Home / Berita / Winner Tab S3, Tablet Pendidikan dari Evercoss

Winner Tab S3, Tablet Pendidikan dari Evercoss

Evercoss boleh jadi produsen sabak elektronik lokal yang paling akhir mengumumkan kerja sama dengan Intel, perusahaan pembuat prosesor global. Hari Selasa (15/12), keduanya memperkenalkan Winner Tab S3 atau sabak elektronik yang menggunakan prosesor X3 buatan Intel.

Dijual dengan harga Rp 868.000 lewat pemesanan di situs perniagaan elektronik Mataharimall.com, Winner Tab S3 memiliki spesifikasi yang terbilang standar. Prosesor yang dipergunakan memiliki kecepatan 1 gigahertz dan dibantu oleh RAM 1 gigabit dan penyimpanan internal 8 gigabit. Sabak elektronik dengan layar ukuran 7 inci ini juga memiliki baterai berkapasitas 2.500 mAh dan sepasang kamera 3 megapiksel di belakang dan 1,3 megapiksel di depan.

Pengguna harus puas dengan konektivitas 3G mengingat sabak elektronik ini belum mampu bekerja di jaringan long term evolution yang sedang marak digarap oleh produsen lain atau ponsel dengan harga yang mendekati.

Masalahnya, spesifikasi sabak elektronik ini hampir serupa dengan produk serupa yang diluncurkan merek lokal yang juga memakai prosesor X3. Seri X7 dari Advan, misalnya, diluncurkan pada awal Agustus juga memiliki ukuran layar dan spesifikasi yang mirip, termasuk versi Android yang dipergunakan yakni 5.1. Pada pertengahan November, Mito merilis T35 Fantasy yang juga menggunakan prosesor empat inti dan berarsitektur 64 bit tersebut tetapi dengan spesifikasi yang sedikit lebih baik, yakni kamera 5 megapiksel di belakang dan 2 megapiksel di depan, serta baterai 2.600 mAh.

b0be38c389d342a290faadf133a03c13KOMPAS/DIDIT PUTRA ERLANGGA RAHARDJO–Evercoss merilis sabak elektronik hasil kolaborasi dengan Intel, produsen prosesor global, dalam bentuk produk dengan harga Rp 1 juta, Selasa (15/12). Mereka memosisikan sabak elektronik dengan seri Winner Tab S3 ini sebagai produk pendamping pendidikan.

Itulah sebabnya mereka dirugikan karena merek lain sudah terlebih dahulu mencitrakan produk mereka sebagai produk hiburan dengan harga terjangkau. Namun sebaliknya, pada saat yang sama, Evercoss memiliki kesempatan untuk mengamati strategi yang dilakukan dua merek sebelumnya dan mengeluarkan strategi sendiri agar punya perbedaan di pasar.

Menjadi sabak elektronik untuk pendidikan, itu peran yang sedang dilakoni Winner Tab S3 sambil terselip harapan agar strategi itu mampu berbuah manis.

Buku elektronik
Untuk peran itu, Evercoss tidak banyak mengubah spesifikasi dari perangkat keras, tetapi lewat pendekatan aplikasi. ECBook, sebuah layanan pengunduhan buku elektronik yang dikembangkan secara internal menjadi ujung tombak dari strategi itu.

Dirintis oleh Chief Operation Officer Evercoss, Sony Wangsa Putra, aplikasi ECBook memungkinkan pengguna untuk bisa memilih koleksi buku elektronik dan mengunduhnya. Dengan demikian, para pelajar dari sekolah dasar hingga sekolah menengah kejuruan bisa membawa hanya satu perangkat ke sekolah ketimbang memenuhi tas mereka dengan buku.

“Terhubung dengan koleksi buku elektronik dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, buku yang bisa diunduh akan senantiasa diperbarui,” ujar Chief Marketing Officer Evercoss, Ricky Tanudibrata.

Cara penggunaan aplikasi ini terbilang sederhana, begitu diaktifkan pengguna langsung menghadapi pilihan jenjang pendidikan dan kelas. Sesudah itu mereka tinggal memilih mata pelajaran dan buku langsung bisa dibaca atau diunduh jika belum tersimpan di dalam perangkat.

Menurut Ricky, jeda waktu antara peluncuran Winner Tab S3 dan produk serupa yang menggunakan prosesor X3 dimanfaatkan Evercoss untuk merumuskan strategi sebagai perangkat untuk pendidikan, termasuk menyiapkan infrastrukturnya. Dengan demikian, ada nilai tersendiri yang ditawarkan Winner Tab S3 ketimbang sekadar hanya lembar spesifikasi.

Untuk mengakali keterbatasan kapasitas penyimpanan internal, Winner Tab S3 memiliki slot kartu memori dan fitur USB on the go (OTG). Dengan fitur ini, perangkat bisa membaca isi dari media penyimpanan eksternal semacam flash disk atau hard disk eksternal.

Evercoss juga menyosialisasikan fitur Android 5.1 yang jarang dipergunakan, yakni screen pin. Fitur yang memungkinkan sebuah aplikasi selalu muncul di layar akan membuat pengguna tidak bisa beralih ke aplikasi lain ataupun ke halaman utama, kecuali memasukkan kode sandi.

“Fitur ini bisa dimanfaatkan bagi orangtua untuk memastikan bahwa anak-anak mereka tetap membaca buku elektronik dan tidak beralih ke aplikasi permainan atau lainnya secara diam- diam,” kata Dean Fauzi, Head of Product Training Evercoss.

Tidak hanya itu, fitur screen mirroring untuk memantulkan isi layar sabak elektronik ke layar lainnya, seperti televisi atau monitor, bisa dipergunakan agar anak bisa menikmati isi buku ke layar yang lebih.

Pasar lokal
Dari sudut pandang Intel, kerja sama dengan merek-merek lokal adalah langkah krusial untuk bermain di pasar sabak elektronik. Mereka berbekal data yang menyebutkan bahwa pasar sabak elektronik di Indonesia masih tumbuh 8 persen sepanjang tahun 2015, sementara perangkat keras lain, seperti komputer, kian melambat.

Tidak hanya itu, data lain mengungkapkan bahwa 61 persen sabak elektronik yang dijual dalam negeri didominasi merek lokal, seperti Mito, Advan, dan Evercoss. Dari populasi tersebut, 87 persen adalah perangkat dengan harga jual di bawah Rp 2 juta.

“Pasar itulah yang sedang diincar oleh Intel. Kami juga memberikan bantuan pemasaran untuk produk-produk itu,” ujar Harry K Nugraha, Country Manager Intel Indonesia.

Setelah meluncurkan produk dengan harga Rp 1 juta, Intel dan para mitranya masih mengevaluasi kemungkinan untuk kerja sama berikutnya pada masa mendatang. Saat ini prosesor X3 baru bisa berjalan di jaringan 3G, tetapi Intel sudah mempersiapkan masuknya varian yang memungkinkan perangkat bekerja di jaringan 4G pada 2016 dan peluncurannya pun hanya menunggu waktu.

Disinggung mengenai peluang Intel untuk menyuplai prosesor untuk ponsel pintar, seperti dilakukan kepada Asus dengan seri Zenfone mereka, Harry menuturkan, peluang itu juga terbuka lebar. Jawabannya akan diketahui pada 2016.

DIDIT PUTRA ERLANGGA RAHARDJO

Sumber: Kompas Siang | 16 Desember 2015

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

”Big Data” untuk Mitigasi Pandemi di Masa Depan

Kebijakan kesehatan berbasis “big data” menjadi masa depan pencegahan pandemi berikutnya. Melalui ”big data” juga, ...

%d blogger menyukai ini: