“Triple Helix” Belum Berjalan

- Editor

Rabu, 26 Agustus 2015

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pemanfaatan Riset Bersama Dirintis
Konsep triple helix, atau sinergi pemerintah, akademisi, dan industri, untuk mendorong pemanfaatan riset belum berjalan. Itu karena komitmen pemerintah sebagai penentu kebijakan belum berpihak pada kemajuan riset.

“Jika akademisi dan industri sudah bersinergi, pengembangan riset tetap tak akan berjalan tanpa dukungan kebijakan pemerintah,” kata Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Iskandar Zulkarnain saat puncak peringatan Hari Ulang Tahun Ke-48 LIPI di Cibinong, Bogor, Jawa Barat, Senin (24/8). Acara itu dihadiri, antara lain, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Andi Eka Sakya serta Direktur Eksekutif Kehati MS Sembiring.

Salah satu kebijakan penting untuk kemajuan riset ialah insentif, misalnya pengurangan pajak bagi industri yang mau berinovasi berbasis riset. Namun, belum ada kebijakan semacam itu dari pemerintah. Akibatnya, industri memilih membeli lisensi paten agar cepat menghasilkan laba ketimbang berinvestasi pada riset jangka panjang yang berpotensi memberi manfaat lebih besar lewat inovasi mandiri.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ia menambahkan, tak berjalannya triple helix terbukti dari porsi belanja riset nasional Indonesia hanya 0,09 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Itu kalah dari belanja riset Thailand (0,85 persen terhadap PDB), Malaysia (lebih dari 1 persen terhadap PDB), dan Tiongkok (2 persen terhadap PDB).

85f592a3c54b4bf4ad74fd2e84286df3KOMPAS/YUNIADHI AGUNG–Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Iskandar Zulkarnain memberikan penghargaan penemu (Inventor Award) kepada tujuh hasil riset para ilmuwan LIPI yang dinilai bermanfaat bagi masyarakat dan mendorong produktivitas riset lain. Penghargaan diserahkan pada puncak acara Hari Ulang Tahun Ke-48 LIPI di Cibinong Science Center, Cibinong, Bogor, Jawa Barat, Senin (24/8).

Namun, kendala juga terjadi di sisi akademis, yaitu belum sinergisnya sesama lembaga riset dan perguruan tinggi. Apalagi, ada pandangan masyarakat bahwa sejumlah lembaga tumpang tindih karena melakukan riset sama. “Satu masalah seharusnya jadi pekerjaan banyak institusi karena butuh penyelesaian dari berbagai perspektif,” ujarnya.

Butuh kolaborasi
Bahkan, negara-negara dengan budaya riset maju selalu mengerahkan ahli dari sejumlah lembaga riset untuk mengatasi persoalan sama. Misalnya, saat ada masalah pembangkit listrik di Tiongkok, pemerintah negara itu mengumpulkan ahli dari berbagai institusi untuk mengatasinya. Jadi, dalam pengembangan rencana induk pengembangan riset nasional, pemerintah diharapkan mengatur kolaborasi berbagai institusi, tak mengkhususkan satu masalah untuk satu institusi.

Direktur Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Muhammad Dimyati mengakui, sinergi antarlembaga riset belum terjalin. “Setiap lembaga riset dan perguruan tinggi dikungkung rencana strategis masing-masing sehingga banyak produk riset tak termanfaatkan,” ucapnya.

Maka dari itu, Kementerian Ristek dan Dikti merintis konsep pemanfaatan hasil riset dari sejumlah institusi secara bersamaan untuk mengatasi suatu masalah. Itu diawali dengan memperkenalkan benih padi Sidenuk hasil pengembangan Badan Tenaga Nuklir Nasional dan pupuk NanoSil 99 dari Universitas Diponegoro untuk dipakai petani di tujuh kabupaten di Jawa Tengah.

Dimyati menjelaskan, petani bisa mendorong produktivitas dengan menanam padi Sidenuk atau memakai pupuk NanoSil 99. Hasil panen bisa berlipat lagi jika dua produk riset itu dimanfaatkan bersamaan.

Meski ada berbagai persoalan, peneliti wajib mengupayakan hasil riset diaplikasikan nyata, terutama oleh industri. Kepala Pusat Inovasi LIPI Nurul Taufiqu Rochman mengatakan, itu bisa tercapai jika peneliti paham dan memenuhi kebutuhan industri.

Nurul membuktikan dengan menciptakan alat produksi nanopartikel berbasis herbal yang dipakai PT Gizi Indonesia untuk membuat kosmetik tiga tahun ini. Ia menyesuaikan teknologi pada alatnya sesuai permintaan perusahaan itu.

Dalam rangkaian puncak peringatan HUT LIPI, lembaga itu memberi Penghargaan Penemu bagi para peneliti penghasil tujuh karya riset yang dipatenkan. Menurut Nurul, hasil-hasil itu dipromosikan Pusat Inovasi LIPI agar dimanfaatkan industri.

Tujuh hasil riset itu ialah biskuit bagi penyandang autis, komposit dari serat mikro kenaf dengan polipropilena atau poli asam laktat, dan proses pembuatan sel dan kluster baterai padat litium berbasis keramik. Karya lain ialah bio-toilet berpengaduk manual, metoda dan alat peningkatan kadar metana dalam biogas, sari tempe manis dan proses pembuatannya, serta antena radar penetrasi tanah berbentuk dasi kupu-kupu. (JOG)
———————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 25 Agustus 2015, di halaman 14 dengan judul “”Triple Helix” Belum Berjalan”.

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan
Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026
Mengapa Desain Jembatan Mahasiswa ITB Ini Dianggap Unggul di Kompetisi Internasional?
Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM
Langkah Strategis BYD dan Visi Haryadi Kaimuddin untuk Menuju Kemandirian Energi Indonesia
Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi
Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?
Bilangan Imajiner, “Angka Khayalan” yang Menggerakkan Dunia Modern
Berita ini 32 kali dibaca

Informasi terkait

Jumat, 1 Mei 2026 - 08:15 WIB

Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:40 WIB

Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:29 WIB

Mengapa Desain Jembatan Mahasiswa ITB Ini Dianggap Unggul di Kompetisi Internasional?

Kamis, 30 April 2026 - 08:24 WIB

Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM

Kamis, 30 April 2026 - 08:17 WIB

Langkah Strategis BYD dan Visi Haryadi Kaimuddin untuk Menuju Kemandirian Energi Indonesia

Berita Terbaru