Home / Berita / “Triple Helix” Belum Berjalan

“Triple Helix” Belum Berjalan

Pemanfaatan Riset Bersama Dirintis
Konsep triple helix, atau sinergi pemerintah, akademisi, dan industri, untuk mendorong pemanfaatan riset belum berjalan. Itu karena komitmen pemerintah sebagai penentu kebijakan belum berpihak pada kemajuan riset.

“Jika akademisi dan industri sudah bersinergi, pengembangan riset tetap tak akan berjalan tanpa dukungan kebijakan pemerintah,” kata Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Iskandar Zulkarnain saat puncak peringatan Hari Ulang Tahun Ke-48 LIPI di Cibinong, Bogor, Jawa Barat, Senin (24/8). Acara itu dihadiri, antara lain, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Andi Eka Sakya serta Direktur Eksekutif Kehati MS Sembiring.

Salah satu kebijakan penting untuk kemajuan riset ialah insentif, misalnya pengurangan pajak bagi industri yang mau berinovasi berbasis riset. Namun, belum ada kebijakan semacam itu dari pemerintah. Akibatnya, industri memilih membeli lisensi paten agar cepat menghasilkan laba ketimbang berinvestasi pada riset jangka panjang yang berpotensi memberi manfaat lebih besar lewat inovasi mandiri.

Ia menambahkan, tak berjalannya triple helix terbukti dari porsi belanja riset nasional Indonesia hanya 0,09 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Itu kalah dari belanja riset Thailand (0,85 persen terhadap PDB), Malaysia (lebih dari 1 persen terhadap PDB), dan Tiongkok (2 persen terhadap PDB).

85f592a3c54b4bf4ad74fd2e84286df3KOMPAS/YUNIADHI AGUNG–Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Iskandar Zulkarnain memberikan penghargaan penemu (Inventor Award) kepada tujuh hasil riset para ilmuwan LIPI yang dinilai bermanfaat bagi masyarakat dan mendorong produktivitas riset lain. Penghargaan diserahkan pada puncak acara Hari Ulang Tahun Ke-48 LIPI di Cibinong Science Center, Cibinong, Bogor, Jawa Barat, Senin (24/8).

Namun, kendala juga terjadi di sisi akademis, yaitu belum sinergisnya sesama lembaga riset dan perguruan tinggi. Apalagi, ada pandangan masyarakat bahwa sejumlah lembaga tumpang tindih karena melakukan riset sama. “Satu masalah seharusnya jadi pekerjaan banyak institusi karena butuh penyelesaian dari berbagai perspektif,” ujarnya.

Butuh kolaborasi
Bahkan, negara-negara dengan budaya riset maju selalu mengerahkan ahli dari sejumlah lembaga riset untuk mengatasi persoalan sama. Misalnya, saat ada masalah pembangkit listrik di Tiongkok, pemerintah negara itu mengumpulkan ahli dari berbagai institusi untuk mengatasinya. Jadi, dalam pengembangan rencana induk pengembangan riset nasional, pemerintah diharapkan mengatur kolaborasi berbagai institusi, tak mengkhususkan satu masalah untuk satu institusi.

Direktur Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Muhammad Dimyati mengakui, sinergi antarlembaga riset belum terjalin. “Setiap lembaga riset dan perguruan tinggi dikungkung rencana strategis masing-masing sehingga banyak produk riset tak termanfaatkan,” ucapnya.

Maka dari itu, Kementerian Ristek dan Dikti merintis konsep pemanfaatan hasil riset dari sejumlah institusi secara bersamaan untuk mengatasi suatu masalah. Itu diawali dengan memperkenalkan benih padi Sidenuk hasil pengembangan Badan Tenaga Nuklir Nasional dan pupuk NanoSil 99 dari Universitas Diponegoro untuk dipakai petani di tujuh kabupaten di Jawa Tengah.

Dimyati menjelaskan, petani bisa mendorong produktivitas dengan menanam padi Sidenuk atau memakai pupuk NanoSil 99. Hasil panen bisa berlipat lagi jika dua produk riset itu dimanfaatkan bersamaan.

Meski ada berbagai persoalan, peneliti wajib mengupayakan hasil riset diaplikasikan nyata, terutama oleh industri. Kepala Pusat Inovasi LIPI Nurul Taufiqu Rochman mengatakan, itu bisa tercapai jika peneliti paham dan memenuhi kebutuhan industri.

Nurul membuktikan dengan menciptakan alat produksi nanopartikel berbasis herbal yang dipakai PT Gizi Indonesia untuk membuat kosmetik tiga tahun ini. Ia menyesuaikan teknologi pada alatnya sesuai permintaan perusahaan itu.

Dalam rangkaian puncak peringatan HUT LIPI, lembaga itu memberi Penghargaan Penemu bagi para peneliti penghasil tujuh karya riset yang dipatenkan. Menurut Nurul, hasil-hasil itu dipromosikan Pusat Inovasi LIPI agar dimanfaatkan industri.

Tujuh hasil riset itu ialah biskuit bagi penyandang autis, komposit dari serat mikro kenaf dengan polipropilena atau poli asam laktat, dan proses pembuatan sel dan kluster baterai padat litium berbasis keramik. Karya lain ialah bio-toilet berpengaduk manual, metoda dan alat peningkatan kadar metana dalam biogas, sari tempe manis dan proses pembuatannya, serta antena radar penetrasi tanah berbentuk dasi kupu-kupu. (JOG)
———————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 25 Agustus 2015, di halaman 14 dengan judul “”Triple Helix” Belum Berjalan”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: