Waspadai Serangan Leptospirosis di Musim Hujan

- Editor

Kamis, 3 Maret 2016

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Masyarakat diimbau untuk mewaspadai infeksi penyakit leptospirosis menyusul frekuensi hujan yang semakin sering di beberapa daerah di Indonesia. Meskipun hujan tidak selalu menyebabkan banjir, kewaspadaan terhadap leptospirosis harus tetap tinggi karena bakteri Leptospira dari urine hewan yang terkena leptospirosis bisa ada dalam genangan air.

Hal itu disampaikan konsultan penyakit tropis dan infeksi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Erni Juwita Nelwan, Rabu (2/3), di Jakarta. Erni mengatakan, pemahaman masyarakat selama ini bahwa leptospirosis banyak muncul ketika banjir perlu diluruskan. Bakteri Leptospira bisa ada pada genangan air, tidak selalu saat banjir.

Air kencing hewan yang terinfeksi bakteri Leptospira, seperti hewan pengerat, bisa terdapat pada genangan air.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Jika di kaki kita ada luka dan menginjak genangan air itu, Leptospira bisa masuk ke tubuh melalui luka tersebut,” ujarnya.

Leptospirosis, lanjut Erni, sangat infeksius. Gejalanya demam, kemerahan pada mata (konjungtiva), kuning, otot-otot sakit, dan pegal linu. “Kalau terlambat ditangani, diagnosis dan pengobatannya menjadi sulit karena semua organ bisa terserang,” tuturnya.

Leptospirosis adalah penyakit bersumber dari binatang (zoonosis) yang bersifat akut. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Leptospira dengan spektrum penyakit yang luas dan dapat menyebabkan kematian. Tidak hanya menginfeksi manusia, bakteri Leptospira juga menginfeksi hewan yang menyebarkannya.

Bakteri memasuki tubuh melalui luka di kulit, melalui mulut, hidung, atau mata. Bakteri Leptospira bisa bertahan di air atau tanah berbulan-bulan. Tidak hanya pengerat seperti tikus, ada banyak jenis hewan liar dan peliharaan yang bisa membawa bakteri Leptospira seperti babi, kuda, anjing, dan sapi.

Data Kementerian Kesehatan tahun 2014 menunjukkan, terdapat 519 kasus leptospirosis dengan jumlah kematian 61 jiwa yang tersebar di enam provinsi, yakni DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, DI Yogyakarta, dan Banten.

Direktur Pencegahan Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kementerian Kesehatan Vensya Sitohang mengatakan, tidak hanya leptospirosis, pada musim hujan masyarakat juga perlu waspada terhadap demam berdarah dengue (DBD) dari gigitan nyamuk Aedes aegypti dan diare akibat kecoak atau lalat. (ADH)
————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 3 Maret 2016, di halaman 14 dengan judul “Waspadai Serangan Leptospirosis”.

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi
Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?
Bilangan Imajiner, “Angka Khayalan” yang Menggerakkan Dunia Modern
Sains atau Siasat: Menakar Marwah Jajak Pendapat di Indonesia
Harta Karun Tersembunyi di Balik Hangatnya Perairan Tawar Nusantara
Menjadi Ilmuwan Politik di Era Digital. Lebih dari Sekadar Hafalan Tata Negara
Saksi Bisu di Balik Lensa. Otopsi Bioteknologi Purba dalam Perburuan Minyak Bumi
Drama Jutaan Tahun di Balik Tangki BBM Anda: Saat Lempeng Bumi Menulis Peta Kekayaan Indonesia
Berita ini 2 kali dibaca

Informasi terkait

Senin, 20 April 2026 - 07:37 WIB

Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi

Minggu, 19 April 2026 - 08:06 WIB

Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?

Sabtu, 18 April 2026 - 20:45 WIB

Bilangan Imajiner, “Angka Khayalan” yang Menggerakkan Dunia Modern

Sabtu, 11 April 2026 - 18:47 WIB

Sains atau Siasat: Menakar Marwah Jajak Pendapat di Indonesia

Sabtu, 11 April 2026 - 17:49 WIB

Harta Karun Tersembunyi di Balik Hangatnya Perairan Tawar Nusantara

Berita Terbaru