matematika benih.

Bagaimana Anda menyikapi ini?

Saya ndak apa-apa, saya teruskan dengan mengembangkan ilmu kuantifikasi metabolisme benih sebagai konsekuensi pemikiran itu. Ilmu itu kini dibukukan dan dipakai di program pascasarjana.

Jadi selama pengabdian saya saya cukup puaslah. Saya berhasil menciptakan kaderisasi, dosen ada 20 orang, ada yang doktor lulusan dalam dan luar negeri. Tetapi tantangan masih banyak dan saya berharap yang muda-muda melanjutkan terus.

Apa tantangan ke depan?

Kita makin kompetitif. Untuk kawasan Asia jangan pernah meremehkan RRC selain Jepang Singapura juga hebat dengan bioteknologinya. Mereka mengumpulkan data pertanian bioteknlogi dari seluruh dunia. Sekarang mereka mulai produksi komersial sayuran dengan teknologi aerofonik, tanaman tidak ditanam di tanah, akarnya disemprot embun berisi nutrisi dan diberi udara dingin. Bagian vegetatifnya terkena udara ruang biasa. Metode ini ditemukan Prof Lee Sing Kong, dari sebuah politeknik di Singapura.

Dalam hal benih, bila nanti kita dibanjiri benih asal bioteknologi, bagaimana?

Bila itu murah dan menguntungkan petani?

Persis

Kita jadi penonton?

Jadi seperti cagar budaya untuk pariwisata. Bagaimana lagi, bila kita hanya puas sampai situ. Jadi tantangan generasi baru sudah lain dari generasi saya, sekarang makin kompetitif dan dunia makin terbuka.

Apa yang akan Anda kerjakaan mengisi masa pensiun?

Selain masih membimbing, saya akan menyelesaikan buku tentang industri benihi dalam agribisnis. Mudah-mudahan akhir tahun bisa dicetak. Konsepsi saya adalah yang saya namakan agribisnis total. Bila ingin mangembangkan agribisnis harus menyeluruh, mulai dari produk primernya sampai pengolahan, pemasaran. Hubungan antara hulu sampai hilir pun harus benar-benar transparan, baik dalam alur, manajemen maupun keuntungan yang proporsional.

Kini petani dianggap sebagai titik penghasil produk primer, tidak tahu hasil produksinya mau diapakan apalagi keuntungannya. Bila ingin mengembangkan kedele petani harus tahu kedelenya mau diapakan. Bila dijadikan minyak kedele dengan harga tertentu, petani harus punya kekuatan tawar kedelenya berharga sekian. Secara mikro alurnya begitu, secara makro pertanian Indonesia harus dikembangkan dua arah: biokonservasi dan bioteknologi dan . Bila industri bioteknologi tidak dibegitukan, siapa nanti yang memetik keuntungan? Di mana posisi industri benih dalam agribisnis total, saya tuliskan dalam buku ini. Mudah-mudahan jadi, ambisinya besar ya…

Jadi saya menulis buku, membantu sana-sini bila diperlukan. Lho, you kalau pensiun ngeri lho. Tadi ada pegawai Fakultas Pertanian menyerahkan jumlah uang pensiun saya, mengerikan juga lho. Jadi kita harus mulai siap-siap pensiun sejak muda.

Pewawancara: Ninuk Mardiana Pambudy
—————————————-

Sjamsoe’oed Sadjad Tidak Putus Berbagi Pengetahuan

Rumah kediaman Prof Emeritus Dr Ir Sjamsoe’oed Sadjad MSc di kompleks kampus Institut Pertanian Bogor di Darmaga, Bogor, Jawa Barat, kelihatan unik. Di halaman depan tumbuh rumpun bambu yang batangnya melengkung menaungi jalan di depan rumah. Dia tidak mengubah sedikit pun bentuk rumah yang desainnya dibuat Presiden Soekarno ketika merancang kampus perguruan tinggi pertanian yang cikal bakalnya dari Universitas Indonesia itu.

Prof Sadjad (78) tinggal sendiri di sana setelah istrinya meninggal dunia tahun 2000 dan keempat anaknya (satu meninggal dalam bencana tsunami di Aceh tahun 2004) hidup mandiri. Satu cucunya yang belajar di Institut Pertanian Bogor (IPB) tinggal bersama Prof Sadjad dan sedang praktek lapang.

Seekor kucing hitam menemani keseharian ahli benih ini. Tukang kebun dua hari sekali mengurus tanaman rimbun di sekeliling halaman dan tukang masak datang untuk memasak dan membereskan rumah setiap hari.

Meskipun pionir dalam ilmu dan teknologi benih di Indonesia—dia memimpin laboratorium benih IPB mulai 1 Januari 1964—tetapi pembaca Harian Kompas mengenal Prof Sadjad melalui pikirannya yang menyentuh berbagai aspek pertanian: sosial, ekonomi, dan politik. Tulisan pertamanya di Kompas, tahun 1977, tentang peran para pengelola air.

“Saya tidak pernah berhenti menyampaikan paradigma saya. Sebagai ilmuwan saya teknolog, tetapi pikiran saya yang divergen tidak dibatasi tembok laboratorium,” kata Prof Sadjad.

Dia memilih media massa sebagai sarana menyampaikan pikirannya. Minat dan perhatiannya luas karena ketika belajar di Fakultas Pertanian Universitas Indonesia, Prof Sadjad harus menulis empat skripsi: dua skripsi mayor bidang politik pertanian dan agronomi serta dua skripsi minor di bidang usaha tani dan peternakan.

Petani sebagai industriawan
Menurut Prof Sadjad, pertanian harus dilihat sebagai proses industri karena dalam mengolah lahan, petani melakukan sistem manajemen dan memerlukan aset. yaitu tanah yang bisa hak milik atau sewa, modal, dan proses yang menghasilkan produk. Nyatanya, petani tidak pernah diajar memiliki mental industriawan. Dan dia mengakui, pada dirinya pun pemikiran itu datang belakangan.

Petani industriawan?

Petani perlu memiliki mental sebagai industriawan agar dapat meningkatkan sendiri kesejahteraannya dengan memproses hasil pertanian untuk mendapat nilai tambah.
Pertanian selalu dianggap tidak punya kredibilitas dengan alasan risikonya tinggi dan hasilnya kecil.

Kredit pertanian memang dikucurkan pemerintah, tetapi sifatnya tidak mendidik, tidak persuasif. Hasilnya, petani terus mengharapkan bantuan, subsidi, dana hibah.

Luas sawah 8 juta hektar dan bila per meter dihargai Rp 100.000, maka seluruh lahan sawah itu bernilai Rp 8.000 triliun. Kok bisa dengan aset begitu besar petani menjalani usaha taninya dengan harkat begitu rendah?

Itu karena cara berpikir dengan mengukur petani dari kepemilikan tanah, sementara sebagian besar petani hanya memiliki 0,3 hektar. Itu stigma menyengsarakan.

Mengubah cara pandang itu?

Harus ditumbuhkan kesadaran dan gerakan dari bawah. Di IPB baru ada seminar tentang bank pertanian yang dihadiri Menteri Pertanian dan Deputi Bank Indonesia. Bank pembangunan pertanian adalah cara memberi modal kepada petani. Daripada uang triliunan diberikan untuk bantuan langsung tunai (BLT), lebih baik untuk modal bank pertanian.

Jadi, petani dididik menggunakan modal untuk mengembangkan usaha. Besarnya pinjaman disesuaikan dengan tabungan dia.

Sistem industri pertanian?

Paradigma saya, ada univalensi. Maksudnya, membangun desa artinya membangun pertanian dan sebaliknya. Karena desa dan pertanian harus menyatu, maka harus menjadi desa industri. Industri di sini adalah industri alternatif, seperti makanan, garmen, tenun, batik, atau kerajinan berbasis desa.

Di sini berpikir harus dalam sistem dan subsistemnya, pemangku kepentingan di sana, yaitu perbankan, swasta, koperasi, dan perguruan tinggi.

Subsistem swasta adalah mereka yang bergerak di bidang pertanian, seperti hypermarket. Mengapa dimusuhi? Kalau petani tahu ada pasar yang mapan, maka dengan mental industrial dia akan berproduksi dengan efisiensi dan mutu tinggi, mengusahakan nilai tambah dan pembagian keuntungan tinggi. Hal seperti itu mendorong petani berpikir rasional.

Koperasi untuk mengorganisasikan petani karena dapat mengakomodasi kearifan lokal, seperti gotong royong, tenggang rasa, kepedulian.

Peran perguruan tinggi, saya mendorong pendamping profesional untuk petani, diambil dari jalur profesional, program diploma, yang sekarang mentok sampai D-3. Seharusnya sampai D-4 setingkat S-1, diteruskan ke spesialis-1 setingkat magister dan spesialis-2 setingkat doktor karena peraturan Departemen Pendidikan Nasional membolehkan.

Produk, proses, paradigma
Sebagai intelektual, Prof Sadjad merasa harus menghasilkan produk, proses, dan paradigma. Produk sudah dia hasilkan dalam pekerjaan sebagai dosen ilmu dan teknologi benih, berupa alat pengecambah benih dan menemukan kertas merang sebagai media tumbuh benih.

Dalam proses, dia menemukan peran etanol sebagai pengusang cepat untuk memprediksi daya simpan benih. Penemuan itu memberi dia gelar doktor dari IPB, sementara S-2 didapat dari Mississippi State University.

Tentang paradigma, Prof Sadjad melihat itu sebagai komitmen intelektual untuk masyarakat yang tidak dibatasi dinding laboratorium dengan menulis pemikirannya melalui media massa.

Tulisan pertama terbit di Gema Islam tahun 1964, “Kiai dan Pertanian”. Setelah itu dia menulis di berbagai media massa, yang terbanyak di Kompas. “Kalau tulisan termutakhir dimuat, jumlahnya 300 buah,” kata dia.

Dia juga sudah menghasilkan 150-an tulisan ilmiah dan 20 buku. Sudah 170 mahasiswa S-1 dia bimbing, 20 mahasiswa S-2, dan 10 mahasiswa S-3 sebagai ketua tim pembimbing. Dia meninggalkan penerus di laboratorium benih, sebagian besar berpendidikan S-3, dua bahkan sudah profesor.

Kini, waktunya diisi dengan menulis. Semua ditulis tangan sambil duduk di kursi malas ruang tengah karena kata dia, jari-jarinya tidak mau diperintah mengetik, hasilnya banyak yang salah.
Berpulangnya anak perempuan bungsu dan dua cucunya karena tsunami di Banda Aceh 2004 sangat memukul Prof Sadjad.

“Saya shock sekali. Empat tahun menata perasaan setelah istri meninggal, lalu putri dan dua cucu saya menyusul. Dia dosen Syiah Kuala, PhD matematika,” kata Prof Sadjad.

Prof Sadjad tidak mau hidupnya patah. Kesedihan dia tumpahkan dengan menulis lima buku. “Yang terakhir mengenai otobiografi saya,” kata dia.
—————————

Biodata Prof Emeritus Dr Ir Sjamsoe’oed Sadjad MSc:

Tempat/tanggal lahir: Madiun, Jawa Timur; 24 Juni 1931

Pendidikan:

– Sarjana Pertanian dari Fakultas Pertanian Universitas Indonesia (1961);

– magister ilmu dan teknologi benih di Mississippi State University (1963);

– doctor ilmu pertanian Institut Pertanian Bogor (1972); guru besar Fakultas Pertanian (Faperta) IPB (1981).

Keluarga: Istri: Retno Winarni (meninggal tahun 2000); anak: Rhiza, Mirza, Elza, dan Roza (meninggal); kakek 10 cucu (dua meninggal)

Pekerjaan:

– staf pengajar Fakultas Pertanian IPB (1957-1996);

– Dekan Fakultas Pertanian IPB (1965-1966);

– Kepala Laboratoirum Ilmu dan Teknologi Benih IPB (1964-1996);

– Guru Besar emeritus IPB (1996-sekarang).

Karya: 298 artikel populer di media massa; 170-an karya ilmiah; dan 20 buku, antara lain Dari Benih Kepada Benih (1993), Potensi Desa dalam jelajah Agropolitik (2005), dan Perjalanan Hidup di Antara Narcissism dan Inferiority Complex (2008).

Oleh: Ninuk Mardiana Pembudy

Sumber: Kompas, Kamis, 25 Juni 2009

FacebookTwitterWhatsAppLineTelegramGoogle+Share

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.