Home / Berita / Waspadai Geliat Cincin Api Pasifik

Waspadai Geliat Cincin Api Pasifik

Ilmuwan Amerika Serikat memprediksi jumlah gempa besar akan meningkat tahun 2018, menyusul perlambatan rotasi Bumi. Prediksi yang didasari data statistik 100 tahun ini memicu kontroversi. Jalan terbaik adalah memperkuat mitigasi.

Tahun 2018 baru memasuki bulan kedua, tetapi serangkaian gempa bumi kuat melanda negara-negara di tepian Cincin Api Pasifik. Pada Rabu (7/2), gempa dangkal berkekuatan M 6,4 mengguncang Taiwan, menewaskan sedikitnya empat orang dan puluhan lainnya hilang.

Sebelumnya pada Rabu (24/1), gempa berkekuatan M 6,1 mengguncang Lebak, Banten, hingga Jakarta dan merusak ribuan rumah. Di utara Samudra Pasifik, gempa berkekuatan M 7,9 terjadi di Alaska pada Selasa (23/1), memicu peringatan tsunami.

Serangkaian kejadian ini mengingatkan pada prediksi ilmuwan Amerika Serikat, Roger Bilham dari Universitas Colorado dan Rebecca Bendick dari Universitas Montana, baru-baru ini. Dalam pertemuan tahunan Geological Society of America akhir Oktober 2017, Bilham dan Bendick menyampaikan prediksi mereka tentang akan melonjaknya gempa besar tahun 2018. Hasil riset mereka dipublikasikan di Geophysical Research Letters pada Agustus sebelumnya.

Dalam studinya, Bilham dan Bendick menyebut, data statistik sejak 1900 menunjukkan kaitan gempa-gempa besar dengan perlambatan rotasi Bumi setelah memasuki periode 5-6 tahun. Siklus ini terjadi tiap 32 tahun sekali. Tahun 2018 adalah awal terjadi siklus meningkatnya gempa besar itu.

Jika pada tahun-tahun biasanya gempa-gempa besar terjadi rata-rata 15 kali setahun, dalam siklus 32 tahunan terjadi rata-rata 25-30 gempa besar dalam setahun. Dua peneliti ini lalu mencari anomali ini dan menyimpulkan, peningkatan aktivitas gempa itu terjadi setelah sekitar rotasi Bumi melambat milidetik dalam sehari.

Sekalipun data-data statistik menunjukkan ada siklus gempa-gempa besar, kaitannya dengan perlambatan rotasi Bumi masih jadi perdebatan sengit karena secara empiris sulit dibuktikan. Geolog dari Universitas Southern California, James Dolan, dalam sciencemag.org skeptis dengan prediksi ini.

Gempa besar
Meski demikian, sebagai ilmuwan, dia mengajak untuk menguji hipotesis ini. ”Jika teori ini benar, maka memasuki tahun 2018, akan terjadi penambahan jumlah gempa besar secara signifikan. Jika terbukti, ini lompatan besar dalam prediksi gempa bumi,” ujarnya.

Salah satu tempat paling mudah untuk melihat lonjakan gempa bumi ini adalah zona Cincin Api Pasifik yang selama ini jadi tempat terjadinya sekitar 90 persen gempa di Bumi, 81 persen di antaranya gempa terkuat dan merusak, memiliki risiko tertinggi. Ring of Fire atau Cincin Api Pasifik merupakan pertemuan lempeng Samudra Pasifik yang menyusup ke sejumlah lempeng daratan.

Jalur itu membentang 40.000 kilometer mulai dari pantai barat Amerika Selatan, berlanjut ke Amerika Utara, melingkar ke Kanada, Semenanjung Kamchatka, Rusia, membuat simpul di Indonesia, lalu ke Selandia Baru, dan kepulauan di Pasifik Selatan. Selain menjadi zona terbanyak terjadi gempa bumi, di jalur ini muncul gunung-gunung api teraktif di dunia, 127 gunung di antaranya berada di Indonesia.

Spekulasi tentang kenaikan aktivitas Cincin Api Pasifik diramaikan cuitan Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa Bidang Pengurangan Risiko Bencana (UNISDR) di Twitter resmi mereka pada 23 Januari 2018. Padahal, saat itu gempa Taiwan belum terjadi.

Disebutkan, selain gempa bumi, aktivitas vulkanik menggeliat di Cincin Api Pasifik. Gunung Agung di Bali erupsi, mengikuti letusan Sinabung di Sumatera Utara tak kunjung reda. Di Filipina, letusan Gunung Mayon memicu gelombang pengungsi. Sementara di Jepang, erupsi Gunung Kusatsu-Shirane memicu longsor dan menewaskan satu orang.

Mitigasi gempa
Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Daryono mengatakan, berdasarkan data aktivitas gempa bumi hasil pemantauan BMKG di zona Cincin Api Pasifik pada 2013-2017 untuk gempa berkekuatan di atas M 6,5 menunjukkan pola fluktuatif. Pada 2013-2017, di seputar Samudra Pasifik terjadi gempa di atas M 6,5 sebanyak 150 kali, dengan rincian pada 2013 (32 kali), 2014 (27 kali), 2015 (30 kali), 2016 (31 kali), dan 2017 (30 kali).

”Jika kita melihat distribusi data itu, siklus gempa di Cincin Api Pasifik fluktuatif dan tidak ada peningkatan signifikan selama periode satu atau dua tahun terakhir,” kata Daryono.

Namun, seperti diprediksi Bilham dan Bendick, lonjakan gempa besar baru akan dimulai tahun ini. ”Saya skeptis dengan hipotesis bahwa perlambatan rotasi Bumi akan memicu peningkatan jumlah gempa, tetapi tak sepenuhnya menolak,” kata Daryono.

Upaya untuk memprediksi gempa bumi sebenarnya kerap dilakukan. Bahkan, BMKG mengembangkan sistem prediksi gempa dengan membangun sejumlah stasiun pengamatan prekursor (tanda awal) gempa.

Sistem dibangun dengan mengamati anomali atau perubahan gelombang magnet Bumi dan perubahan sebaran gas radioaktif radon. Sensor magnet bumi dipasang di Gunungsitoli (Sumatera Utara), Liwa (Lampung), dan Tangerang (Banten). Sementara sensor radon dibangun di Yogyakarta dan Palabuhanratu, Jawa Barat.

Sejauh ini, menurut pemantauan BMKG dari sejumlah stasiun prekursor, keakuratannya 80 persen dengan rentang waktu muncul pertanda awal dan gempa 4-25 hari. Hal terbaru adalah stasiun pengamatan perubahan magnetik bumi BMKG memprediksi gempa Lebak sejak 18 Januari dan ternyata kejadian gempa pada 23 Januari. Namun, mereka belum berani mengumumkan karena tahapnya masih untuk riset.

Daripada larut dalam kontroversi prediksi ini, Daryono mengajak untuk lebih fokus dalam upaya mitigasi gempa. Sebagaimana diketahui, gempa bumi tidak pernah membunuh. Namun, bangunan tidak sesuai standar aman gempalah yang mematikan. (AHMAD ARIF)

Sumber: Kompas, 8 Februari 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Covid-19 Menurunkan Emisi Karbon Global

Pandemi Covid-19 telah memangkas lebih dari delapan persen emisi karbon global, Berkurangnya emisi ini terjadi ...

%d blogger menyukai ini: