Home / Profil Ilmuwan / Widodo Budiharto, Kecerdasan Buatan untuk Indonesia

Widodo Budiharto, Kecerdasan Buatan untuk Indonesia

Pengukuhan Widodo Budiharto (40) sebagai guru besar atau profesor tetap bidang kecerdasan buatan di Universitas Bina Nusantara, Jakarta, pada 23 Agustus lalu, menorehkan hal baru. Dia menjadi guru besar termuda dari 12 guru besar yang dimiliki Universitas Binus.

Pencapaiannya menyandang gelar profesor dengan loncat jabatan akademik, yakni dari lektor langsung menjadi profesor, juga jarang terjadi dalam peraihan profesor di Indonesia.

Widodo yang mendalami bidang kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) melahirkan banyak karya intelektual, baik dalam bentuk prototipe robot yang mengaplikasikan AI, buku ajar, hingga publikasi penelitian. Widodo setidaknya sudah menulis 36 buku dan puluhan paper dan jurnal bereputasi, sembilan hak kekayaan intelektual di bidang AI, dan juga menjadi profesor kunjung ke luar negeri.

Atas kinerja dan dedikasi Widodo, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi menetapkan Widodo sebagai guru besar meskipun harus meloncati satu jenjang jabatan akademik lektor kepala.

Widodo dikenal sebagai sosok yang serius, tak banyak bicara, tetapi inovatif dan senang mendorong dosen dan mahasiswa untuk menghasilkan lebih banyak inovasi berbasis kecerdasan, yakni sistem berbasis komputer yang mampu menduplikasi kemampuan manusia, yaitu berpikir dan mencari sebab. Istilah kecerdasan buatan, kata Widodo, dipopulerkan pada 1958.

Membantu manusia
Idealismenya sebagai dosen dan peneliti membuat dia terus berkarya, terutama menciptakan robot humanoid yang dapat membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia. Ketika mendampingi mahasiswa dan tim dalam riset berbasis kecerdasan buatan yang diaplikasikan pada robot, Widodo mengutamakan pada kegunaan untuk kehidupan manusia.

Dari riset Widodo dan tim lahirlah sejumlah prototipe robot humanoid yang dapat membantu di bidang pendidikan, seperti belajar berhitung, bernyanyi, dan mendongeng. Uniknya, prototipe robot yang mengimplementasikan kecerdasan buatan itu berbahasa Indonesia yang baik dan benar.

Tak hanya untuk pendidikan, implementasi kecerdasan buatan juga diaplikasikan untuk mencari solusi bagi penyandang disabilitas. Karya yang dihasilkan antara lain kursi roda berbasis pikiran. Kursi roda ini dapat digerakkan dengan sinyal otak sesuai dengan apa yang dipikirkan pengguna.

Ketergantungan penyandang disabilitas pada bantuan orang lain untuk mendorong kursi roda bakal teratasi. Selain itu, ada pula lengan robot untuk mereka yang tidak punya lengan dengan sinyal sensor otot.

Widodo juga senang pada riset mahasiswa yang menghasilkan robot rapiro. Robot ini diyakini sangat tepat dijadikan prototipe robot humanoid karena bisa diprogram untuk menjadi robot masa depan. Robot ini sudah mampu mengenal ucapan dalam bahasa Indonesia dan mengenal arti suatu kalimat.

“Buat kita manusia, memahami suatu kalimat mudah, tapi untuk robot sulit. Dengan memakai natural language processing, robot jadi bisa cerdas dan mengerti maksud ucapan kita,” ujar Widodo.

Hidup dengan robot, kata Widodo, bukan lagi hal yang asing, di masa-masa mendatang, termasuk di Indonesia. “Waktunya sudah makin dekat. Indonesia sudah mulai mampu menerapkan kecerdasan buatan,” katanya.

Ke depan, ujar Widodo, kecerdasan buatan yang dapat membaca pikiran manusia akan semakin berkembang. Sistem kecerdasan buatan dapat diprogram dan dilatih untuk menangkap sinyal yang berbeda dari pikiran manusia. Hanya dengan pikiran, manusia, misalnya, dapat memindahkan barang, mematikan lampu, dan sebagainya.

“Dengan riset yang fokus dan tahu mau diarahkan ke mana, kami bisa menghasilkan sejumlah produk berbasis kecerdasan buatan. Riset yang dilakukan ini harapannya dapat dikembangkan lebih lanjut dalam skala industri,” kata Widodo.

Sadarkan masyarakat
Widodo menyampaikan, masyarakat perlu disadarkan tentang kehadiran teknologi robotika yang akan segera memasuki Indonesia disertai dengan dampaknya. Di Jepang, misalnya, restoran sudah dilayani robot. Ada dampak nanti pada pengurangan tenaga kerja. “Kita harus siap dengan tren teknologi masa depan. Kita akan hidup berdampingan dengan sistem kecerdasan buatan,” katanya.

Pencapaian Widodo menjadi profesor kecerdasan buatan dalam usia yang terbilang muda dan lompat jabatan akademik ini merupakan buah dari kerja keras dan komitmennya. Sejak lulus kuliah, dia bekerja di bidang teknik informatika sebagai trainer, lalu sebagai dosen. Setelah lulus S-2 pada 2002, dia menjadi dosen di Universitas Binus.

“Menjadi pendidik memang passion saya karena bisa berbagi ilmu pengetahuan,” ucap Widodo yang menyebut dapat titisan dari ayahnya yang seorang widyaiswara atau pelatih pendidik.

Widodo menuturkan, ayahnya senantiasa mendorong dirinya menjadi yang terbaik. Karena itu, saat jadi dosen, ia begitu rajin menghasilkan publikasi internasional dari hasil riset yang didanai Pemerintah Indonesia ataupun dari luar negeri. “Jadi terbaik di publikasi itu tidak mudah, tapi mungkin saya beruntung ada bakat dan senang menulis. Ketika sudah berhasil meraih hibah penelitian, untuk dapat hibah lain mudah,” katanya.

Widodo yang memimpin Lab Robotics dan Intelligent Systems School of Computer Science di Universitas Binus, menargetkan pada 2025 mampu membawa laboratorium ini ternama di dunia dan menghasilkan riset yang berguna tinggi pada manusia. Untuk meraih mimpi itu, pelatihan workshop harus terus digelar.

“Lihat era ke depan, semua kecerdasan buatan dan peluang untuk menghasilkan inovasi. Semua produk mulai disisipi kecerdasan buatan. Kita harus bisa mengembangkan inovasi,” kata Widodo.

Widodo bertekad terus mengembangkan riset lintas jurusan untuk menghasilkan inovasi robot humanoid yang berbasiskan kecerdasan buatan. Dia juga menekankan bahwa esensi penelitian tidak hanya mengejar publikasi, tetapi untuk menghadirkan solusi kehidupan bagi manusia dan bangsa.–ESTER LINCE NAPITUPULU

KOMPAS/ESTER LINCE NAPITUPULU

WIDODO BUDIHARTO

Lahir:
Tanjung Pinang, 27 April 1977

Anak:
4 orang

Pendidikan:
S-1 Jurusan Fisika Universitas Indonesia (lulus 2000)
S-2 Jurusan Teknik Informatika STT Benarif, Jakarta (lulus 2003)
PhD Sandwich Kumamoto University, Jepang, Bidang Robotik (2011)
Doktoral ITS Surabaya Bidang Teknik Elektro (2012)
Postdoc di Universitas Hosei, Jepang, Jurusan Robotik dan Kecerdasan Buatan (2016)

Jabatan akademik/kegiatan:
Guru Besar Bidang Kecerdasan Buatan School of Computer Science Universitas Binus
Visiting Professorship:
Dari Erasmus Mundus di Universitas Lorraine, Perancis (2017)
Dari Japan grant di Universitas Hosei, Jepang (2016)
Dari Erasmus Mundus Scholar di Universite de Bourgogne, Perancis (2008)

——–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 27 September 2017, di halaman 16 dengan judul “Kecerdasan Buatan untuk Indonesia”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: