Home / Berita / Wadahi Ekosistem Menuju Digital Hub

Wadahi Ekosistem Menuju Digital Hub

Tak sekadar membangun gedung bertingkat. Selesai membangun lengkap dengan berbagai fasilitasnya, lalu lelah menunggu para penyewa datang menempati ruang-ruang kosong. Mewadahi terlebih dahulu komunitas berbasis digital jauh lebih menjanjikan untuk kemudian mendorong okupansi ruang-ruang kosong itu.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

KOMPAS/STEFANUS OSA–Era baru, era digital. Tak sekadar membangun gedung, Sinarmas Land yang masih memiliki lahan sangat luas di daerah Serpong, Banten, bakal menghadirkan Digital Hub untuk menjawab kebutuhan generasi milenial yang sangat terampil mengembangkan berbagai program digital. Lahan seluas 26 hektar seperti terlihat, Selasa (21/5/2019), ini akan menjadikan gagasan pengembangan Digital Hub setara Silicon Valley di San Fransisco, Amerika Serikat.

Melangkah dari nol, membangun komunitas ekosistem digital tidaklah mudah. Namun, inilah pilihan tak terabaikan di era serba-digital.

Tiga tahun silam, Presiden Joko Widodo berkunjung ke kantor pusat Facebook di Silicon Valley, San Fransisco, Amerika Serikat. Sedikit mengutip pandangan Deputi II Kepala Staf Kepresidenan RI Yanuar Nugroho, lembah ini disebut-sebut menjadi ikon dan jantung revolusi teknologi informasi di muka bumi ini sejak akhir abad silam. Berbagai produk dan layanan telah dipikirkan, ditemukan, direkayasa, didesain, diproduksi, dikembangkan, disempurnakan, dan kemudian disebarluaskan di seluruh dunia.

“Silicon Valley menjadi simbol terpenting sejarah perkembangan Revolusi Industri 3.0 yang kemudian bergerak ke apa yang kini kita kenal sebagai Revolusi Industri Keempat,” kata Yanuar. (Kompas, 14 Mei 2018).

Hingga kini, “Silicon Valley” sendiri adalah sebuah impian besar bagi Indonesia. Jika diingat kembali, tahun 2016 Indonesia dikabarkan bakal memiliki kawasan serupa Silicon Valley. Isunya, ada gagasan membangun setara Silicon Valley di Gedebage (Bandung). Kemudian, muncul kembali isu bakal terbangun di kawasan Sentul (Bogor).

KOMPAS/STEFANUS OSA–Lahan Digital Hub mulai digarap pasca Idul Fitri sebagai salah satu proyek kebanggaan Sinarmas Land.

Kini, bicara Digital Hub yang dirancang Sinarmasland di kawasan BSD, setidaknya ada rentetan fenomena yang saling berkaitan. Dimulai dari booming layanan jasa ojek berbasis daring Gojek awal tahun 2016, kemudian pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo fokus mengkampanyekan digital ekonomi dan bermunculan start-up.

Sinarmasland sebagai pemain properti tak ingin tinggal diam. Jelas sekali, start-up sebenarnya tidak punya uang banyak dalam merintis. Pembuat keputusan pembeli properti pun beralih, dari tangan Gen X ke Gen Y.

Mereka sudah lulus sekolah, mencari pekerjaan sesuai kebutuhan jiwa. Misalnya, tempat kerja yang tersedia tempat hang out asyik, sekadar bisa duduk-duduk sambil ngopi melahirkan inovasi-inovasi terbaru. Bisa tetap kerja di lokasi out door, tetapi serba terkoneksi.

Sebagai pemain properti, tren perubahan menjadi tantangan tersendiri. Tidak bisa lagi sekadar membangun gedung yang akhirnya sepi. Hingga tahun 2030, populasi jumlah generasi milenial lebih banyak. Kemampuan belanja generasi ini bisa untuk investasi rumah, apartemen ataupun tanah. Mereka bisa menciptakan perusahaan sendiri.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

KOMPAS/STEFANUS OSA–Rancang bangun Digital Hub yang dikembangkan Sinarmas Land.

Sebelum sampai ke sana, Sinarmasland merasa perlu memiliki tempat untuk menciptakan digital ekosistem di area CBD BSD City. Terdorong akan tren itu, lahan seluas 26 hektar dari total area CBD seluas 800 hektar bakal dijadikan Digital Hub yang kelak terkoneksi dengan Green Office Park.

Digital Hub sesungguhnya serupa office park juga, tetapi lebih ingin melindungi keberadaan komunitas digital. Dari lahan 26 hektar, 65 persen akan dirancang menjadi bangunan, sedangkan sisanya 35 persen dirancang sebagai penghijauan dan jalan penghubung.

Bisnis modelnya tidak sekadar dibangun dan disewakan, melainkan beberapa lahan akan dijual. Ada juga yang dibangun dan disewakan, tetapi ada juga 19 unit untuk bisnis digital lot dengan sistem SOHO (small office home office).

Adapun pelengkap penunjang yang kini sedang digarap, antara lain, pedesterian dengan rute yang ramah lingkungan, ruang untuk menciptakan interaksi sosial, penunjang strategi yang dihasilkan dari energi terbarukan, dan konektivitas yang smart. Inilah tantangan terbesar yang harus dihadapi untuk benar-benar mewujudkan impian “Silicon Valley”.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

KOMPAS/STEFANUS OSA–Proyek prestisius Digital Hub yang dikembangkan setara Silicon Valley (Amerika Serikat) yang dikembangkan Sinarmas Land di kawasan Serpong, Banten, Selasa (21/5/2019), tetap berkomitmen menghadirkan nuansa penghijauan.

Lebih menciptakan
CEO Sinar Mas Land Michael Widjaja justru punya pandangan lain. Pengembang hebat sekalipun tentu bisa membangun gedung dan menyewakan. Sementara, bagi kalangan start-up belum tentu juga dapat menyewa kantor di kawasan strategis CBD. Karena itu, menciptakan ekosistem jauh lebih perlu diprioritaskan agar bisa hidup di Digital Hub ini.

Irawan Harahap selaku Project Leader Digital Hub Sinarmas Land menegaskan, “Digital Hub sebenarnya office park yang ingin memproteksi komunitas digital. Beda sekali dengan Green Office Park atau GOP yang telah ada, karena GOP didesain 35 persen perkantoran dan 65 persennya penghijauan plus jalan.”

Kelak, bangunan Digital Hub mencapai 65 persennya, sedangkan 35 persennya penghijauan dan konektivitas. Kavling Digital Hub tetap dijual dengan luasan 3.000 hingga lebih dari 2 hektar, kemudian membangun perkantoran yang disewakan, tetapi juga ada lot bisnis dengan sistem SOHO strata tittle setinggi empat lantai luasan 600 meter persegi.

“Start up tentu tidak semua punya uang untuk sewa. Karena itu, kita lebih dahulu menciptakan ekosistem digital agar kelak bisa hidup di Digital Hub,” kata Irawan.

Sinarmasland telah menggandeng arsitek NBBJ Amerika yang sudah menggarap Amazon Headquarters di Seattle, Bill and Melinda Gates Foundation di Amerika, dan Alibaba Campuss di China. Arsitek ini dipandang sudah memahami kebutuhan generasi milenial, mulai dari landscape, konektivitas, dan area aktivitas berdasarkan zone.

KOMPAS/STEFANUS OSA–Nuansa ruang kerja yang memenuhi kebutuhan generasi milenial kini sangat dirindukan.

Obsesi besarnya adalah mulai menciptakan BSD sebagai pusat akademi digital. Langkah awalnya adalah memperbanyak akademi yang ditujukan bagi pemilik talenta-talenta masa depan. Talenta futuristik yang dibutuhkan seluruh dunia. Misalnya, IOS Developer Apple yang baru saja meluluskan sebanyak 200 orang, Purwadhika yang fokus mengajarkan coding untuk menghasilan start up mandiri, Binar Academy, dan GeeksFarm.

Komunitas digital lainnya, antara lain, CreativeNess yang fokus pada sekolah pelatihan animasi yang benar-benar tersertifikasi standar internasional. Edukasi menjadi dasar Digital Hub agar melahirkan generasi terampil teknologi masa depan yang tidak digarap terfokus oleh perguruan tinggi di Indonesia.

“Skill yang dihasilkan sangat berbeda dengan yang dilahirkan oleh universitas-universitas. Lulusannya spesifik dibutuhkan oleh target market. Ketika lulus akademi ini, orang-orang bertalenta itu memiliki dua pilihan, yakni membuat start up sendiri dengan memanfaatkan working space atau bekerja di perusahaan di kawasan BSD juga,” ujar Irawan.

H Benyamin Davnie, Wakil Wali Kota Tangerang Selatan, dalam diskusi “Being Smart With Smart City” di Serpong, Rabu (10/4/2019), memandang, kemajuan era digital tetap memerlukan penataan kota yang baik. Ketersediaan transportasi publik menuju kawasan berbasis digital juga akan menjadi salah satu kriteria sebuah kota benar-benar bisa disebut smart city. Bukan melulu kecanggihan teknologi gawai.

Presiden Grab Indonesia Ridzki Kramadibrata yang melihat perkembangan BSD sebagai smart city, terlebih pengembangan digital yang makin diberikan wadah oleh pengembang, akhirnya memberanikan diri untuk menjalin kerjasama dengan Sinarmas Land.

“Kerja yang tidak mudah mewujudkan kota yang cerdas, seperti kelak dibangunnya Digital Hub ini. Bukan hanya membantu masyarakat, tetapi juga menunjukkan kemampuan bangsa Indonesia,” ujar Ridzki.

Kelak, terbangunnya Digital Hub, Grab pun siap berkomitmen membangun teknologi yang dibutuhkan masyarakat. Grab sudah membidik Digital Hub itu sebagai salah satu laboratorium teknologi permesinan Grab di Indonesia. “Banyak kreativitas yang bisa dilahirkan untuk Indonesia lebih baik.” Kata Ridzki. (Stefanus Osa)

KOMPAS/STEFANUS OSA–Eka Tjipta Widjaja, Pendiri Sinarmas Group, meninggalkan sejumlah warisan yang masih perlu dikembangkan oleh penerusnya untuk menciptakan tatanan hidup yang lebih baik.

STEFANUS OSA TRIYATNA

Sumber: Kompas, 14 Juni 2019

Share
x

Check Also

Instrumen Nilai Ekonomi Karbon Diatur Spesifik

Pemerintah sedang menyusun peraturan presiden terkait instrumen nilai ekonomi karbon dalam. Ini akan mengatur hal-hal ...

%d blogger menyukai ini: