Home / Berita / Universidade de Macau Menjauhi Pusat Judi

Universidade de Macau Menjauhi Pusat Judi

Makau selama ini hanya dikenal sebagai pusat perjudian dunia dan wisata sejarah karena statusnya sebagai situs warisan dunia Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa alias UNESCO. Di luar judi dan wisata sejarah, Pemerintah Makau memiliki kampus Universidade de Macau yang berkembang pesat.

Semula kampus Universidade de Macau terletak di Semenanjung Makau, bagian dari wilayah lama yang mencakup Taipa dan Coloane.

Seiring dengan pertumbuhan bisnis perjudian dan wisata, Pemerintah Makau memindahkan kampus ke lokasi baru. Kampus baru itu berdiri megah di Heng Cin, wilayah Provinsi Guangdong, Tiongkok, yang disewa Pemerintah Makau selama 40 tahun dari Pemerintah Republik Rakyat Tiongkok.

The New York Times (14 Juli 2013) mengungkap bahwa untuk berpindah lokasi, pihak Universidade de Macau harus memindahkan 10.000 mahasiswa dan pengajar, 650.000 buku, serta 60 laboratorium. Disebutkan, perpindahan kampus itu tak lepas pula dari perkembangan investasi pendidikan di daratan Tiongkok. Di tengah maraknya investor bidang pendidikan berebut masuk ke Tiongkok, Universidade de Macau mengambil langkah radikal dengan benar-benar meninggalkan kampus lamanya dan mendekat ke daratan Tiongkok.

Kompas berkunjung ke kompleks baru Universidade de Macau, akhir tahun lalu. Gedung perpustakaan megah, kompleks apartemen dosen dengan unit 2-3 tempat tidur, apartemen bagi mahasiswa atau mahasiswi pasca sarjana, kompleks kampus megah, lokasi pertokoan dan pasar, hingga penyewaan sepeda tersedia di Universidade de Macau yang juga merupakan konsorsium dari perguruan tinggi Lusofoni (negeri bekas jajahan atau berbahasa Portugis).

Lokasi kampus berbatasan dengan delta Sungai Mutiara yang langsung berhubungan dengan Samudra Pasifik dengan punggungan bukit di belakangnya. Udara segar 18-20 derajat celsius membuat suasana belajar sangat nyaman di Universidade de Macau yang jauh dari ingar-bingar deru mesin mobil. Apalagi, kecepatan mobil di Makau dibatasi hanya maksimum 60 kilometer per jam.

Investasi pendidikan
Associate Professor Jurusan Komunikasi di Fakultas Ilmu Sosial, Todd Sandel, yang menemani mengunjungi kampus itu menceritakan, Pemerintah Makau sedang habis-habisan mengembangkan kampus untuk investasi pada sumber daya manusia Makau.

Selain itu, ada 10 persen warga Tiongkok yang belajar di sana. Ada pula mahasiswa dan mahasiswi mancanegara dari negeri Lusofoni, seperti Angola, Mozambik, dan Portugal.

”Pihak kampus, sejalan dengan kebijakan Pemerintah Makau, juga menerima doktor dari pelbagai kampus terkenal di Amerika Serikat, Eropa, Asia, dan Asia Tenggara untuk mengajar di sini,” kata Todd Sandel yang berasal dari Oklahoma State University dan sedang mendalami kajian tentang masyarakat Tionghoa Hakka di Kalimantan Barat, Indonesia.

Todd Sandel mengatakan, kesempatan untuk mengajar ataupun belajar di sini sangat luas. ”Pihak kampus ingin mengangkat citra kampus internasional,” katanya.
Belajar Asia

Kompas sempat bertemu Akiko Sugiyama, dosen di Jurusan Sejarah yang fasih berbahasa Indonesia. Sugiyama paham budaya Jawa dan musik tradisional Indonesia. Dia mengakui ada kebutuhan untuk kajian tentang Asia Tenggara, termasuk studi Indonesia, di kampus tersebut.

Materi soal Asia Tenggara, termasuk Indonesia, juga diminati di Universidade de Macau yang sedang mengembangkan jaringan di kawasan. Di universitas itu diadakan pula diskusi tentang sejarah Nusantara dan Asia Tenggara serta hubungannya dengan Tiongkok.

Dekan Jurusan Sejarah Profesor George Wei menyatakan, pihaknya terbuka untuk bekerja sama dengan universitas-universitas di Asia Tenggara. Dia pun berkunjung ke negara ASEAN, termasuk Indonesia, untuk memperluas jaringan.

Peserta didik juga antusias mengikuti perkuliahan di Universidade de Macau. Peserta program doktoral, Jeannie asal Zhuhai, Guangdong, yang baru memasuki semester pertama di Jurusan Komunikasi, menyatakan ingin menyelesaikan program dalam waktu sekitar tiga tahun.

Todd Sandel menerangkan, pihak kampus memang ingin mencetak banyak doktor dan mengembangkan kerja sama serta mencari tenaga pengajar dari mancanegara untuk meningkatkan kualitas kampus.

”Untuk program doktoral, kami harapkan bisa selesai dalam tiga tahun,” kata Todd Sandel yang secara berkala datang ke Indonesia.

Meskipun sudah menjauhi pusat judi, rupanya ada satu ”aturan” yang tetap berlaku, yakni mahasiswa dan dosen hanya diperbolehkan berjudi sekali dalam setahun, saat libur Imlek. Jika aturan itu dilanggar, risikonya dikeluarkan dari universitas itu. Nah! (Iwan Santosa)

Sumber: Kompas, 18 Januaari 2015

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: