Tukang ”Kutu Loncat” Naik Gaji

- Editor

Selasa, 26 November 2019

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Para pencari kerja memadati Indonesia Career Expo Jakarta di Balai Kartini, Jakarta, Selasa (15/10/2019).

KOMPAS/PRIYOMBODO (PRI)
15-10-2019

Para pencari kerja memadati Indonesia Career Expo Jakarta di Balai Kartini, Jakarta, Selasa (15/10/2019). KOMPAS/PRIYOMBODO (PRI) 15-10-2019

Pekerja profesional yang dipromosikan atau berpindah pekerjaan berkesempatan mendapatkan kenaikan gaji 5-30 persen. Pekerja dengan kinerja bagus yang tetap pada jabatan mereka berharap gaji naik rata-rata 8 persen.

20181212_BURSA-KERJA_B_web_1544605187-720x405.jpgKOMPAS/RADITYA HELABUMI–Pencari kerja antre memasuki ajang bursa kerja di Istora Senayan, Jakarta, Rabu (12/12/2018). Memasuki Revolusi Industri 4.0 yang terus bergulir, persaingan tenaga kerja kompeten, terutama untuk memenuhi kebutuhan dalam industri digital, terus meningkat.

Chika (27), sales manager di satu perusahaan produk cepat habis (fast moving consumer goods/FMCG) di Bali, galau menghadapi banyak tawaran pekerjaan baru. Padahal, ia baru setahun mengemban jabatannya saat ini setelah naik dari posisi sebelumnya sebagai asisstant aales manager.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tawaran yang kebanyakan meminta keahlian terkait pengembangan bisnis itu datang baik dari dalam maupun luar tempatnya bekerja. Ada yang menawarinya pindah ke posisi lebih tinggi, ada juga yang tidak, dengan tawaran pendapatan yang beragam.

”Kalau sekarang aku ditawarkan pekerjaan baru atau dipromosikan, pertimbanganku mengacu pada kebutuhan pribadi, salah satunya pendapatan atau fasilitas yang mengikuti. Lalu, materi bisnis yang baru atau kesempatan untuk punya coach yang membuat pengalaman karier juga semakin baik,” tuturnya kepada Kompas, Jumat (22/11/2019).

Cerita Chika menunjukkan, banyak godaan bagi seorang pekerja profesional untuk tidak bertahan lama di suatu posisi atau tempat bekerja. Ketika mereka berpindah dengan cepat dari satu posisi ke posisi lain, atau satu pekerjaan ke pekerjaan lain, publik biasa menyebutnya ”kutu loncat”.

Dalam laporan terbaru konsultan perekrutan profesional Robert Walters Indonesia, yang disampaikan pada Kamis (21/11/2019) di Jakarta, rata-rata seperempat profesional Indonesia di suatu posisi tertentu hanya bertahan dalam waktu kurang dari dua tahun. Laporan itu tertuang dalam survei bertajuk Salary Survey 2020.

Survei dilakukan pada 806 profesional Indonesia dengan pengalaman kerja minimal tiga tahun di tujuh sektor pekerjaan berbeda. Sektor itu adalah teknologi dan transformasi, akuntansi dan keuangan, perbankan dan layanan keuangan, hukum, sumber daya manusia, sales dan marketing, serta rantai pasok, pengadaan, dan manufaktur.

Survei mencatat, 28 persen profesional di sektor sales dan marketing menjadi kutu loncat karena mengharapkan perkembangan karier yang lebih baik (30 persen). Lalu, 24 persen profesional menyatakan lebih termotivasi untuk mendapatkan kenaikan gaji dari 20 persen hingga 30 persen.

Pada sektor akuntansi dan keuangan terdapat 17 persen profesional di suatu posisi tertentu yang bertahan dalam waktu kurang dari dua tahun. Sebanyak 37 persen kandidat yang berpindah kerja mengharapkan perkembangan karier. Disusul 21 persen yang mengharapkan kenaikan gaji 25 persen hingga 30 persen.

20191122_110955_1574395996-720x810.jpgERIKA KURNIA–Cuplikan tren pertumbuhan industri dan motivasi pekerja di sektor teknologi dan transformasi berdasarkan survei Robert Walters Indonesia dalam buku laporan Salary Survey 2020.

Sementara di sektor teknologi dan transformasi, terdapat lebih banyak (31 persen) profesional yang tidak bertahan lebih dari dua tahun. Kompensasi dan tunjangan yang lebih baik menjadi salah satu dari empat motivasi teratas untuk berpindah pekerjaan, dilihat dari 27 persen profesional yang telah disurvei.

Motivasi lain yang diharapkan profesional teknologi dan transformasi adalah untuk mendapat pengembangan karier (26 persen), peluang pekerjaan di luar negeri (18 persen), serta keseimbangan hidup dan kerja yang lebih baik (13 persen).

Kenaikan gaji
Kabar baiknya, menurut survei yang sama, pada 2020, pekerja profesional yang dipromosikan atau berpindah pekerjaan akan memiliki kesempatan untuk mendapatkan kenaikan gaji dari 15 persen hingga 30 persen, tergantung pada keahlian dan senioritas mereka.

Sebagai contoh, seseorang dengan posisi manajer media sosial yang pada tahun ini mendapat gaji Rp 16 juta-Rp 33 juta per bulan bisa mendapatkan Rp 16 juta-Rp 38 juta per bulan pada 2020. Nilai gaji bergantung pada jenis industri dan perusahaan mereka.

Sementara pekerja dengan kinerja bagus yang tetap pada jabatan mereka saat ini mengharapkan kenaikan gaji rata-rata 8 persen. Adapun 77 persen profesional mengharapkan bonus lebih dari 15 persen dari gaji tahunan mereka.

Country Manager Robert Walters Indonesia Eric Mary menyampaikan, kenaikan gaji dimungkinkan dengan kembali aktifnya pasar tenaga kerja Indonesia pada 2020 setelah kondisi politik lebih stabil.

Hal itu secara positif mendorong perusahaan baru untuk memasuki pasar dan mendukung perusahaan yang tengah berjalan mengonsolidasikan kegiatan bisnis. Kini banyak perusahaan menopang bisnisnya melalui transformasi digital.

”Di Indonesia, digitalisasi yang terus terjadi ini akan menjadi faktor utama dalam penentuan strategi perekrutan,” kata Eric.

b4e78492-6b1d-4d1e-bc0e-4a5197e2672f_jpg-720x350.jpgKOMPAS/ERIKA KURNIA–Manajer Bidang Teknologi Robert Walters Indonesia Antonio Mazza dan Manajer Robert Walters Indonesia Eric Mary berfoto bersama seusai melaporkan Salary Survey 2020 di Jakarta, Kamis (21/11/2019).

Pada tahun depan diproyeksikan akan lebih banyak permintaan profesional yang menguasai teknologi, manajer dengan keterampilan hibrida dan glocal, yaitu pemahaman pada pola pikir global dengan memperhatikan aspek lokal.

Transformasi digital yang sudah dilakukan sejauh ini mendorong pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia secara signifikan. Dalam laporan e-Conomy SEA 2019, Temasek bersama Google dan Bain Company menyebut Indonesia sebagai negara dengan pertumbuhan ekonomi digital terbesar dan tercepat di Asia Tenggara.

Tahun ini, Indonesia mencetak 40 miliar dollar AS atau Rp 556,6 triliun, setara 13,6 persen produk domestik bruto (PDB) yang pada triwulan III-2019 ini telah mencapai Rp 4.067,8 triliun. Nilai itu tumbuh empat kali lipat dari tahun 2015. Pada 2025, ekonomi digital Indonesia diprediksi akan melonjak hingga 133 miliar dollar AS.

Kampanye pulang kampung
Potensi kenaikan gaji profesional tahun depan juga dimungkinkan karena masih minimnya jumlah tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Hal ini paling banyak ditemukan pada sektor teknologi informasi (TI).

20191029_ENGLISH-EKONOMI-2020_C_web_1572359862-720x405.jpgKOMPAS/PRIYOMBODO–Para pencari kerja memadati Indonesia Career Expo Jakarta di Balai Kartini, Jakarta, Selasa (15/10/2019).

Manajer Teknologi Robert Walters Indonesia Antonio Mazza mengatakan, Indonesia masih kekurangan talenta digital, khususnya pada keahlian yang paling banyak dibutuhkan saat ini. Keahlian yang dimaksud terkait dengan pengelolaan data besar (big data), kecerdasan buatan (artificial intelligence), dan mesin pemelajar (machine learning).

”Kita lihat sekarang setiap perusahaan besar ingin mengotomatisasi sistem mereka. Caranya dengan menggunakan mesin pemelajar, yang mengembangkan sistem algoritma dan model statistik. Sementara baru sedikit tenaga kerja Indonesia yang ahli di bidang itu, perusahaan-perusahaan besar itu perlu bersaing untuk mendapatkan tenaga kerja profesional,” katanya.

20190722-KID-Tenaga-Kerja-mumed_1563807976.pngUntuk mengisi kebutuhan profesional TI, Antonio berpendapat, perusahaan bisa merekrut profesional Indonesia yang bekerja di luar negeri. Upaya itu telah dilakukan Robert Walters Indonesia empat tahun terakhir dalam bentuk kampanye ”Pulang Kampung”.

Kampanye itu, menurut Antonio, menunjukkan tren positif beberapa tahun terakhir. Tahun lalu, mereka berhasil merekrut 25 profesional Indonesia di bidang TI yang bekerja di luar negeri, seperti Amerika Serikat dan Singapura, untuk bekerja di Tanah Air.

”Jumlah ini lebih banyak dari tahun-tahun sebelumnya karena ketika kami menjelaskan soal start up teknologi di Indonesia, misalnya, mereka sudah lebih tahu. Kami pun tawarkan peluang pekerjaan dengan merujuk pada bisnis yang berkembang pesat,” ujarnya.

Sementara itu, Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Johnny Plate, saat ditemui beberapa waktu lalu, mengatakan akan lebih banyak menawarkan beasiswa khusus untuk menghasilkan lebih banyak talenta digital yang berkeahlian di bidang TI.

20191021-H13-DMS-Karakteristik-pend-bekerja_1571675366.gifPada 2030-2035, Indonesia membutuhkan 113 juta talenta digital. Namun, Indonesia hanya akan mampu menyediakan 104 juta talenta digital. Artinya, Indonesia kekurangan 9 juta orang.

”Ini jadi tugas kita bersama mengisi ini. Pemerintah akan menyediakan 50.000 beasiswa talenta digital tahun depan untuk lulusan perguruan tinggi yang belum mendapatkan pekerjaan atau mahasiswa tahun akhir supaya mereka punya keahlian tambahan dan mudah diserap lapangan kerja yang membutuhkan,” tuturnya.

Beasiswa itu tentunya diharapkan akan membantu 7,05 juta orang di Indonesia yang masih menganggur, seperti yang disebutkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Agustus 2019.

Pada periode itu, 126,51 juta angkatan kerja telah bekerja dengan 56,02 juta orang (44,28 persen) di antaranya adalah pekerja formal, baik pengusaha dengan dibantu pekerja maupun yang menjadi buruh atau karyawan dan pegawai.

Oleh ERIKA KURNIA

Editor HENDRIYO WIDI

Sumber: Kompas, 22 November 2019

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Tak Wajib Publikasi di Jurnal Scopus, Berapa Jurnal Ilmiah yang Harus Dicapai Dosen untuk Angka Kredit?
Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia
Siap Diuji Coba, Begini Cara Kerja Internet Starlink di IKN
Riset Kulit Jeruk untuk Kanker & Tumor, Alumnus Sarjana Terapan Undip Dapat 3 Paten
Ramai soal Lulusan S2 Disebut Susah Dapat Kerja, Ini Kata Kemenaker
Lulus Predikat Cumlaude, Petrus Kasihiw Resmi Sandang Gelar Doktor Tercepat
Kemendikbudristek Kirim 17 Rektor PTN untuk Ikut Pelatihan di Korsel
Ini Beda Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Versi Jepang dan Cina
Berita ini 4 kali dibaca

Informasi terkait

Rabu, 24 April 2024 - 16:17 WIB

Tak Wajib Publikasi di Jurnal Scopus, Berapa Jurnal Ilmiah yang Harus Dicapai Dosen untuk Angka Kredit?

Rabu, 24 April 2024 - 16:13 WIB

Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia

Rabu, 24 April 2024 - 16:09 WIB

Siap Diuji Coba, Begini Cara Kerja Internet Starlink di IKN

Rabu, 24 April 2024 - 13:24 WIB

Riset Kulit Jeruk untuk Kanker & Tumor, Alumnus Sarjana Terapan Undip Dapat 3 Paten

Rabu, 24 April 2024 - 13:20 WIB

Ramai soal Lulusan S2 Disebut Susah Dapat Kerja, Ini Kata Kemenaker

Rabu, 24 April 2024 - 13:06 WIB

Kemendikbudristek Kirim 17 Rektor PTN untuk Ikut Pelatihan di Korsel

Rabu, 24 April 2024 - 13:01 WIB

Ini Beda Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Versi Jepang dan Cina

Rabu, 24 April 2024 - 12:57 WIB

Soal Polemik Publikasi Ilmiah, Kumba Digdowiseiso Minta Semua Pihak Objektif

Berita Terbaru

Tim Gamaforce Universitas Gadjah Mada menerbangkan karya mereka yang memenangi Kontes Robot Terbang Indonesia di Lapangan Pancasila UGM, Yogyakarta, Jumat (7/12/2018). Tim yang terdiri dari mahasiswa UGM dari berbagai jurusan itu dibentuk tahun 2013 dan menjadi wadah pengembangan kemampuan para anggotanya dalam pengembangan teknologi robot terbang.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO (DRA)
07-12-2018

Berita

Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia

Rabu, 24 Apr 2024 - 16:13 WIB