Home / Artikel / Virus Corona Baru

Virus Corona Baru

Yang paling mengkhawatirkan bagi dunia sekarang ini adalah kemungkinan terjadinya wabah global, sama halnya seperti pandemi SARS yang menyebar dari China.

Dunia dikejutkan oleh suatu virus baru. Sampai saat ini, virus itu telah menyebabkan empat orang meninggal dan lebih dari 200 orang menderita sakit. Mereka yang terinfeksi tersebar di enam kota di China.

KOMPAS/AYU PRATIWI–Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto (kemeja putih) ketika ditemui media di Gedung BRI, Jakarta Pusat, Kamis (23/1/2020). Didampingi Direktur Utama BRI Sunarso (kanan), Terawan menyatakan bahwa kondisi di Gedung BRI aman. Pada siang hari sebelumnya, gedung itu sempat diisolasi karena ada dugaan seorang karyawan asal China terinfeksi virus korona jenis baru.

Kasus pertama muncul di kota Wuhan, provinsi Hubei, China bagian tengah pada Desember 2018. Gejala ditandai dengan demam dan kesulitan bernafas, dalam beberapa kasus mengarah ke gejala lebih serius, seperti pneumonia atau bronkitis.

Ahli virulogi mengidentifikasi penyebabnya adalah virus corona. Suatu virus yang mendapat namanya karena tonjolan protein yang menghiasi bagian luar virus berbentuk seperti mahkota. Penyakit ini juga menyebar ke kota-kota besar lain di China, seperti Beijing, Shanghai, dan Shenzhen. Kasus kemudian dilaporkan juga di luar China, seperti Korea Selatan, Taiwan, Jepang, dan Thailand.

Menurut sejarahnya, virus corona umum ditemukan pada populasi hewan dan manusia, menyebabkan pilek yang biasanya tidak parah. Tetapi virus corona memiliki sifat zoonotik yang membuat penyebarannya sulit untuk ditahan, karena virus sewaktu-waktu mampu melompat dari hewan ke manusia.

Sumber virus corona
Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa virus corona baru tampaknya berasal dari pasar ikan dan hewan hidup di kota Wuhan. Pasar ini kemudian ditutup dan didisinfeksi oleh Pemerintah China.

Virus corona baru disebut mirip dengan virus corona yang dulunya menyebabkan epidemi severe acute respiratory syndrome (SARS), menewaskan 774 orang di China pada tahun 2002-2003. Epidemi SARS secara cepat menyebar ke seluruh dunia tahun 2003, meskipun kasus sporadis di Asia masih terjadi setelah itu.

Virus corona penyebab SARS bersumber dari kelelawar jenis sepatu kuda yang hidup di China, sebelum virus ini mencari jalannya ke musang sawit, suatu mamalia kecil yang biasa dimakan penduduk China dan hidup di pegunungan Himalaya. Inilah awal mula terjadinya pandemi pertama abad ke-21 yang menguncang dunia. Penyebaran sangat cepat dari satu benua ke benua lainnya.

Virus corona lainnya yang menyebabkan pandemi pada 2012 adalah Middle East respiratory syndrome (MERS) yang pertama kali melompat dari unta ke manusia dan juga menyebabkan penyakit pernafasan.

Berbeda dengan SARS yang berhasil dihentikan penyebarannya pada 2013, MERS masih tetap berlangsung sampai saat ini meski dengan sebaran terbatas. Secara global, seluruhnya telah mencapai 2.499 kasus hingga Desember 2019. Dari jumlah itu, 861 orang meninggal. Mayoritas kasus terjadi di kawasan Saudi Arabia.

Virus corona paling tidak terdiri dari tiga kelompok berbeda secara genetik dan antigenitik yang menyebabkan penyakit pencernaan, pernafasan, atau sistemik pada hewan domestik dan satwa liar. Selama kurang lebih 70 tahun, para ahli menemukan virus corona telah menginfeksi tikus, kelawar, kelinci, anjing, kucing, kalkun, kuda, babi, sapi, dan unta.

KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA–Penumpang saat tiba di terminal Kedatangan Internasional Bandara Juanda Surabaya di Sidoarjo, Jawa Timur, Rabu (22/1/2020). Akibat ditemukannya Virus Corona Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas I Surabaya memperketat pengawasan terhadap penumpang dari luar negeri khususnya dari Cina di Bandara Juanda. Pengawasan dilakukan sekaligus menyediakan tempat isolasi dan standar penanganan jika ditemukan ada indikasi penumpang yang terkena virus tersebut.Kompas/Bahana Patria Gupta (BAH)

Penularan antar spesies
Menurut penelitian yang dilakukan pada 1990-an, penularan virus corona dari spesies hewan ke hewan yang berbeda pernah terjadi sebelumnya. Contohnya, virus corona pada babi, anjing, dan kucing dapat saling menginfeksi antar ketiganya. Ekspresinya beragam dan tingkat proteksi silang pada hospes heterogen tersebut.

Satwa liar sebagai reservoir virus corona pernah ditemukan sebelum munculnya SARS. Virus corona pada ruminansia liar secara antigenik berkaitan erat dengan virus corona yang diisolasi dari anak sapi domestik.

Bahkan virus corona sapi yang secara filogenetik berbeda, secara eksperimental dapat menginfeksi dan menyebabkan diare pada spesies unggas.

Mengingat adanya keterkaitan antara wabah virus corona baru dengan hewan, maka bagi setiap orang yang datang ke China dianjurkan untuk tidak mengunjungi pasar hewan atau pasar satwa liar yang menjual daging eksotik dan menghindari kontak langsung dengan peternakan atau satwa liar.

Penularan ke manusia
Virus corona sesungguhnya berbahaya mengingat kemampuannya menginfeksi berbagai spesies hewan. Penyebarannya di antara populasi hewan membuat penyebaran virus ini sulit dihentikan. Wabah baru ini juga diperkirakan dimulai dari hewan sebelum menyebar ke manusia, meskipun hal ini jarang terjadi.

Penyakit zoonosis yang paling terkenal di dunia, seperti human immunodeficiency virus (HIV), Ebola, dan influenza A H5N1 (flu burung), semuanya menyebar dari satwa liar dan berinteraksi erat dengan manusia sebelum menimbulkan wabah global.

Seperti halnya SARS, para ahli menduga virus corona baru ini juga muncul dipicu oleh perdagangan satwa liar ilegal. Hampir 40% kasus awal SARS terjadi pada orang-orang yang menyiapkan, menangani, dan menjual makanan dari satwa liar. Episode lain juga terjadi di antara orang-orang yang hidup dalam jarak tidak terlalu jauh dari pasar satwa liar.

Pemerintah China baru-baru ini telah mengonfirmasi terjadinya penularan dari manusia ke manusia, dengan ditemukannya seorang yang terinfeksi virus corona dalam satu keluarga dan sejumlah petugas medis yang dinyatakan positif setelah menangani pasien sakit.

Penularan dari orang ke orang seringkali terjadi jika seseorang kontak dengan sekresi orang yang terinfeksi. Penularan orang ke orang tersebut dapat membuat virus menyebar lebih cepat dan luas. Tidak ada pengobatan spesifik atau vaksin untuk penyakit virus corona baru ini.

Risiko kita terinfeksi virus zoonotik cenderung meningkat di abad modern, karena kita terus berinteraksi dengan hewan dan menerobos lebih jauh ke wilayah mereka melalui kegiatan seperti deforestasi.

Perubahan iklim juga tidak membantu mengurangi risiko, karena justru pemanasan iklim membuat sejumlah patogen tertentu mampu bertahan lebih lama di lebih banyak bagian dunia.

Respon penyakit
Pemerintah China telah meningkatkan kewaspadaan tinggi dalam menghadapi acara Tahun Baru Lunar pada akhir Januari sampai awal Februari 2020. Suatu peristiwa tahunan yang sangat penting dalam kalender China, dimana jutaan penduduk China akan melakukan perjalanan liburan dengan menggunakan kereta api, bis, dan pesawat terbang untuk bertemu sanak saudara, termasuk pergi ke luar negeri.

Pemerintah China juga melipatgandakan upaya untuk menghentikan perdagangan satwa liar ilegal. Upaya terkoordinasi seperti ini diharapkan cukup memadai untuk menghentikan virus corona menyebar ke seluruh dunia.

Banyak negara di dunia termasuk Indonesia memulai rencana respon penyakit, utamanya dengan tindakan memindai para penumpang di bandar udara terhadap kemungkinan mengalami demam, terutama yang datang dari China.

Namun, yang paling mengkhawatirkan bagi dunia sekarang ini adalah kemungkinan terjadinya wabah global, sama halnya seperti pandemi SARS yang menyebar dari China.

Seluruh negara termasuk Indonesia harus menyiapkan diri terhadap kemungkinan terburuk. Caranya dengan menginisiasi kesiapsiagaan dan merespons penyakit secara terpadu. Sejumlah negara telah mengeluarkan peringatan perjalanan bagi warganya yang akan berkunjung ke dan dari China.

(Tri Satya Putri Naipospos Ketua 2, Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PB-PDHI))

Sumber: Kompas, 27 Januari 2020

Share
x

Check Also

Peringkat ”e-Government” Indonesia

Menurut PBB, sejak 2018 secara global terjadi peningkatan rata-rata skor e-government pada 193 negara anggota ...

%d blogger menyukai ini: