Home / Berita / Toba Hanya Bisa untuk 543 Petak Keramba

Toba Hanya Bisa untuk 543 Petak Keramba

Destinasi wisata unggulan Danau Toba masih terganjal pencemaran dari belasan ribu keramba jaring apung. Jumlah ini agar diturunkan signifikan supaya kualitasnya membaik.

Hasil penelitian Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia di Danau Toba menunjukkan keramba jaring apung sebagai sumber pencemar utama kualitas perairan. Pusat Penelitian Limnologi LIPI pun memberi batasan 543 petak keramba jaring apung dengan kapasitas 1.430 ton yang masih memungkinkan beroperasi di danau terbesar itu.

Kondisi saat ini, produksi ikan budidaya dari danau mencapai 65.000 ton. Pada tahun lalu, atas masukan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Gubernur Sumatera Utara pernah membuat kebijakan membatasi jumlah karamba jaring apung (KJA) dengan kapasitas hingga 10.000 ton.

–Para peneliti Pusat Penelitian Limnologi LIPI, Selasa (10/7/2018) di Jakarta, memaparkan hasil penelitian terkait ekosistem Danau Toba dari sisi hidrodinamika. Mereka merekomendasikan Danau Toba hanya mampu menampung 543 petak keramba apung dengan asumsi produksi 1.430 ton.

Fauzan Ali, Kepala Pusat Penelitian Limnologi LIPI, mengatakan kajian LIPI ini bisa memberi dasar bagi pemerintah untuk melaksanakan Peraturan Presiden Nomor 81 Tahun 2014 tentang Rencana Tata Ruang Kawasan Danau Toba dan sekitarnya, yang menekankan Danau Toba sebagai destinasi wisata andalan. Ia meyakinkan apabila rekomendasi ini dijalankan bisa memulihkan kualitas air Danau Toba secara alami.

“Kalau sudah ditetapkan sebagai destinasi dunia seharusnya kegiatan yang tidak mendukung seperti keramba ini tidak ada,” kata Fauzan Ali. Rekomendasi ini didasarkan pada penelitian yang mensimulasikan komponen fisik, biologi, kimia, dan meteorologi pada ekosistem Danau Toba. Para peneliti menggunakan pendekatan hidrodinamika dengan seluruh material yang terkandung di dalamnya.

Kalau sudah ditetapkan sebagai destinasi dunia seharusnya kegiatan yang tidak mendukung seperti keramba ini tidak ada.

Peneliti Limnologi, Hadiid Agita Rustini, menunjukkan permodelan yang membuktikan Danau Toba tidak mengalami eurotrofik/hipertrofik tanpa aktivitas budidaya perikanan meski masih mendapatkan beban pencemar dari sungai. Sebaliknya, danau tetap eurotrofik/hipertrofik tanpa beban pencemar tetapi masih terdapat aktivitas KJA.

Agita pun menunjukkan lokasi eurotrofik/hipertrofik berada di daerah-daerah yang selama ini menjadi lokasi KJA seperti di Haranggaol, Parapat, dan Silalahi. Pencemaran ini berada di kedalaman 0-20 meter. Selanjutnya pada kedalaman 20-30 meter, kondisi air oligotrofik atau baik.

KOMPAS/NIKSON SINAGA–Petani ikan memberi pakan di keramba jaring apung di perairan Danau Toba di Kecamatan Girsang Sipangan Bolon, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, Selasa (13/9/2016). Produksi ikan di Danau Toba sudah mencapai 75.600 ton per tahun.

Di Haranggaol, kerapatan KJA mencapai 1.000 petak KJA per 300 m x 300 m. Pada simulasi dengan kerapatan 50 petak dan 10 petak per 300 m x 300 m, lokasi-lokasi ini masih mengalami eurotrofik hingga mesotrofik pada kedalaman 0 – 3 m. Kondisi oligotrofik tercapai dengan kerapatan 5 petak per 300 x 300 m.

Terkait kebutuhan waktu bagi danau untuk memulihkan diri apabila faktor pencemar ini dihentikan, Fauzan Ali mengatakan belum memiliki kajiannya. Namun, ia memberikan gambaran untuk Danau Maninjau di Sumatera Barat yang memiliki waktu retensi 25 tahun dibutuhkan waktu sedikitnya 10 tahun.

Danau Toba yang memiliki waktu retensi hingga 78 tahun diperkirakan membutuhkan waktu lebih panjang. Waktu retensi adalah waktu yang dibutuhkan air di danau untuk masuk ke danau dan keluar dari danau.

“Ekosistem memiliki kemampuan membersihkan diri sendiri, jadi tidak sampai 78 tahun itu untuk mencapai oligotrofik,” kata dia.

Agita mengatakan, material pencemaran dari KJA adalah kotoran/feses ikan budidaya. Apabila beban pencemar ini dihentikan, danau memiliki kesempatan memproses kimia feses itu menjadi anorganik yang diserap tanaman air.

Pembatasan
Dihubungi terpisah, Direktur Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan MR Karliansyah menjelaskan produksi ikan budidaya 10.000 ton per tahun berdasarkan pendekatan daya tampung beban pencemaran Danau Toba. Dasarnya yaitu hasil kajian Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sumut, Kementerian Kelautan dan Perikanan, dan LIPI dan telah didiskusikan juga dengan para pakar dari UGM dan Kementerian PUPR.

Masukan KLHK ini diterjemahkan Pemprov Sumatera Utara menjadi dua Keputusan Gubernur pada tahun 2017. Pelaksanaan di lapangan pun mengalami kesulitan dengan jumlah eksisting 65.000 petak KJA yang 50 persen di antaranya dikuasai masyarakat dan separuh lainnya dikuasai dua perusahaan budidaya ikan.

“Hitungan KLHK (10.000 ton) juga hanya didasarkan atas parameter fosfor, tidak memperhitungkan parameter lainnya,” kata dia.

Pada tahun 2016, kandungan fosfor di perairan Danau Toba 0,3038 mg per liter. Itu meningkat dari 0,11 mg per liter pada 2012. Sumber pencemarnya dari limbah domestik permukiman, hotel/resor, dan peternakan menggunakan detergen serta aktivitas budidaya ikan KJA.

Karliansyah mengatakan, saat itu pilihan pembatasan ikan budidaya pada maksimal 35.000 ton dan 10.000 ton. KLHK memilih 10.000 ton karena paling optimal untuk menyelamatkan danau prioritas nasional ini.

Saat itu pilihan pembatasan ikan budidaya pada maksimal 35.000 ton dan 10.000 ton.

Di sisi lain, KLHK juga menyediakan instalasi pengolahan air limbah domestik di Samosir dan Toba Samosir. Ia mengatakan pembangunan IPAL domestik di lima kabupaten lain di seputar Danau Toba, terkendala penyediaan lahan.

Selain itu, hotel-hotel setempat juga diminta mengolah air limbahnya ke IPAL Ajibata. Ia pun memasang sensor kualitas air di Danau Toba dan Sungai Asahan, tempat keluarnya air danau.

“Ini semua mendukung pariwisata Toba untuk memastikan kualitas air layak untuk kegiatan wisata,” kata dia.–ICHWAN SUSANTO

Sumber: Kompas, 11 Juli 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: