Home » Artikel, kesehatan

Dengue Masih Menjadi Tantangan Indonesia

22 June 2016 172 views No Comment

Tidak banyak yang tahu, Organisasi Kesehatan Dunia telah menetapkan tanggal 15 Juni sebagai hari peringatan dengue. Bagi Indonesia, ini jadi momentum penting karena Indonesia menempati urutan kedua untuk jumlah penderita deman dengue setelah Brasil.

Kementerian Kesehatan mencatat, jumlah penderita demam dengue di Indonesia tahun 2014 mencapai 103.347 kasus dan 907 kasus di antaranya berakhir dengan kematian.

Demam dengue atau yang dikenal sebagai demam berdarah memiliki gambaran klinis yang bervariasi. Pada sebagian besar penderita, terinfeksi virus dengue tidak menunjukkan gejala sama sekali (asimptomatik) atau dengan gejala demam ringan. Gejala perdarahan merupakan bentuk keparahan penyakit yang bisa berujung pada kematian.

Penelitian yang dilakukan Bhatt (2013), mengestimasi bahwa saat ini sekitar 390 juta orang di dunia terinfeksi dengue setiap tahunnya dan 76 persen di antaranya adalah infeksi asimptomatik. Meskipun penderita asimptomatik tidak jatuh sakit, mereka tetap dapat menjadi sumber infeksi.

Data surveilans menunjukkan bahwa meskipun kematian akibat demam berdarah dengue dapat diturunkan signifikan dari tahun ke tahun, jumlah kasus cenderung meningkat. Bahkan, kasus DBD tidak juga turun meskipun pemerintah sudah melakukan berbagai program pengendalian dengue secara intensif dan meluas dari tahun ke tahun.

Pengendalian nyamuk
Selama ini program bertumpu pada pengendalian nyamuk Aedes aegypti yang merupakan vektor demam dengue dengan strategi pemberantasan sarang nyamuk. Nyamuk Aedes aegypti berkembang biak di genangan air bersih, seperti bak mandi, sumur terbuka, bekas kaleng maupun vas bunga. Karena itu, pemerintah menggalakkan gerakan 3M plus (menguras, menutup, dan mengubur plus ikanisasi). Namun, masih ada tempat perindukan nyamuk yang sering terlupakan seperti bak penampungan air kulkas, tangki air toilet duduk, atau tempat minum burung yang luput dari perhatian dan sekaligus menjadi tantangan pendekatan berbasis vektor.

Strategi lain adalah menggunakan insektisida untuk fogging. Metode ini biasanya dilakukan pemerintah bila ada indikasi penularan demam dengue di sebuah wilayah. Ada juga penggunaan obat nyamuk semprot maupun bakar di masyarakat. Namun, metode tersebut juga mempunyai keterbatasan.

Penggunaan insektisida hanya berdampak pada nyamuk dewasa, sementara telur dan larva nyamuk yang hidup di genangan air tidak akan terpengaruh. Di samping itu, penggunaan insektisida secara bebas dan terus menerus akan membuat nyamuk resisten terhadap insektisida.

Strategi utama pengendalian penyakit menular adalah dengan memutus rantai penularan. Dalam kasus demam dengue, pemberantasan sarang nyamuk (PSN) secara sistematik dan konsisten diharapkan bisa memutus rantai penularan. PSN diharapkan mampu menurunkan bahkan menghilangkan populasi nyamuk Aedes aegypti sehingga kemungkinan terjadinya penularan semakin kecil. Namun, berbagai penelitian menunjukkan hal tersebut sulit dicapai.

Cara lain yang dapat dilakukan untuk memotong rantai penularan virus dengue adalah dengan mengimunisasi kelompok yang rentan tertular demam dengue.

Saat ini ada satu produk vaksin dengue yang sudah tersedia di pasaran, tetapi dengan beberapa keterbatasan. Pertama, efektivitas vaksin hanya 50 persen, belum memberi perlindungan secara penuh. Artinya yang sudah divaksinasi tetap berpeluang terinfeksi dengue.

Kedua, virus dengue yang beredar di masyarakat terdiri atas empat jenis virus dengue berbeda, sementara efektivitas perlindungan vaksin terhadap keempat jenis virus dengue itu tidak sama.

Ketiga, vaksin hanya efektif untuk melindungi kelompok umur tertentu saja, sehingga tidak semua orang yang rentan infeksi dengue terlindungi. Akibatnya, vaksin belum menjadi metode utama pengendalian demam dengue.

Metode inovatif
Sebuah studi inovatif pengendalian dengue sedang dilakukan tim peneliti Pusat Kedokteran Tropis, Fakultas Kedokteran UGM. Mereka tergabung dalam Eliminate Dengue Project (EDP-Yogya) dengan menggunakan bakteri Wolbachia.

Wolbachia adalah bakteri alami yang terdapat pada lebih dari 60 persen jenis serangga, seperti lalat buah, capung, dan kupu-kupu. Bakteri yang dimasukkan dalam tubuh nyamuk Aedes aegypti akan menjadi vaksin, karena mampu menghambat perkembangbiakan virus dengue dalam tubuh nyamuk. Hasilnya, nyamuk Aedes aegypti tidak lagi menularkan virus dengue. Teknologi ini dipercaya ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Wolbachia dalam tubuh nyamuk akan diteruskan kepada keturunannya sehingga bakteri ini dengan sendirinya akan menyebar di populasi nyamuk yang ada di alam tanpa harus melakukan pelepasan nyamuk secara terus-menerus.

Teknologi ini sudah mendapat rekomendasi WHO dan sedang dalam tahap uji dampak wolbachia yang disebar luas bagi penurunan kasus dengue. EDP-Yogya berencana melepas nyamuk ber-wolbachia di Kota Yogyakarta dan dilanjutkan dengan pemantauan kejadian kasus dengue. Penelitian yang didanai Yayasan Tahija ini diharapkan menjadi bukti alternatif strategi baru pengendalian dengue.

Riris Andono Ahmad, peneliti Eliminate Dengue Project Yogyakarta(EDP-YOGYA), Pusat Kedokteran Tropis, Fakultas Kedokteran UGM
—————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 22 Juni 2016, di halaman 7 dengan judul “Dengue Masih Menjadi Tantangan Indonesia”.

FacebookTwitterWhatsAppLineTelegramGoogle+Share

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.