Home / Sosok / Wahjudi Prakarsa PhD; Profesor Pertama Akuntansi Manajemen

Wahjudi Prakarsa PhD; Profesor Pertama Akuntansi Manajemen

Banyak di antara teman sejawat, khususnya Ikatan Alumni Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (ILUNI-FE UI) Angkatan ’60 tidak menduga kalau kawannya yang ”ugal-ugalan” dan jarang kuliah dikukuhkan sebagai guru besar. ”Membayangkan menjadi tenaga pengajar FEUI pun tidak pernah terlintas sebelumnya, apalagi menjadi guru besar,” ujar Wahjudi Prakarsa PhD (58 tahun) tatkala mengakhiri pidato pengukuhannya menjadi guru besar pertama UI di bidang ilmu akuntansi manajemen, di Jakarta, Rabu (18/12). Dia juga tak henti terheran-heran terhadap dirinya sendiri.

Dari sekadar ”iseng” melamar sebagai asisten dosen tahun 1964, Wahjudi mengaku sudah kenyang menikmati berbagai macam pendidikan akademis di berbagai universitas baik, dalam maupun luar negeri. Di antaranya, sarjana ekonomi UI (1968), Economic Institute, Universitas Colorado (1972), pendidikan MBA di Universitas Winconsin Oshkosh (1974), dan akhirnya meraih gelar PhD Akuntansi di Universitas Missouri Colombia (1980). Meski demikian bagi dia, pengalaman hidup tetap merupakan wahana pendidikan yang paling berharga.

Semua ilmu pengetahuan hanyalah ”alat” atau pisau ”analisis” untuk membedah realitas kehidupan agar kehidupan ini semakin membahagiakan dirinya dan selanjutnya untuk orang lain. Karena itu, ketika harus tampil menyampaikan orasi ilmiahnya di depan Senat UI yang dipimpin oleh Prof Dr Soesmaliah Soewondo dan Prof Dr Dorodjatun Kuntjoro-Jakti, Wahjudi tidak mau membahas ilmu akuntansi. Dia malah berbicara masalah ”waktu dan peluang” yang sedikit bernuansa politis –karena mendesak agar dilakukan reformasi system of governance dari organisasi makro (pemerintahan) sampai ke tingkat mikro (swasta).

BERMULA dari kegusarannya tatkala kehilangan kesabaran berada di tengah-tengah kemacetan lalu lintas akibat pembangunan jalan yang amburadul ditambah lagi dengan ketidakdisiplinan para pengemudi, Wahjudi merasa sedih karena banyaknya waktu dan peluang yang terbuang akibat kemacetan itu. Kemudian dia ingat, banyak pemborosan ”waktu dan peluang” terjadi dalam mengurus surat-surat izin dari pemerintah seperti SIM, paspor, sertifikat tanah, izin usaha, dan sebagainya. Mereka terjepit dalam antrean panjang dari loket ke loket dan dari meja ke meja yang masing-masing dihuni
oleh pejabat yang bersikap ”kalau bisa dipersulit kenapa dipermudah”.

Bahkan, akhir-akhir ini muncul loket tambahan di bandara untuk membayar airport tax, konon karena perusahaan penerbangan tidak mau setor ke pengelola bandara. Ceritera lainnya tentang aktivitas percaloan/centeng/pemungut pajak tidak resmi di mana-mana. Itu hanyalah beberapa dan ribuan contoh kasus yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari dalam perekonomian di Indonesia baik di sektor jasa maupun komoditas.

”Dari akal sehat kesemuanya merupakan proliferasi aktivitas yang tidak menciptakan nilai tambah atau bahkan sering menciptakan nilai kurang. Ini sudah sangat kritis di Indonesia. Berbagai anomali yang tidak dapat dikendalikan oleh sektor mikro seharusnya dapat dikendalikan dari sektor makro, masih merupakan salah satu bottle-neck yang selama ini menghambat pembangunan nasional,” ujar Wahjudi.

Maka pemilihan pokok bahasan orasi ilmiahnya yang diberi judul ”Transformasi Sistem Organisasi dan Manajemen Dalam Pembangunan: Reorientasi Pada Waktu dan Peluang”. Pengamatan terhadap berbagai program transformasi organisasi dan manajemen, baik pada sektor makro dan mikro yang berlangsung dewasa ini esensinya memang diarahkan pada masalah waktu dan peluang yang kurang mendapat perhatian semestinya di masa lalu.

Obsesi pada asumsi usang yang melegitimasikan cara kerja birokratik-mekanistik-otokratik-konfrontatif-sekuistik yang sarat dengan tata krama, menutup mata manajemen atas kelangkaan waktu yang merupakan satu-satunya sumber daya yang tidak mungkin diganti kembali. Kecenderungan mengulur-ulur proses penyelesaian suatu urusan melalui serangkaian aktivitas yang tidak menciptakan nilai tambah atau bahkan menciptakan nilai kurang telah menciptakan ekonomi biaya tinggi (high cost economy).

Menurut dia, biaya waktu dan peluang tergantung pada kemakmuran dan juga pada lingkungan usaha. Sebagai contoh, tukang ojek harus antre SIM tiga hari, maka kerugian yang ditanggung ialah sebesar pendapatan selama sehari dikalikan lama waktu pengurusan. Misal pendapatan Rp 10.000 per hari kerugian mencapai Rp 30.000. Bila itu dialami pengusaha besar, Tanri Abeng atau Liem Swie Liong, maka harga SIM itu menjadi sangat mahal, bisa mencapai Rp 1 milyar.

Dia juga heran, di negara-negara lain sedang getol-getolnya dilakukan automatic teller machine (ATM), tetapi di bandara ditambah dua meja lagi untuk memungut pajak. Ini terpaksa dilakukan karena ”gotong royong” tidak berjalan. Yang ada ”gotong bohong”, karena perusahaah penerbangan tidak mau setor hasil airport tax-nya kepada pemerintah. Contoh ini ada di mana-mana. Karena itu, menurut Ketua Program Studi Manajemen Pasca Sarjana UI ini, tanpa transformasi atau bahkan reformasi institusional, terutama dalam mekanisme system of governance yang meliputi institusi pasar dan institusi hirarki administratif di tingkat mikro dan makro, sulit bagi Indonesia unggul dalam persaingan globalisasi abad 21.

20160927_064643wDALAM kariernya, yang pantas dicatat antara lain keberhasilannya membangun lembaga program studi magister manajemen UI. Lembaga ini muncul dengan alasan program Master in Business Administration (MBA) swasta menjamur di mana-mana sekitar tahun 1986 tanpa dilandasi mutu yang bisa dapat dipertanggungjawabkan.

Setelah melalui berbagai persiapan yang panjang akhirnya tanggal 17 Maret 1988 Dirjen Dikti Pror Dr Sukadji Ranuwihardja menugaskan FE UI dan FE UGM untuk menyelenggarakan program studi MM. Program khusus ini menyelenggarakan program profesional bagi para pribadi manajer. Program ini sekaligus merupakan proyek percobaan bagi upaya memobilisasi dana masyarakat bagi perkembangan pendidikan tinggi. Artinya, program ini diperbolehkan memungut SPP lebih tinggi dari program pasca sarj ana lainnya.

Sebagai Direktur Program Studi MM-UI, Wahjudi mengaku hanya diberi modal dari pemerintah Rp 10 juta, sedang kekurangannya harus dicari sendiri. Dari pengalamannya melihat bantuan swasta terhadap program pendidikan serupa di Perancis, di antaranya nama pengusaha Indonesia William Soeryadjaja, maka Wahjudi ingin menerapkan cara seperti itu di Indonesia.

Akhirnya terkumpullah puluhan pengusaha yang bersedia menyumbangkan dana, sampai sekitar Rp 3 milyar. Dengan dana itu, Program Studi MM-UI dapat berjalan. Nama-nama perusahaan yang telah memberikan sumbangan tersebut diabadikan sebagai nama ruangan di dalam kampus lembaga MM-UI ini. Sampai saat ini telah lebih dari 1.000 lulusan dihasilkan.

Ayah tiga anak laki-laki dari hasil perkawinannya dengan Dra Clara Shinta Muliani Sidharta itu akhirnya semakin yakin dengan profesi yang dijalaninya. Bagi dia, dalam era revolusi informasi yang mulai berkembang akhir abad ke-20 ini, program studi manajemen sebagai program profesional pribadi manajer semakin dibutuhkan. Inti pendidikan ini menekankan kepada kemampuan berkomunikasi dan hubungan interpersonal.

Dari pengamatannya, inilah kelemahan pendidikan di Indonesia yang kurang menekankan kepada pendidikan humaniora, belajar melakukan apresiasi musik dan seni, bagaimana caranya membuat pidato dan laporan yang baik, dan seterusnya.

Dia yakin, bila dibanding dengan tenaga-tenaga asing dari segi ilmu pengetahuan tenaga kerja Indonesia tidak kalah. Keunggulan mereka terletak pada kemampuannya dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain. Pendidikan manajemen merupakan salah satu medium mengejar ketertinggalan tersebut. (Yosef Umarhadi)

Sumber: Kompas, Senin, 30 Desember 1996

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Bambang Yuwono dan Hary Sudiyono Candra, Pembelajaran Digital untuk Siswa Sekolah

Bambang dan Hary, pendiri PesonaEdu, membuat buku digital interaktif untuk membantu siswa dan guru dalam ...

%d blogger menyukai ini: