Home / Berita / Warga Balikpapan Mulai Beradaptasi

Warga Balikpapan Mulai Beradaptasi

Warga Balikpapan, Kalimantan Timur mulai beradaptasi dengan kebiasaan baru, yaitu tidak mendapat kantong plastik saat berbelanja di supermarket dan minimarket. Persentase pembeli yang membawa kantong sendiri berkisar 20-60 persen.

Direktur Maxi Swalayan Balikpapan, Soeny Yoewono, Jumat (6/7/2018), mengestimasi 60 persen dari pembeli sudah membawa tas atau kantong. Maxi Swalayan termasuk peritel lokal besar karena memiliki 12 outlet (toko) yang tersebar di seluruh Kota Balikpapan.

Pencapaian 60 persen ini, kata Soeny, cukup mengagetkan. Dia tidak menyangka pencapaiannya bakal setinggi itu dalam kurun waktu empat hari pelaksaaan larangan penggunana kantong plastik. “Enggak menyangka warga Balikpapan melek aturan dan melek lingkungan. Belum tentu kota lain bisa,” ujarnya.

Hal yang menggembirakan lagi, belum ada keluhan pelanggan. Kondisi ini berbeda jauh dibandingkan ketika Balikpapan-bersama 21 kota lain-menerapkan uji coba kantong plastik berbayar tahun 2016. Waktu itu, satu lembar kantong dipatok Rp 200.

Kota Balikpapan, Kalimantan Timur menerapkan larangan penggunaan kantong plastik di pusat perbelanjaan modern seperti minimarket dan supermarket, mulai Selasa (3/7/2018). Pembeli disediakan kardus gratis, seperti di Maxi Swalayan, Jalan Soekarno-Hatta Km 5 Balikpapan. Maxi tidak menyediakan kantong plastik sejak 2 Juli 2018

“Saat itu, banyak pelanggan protes karena toko lain masih menggratiskan kantong plastik. Sekarang, ketika kantong plastik dilarang, enggak ada yang komplain. Namun memang kami sekarang mesti menyiapkan banyak kardus bekas. Enggak menghitung jumlahnya,” ujar Soeny.

Sementara di Ramayana Dept Store dan Robinson Supermarket atau Ramayana Rapak Balikpapan, persentase pembeli yang membawa kantong belanjaan baru sekitar 20 persen. Artinya, hanya satu dari lima pembeli yang membawa kantong atau tas sendiri.

Asisten Manajer Ramayana Rapak, M Octavian, mengatakan, mengubah kebiasaan berbelanja bukan perkara mudah. Pembeli telanjur terbiasa mendapat kantong plastik gratis.

Meski pengumuman telah dipasang jauh hari sebelumnya, tetap saja sebagian pembeli mempertanyakan ketika tidak mendapatkan kantong plastik untuk wadah belanjaan mereka. Pembeli juga membandingkan dengan toko-toko di lantai bawah-yang adalah pasar tradisional-yang tidak menerapkan aturan larangan penggunaan kantong plastik.

Octavian menyebut, ini cukup rumit karena di sisi lain pula, mayoritas pembeli datang naik motor. Karena itulah, pihaknya pun menyediakan kardus jika barang belanjaan pembeli jumlahnya banyak.

Kantong ramah lingkungan
Ramayana Rapak juga menyediakan kantong ramah lingkungan yang bisa dibeli. Kantong-kantong itu buatan usaha kecil menengah (UKM). Namun jumlahnya terbatas. Jumat kemarin, Ramayana Rapak hanya dipasok lima lusin, dan langsung habis dalam sehari. Sementara, Maxi Swalayan, masih menunggu proses produksi kantong ramah lingkungannya selesai.

Abdi (43) warga Batu Ampar, Balikpapan, berpendapat larangan kantong plastik ini bagus meski sebenarnya terlambat. “Tapi ya daripada tidak sama sekali. Plastik dipakai karena murah dan praktis, tapi tak ramah lingkungan,” ujarnya. Abdi pun mengaku cukup susah membiasakan diri membawa kantong jika berbelanja.

Larangan penggunaan kantong plastik ini tercantum dalam Peraturan Wali Kota Balikpapan Nomor 8 tahun 2018 tentang Pengurangan Penggunaan Kantong Plastik yang dikeluarkan pada April lalu. Untuk sementara, aturan ini hanya berlaku pada peritel lokal dan modern yang memiliki minimarket dan supermarket.

Wali Kota Balikpapan Rizal Effendi mengatakan, sampah plastik adalah persoalan bersama. Aturan ini bisa mengurangi volume kantong sampah plastik dari peritel modern dan lokal di Balikpapan yang saat ini 4,32 juta lembar (berbagai ukuran), atau 29-43 ton, per bulan.–LUKAS ADI PRASETYA

Sumber: Kompas, 7 Juli 2018
————-
Kampanye Pengurangan Penggunaan Plastik Harus Terus Dilakukan

KOMPAS/HERU SRI KUMORO–Sampah yang didominasi botol minum plastik mengambang di Pelabuhan Perikanan Samudera Nizam Zachman, Jakarta, Selasa (12/6/2018). Keberadaan sampah selain mencemari lingkungan juga mengangggu pemandangan dan memunculkan bau tidak sedap.

PARIS, KOMPAS – Indonesia harus serius dan terus melakukan kampanye pengurangan penggunaan plastik jika ingin menjaga kelestarian alam. Saat ini jumlah sampah plastik yang diproduksi Indonesia nomor dua terbesar di dunia setelah China, dan pengelolaan terhadap limbah plastik itu masih sangat buruk.

“Laut kita sekarang sudah penuh dengan sampah. Saya berperahu hingga 3-4 mil masih menemukan sampah. Saya juga mendapat laporan kalau sudah ada ikan paus yang mati karena makan plastik,” kata Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti di sela-sela acara piknik bersama Director Ocean UN Environment Lisa Svensson di taman Avenue de Save, 7th, Paris, Kamis (5/7/2018).

Laut kita sekarang sudah penuh dengan sampah. Saya berperahu hingga 3-4 mil masih menemukan sampah.

Dia mengatakan, selama ini upaya mengurangi dan mengelola sampah plastik belum menunjukkan hasil yang nyata. Sampah masih terus menumpuk di dasar lautan dan membuat ikan juga mati. “Saat ini pemerintah ingin meningkatkan devisa dari laut, baik dari perikanan maupun dari pariwisata bahari. Jika lautnya isinya hanya sampah saja, apa yang akan dihasilkan,” ujar Susi.

Dia mengakui, masyarakat di dunia terutama di negara-negara berkembang juga mempunyai masalah yang sama terhadap sampah plastik. Namun mereka terus mencari jalan pemecahannya dan menerapkannya. “Banyak negara yang dengan mengelola sampah, justru bisa mendapatkan manfaat keekonomian yang menyejahterakan,” kata Susi.

Svensson mengatakan, masyarakat di Kenya telah membuat beragam kerajinan tangan untuk menggantikan penggunaan plastik. “Misalnya tas belanja yang besar ini dibuat dari kulit tumbuhan yang dilakukan oleh masyarakat desa. Mereka mendapatkan manfaat ekonomi karena tas kerajinan tangan ini benar-benar dipakai,” kata Svensson.

Masyarakat di Kenya telah membuat beragam kerajinan tangan untuk menggantikan penggunaan plastik.

Dia berharap, upaya yang dilakukan masyarakat Kenya ini bisa diduplikasi oleh masyarakat lain di seluruh dunia sebagai gerakan bersama mengurangi sampah plastik. “Kampanye pengurangan penggunaan plastik ini harus terus didorong dan menjadi gerakan massal untuk menjaga kelestarian alam,” kata Svensson.

Bom potas
Pada kesempatan tersebut, Susi mengatakan, yang menjadi ancaman laut di Indonesia tidak hanya plastik, tetapi juga bom potas. “Masih banyak nelayan kita yang menangkap ikan dengan bom potas. Penggunaan bom itu tidak hanya ikannya yang mati, tetapi terumbu karang juga mati. Padahal terumbu karang itu merupakan rumah ikan, tempat ikan dan hewan laut lainnya berkembang biak. Dengan hilang atau matinya terumbu karang, maka ekologi laut juga mati,” ujar Susi.

Saat ini laju kerusakan terumbu karang di Indonesia sangat tinggi, yakni mencapai 75 persen. Kenaikan tertinggi terjadi di wilayah Indonesia Timur, karena memang wilayah itu masih banyak terumbu karangnya.

Masih banyak nelayan kita yang menangkap ikan dengan bom potas. Setiap minggu ada 50 ton potas diselundupkan dari Malaysia.

Dia menjelaskan, walaupun pemerintah sudah melarang penggunaan bom untuk menangkap ikan, namun praktik di lapangan masih terus ada. Bahkan Susi mengatakan mendapat laporan, setiap minggu ada 50 ton potas diselundupkan dari Malaysia.

“Seluruh pihak, antarlembaga, harus mau bekerja sama untuk menjaga laut kita. Jika kita ingin mendapatkan devisa dari laut, maka laut harus dijaga,” tegas Susi.

Dia mengatakan, jika di negara-negara maju pembahasan mengenai penyebab kerusakan terumbu karang karena penggunaan losion tabir surya yang tinggi SPF-nya, sementara Indonesia masih bicara soal bom potas.

(M Clara Wresti dari Perancis)–

Sumber: Kompas, 7 Juli 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

%d blogger menyukai ini: